Akibat banyaknya pengunjung pasca penayangan foto Imam Samudra pasca eksekusi, ternyata membuat situs tersebut kebanjiran tamu (over load). Banyaknya tamu bertambah setelah situs-situs nasional seperti okezone.com, detik.com dan vivanews juga menayangkan berita dan foto Imam Samudra.

press_release

Barusan, beberapa waktu lalu arrahmah.com mengeluarkan press realise permohonan maafnya kepada pengunjung. Dalam siaran persnya arrahmah menyebutkan kalau foto  Imam Samudra yang dikapani merupakan foto asli dan telah mendapatkan izin publikasi dari pihak keluarga. Bahkan disebutkan bahwa penayangan foto tersebut merupakan amanah dari almarhum Imam Samudra.

Di ujung suratnya, arrahmah menuliskan kata-kata “Kami tidak akan pernah berhenti, Kami akan segera kembali”

Barusan saya membuka situs arrahmah.com ternyata saat ini tidak lagi bisa diakses. Kemungkinan situs ini ‘dipaksa’ tutup setelah menayangkan foto alm Imam Samudra usai dimandikan pasca eksekusi. Di foto yang ditayangkan arrahmah.com hanya terlihat seperti ini

arrahmah

Sebelumnya di situs ini melihatkan foto Amrozi Cs. arrahma-copyyyami-imam1

“Belum lagi, jeratan undang-undang terorisme no.15 tahun 2003, pasal 6 dan 7 tentang tindak pidana terorisme dengan hukuman paling lama 20 tahun, bahkan seumur hidup,” tandasnya. (okezone.com)

Menkominfo Tak Bisa Tutup Situs Arrahmah.com
Pihak kementerian komunikasi dan informatika (Menkominfo) menyatakan tidak memiliki kekuasaan untuk menutup atau membredel media dengan konten provokatif, berupa penanyangan foto jenazah Imam Samudra seperti yang dilakukan arrahmah.com.

“Saat ini sudah tidak ada lagi peraturan mengenai pembredelan media, meskipun hanya sebuah media online. Langkah ini harus dilakukan oleh masyarakat pembaca dengan mengajukan legal action karena merasa keberatan dengan aksi provokatif tersebut,” ujar Kepala Pusat Informasi dan Humas Departemen Komunikasi dan Informatika Gatot S Dewabroto, saat dihubungi melalui telepon genggamnya, Senin (10/11/2008).

Diharapkan, para pembaca media juga memiliki hak dan kewajiban untuk mengontrol media, yang tentunya secara bijak.

Staf Ahli Hukum Menteri Komunikasi dan Informatika Edmond Makarim menambahkan bahwa suatu informasi dari media harus dilihat dari beberapa peraturan yang terkait. Untuk kasus Arrahmah ini, bisa dilihat apakah mereka sudah sesuai dengan kaidah dan peraturan yang berlaku atau belum.

Peraturan terkait yang dimaksud oleh Edmond misalnya, undang-undang KUHP pasal 335 dan 336 mengenai ancaman kekerasan secara tetulis, yang maksimal hukumannya mendapatkan pidana penjara paling lama lima tahun.

Pemberitaan dalam situs Arrahmah bisa juga dikenakan pasal dalam undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik nomor 11 tahun 2008 ayat 2 yang berbunyi bahwa setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan suku, agama, ras dan antar golongan.

Selain itu, karena situs Arrahmah juga termasuk situs media, maka konten di dalamnya pun harus mengikuti peraturan yang tercantum dalam undang-undang pers no 32 tahun 2002 tentang pelaksanaan siaran yang dilarang berisi fitnah, hasutan atau menyebarkan berita menyesatkan, apalagi mempertentangkan suku, agama, ras, dan antargolongan.

Meledaknya bom di kawasan Kuta, 12 Oktober 2002 mengejutkan dunia. Polri pun
terhentak dengan aksi terorisme ini. Namun, dengan keyakinan tinggi, Polri berjanji mengungkapnya dalam tempo satu bulan.

Sesaat setelah ledakan, Polri segera melakukan investigasi tak resmi. Seorang anggota Laboratorium Forensik Polda Bali ada di dekat lokasi. Ia langsung menghubungi rekannya.

Minggu, 13 Oktober 2002, polisi dari berbagai daerah telah tiba di Bali, seperti Mabes Polri, Polda Metrojaya, Polda Jateng, Polda Jatim. Tim ini berada di bawah komando Kapolda Bali Brigjen Pol Budi Setyawan. (lebih…)