YOGYAKARTA –  Tingkah laku dan etika sebagian masyarakat Indonesia yang terlalu mendewa-dewakan budaya Barat atau Timur Tengah, sebenarnya adalah ancaman yang serius bagi budaya bangsa. Oleh sebab itu, masyarakat Indonesia harus tetap menjaga dan melestarikan budaya bangsa demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Demikian antara lain diungkapkan Ketua Umum Persatuan Masyarakat Riau Jakarta (PMRJ) HM Lukman Edy (LE) saat menyampaikan pidato kebudayaan, di Taman Budaya Yogyakarta, Minggu (8/1).

LE yang juga anggota DPR RI itu hadir bersama sejumlah pengurus PMRJ menggelar pertunjukan teater dengan mengangkat cerita masyarakat Melayu Riau. Teater yang dimainkan Sanggar Semenanjung dengan mengangkat cerita rakyat, Hikayat Lancang Kuning, dimeriahkan dengan lagu-lagu Melayu.

Sebelum pertunjukan dimulai, LE mengawalinya dengan menyampaikan pidato kebudayaan. Menurut LE yang juga mantan Menteri PDT itu, perjalanan sejarah kebangsaan menunjukkan bahwa pendekatan kebudayaan menjadi perekat keutuhan dan modal dasar untuk mencapai keunggulan sebagai sebuah bangsa. Pemahaman kebudayaan yang luntur justru bisa menimbulkan disintegrasi dan kesenjangan yang lebar untuk mencapai kesejahteraan itu sendiri.

Ada beberapa ancaman dalam pengembangan kebudayaan bangsa ini. Pertama, paham trans nasional atau paham yang menafikan kearifan lokal. Kedua, westernisasi dan easternisasi atau paham yang mendewakan kebudayaan Barat atau Timur Tengah dan menganggap kebudayaan lokal tidak laku. Ketiga, sentralisasi atau paham yang berupaya merekayasa sentralisasi kebudayaan secara nasional.

Keempat, primordialisme sempit atau kebudayaan lokal yang tertutup. Kelima, kekuatan anti demokrasi, dimana hal ini akan mematikan kearifan lokal. Keenam, birokrasi yang koruptif, dimana birokrasi yang seperti ini tidak akan memberikan manfaat apa-apa terhadap pembangunan kebudayaan, selain membebani pembangunan kebudayaan itu sendiri. “Ancaman-ancaman tersebut sudah terlihat dan nyata di tengah-tengah masyarakat kita. Oleh karena itu, kita semua harus mawas diri dan mewaspadainya,” pinta LE, tegas.

Terkiat kegiatan yang digelar PMRJ di Yogyakarta ini, LE menyebut sebagai bagian dari tanggung jawab PMRJ sebagai organisasi paguyuban. “Pengembangan dan sosialisasi kebudayaan Melayu tidak bisa hanya berhenti di ruang lingkup Riau, tapi harus meluas hingga lingkup nasional, regional bahkan internasional. Juga tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab pemerintah apalagi hanya dinas terkait, tapi menjadi tanggung jawab masyarakat Melayu itu sendiri secara umum,” jelasnya.

Secara substansial, kata LE, kebudayaan Melayu punya potensi untuk dikembangkan, tidak seperti kebudayaan lain yang punya hambatan ketika berinteraksi dengan pihak eksternal. “PMRJ merasa ikut bertanggung jawab menjalankan fungsi sosialiasi pada tataran nasional, tetapi tentu sebatas kemampuan yang dimiliki PMRJ sebagai organisasi paguyuban kedaerahan,” ucapnya lagi.

Kata LE, sosialisasi kebudayaan yang digelar di Taman Budaya Yogyakarta ini sangat strategis, karena berada di tengah-tengah masyarakat kebudayaan, baik warga Riau yang ada di Yogyakarta maupun masyarakat pemerhati kebudayaan lintas daerah yang ada di Yogyakarta. Selain tokoh-tokoh dan mahasiswa asal Riau yang ada di Yogyakarta, pertunjukan teater disaksikan para pecinta dan peminat teater di wilayah Yogyakarta.(rls)