muhammadiyahlogoMudah diramalkan jika setiap menjelang pemilihan umum (pemilu) Muhammadiyah selalu menjadi sasaran kampanye politik. Hal ini wajar karena Muhammadiyah merupakan salah satu ormas Islam terbesar di negeri ini, yang tidak hanya memiliki puluhan juta anggota dan simpatisan, melainkan juga sumber daya organisasi yang kaya.

Menariknya, eksploitasi potensi politik Muhammadiyah tidak hanya dilakukan oleh agen-agen dari luar, melainkan juga dari dalam organisasi ini sendiri. Langkah yang paling spektakuler sekaligus kontroversial barangkali keputusan Amien Rais yang kala itu adalah ketua umum PP Muhammadiyah mendirikan Partai Amanat Nasional (PAN) pada 1998. Meski PAN secara oganisatoris adalah partai terbuka dan tidak memiliki hubungan formal dengan Muhammadiyah, realitasnya partai ini banyak bersandar pada Muhammadiyah dalam rekrutmen kader (leadership recruitment) maupun pemilih (electoral constituents). (lebih…)

Akhirnya seperti yang diprediksi banyak pihak Barack Obama menang dalam Pemilihan Presiden Amerika Serikat mengalahkan rivalnya John McCain. Politisi kulit hitam ini menjadi Presiden AS ke 44, dan sekaligus ia mencatat sejarah baru bahwa Barack Obama merupakan presiden kulit hitam pertama di negara yang terkenal dengan isu rasial ini.

Sebenarnya, Barack Obama- yang pernah tinggal di Indonesia ini selama empat tahun, bukan merupakan presiden AS termuda yand dimiliki Amerika Serikat, karena sebelumnya juga ada empat presiden AS yang berusia muda; mereka adalah; Ulysses S. Grant: 46 tahun 10 bulan. Theodore “Teddy” Roosevelt: 42 tahun 10 bulan. John F. Kennedy: 43 tahun 7 bulan, dan Bill Clinton: 46 tahun 5 bulan. Sedangkan Obama akan berumur 47 tahun 5 bulan saat dilantik menjadi presiden baru AS pada 20 Januari 2009 mendatang. Obama lahir pada 4 Agustus 1961 di Honolulu, Hawaii, AS. (lebih…)

Pada naskah drama Peterakna, pentas politik Melayu dimulai dari rangkaian peristiwa imperium Melaka yang telah berhasil menegakan marwah dan martabat citra Melayu yang Islami selama dua abad (1384-1511 M) akhirnya hancur ketika adat resam yang bersendi syara’ tidak lagi jadi pegangan dan julangan para penguasa dalam menjalankan tugas kekhalifahannya sebagai zhilullah fi al-’alam, dibuktikan dengan rubuhnya Kota Melaka sebagai bandaraya terbesar dan terpadat penduduknya di dunia pada masa itu.

Pengalaman paling memalukan dalam sejarah Melayu sebagaimana yang dialami oleh Sultan Mahmud Syah I (Sultan Melaka terakhir), kembali terulang pada penguasa Kesultanan Johor (Sultan Mahmud Syah II: Sultan Mahmud Mangkat Dijulang).

Penyebab utama kehancuran karena pengaruh pengagungan rakyat yang terlalu berlebihan terhadap penguasa yang bertahta di atas peterakna sehingga tidak ada orang yang sanggup dan dapat berkata bahwa: yang benar benar itu benar dan yang salah itu salah. Sementara para penguasa tidak mampu mengawal diri dari godaan yang muncul akibat kekuasaan yang melekat pada dirinya. Tak kira apakah ia mampu dan pantas untuk menjabat sebagai penguasa atau tidak, tetapi karena silsilah dan nasablah mereka mewarisi kekuasaan tanpa dipersiapkan dan mempersiapkan diri sebagaimana halnya kebiasaan keturunan raja-raja yang ideal. (lebih…)