Dilintasi leretan panjang Bukit Barisan, Rokan Hulu menyimpan banyak tempat-tempat wisata menarik yang masih belum tereskspos. Salah satunya adalah Air Terjun Aek Martua. Redaksi DariRiau.com mencoba menyusuri jalan setapak menuju tempat tersembunyi tersebut.
Gambar (lebih…)

Iklan

PEKANBARU – Cuaca ekstrim melanda Riau akhir-akhir ini. Tidak tanggung-tanggung suhu di daerah penghasil minyak dan kelapa sawit ini ini mencapai 36 derajat celcius dan tidak bisa diprediksi. Siang panas begitu terik, satu jam kemudian berubah menjadi angin kencang dan hujan yang sangat deras.

Selain cuaca yang tidak menentu ini, Riau secara umum juga kembali dilanda musibah kabut asap yang menyesakkan pernapasan. Musibah bagi rakyat namun tidak demikian halnya dengan perusahaan dan pemilik lahan.

Kabut asap ini dihasilkan dari terbakarnya lahan perkebunan, dan atau lahan kosong baik milik masyarakat dan perusahaan. Bagi Riau dan wilayah lain di Sumatera, kabut asap ini bukanlah pertama kali terjadi. Asap plus dengan suhu udara yang ekstrim selalu terjadi saban tahun. Bahkan kebakaran hebat pernah terjadi sekitar tiga belas tahun lalu yang mengakibatkan terhentinya semua aktivitas warga di tengah terbatasnya jarak pandang.
(lebih…)

pulang-kerja1

Beberapa perempuan petani pulang kerja saat hujan turun….

indahnya

menguning

Lokasi foto di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau

Tanggal 28 Oktober 1928 merupakan tanggal bersejarah bagi bahasa Indonesia yang saat itu diresmikan menjadi bahasa negara dan menjadi bahasa persatuan dari sekian ratus bahasa daerah.

Namun, seperti apakah yang dinamakan bahasa Indonesia itu? Orang mengenalnya sebagai bahasa Melayu yang dimodifikasi, lalu dicampur dengan bahasa-bahasa serapan dari berbagai daerah dan dari bahasa asing, kemudian dibakukan. (lebih…)

Walaupun yang paling efektif merubah citra adalah merubah realitas, namun peran budaya dan bahasa Indonesia dalam diplomasi sangat krusial. Tingginya minat orang asing belajar bahasa dan budaya Indonesia harus disambut positif. Kalau perlu Indonesia menambah Pusat Kebudayaan Indonesia di sejumlah negara, guna membangun saling pengertian dan perbaiki citra .

Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Departemen Luar Negeri Andri Hadi mengemukakan hal itu ketika tampil pada pleno Kongres IX Bahasa Indonesia, yang membahas Bahasa Indonesia sebagai Media Diplomasi dalam Membangun Citra Indonesia di Dunia Internasional, Rabu (29/10) di Jakarta. (lebih…)

Satu atau dua minggu lagi, saya akan menjadi seorang ayah, Insyaallah, jika Allah mengizinkan. Berbagai perasaan yang saya alami saat ini. Bangga hingga cemas. Bangga memiliki anak dan keturunan, cemas apakah akan lahir selamat, normal atau mesti operasi (mudah-mudahan tidak). Saya juga cemas, apakah nanti bisa mendidik dan menyekolahkannya hingga ketingkat yang paling tinggi.

Tapi ada yang membuat saya gusar akhir-akhir ini. Ternyata menentukan sebuah nama bagi anak tidaklah semudah yang dibayangkan. Bagaimana tidak, semenjak sembilan bulan lalu saya memulai merancang nama calon anak, ternyata sampai saat ini masih belum membuahkan hasil. Mulai dari searching di internet, membeli buku, membolak-balik buku-buku di perpustakaan hingga ‘menumpang’ baca di toko buku Gramedia. “Ya, Allah, betapa susahnya menentukan nama anakku. Apakah nanti membesarkannya juga susah?,” ujarku dalam suatu ketika.

Sebenarnya saya tidak begitu menginginkan nama yang rumit, yang penting nama tersebut memiliki makna yang baik dari segi agama, enak dipanggil dan didengar, dan menunjukkan identitasnya sebagai orang Melayu (muslim/muslimah), sedikit beda dengan nama kebanyakan, serta anak saya nanti tidak malu memiliki nama tersebut jika telah besar nanti.

Sebenarnya juga, untuk nama anak laki-laki saya telah mendapatkannya, tinggal mencari satu nama anak perempuan. Jika perkiraan dokter tidak meleset insyaallah anak saya perempuan. Semoga anak saya ini pintar dan cantik seperti ibunya, Raja Qamariyahnur. Dan berani seperti kakeknya buyutnya, dan setiap seperti neneknya. Semoga ananda bisa saya sekolahkan setinggi-tingginya. Insyaallah….

PEKANBARU- Di hari ketiga pemutaran film Laskar Pelangi besutan sutradara muda, Riri Reza, Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT), Lukman Edy, menyempatkan diri menggelar nonton bersama di bioskop Holiday 88 jalan Sultan Syarif Qasim Pekanbaru, hari ini, Ahad (19/10).

Lukman Edy duduk membaur dengan penonton yang lain. Bahkan dia datang ke bioskop 40 menit sebelum film diputar. Lukman Edy datang bersama keluarga, anak-anak panti asuhan dan sejumlah insan pers.

Film Laskar Pelangi diadaptasi dari novel laris karya Andrea Hirata, dengan judul yang sama. Film ini bercerita tentang perjuangan dua guru sekolah Muhammadiyah, bersama sepuluh orang muridnya di Belitong, pada tahun 70-an. Anak-anak ini bersekolah di SD yang bangunannya nyaris rubuh.

“Film ini menghadirkan fenomena kesenjangan antara pendidikan di desa dan di kota. Selain itu, ada semangat pluralisme dalam pesan film ini, yaitu ketika ada adegan pemeran Ikal yang jatuh cinta pada anak keturunan Cina,” ujar Lukman.

Dalam acara nonton bareng ini, Lukman Edy memborong tiket sebanyak 250 lembar yang dibagikan kepada masyarakat. Selain keluarga, anak panti asuhan dan insan pers, nonton bareng ini juga diikuti oleh sejumlah kader dan pengurus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Provinsi Riau.

Usai pemutaran film, Lukman Edi menyebutkan, banyak pesan yang bisa diambil penonton dalam film ini, terutama bagi guru-guru, pelajar dan pejabat-pejabat di daerah. “Saya merekomendasikan kepada guru-guru, murid dan pemda untuk menonton film ini. Banyak hikmah yang bisa kita petik, seperti semangat untuk terus belajar, meski di tengah segala keterbatasan,” ujar Lukman yang lahir di Riau ini.

Sementara pemerintah daerah juga dihimbau menonton film Laskar Pelangi, untuk meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab pemerintah daerah dalam memberi perhatian terhadap sekolah-sekolah swasta.

Dalam kesempatan itu, usai menonton, para wartawan melontarkan pertanyaan kepada Lukman Edi, seputar capres yang bakal diusung PKB. “Kalau ngomong-ngomong soal bursa capres dan cawapres 2009, sebaiknya kita tunggu dulu hasil rapimnas Golkar sekarang. Apa sih yang dihasilkan Golkar dalam rapimnas itu tentang capres? Nah, baru kemudian kita akan bersikap,” ujarnya.