Intrusi diartikan sebagai perembesan air laut ke daratan, bahkan sungai-sungai. Suatu kawasan yang awalnya air tanahnya tawar kemudian berubah menjadi lagang dan asin seperti air laut. Intrusi dapat berakibat rusaknya air tanah yang tawar dan berganti menjadi asin.

Kondisi demikian kini tengah terjadi di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), hampir di seluruh kecamatan, seperti Mandah, Kateman, Pulau Burung, Concong, Reteh dan Sungai Batang.

Menurut Anggota DPRD Riau dari daerah pemilihan (dapil) Inhil Abdul Wahid SPdI, Rabu (4/1) di Gedung Lancang Kuning, penyebabnya, antara lain dikarenakan terjadinya abrasi.

“Abrasi diartikan sebagai pengikisan bibir pantai oleh air laut. Laut menggerogoti kawasan pantai, lalu menelannya dan lenyaplah bibir pantai atau bahkan pulau tersebut. Lama kelamaan, suatu kawasan yang dulunya tampak asri berubah menjadi lautan,” jelas Wahid.

Agar ini ini tidak semakin parah maka, kata Wahid, perlu dicegah dengan cara membuat tanggul penahan intrusi air laut. Pemprov Riau hendaknya mulai berpikir untuk menyelamatkan Inhil dari intrusi air laut.

“Setahu saya sampai dengan saat ini belum ada proyek provinsi (Pemerintah Provinsi Riau) untuk mencegahnya. Padahal kondisinya sudah mengkhawatirkan, perlu solusi kita bangun tanggul atau sediakan alat berat. Bisa saja nanti pengadaan alat berat dari provinsi dan operasional dari Pemkab Inhil,” ujarnya.

Atau dengan imbuhnya dengan cara swadaya dengan melibatkan masyarakat sebagai pekerja dan yang bertanggung jawab terhadap operasional alat berat seperti eskavator. Sebab sumber daya manusia di Inhil cukup banyak. Sehingga kalau dibuat proyek tanggul dikhawatirkan dananya akan menguap dan terbuang percuma.

“Kemampuan masyarakat ada. Kalau bangun tanggul dananya menguap entah kemana mana. Makanya libatkan saja masyarakat. Sampai dengan saat ini ada program pengadaan eskavator di 2012 baru 2 unit. Jumlah ini tidak menjawab persoalan, baru 2 unit dalam bentuk hibah. Idealnya satu kecamatan 1 unit,” pinta Wahid.

Mengingat di wilayah pesisir intrusi air laut berkisar 30 cm sampai 1 meter. Meski intrupsi air laut tidak lama, paling 2 jam, tapi efeknya membawa garam sehingga mematikan tanaman yang sengaja dibuat petani dengan jarak sangat jauh, 2 sampai 3 Km. Tapi tetap terkena intrusi air laut.

“Solusisnya harus ada niat Pemprov Riau untuk menambah pengadaan alat berat per kecamatan. Jika satu kecamatan 1 unit, maka bisa digilir per desa,” harapnya.***