Sebagai rasa syukur atas anugerah yang diterima tradisi masyarakat kita adalah dengan menggelar acara syukuran atau mendo’a dengan mengundang orang banyak atau beberapa orang saja. Hal yang sama juga dilakukan setelah mendapat musibah atau kemalangan dan sebagainya.

Jika membuat acara syukuran atau mendo’a dengan mengundang tetangga atau orang banyak biasanya masyarakat kita lebih memilih pada hari-hari dan jam tertentu seperti pada malam hari usai sholat Magrib atau Isya’. Juga pada malam Jumat atau pada hari-hari libur yang kira-kira menyesuaikan dengan hari kerja orang yang akan diundang.

Tahukah anda, bahwa ada sebuah tradisi di Rengat, Indragiri Hulu, Riau, bahwa masyarakat setempat biasa mengundang beberapa tetangga atau beberapa orang untuk menghadiri acara syukuran di pagi hari, bahkan ketika matahari baru saja muncul.

Setidaknya inilah yang saya alami ketika pulang ke Rengat, Indragiri Hulu, beberapa waktu lalu. Pagi-pagi sekitar pukul 05.30 wib ketika aktivitas belum dimulai pintu rumah diketuk oleh sesorang untuk menyampaikan maksud dan tujuannya. Awalnya agak bingung juga karena sang tetangga mengundang untuk datang ke rumahnya sekitar pukul 6.00 atau 6.30 pagi untuk sarapan bareng. Setelah mencari tahu, akhirnya baru mengerti kalau undangan tersebut dalam rangka sekedar mendo’a.

Biasanya acara syukuran ala masyarakat Melayu Rengat ini hanya dihadiri oleh beberapa orang saja. Biasanya hanya tetangga dari pemilik acara tersebut. Jika biasanya syukuran di beberapa tempat dilakukan ketika jam makan siang di Rengat, dilakukan waktu sarapan pagi bersama tetangga-tetangga.

Ups, tidak lengkap rasanya kalau acara syukuran seperti ini tidak membicarakan menu makanan. Pada acara seperti ini biasanya menu yang dihidangkan untuk tetamu yang datang pada dasarnya adalah menu sarapan pagi terutama seperti lontong atau bubur plus kopi dan atau teh manis (yang manisnya minta ampun…).

Mengingat dilaksanakan pada pagi hari tentu tidak terlalu berlama-lama acara itu berlangsung. Usai berdoa bersama sesuai permintaan tuan rumah yang dilanjutkan sarapan bareng dan merokok sebatang-dua batang, maka acara pun usai. Warga yang hadir kembali melanjutkan aktivitas rutinnya di pagi hari.

Sampai kini, saya belum / tidak mengetahui apakah acara syukuran yang dikemas dalam bentuk sarapan bersama di pagi hari sebelum jadwal kerja seperti yang ada di masyarakat Melayu Rengat, juga ada di daerah lain. Kiranya pembaca sekalian memberikan masukan. #