Kemenangan Barack Hussein Obama pada Pemilihan Presiden Amerika Serikat, beberapa waktu lalu, banyak menjadi inspirasi bagi beberapa partai politik, politikus hingga calon presiden di Indonesia. Ini bisa dimaklumi masa Pemilihan Presiden dan Pemilu di Indonesia dengan Pemilihan Presiden AS tidak terlalu jauh, apalagi Barack Hussein Obama terkenal sebagai Presiden muda yang bisa diterima berbagai kalangan di AS. (lebih…)

Akhirnya seperti yang diprediksi banyak pihak Barack Obama menang dalam Pemilihan Presiden Amerika Serikat mengalahkan rivalnya John McCain. Politisi kulit hitam ini menjadi Presiden AS ke 44, dan sekaligus ia mencatat sejarah baru bahwa Barack Obama merupakan presiden kulit hitam pertama di negara yang terkenal dengan isu rasial ini.

Sebenarnya, Barack Obama- yang pernah tinggal di Indonesia ini selama empat tahun, bukan merupakan presiden AS termuda yand dimiliki Amerika Serikat, karena sebelumnya juga ada empat presiden AS yang berusia muda; mereka adalah; Ulysses S. Grant: 46 tahun 10 bulan. Theodore “Teddy” Roosevelt: 42 tahun 10 bulan. John F. Kennedy: 43 tahun 7 bulan, dan Bill Clinton: 46 tahun 5 bulan. Sedangkan Obama akan berumur 47 tahun 5 bulan saat dilantik menjadi presiden baru AS pada 20 Januari 2009 mendatang. Obama lahir pada 4 Agustus 1961 di Honolulu, Hawaii, AS. (lebih…)

Walaupun yang paling efektif merubah citra adalah merubah realitas, namun peran budaya dan bahasa Indonesia dalam diplomasi sangat krusial. Tingginya minat orang asing belajar bahasa dan budaya Indonesia harus disambut positif. Kalau perlu Indonesia menambah Pusat Kebudayaan Indonesia di sejumlah negara, guna membangun saling pengertian dan perbaiki citra .

Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Departemen Luar Negeri Andri Hadi mengemukakan hal itu ketika tampil pada pleno Kongres IX Bahasa Indonesia, yang membahas Bahasa Indonesia sebagai Media Diplomasi dalam Membangun Citra Indonesia di Dunia Internasional, Rabu (29/10) di Jakarta. (lebih…)

Bergabunglah pada kekuatan-kekuatan pembebasan yang nyata, yang ada di tengah-tengah kalian, seperti yang dilakukan oleh Tan Malaka.

(De Tribune, 7-Maret-1922)

Siang itu seorang laki-laki yang berwajah tegas dengan sorot mata tajam, berjalan menghampiriku. Ia mengulurkan tangannya dan dijabatnya tanganku dengan keras. ‘Namaku Tan Malaka’ begitu ucapnya sambil duduk di sebelahku. Aku tertegun dan belum sempat ngomong ketika ia kemudian bilang ‘Katanya kamu ingin bertanya banyak padaku?

Aku mencoba mengingat-ingat wajah seorang yang duduk di sampingku ini. Bajunya putih bersih dengan garis wajah yang diselimuti kabut. Tan Malaka, pria yang telah berhasil membuat bangsa ini memiliki keharuman. Tan Malaka, pria yang telah menuliskan banyak karya raksasa. Tan Malaka, seorang aktivis pergerakan yang menggoreskan perlawanan dengan kata-kata lugas.

‘Ya aku ingin banyak bertanya dengan anda yang sering disebut-sebut sebagai seorang pejuang’ tanpa ragu aku mengajaknya untuk bicara (lebih…)

Jika umat Muslim di Indonesia peka terhadap pesan-pesan yang disampaikan Nabi Muhammad SAW dalam hadist-hadistnya berabad-abad silam, maka negara kita tercinta ini tidak akan begitu sensara, tertinggal, teraniaya dan dipermalukan negera-negera lain.

Dalam Hadistnya, Nabi pernah mengatakan bahwa ada tiga hal yang menyebabkan Negara (negera dalam arti yang luas) hancur. Pertama Umat, masyarakat, kaum terlalu banyak omong, banyak bicara kosong, banyak bual akan tetapi tidak banyak berbuat.

Penyebab negara atau kaum hancur yang kedua adalah terlalu banyak tidur. Kita bisa melihat, jika seseorang terlalu banyak tidur maka ekonominya bisa dikatakan ‘buruk’. Maka tidak salah kalau shalat subuh dan orang-orang yang selalu bangun pagi akan lebih segar, sehat dan mampu berpikir kuat serta memiliki waktu yang banyak untuk mencari rezki. Dalam azan Shubuh juga ada kata-kata ash shalatu khairun minan naum” (Shalat itu lebih baik dari pada tidur).

Penyebab ketiga kenapa negara atau kaum cepat hancur adalah terlalu banyak makan. Kata makan disini bisa kita tafsirkan dengan bermacam-macam tafsir. Bisa diartikan memang banyak makan secara fisik dan bisa diartikan sebagai orang-orang yang tamak, loba, tanpa malu, korupsi, dsb.

Jika memang negara ini tidak ingin hancur maka hindarilah ketiga hal tersebut.

Pramoedya Ananta Toer (Blora, Jawa Tengah 6 Februari 1925 – Jakarta 30 April 2006) secara luas dianggap sebagai salah satu pengarang yang produktif dalam sejarah sastra Indonesia. Pramoedya telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing.

Masa kecil

Pramoedya dilahirkan di Blora, di jantung Pulau Jawa, pada 1925 sebagai anak sulung dalam keluarganya. Ayahnya adalah seorang guru, sedangkan ibunya berdagang nasi. Nama asli Pramoedya adalah Pramoedya Ananta Mastoer, sebagaimana yang tertulis dalam koleksi cerita pendek semi-otobiografinya yang berjudul Cerita Dari Blora. Karena nama keluarga Mastoer (nama ayahnya) dirasakan terlalu aristokratik, ia menghilangkan awalan Jawa “Mas” dari nama tersebut dan menggunakan “Toer” sebagai nama keluarganya. Pramoedya menempuh pendidikan pada Sekolah Kejuruan Radio di Surabaya, dan kemudian bekerja sebagai juru ketik untuk surat kabar Jepang di Jakarta selama pendudukan Jepang di Indonesia.

Pasca kemerdekaan Indonesia

Pada masa kemerdekaan Indonesia, ia mengikuti kelompok militer di Jawa dan kerap ditempatkan di Jakarta pada akhir perang kemerdekaan. Ia menulis cerpen serta buku di sepanjang karir militernya dan ketika dipenjara Belanda di Jakarta pada 1948 dan 1949. Pada 1950-an ia tinggal di Belanda sebagai bagian dari program pertukaran budaya, dan ketika kembali ke Indonesia ia menjadi anggota Lekra, salah satu organisasi sayap kiri di Indonesia. Gaya penulisannya berubah selama masa itu, sebagaimana yang ditunjukkan dalam karyanya Korupsi, fiksi kritik pada pamong praja yang jatuh di atas perangkap korupsi. Hal ini menciptakan friksi antara dia dan pemerintahan Soekarno. (lebih…)