Sejenis serangga batang dari Pulau Kalimantan yang tercatat memiliki panjang lebih dari 56,7 cm itu dinyatakan sebagai serangga terpanjang di dunia oleh ilmuwan Inggris, Kamis lalu. Spesimen serangga itu ditemukan oleh seorang penduduk desa dan diserahkan kepada pakar ilmu alam amatir Malaysia, Datuk Chan Chew Lun, pada 1989, yang kemudian dihibahkan kepada Natural History Museum di London, Inggris.
Spesimen itu kemudian diidentifikasi oleh Philip Bragg dan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Zootaxa. Serangga itu dinamai Phobaeticus chani atau “Tongkat panjang Chan” untuk menghormati Datuk Chan.

Sampai saat ini hanya tiga spesimen serangga yang ditemukan, seluruhnya dari negara bagian Sabah di Kalimantan. Datuk Chan memperoleh spesimen serangga betina yang pertama dan terbesar dari seorang pengumpul serangga setempat. Dua serangga lainnya dikoleksi di Sabah.

Paul Brock, ilmuwan di Natural History Museum di London, menyatakan bahwa tak diragukan lagi binatang itu adalah serangga terpanjang yang ada saat ini. Kepastian itu juga didukung oleh Marco Gottardo, ahli serangga di Natural History Museum of Ferrara, Italia, dan Aaron T. Dossey, ilmuwan di University of Florida di Gainesville, Amerika Serikat.

Serangga berwarna hijau pucat itu tampak seperti batang bambu setebal pensil berukuran 56 sentimeter jika kedua kaki panjangnya ikut dihitung. Panjang badannya saja 35,7 sentimeter, sehingga merebut rekor yang sebelumnya dipegang oleh Phobaeticus kirbyi yang juga ditemukan dari Kalimantan dengan selisih 2,9 sentimeter.

Dalam dunia binatang, serangga batang termasuk dalam kelompok satwa yang paling pandai berkamuflase. Meski ada beberapa satwa yang menggunakan semburan beracun atau duri-duri tajam untuk menghalau binatang pemangsa, umumnya mereka memilih berkamuflase serupa cabang pohon dan daun untuk menghindari perhatian binatang lain. “Pertahanan utama mereka pada dasarnya adalah berbaur, terlihat mirip tangkai pohon,” kata Brock. “Bahkan mereka akan bergoyang bila tertiup angin.” (tempointeraktif)

Symantec meluncurkan Norton Antivirus 2009 dan Norton Internet Security 2009 terbarunya di Jakarta hari ini. Total ada 300 perbaikan yang dilakukan perusahaan itu pada software terbarunya.

Salah satu perbaikannya adalah soal kecepatan. Antivirus ini memakai teknologi Norton Insight yang tugasnya memindai berkas-berkas yang dicurigai mengandung virus saja. Alhasil proses pemindaian umum jadi lebih cepat. Instalasinya juga cepat, tak sampai satu menit, asal komputer sudah terhubung ke Internet untuk registrasi. Kapasitas memori yang dibutuhkannya pun hanya tujuh megabita.

Agar pemindaian makin cepat dan software langsung mengenali virus, Norton Insight didukung oleh community intelligent, yakni para pengguna Norton yang memberikan umpan balik tentang ancaman atau virus terbaru. Selain itu, ada fitur Pulse Update saban lima hingga 15 menit.

Untuk pengamanan, antivirus ini memakai pengamanan berlapis ditambah fitur SONAR yang mendeteksi virus secara real-time. “Jadi, tidak hanya bersifat reaktif, antivirus ini juga offensif, ia bisa mengenali ancaman yang akan masuk,” kata David Hall, Regional Product Marketing Manager Symantec Pasifik dan Asia Selatan.

Adapun Norton Internet Security 2009 sudah dilengkapi kemampuan mengenali situs-situs yang potensial mengantar “penyakit”. Termasuk di dalamnya mengantisipasi serangan phishing, alias situs palsu yang didesain untuk mencuri data personal.

“Sekarang motivasi para peretas komputer tak hanya ingin terkenal tapi sudah berhubungan dengan uang. Virus juga bergerak sesuai kebiasaan umum, sekarang web menjadi jendela orang melakukan macam-macam,” kata Effendy Ibrahim, Norton Business Lead Regional Asia Selatan.

Malah, kata Effendy, serangan tak lagi ditujukan kepada browser tapi sudah memasuki ranah plug-in, sektor yang tak banyak diperhatikan orang. Misalnya plug-in seperti Windows Media Player, QuickPlayer, atau Flash Player. Virus akan menginfeksi bila plug-in di-update.

Norton Antivirus dibanderol US$ 39,95 atau sekitar Rp 384 ribu. Adapun Norton Internet Security 2009 dibanderol US$ 49,95 atau sekitar Rp 480 ribu. Keduanya untuk lisensi satu komputer.

Untuk lisensi tiga komputer, Norton Antivirus 2009 dibanderol US$ 62,95 atau Rp 604 ribu. Norton Internet Security pula dibanderol US$ 69,95 atau Rp 671 ribu. (tempointeraktif)

Permukaan laut diperkirakan akan naik setinggi satu meter pada akhir abad ke-21. Walau masih 91 tahun lagi dan dipastikan kita sudah meninggal dunia, akan tetapi ini sangat mengkhawatirkan.

Seperti yang dilansir sebuah lembaga riset terkemuka Jerman Kamis (10/10). Menurut lembaga itu, kenaikan permukaan air laut ini jauh lebih tinggi ketimbang proyeksi paling optimis yang disampaikan panel iklim PBB, IPCC (Intergovernmental Panel for Clomate Change).

“Kita sebaiknya bersiap-siap dalam menghadapi naiknya permukaan laut setinggi satu meter pada abad ini,” kata Joachim Schellnhuber, kepala Institut Postdam bagi Riset Dampak Iklim (PIK), yang memberikan nasehat kepada pemerintah dalam kebijakan lingkungan.

Tingkat pencairan es di Himalaya dan Greenland telah meningkat menjadi dua kali lipat atau bahkan tiga kali lipat dalam beberapa tahun belakangan ini. Sebagian karena faktor naiknya emisi gas rumah kaca dari berbagai pembangkit listrik China.

Pada Februari 2007, dalam volume pertama laporan bersejarahnya, IPCC meramalkan kenaikan permukaan berbagai samudera antara 19 sentimeter hingga 59 sentimeter pada 2100. Kenaikan permukaan laut satu meter saja boleh jadi akan membuat pulau-pulau di Samudera Pasifik yang letaknya rendah, seperti Tuvalu, akan terendam, dan banjir besar akan menggenangi Bangladesh dan mengancam kota-kota, dari New York hingga Buenos Aires. (detik)

Lantaran risetnya menyangkut biomekanik terbang serangga, selama 20 tahun terakhir Michael Dickinson sering ditanya oleh wartawan: mengapa lalat begitu sulit ditepuk? Akhirnya Dickinson menemukan jawaban itu.

Dickinson, yang dibantu mahasiswanya, Gwyneth Card, berhasil mengungkap rahasia manuver lalat mengelak dari gebukan alat penepuk. Mereka mengambil gambar lalat buah (Drosophila melanogaster) yang sedang menghindari pukulan memakai kamera digital berkecepatan dan resolusi tinggi.

Jauh sebelum lalat melompat, otaknya yang mungil mengukur lokasi ancaman yang akan terjadi dan menyusun rencana meloloskan diri. Lalat akan meletakkan kakinya pada posisi optimal untuk melompat keluar ke arah yang berlawanan. Seluruh aksi sang lalat berlangsung dalam waktu sekitar 100 milidetik setelah lalat pertama kali melihat alat penepuk. “Ini mengilustrasikan bagaimana cepatnya otak lalat bisa memproses informasi sensorik menjadi tanggapan motor yang tepat,” kata Dickinson, profesor rekayasa biologi Esther M., dan Abe M. Zarem di California Institute of Technology (Caltech), Amerika Serikat. (lebih…)