Tahu siapa Presiden Amerika paling fenomenal sepanjang sejarah? Jika dibandingkan dengan George Bush yang senior maupun yang junior, dia tentu bukan tandingan. Bill Clinton? Apalagi. Dialah Abraham Lincoln. Satu-satunya, Presiden Amerika yang namanya diabadikan pada Kapal Induk Amerika, USS Abraham Lincoln. Dia juga satu-satunya Presiden Amerika yang “dianugrahi” duduk diantara para Presiden Amerika di Taman Kenangan Lincoln (Lincoln Memorial Park). Lincoln menderita sepanjang hidupnya. Untuk mencapai kursi Presiden Amerika, ia harus kehilangan banyak hal, termasuk jiwanya.

Nah, Lincoln ternyata punya banyak kesamaan dengan John F Kennedy. Presiden legendaris Amerika ini juga mengalami banyak hal yang mirip dengan Lincoln. Ini dia fakta-faktanya.

Abraham Lincoln terpilih jadi presiden tahun 1860.
John F. Kennedy terpilih jadi presiden tahun 1960.

Keduanya sangat peduli hak-hak sipil.
Kedua istri mereka kehilangan anak saat di gedung putih.

Kedua presiden ditembak hari Jumat.
Kedua presiden ditembak di kepala.

Sekretaris Lincoln bernama Kennedy .
Sekretaris Kennedy bernama Lincoln .

Keduanya dibunuh oleh orang dari daerah selatan.
Keduanya digantikan oleh orang selatan yang bernama Johnson.

Andrew Johnson, yang menggantikan Lincoln , lahir tahun 1808.
Lyndon Johnson, yang menggantikan Kennedy, lahir tahun 1908.

John Wilkes Booth, yang membunuh Lincoln , lahir thn 1839.
Lee Harvey Oswald, yang membunuh Kennedy, lahir thn 1939.

Kedua pembunuh terkenal dengan tiga namanya.
Nama keduanya terdiri dari 15 huruf.

Lincoln ditembak di teater bernama ‘Ford.’
Kennedy tertembak di mobil ‘ Lincoln ‘ dibuat oleh ‘Ford.’

Lincoln tertembak di teater dan pembunuhnya bersembunyi di gudang.
Kennedy tertembak dari sebuah gudang dan pembunuhnya bersembunyi di teater.

Booth dan Oswald terbunuh sebelum diadili.

Seminggu sebelum Lincoln tertembak, dia berada di Monroe , Maryland
Seminggu sebelum Kennedy tertembak, dia bersama Marilyn Monroe.

Sumber: mentiko.com/

Iklan

Bersama dua orang bocah, seorang wanita bertubuh kecil terbaring di sebuah lahan bekas kebun bunga yang menjadi tempat peristirahatan terakhir mereka di Gurun Sahara.

Tangan ceking kedua bocah tersebut tampak masih mendekap wanita itu dalam pelukan abadi saat para peneliti menemukan kerangka mereka di dalam sebuah makam yang menjadi petunjuk keberadaan dua peradaban di sana yang terpisah ribuan tahun, ketika wilayah itu masih lembab dan hijau.

Paul Sereno dari University of Chicago dan rekan-rekannya sedang mencari fosil dinosaurus di Niger, Afrika sebelah barat, ketika mereka menjumpai temuan mengejutkan yang dijelaskan secara rinci dalam konferensi pers, Kamis, di National Geographic Society.

Selain sekitar 200 makam manusia, sejumlah kerangka hewan, ikan berukuran besar dan buaya juga ditemukan ketika berlangsung penggalian di lokasi itu pada 2005 dan 2006 lalu. (lebih…)

Pramoedya Ananta Toer (Blora, Jawa Tengah 6 Februari 1925 – Jakarta 30 April 2006) secara luas dianggap sebagai salah satu pengarang yang produktif dalam sejarah sastra Indonesia. Pramoedya telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing.

Masa kecil

Pramoedya dilahirkan di Blora, di jantung Pulau Jawa, pada 1925 sebagai anak sulung dalam keluarganya. Ayahnya adalah seorang guru, sedangkan ibunya berdagang nasi. Nama asli Pramoedya adalah Pramoedya Ananta Mastoer, sebagaimana yang tertulis dalam koleksi cerita pendek semi-otobiografinya yang berjudul Cerita Dari Blora. Karena nama keluarga Mastoer (nama ayahnya) dirasakan terlalu aristokratik, ia menghilangkan awalan Jawa “Mas” dari nama tersebut dan menggunakan “Toer” sebagai nama keluarganya. Pramoedya menempuh pendidikan pada Sekolah Kejuruan Radio di Surabaya, dan kemudian bekerja sebagai juru ketik untuk surat kabar Jepang di Jakarta selama pendudukan Jepang di Indonesia.

Pasca kemerdekaan Indonesia

Pada masa kemerdekaan Indonesia, ia mengikuti kelompok militer di Jawa dan kerap ditempatkan di Jakarta pada akhir perang kemerdekaan. Ia menulis cerpen serta buku di sepanjang karir militernya dan ketika dipenjara Belanda di Jakarta pada 1948 dan 1949. Pada 1950-an ia tinggal di Belanda sebagai bagian dari program pertukaran budaya, dan ketika kembali ke Indonesia ia menjadi anggota Lekra, salah satu organisasi sayap kiri di Indonesia. Gaya penulisannya berubah selama masa itu, sebagaimana yang ditunjukkan dalam karyanya Korupsi, fiksi kritik pada pamong praja yang jatuh di atas perangkap korupsi. Hal ini menciptakan friksi antara dia dan pemerintahan Soekarno. (lebih…)