PEKANBARU- Di hari ketiga pemutaran film Laskar Pelangi besutan sutradara muda, Riri Reza, Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT), Lukman Edy, menyempatkan diri menggelar nonton bersama di bioskop Holiday 88 jalan Sultan Syarif Qasim Pekanbaru, hari ini, Ahad (19/10).

Lukman Edy duduk membaur dengan penonton yang lain. Bahkan dia datang ke bioskop 40 menit sebelum film diputar. Lukman Edy datang bersama keluarga, anak-anak panti asuhan dan sejumlah insan pers.

Film Laskar Pelangi diadaptasi dari novel laris karya Andrea Hirata, dengan judul yang sama. Film ini bercerita tentang perjuangan dua guru sekolah Muhammadiyah, bersama sepuluh orang muridnya di Belitong, pada tahun 70-an. Anak-anak ini bersekolah di SD yang bangunannya nyaris rubuh.

“Film ini menghadirkan fenomena kesenjangan antara pendidikan di desa dan di kota. Selain itu, ada semangat pluralisme dalam pesan film ini, yaitu ketika ada adegan pemeran Ikal yang jatuh cinta pada anak keturunan Cina,” ujar Lukman.

Dalam acara nonton bareng ini, Lukman Edy memborong tiket sebanyak 250 lembar yang dibagikan kepada masyarakat. Selain keluarga, anak panti asuhan dan insan pers, nonton bareng ini juga diikuti oleh sejumlah kader dan pengurus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Provinsi Riau.

Usai pemutaran film, Lukman Edi menyebutkan, banyak pesan yang bisa diambil penonton dalam film ini, terutama bagi guru-guru, pelajar dan pejabat-pejabat di daerah. “Saya merekomendasikan kepada guru-guru, murid dan pemda untuk menonton film ini. Banyak hikmah yang bisa kita petik, seperti semangat untuk terus belajar, meski di tengah segala keterbatasan,” ujar Lukman yang lahir di Riau ini.

Sementara pemerintah daerah juga dihimbau menonton film Laskar Pelangi, untuk meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab pemerintah daerah dalam memberi perhatian terhadap sekolah-sekolah swasta.

Dalam kesempatan itu, usai menonton, para wartawan melontarkan pertanyaan kepada Lukman Edi, seputar capres yang bakal diusung PKB. “Kalau ngomong-ngomong soal bursa capres dan cawapres 2009, sebaiknya kita tunggu dulu hasil rapimnas Golkar sekarang. Apa sih yang dihasilkan Golkar dalam rapimnas itu tentang capres? Nah, baru kemudian kita akan bersikap,” ujarnya.

Iklan

Malam kemarin, karena segala urusan dan pekerjaan telah rampung di redaksi saya kembali melakukan aktivitas di depan dunia maya. Searching di dunia maya. Jika biasanya saya membaca-baca artikel atau berita, tapi malam lalu saya penasaran. Berapa jumlah kata “ojel” yang ada di internet.

Melalui internet, awalnya saya ketikkan kata ‘Jelprison”- nama lengkap saya di mesin pencari Google. Ada terdapat 880 kata ‘Jelprison’ di Google (web) dan 28 kata yang ada di halaman dari Indonesia, yang saya yakin semua nama tersebut memang nama saya sendiri tanpa pernah dipakai oleh orang lain sebagaimana nama kebanyakan. Kata tersebut merupakan nama-nama yang pernah saya tulis di blog pribadi, website redaksi www.rakyatriau.com, berita di beberapa media massa lokal dan nasional ketika mendapatkan anugerah Sagang -sebuah anugerah bidang karya Melayu Riau, di Provinsi Riau.

Tidak puas dengan kata ‘Jelprison’ saya tulis kata ‘ojel’ nama panggilan saya di kampus dan panggilan teman-taman. Ups.. ternyata kata ‘Ojel’ di web mencapai 25,600 dan 243 dari halaman Indonesia. Kata ‘Ojel’ ini terdapat di beberapa bahasa dan negara. Saya tidak tahu apakah arti dari “Ojel” di bahasa lain.

Memang nama saya Jelprison. Di keluarga saya dipanggil Ison. Khusus ibunda memanggil dengan nama Rison. Selain dipanggil Ison, ada juga yang memanggil Ijel, Ijef Jefri… ah banyak.

Kembali ke pokok awal. Ketika melihat kata-kata “ojel” saya melihat ada sebuah situs http://www.isekolah.org/. Ternyata di situs tersebut ada sebuah cerpen. Loh.. kok Ojel? Setelah saya baca lebih lanjut, ternyata nama lengkapnya juga mirip dengan nama saya, Jelprison.

Penasaran. Ternyata profesi tokoh utama dalam cerpen, postur tubuh, juga sama dengan apa yang pernah saya alami. Bahkan dalam cerpen juga disebutkan kalau tokoh utama adalah seorang jurnalis, kemana-mana menggunakan vespa, pakai kaos oblong bergambar Iwan Fals, celana jeans kumuh… semua mirip dengan perjalanan hidup yang saya lalui. (lebih…)