Insiden pembagian zakat yang menewaskan 21 orang disebabkan banyak pihak. Salah satunya, saat ini banyak tokoh cenderung ingin dianggap sebagai dermawan.

Hal itu diungkapkan oleh sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Prof Dr Susetiawan kepada wartawan di kantor Bulaksumur Yogyakarta, Selasa (16/9/2008).

“Gaya bagi-bagi ini sudah masuk ke fenomena politik. Kasus Syaikon hanya salah satunya saja. Banyak tokoh yang melakukan cara seperti itu agar dianggap peduli dan dermawan terhadap rakyat,” kata Susetiawan.

Di sisi lain, sambung Susetiawan, insiden tersebut juga sebagai indikasi lunturnya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga amil zakat. Masyarakat memilih membagi-bagikan zakatnya sendiri meski akhirnya berujung fatal.

“Kasus Pasuruan itu bisa juga buah dari ketidakpercayaan kepada penyelenggara zakat. Sebab lembaga amil zakat mengalami krisis kepercayaan dari masyarakat. Sehingga sebagian masyarakat memilih membagikan sendiri,” ungkap Susetiawan.(dtc)

Memilukan. Itulah perasaan setiap orang yang membaca berita insiden pembagian zakat oleh pengusaha yang katanya dermawan, asal Pasuruan, Haji Syaikhon. Pembagian zakat senilai Rp30.000 kepada fakir miskin ini menewaskan 21 orang. Mereka mati sia-sia hanya karena rebutan jatah zakat senilai Rp30.000. Hanya Rp30.000 untuk sebuah nyawa.

Pengusaha kulit dan peternak sarang burung walet tersebut mengundang warga ke rumahnya di mulut Gang Pepaya Jalan Wahidin Selatan, Kelurahan Purutrejo, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan, untuk menerima uang tunai Rp 30 ribu per orang.

Pembagian zakat keluarga Syaikhon dipusatkan di Musala Al Raudatul Jannah di Gg Pepaya, Jl Dr Wahidin Sudirohusodo (selatan). Sejak sekitar pukul 05.00 WIB, calon penerima zakat sudah berdatangan. Terutama mereka yang berasal dari luar Kota Pasuruan. Pukul 07.00 massa semakin bertumpuk.

Sebenarnya insiden seperti ini tidak mesti terjadi, jikalau sang pengusaha dermawan tersebut mempercayai Amil Zakat atau Badan Zakat, Infaq dan Sadaqah (Bazis) untuk menyalurkan zakat wajibnya. Akan tetapi yang terjadi selama ini, hal seperti di Pasuruan seolah-olah menjadi hal yang lumrah.

Ya Allah, apakah hanya di negeri hamba ini memang murah harganya? Ampunilah ya Allah dosa-dosa kami, dosa pemimpin-pemimpin kami.