PROKLAMASI

Berdirinja NEGARA ISLAM INDONESIA

Bismillahirrahmanirrahim Asjhadoe anla ilaha illallah wa asjhadoe anna Moehammadar Rasoeloellah
Kami, Oemmat Islam Bangsa Indonesia MENJATAKAN:
Berdirinja ,,NEGARA ISLAM INDONESIA”
Maka hoekoem jang berlakoe atas Negara Islam Indonesia itoe, ialah: HOEKOEM ISLAM
Allahoe Akbar! Allahoe Akbar! Allahoe Akbar!

Atas nama Oemmat Islam Bangsa Indonesia
Imam NEGARA ISLAM INDONESIA
Ttd
(S M KARTOSOEWIRJO)
MADINAH-INDONESIA, 12 Sjawal 1368 / 7 Agoestoes 1949

Iklan

Bumi Manusia adalah jilid pertama dari Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer, yaitu Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca.

Dalam jilid pertama ini bercerita tentang peristiwa-peristiwa yang berlangsung dari tahun 1898 hingga 1918 yaitu masa kebangkitan Nasional, yang saat itu Indonesia masih bernama Hindia Belanda yang masih terbelakang dalam pemikiran rasio. Pada masa inilah masuknya pemikiran rasio ke Hindia Belanda.

Tokoh utama cerita ini adalah Minke, anak seorang bupati yang diharapkan kelak bisa menggantikan orang tuanya sebagai pejabat terhormat di tengah penindasan kolonial Belanda. Minke merupakan siswa yang tergolong krisis di kalangan teman-teman Belandanya dan bersekolah di STOVIA , yang pada masa itu anak-anak pribumi atau pun Indo tidak akan bisa bersekolah karena didirikan khusus anak-anak Belanda.

Awal cerita, Minke yang nama ini merupakan gurunya (plesetan dari panggilan Monkey), merupakan satu sekolah dengan Robert Shuroff, anak Eropa yang kelak menjadi musuhnya. Dari Robert Shuroff ini juga Minke berkenalan dengan Robert Mellema dan saudara perempuannya Annelies Mellema, anak dari Nyai Ontosoroh. Nyai Ontosoroh merupakan isteri dari orang Belanda di Indonesia.

Nyai pada saat itu dianggap sebagai perempuan yang tidak memiliki norma kesusilaan karena statusnya sebagai istri simpanan. Statusnya sebagai seorang Nyai telah membuatnya sangat menderita, karena ia tidak memiliki hak asasi manusia yang sepantasnya. Tetapi, Nyai Ontosoroh sadar akan kondisi tersebut sehingga dia berusaha keras dengan terus-menerus belajar, agar dapat diakui diakui sebagai seorang manusia. Nyai Ontosoroh berpendapat, untuk melawan penghinaan, kebodohan, kemiskinan, dan sebagainya. Hanya ada 1 jalan keluar, yaitu, Belajar, belajar dan terus belajar.

(lebih…)