Begitu Rasulullah SAW wafat, para Sahabat dan kaum muslim ketika itu langsung mencari ‘pengganti’ Nabi sebagai pemimpin umat. Hal itu dilakukan karena menyadari bahwa suatu Negara tidak boleh tanpa pemimpin walau hanya dalam satu jam saja.

Namun yang menjadi persoalan adalah siapa yang berhak menjadi Khalifah sebagai penerus nabi mengingat Nabi Muhammad SAW ketika masih hidup tidak pernah menyebut nama sebagai penggantinya kelak. Akibatnya masing-masing kelompok dan suku mengusulkan pemimpin mereka menjadi orang nomor satu saat itu.

Sahabat Nabi, Umar bin Khottab r.a. yang hadir saat itu memiliki pendapat lain. Ia mengusulkan Abu Bakar Siddiq r.a menjadi khalifah dengan berbagai pertimbangan diantaranya adalah beliau merupakan sahabat terbaik Nabi dan orang pertama memeluk Islam dan membenarkan dan mengakui terjadinya peristiwa Isra’ Mikraj.

Akan tetapi Abu Bakar menolak pembaiatan dari Umar bin Khottab mengingat beratnya amanah yang mesti dipikul di pundak seorang khalifah. Memang, begitu Rasulullah wafat menjadi khalifah bukanlah perkara mudah mengingat berbagai persoalan yang akan terjadi seperti bermunculannya nabi palsu, banyak kaum muslim yang murtad, keengganan berbagai suku membayar pajak karena mereka menganggap pajak hanyalah wajib ketika Nabi masih hidup.

Tidak hanya itu beberapa pengikut Ali Bin Abi Thalib, salah seorang Sahabat, keponakan sekaligus menantu Nabi, juga menolak Abu Bakar menjadi Khalifah. Mereka beranggapan Ali lah yang lebih pantas menduduki jabatan tersebut.

Setelah melewati perdebatan dengan berbagai pertimbangan akhirnya resmilah Abu Bakar as- Siddiq r.a menjadi Khalifah sekalipun dia begitu sedih menerima jabatan berat tersebut. Sebenarnya, apa yang dilakukan Umar dengan menunjuk Abu Bakar menjadi khalifah bukanlah suatu keputusan yang salah. Walau Nabi tidak pernah menunjuk langsung siapa yang menjadi penerusnya namun secara tidak langsung nabi pernah menunjukkan sikap-sikap bahwa Abu Bakar lah orang yang lebih utama di antara beberapa orang sahabat menggantikan dirinya.

Hal itu terjadi terjadi ketika Nabi terlambat mengikuti sholat berjamaah di masjid mengingat kondisi tubuhnya yang kurang sehat. Abu Bakar merupakan sahabat yang pernah mengimami Nabi Muhammad SAW dalam sholat berjamaah.

Dalam riwayat, Abu Bakar sekaligus mertua Rasulullah, disebut sebagai seorang yang lemah lembut namun tegas dalam bersikap, jujur, perasa, suaranya lemah dan lebih banyak menangis ketika membaca Al Quran.

Membaca kisah singkat tentang saat pengangkatan Abu Bakar Siddiq di atas mengingatkan kita drama perpolitikan di Negara ini yang semakin sengkarut. Sepertinya meminta jabatan bukanlah lagi sesuatu yang dianggap memalukan, berebut kekuasaan adalah sesuatu yang biasa.

Untuk menduduki jabatan sebagian diantara kita rela melakukan apa saja termasuk melakukan suap dan melanggar aturan. Budaya malu tidak lagi ada diantara pemimpin-pemimpin kita, makanya tidak heran kalau korupsi sudah berakar-berurat di negeri ini.

Seharusnya elit-elit di negeri ini bisa mengambil pelajaran dari kisah Abu Bakar Siddiq di atas. Menjadi sahabat Nabi tidak membuat Abu Bakar congkak. Sekalipun dianggap mampu menjadi pemimpin dia berusaha menolak jabatan yang diberikan walau akhirnya tetap tidak bisa menolak amanah tersebut.

Seharusnya jabatan dianggap sebuah amanah bukan cita-cita seperti yang terjadi pada pemimpin kita saat ini. Jika jabatan dianggap amanah maka tidak akan ada yang protes ketika jabatan tersebut ditarik dari dirinya.

Penulis yakin, pembaca juga merasa miris dan tidak habis pikir melihat sikap Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dalam beberapa hari terakhir. Partai ini merupakan salah satu contoh kecil bagaimana elit-elit di Negara ini tidak lagi malu berebut jabatan dan kekuasaan. Lihatlah, ketika ada wacana reshuffle menteri oleh Presiden SBY yang akan dilaksanakan dalam beberapa hari ini. PKS tidak segan-segan mengancam presiden jika jatah menteri dari partai mereka dikurangi. Bahkan partai yang disebut-sebut sebagai partai dakwah ini akan menarik seluruh menterinya dari kabinet, tentunya dengan konsekuensi bagi presiden dan mereka akan membuka isi kontrak politik antara SBY dengan PKS.

Namun kita tidak bisa menyesali PKS sendiri karena hal itu tidak terlepas dari sikap pemimpin Negara ini yang tidak bisa tegas. Pengamat politik Effendi Gazali, seperti dimuat tempointeraktif.com, menilai Presiden terlalu memberikan ruang lebih bagi partai politik untuk tawar-menawar. Ini menimbulkan kesan Presiden membiarkan dirinya tersandera. Menurut Effendi, proses tarik-ulur perombakan kabinet kali ini tak ubahnya sinetron yang mungkin tidak pernah terjadi di Negara manapun mengingat reshuffle merupakan hak prerogatif presiden.

Sebagai renungan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menasehatkan kepada Abdurrahman bin Samurah radliallahu ‘anhu: “Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta kepemimpinan. Karena jika engkau diberi tanpa memintanya, niscaya engkau akan ditolong (oleh Allah dengan diberi taufik kepada kebenaran). Namun jika diserahkan kepadamu karena permintaanmu, niscaya akan dibebankan kepadamu (tidak akan ditolong).” (HR. Bukhari).

Selanjutnya Rasulullah juga pernah bersabda, “Sesungguhnya kalian nanti akan sangat berambisi terhadap kepemimpinan, padahal kelak di hari kiamat ia akan menjadi penyesalan.” (HR. Bukhari)

Ah.. seandainya saja jabatan itu hanya amanah… []