opini


Awal bulan Oktober masyarakat Riau, terutama mereka yang tinggal di Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti, kaget bukan main. Beredar foto porno yang wajahnya mirip anggota DPRD Kabupaten Kepulauan Meranti, inisial AF, bersama janda yang sehari-hari bekerja sebagai pegawai honorer di salah satu dinas di daerah tersebut.

Foto porno mirip anggota DPRD dari Partai Gerindra, tersebut bukan hanya beredar dari hape ke hape, yang lebih mengejutkan lagi foto-foto tak senonoh tersebut di tempel di beberapa dinding, tiang listrik, pelabuhan, bahkan ditempel di baliho milik Bupati dan wakil bupati Kepulauan Meranti yang terpajang di depan kantor pemda setempat. Foto-foto tersebut juga dikirimkan ke lembaga tempat AF bekerja sebagai anggota DPRD.
(lebih…)

Iklan

Belum lama ini saya kedatangan tamu dari luar Riau. Teman lama yang memang sudah lama tidak bersua yang memang belum pernah menginjakkan kaki di Tanah Lancang Kuning ini.

Ketika diajak keliling Kota Pekanbaru – ibukota Provinsi Riau – ada terlihat kesan kagum melihat arsitektur bangunan yang berciri-khas Melayu Riau. Di daerah ini memang sebagian besar arsitektur bangunan, terutama perkantoran pemerintahan, menonjolkan corak kedaerahan. Nuansa Melayu.

Lihat saja, Bandara Sultan Syarif Kasim, gedung DPRD Provinsi Riau, Pustaka Soeman HS, dan berbagai bangunan lainnya, minimal menggunakan Selembayung dan tidak lupa memajang tulisan Arab Melayu (Arab Jawi) pada papan nama kantor tersebut.

Namun tidak demikian halnya dari segi bahasa. (lebih…)

Musyawarah Nasional (Munas) Partai Golkar akan diselenggarakan dalam waktu dekat di Pekanbaru, Riau tanggal 4-7 Oktober mendatang. Ada banyak hal menarik yang bisa diikuti dalam perebutkan kekuasaan tertinggi partai beringin tersebut. Sejak awal proses pemilihan Ketua Umum DPP Partai Golkar tersebut memang sudah layaknya pemilihan presiden, maklum jabatan Ketua Umum merupakan bisa mempengaruhi arah perpolitikan dan kebijakan pemerintah. (lebih…)

Menjelang tutup almanak 2008, Mahkamah Konsitusi (MK) memberikan kado termanis dalam berdemokrasi di negeri ini, dengan mengabulkan sebagian uji materi atas UU 10/2008 tentang Pemilu. Pemilu mendatang, nomor urut di Partai Politik tidak menentukan lagi, karena yang duduk di parlemen adalah mereka yang berhasil merebut simpati rakyat dengan suara terbanyak.

Banyak hal yang mesti kita perhatikan dan waspadai dengan sistem suara terbanyak ini. Diantaranya, bagi calon legislatif, suara terbanyak akan menjadikan persaingan merebut satu kursi akan semakin berat karena lawan bukan hanya datang dari luar partai, tetapi datang dari dalam partai, dalam satu daerah pemilihan. Jika ini tidak diwaspadai maka proses Pemilu Legislatif rentan terhadap gejolak. (lebih…)

Tanggal 28 Oktober 1928 merupakan tanggal bersejarah bagi bahasa Indonesia yang saat itu diresmikan menjadi bahasa negara dan menjadi bahasa persatuan dari sekian ratus bahasa daerah.

Namun, seperti apakah yang dinamakan bahasa Indonesia itu? Orang mengenalnya sebagai bahasa Melayu yang dimodifikasi, lalu dicampur dengan bahasa-bahasa serapan dari berbagai daerah dan dari bahasa asing, kemudian dibakukan. (lebih…)

Inilah hasil rekaman pemerasan yang dilakukan kajari ratmadi saptondo, kepala kejaksaan negeri (kajari) tilamuta, kabupaten boalemo, gorontalo yang sempat menghebohkan. Ratmadi saptondo melakukan pemerasan terhadap bupati boalemo iwan bokings melalui staf bupatinya subandrio. Diduga rekaman ini disebarkan oleh subandrio.

Saya ngga mau

Bupati kalau mao nganter, nganter sendiri kesaya.

Kalau bupati nggak mao nganter, saya ga mao terima.

Biarin saja apa adanya

Kasih tahu ke pak iwan,

Saya perang saja sekarang

Nggak dikasih uang juga nggak apa-apa.

Saya bongkar semua kasusnya nanti.

Saya buat team sendiri nih,

Saya buat team malam ini dah..

Saya bongkar semuanya aja dah

Biar masuk semua masuk baru tahu siapa saya.

Saya jengkel bener loh,

Apa sih handoyo datang bawa-bawa duit segitu?

Kan menghina saya itu.

Paling ngasih 15 juta. Buat proyeknya miliar-miliaran.

Handoyo kalau ngasih saya di bawah 50.

Saya nggak akan terima dia. Kasih tahu dia.

Saya dijanjiin dia 50 juta.

Dia ngomong sendiri.

Kalau dia mau ngasih 20.

Ngak usah temuin saya.

Saya tangkap dia nanti.

Saya tersinggung banget. Herman ngasihnya 2 juta.

Saya itu dikasih duit nomor 2 silahrurahmi

Kamu liat muka saya. Saya kerasnya setengah mati pak.

Saya orangnya takut sama tuhan.

Cuman di balik kerasnya saya orangnya baik.

Cuman saya jangan di, kayak apa yah.

Saya keras dikit itu saya ngga mau, saya kajari ko.

Suban, suban kan tau sifat saya, saya kerasnya setengah mati

Saya mau kenal sama rahman sama suban tapi

Saya juga punya harga diri dong.

Masa polisi dapat semua, dari kapolda semua proyek dapat.

Kita tidak diikut-ikutkan. Sudah ribut-ribut baru dikasih. Uhh saya ngga mau begitu.

Kasih tau pak iwan. Perang saya sekarang sama pemda

Saya tidak akan datang menghadiri acara atau,

Kasih tahu semua ke bupati.

Biar pak iwan tahu, biar pak iwan minta maaf ke saya, lewat anak buahnya itu.

Saya nggak mau sekarang saya tidak akan datang pada acara apapun dari pemda.

Mau dia cancel mau dia pesen silahkan terima.

Saya tidak ada urusan lagi sama pak iwan.

Kalo misalnya pak iwan ngasih.

Kartu lebaran sedikitpun, tapi sekarang ga ada cerita.

Dia kalo cuman ngasih 20, ga usah ngasih sekalian, ngga ada guna bagi saya.

Jangan baik sama polisi. Kejaksaan lebih hebat geberakannya dari polisi kalau soal korupsi. Kita lebih pintar dari polisi. Polisi itu bodoh semua.

Kapolres juga ga ada apa-apanya kok, bagi saya ilmunya kok.

Karna yang memang mereka itu apa, bukan dibagian hukum, mereka itu hanya kekerasan dia itu perkara-perkara pencurian di tetangga.

Kalo spesial korupsi, kita yang punya sepsialisasi itu, itu tinggal berikan aja ketua kpk ke notaris jaksa itu ko.

Pada naskah drama Peterakna, pentas politik Melayu dimulai dari rangkaian peristiwa imperium Melaka yang telah berhasil menegakan marwah dan martabat citra Melayu yang Islami selama dua abad (1384-1511 M) akhirnya hancur ketika adat resam yang bersendi syara’ tidak lagi jadi pegangan dan julangan para penguasa dalam menjalankan tugas kekhalifahannya sebagai zhilullah fi al-’alam, dibuktikan dengan rubuhnya Kota Melaka sebagai bandaraya terbesar dan terpadat penduduknya di dunia pada masa itu.

Pengalaman paling memalukan dalam sejarah Melayu sebagaimana yang dialami oleh Sultan Mahmud Syah I (Sultan Melaka terakhir), kembali terulang pada penguasa Kesultanan Johor (Sultan Mahmud Syah II: Sultan Mahmud Mangkat Dijulang).

Penyebab utama kehancuran karena pengaruh pengagungan rakyat yang terlalu berlebihan terhadap penguasa yang bertahta di atas peterakna sehingga tidak ada orang yang sanggup dan dapat berkata bahwa: yang benar benar itu benar dan yang salah itu salah. Sementara para penguasa tidak mampu mengawal diri dari godaan yang muncul akibat kekuasaan yang melekat pada dirinya. Tak kira apakah ia mampu dan pantas untuk menjabat sebagai penguasa atau tidak, tetapi karena silsilah dan nasablah mereka mewarisi kekuasaan tanpa dipersiapkan dan mempersiapkan diri sebagaimana halnya kebiasaan keturunan raja-raja yang ideal. (lebih…)