Persoalan asal-usul bahasa Melayu merupakan isu lama yang hingga saat ini belum ada kata putus dalam persoalan tersebut. Persoalan pokok yang menjadi topik pembicaraan antara lain; tanah asal dan bentuk linguistik dari bahasa yang dianggap sebagai awal beberapa bahasa nasional di Asia Tenggara.

Rumpun bahasa Melayu merupakan satu kelompok bahasa yang memiliki jumlah bahasa terbanyak di dunia (sekitar 1.200 bahasa). Selain itu, bahasa Melayu juga mempunyai rentang wilayah sebaran geografis terluas di dunia sebelum masa ekspansi bangsa Eropa. Dari sekian banyak rumpun, bahasa Melayu Johor-Riau yang merupakan bahasa Melayu Piawai dan terpilih sebagai basantara (lingua franca) bagi penduduk di belahan dunia Melayu, mulai dari Kepulauan Okinawa di sebelah Utara sampai Selandia Baru di sebelah Selatan; mulai dari Madagaskar di sebelah Barat sampai ke Kepulauan Paskah di sebelah Timur serta bagi berbagai bangsa yang berinteraksi di wilayah tersebut.

Ketika bangsa Melayu di wilayah Asia Tenggara terpecah akibat politik para penjajah dengan adanya Traktat London (Perjanjian London) tahun 1824 antara Pemerintah Inggris dan Belanda, maka Semenanjung Melayu dan Singapura beserta pulau-pulau kecil lainnya menjadi kekuasaan colonial Inggris. Sedang Kepulauan Nusantara (Kepulauan Sunda besar; pulau-pulau Sumatera, Jawa, sebagian Borneo/ Kalimantan, dan Sulawesi; Kepulauan Sunda kecil pulau-pulau Bali, Lombok Flores, Sumbawa, Sumba, sebagian Timor, dan lain-lain; Kepulauan Maluku dan sebagian Irian) menjadi kekuasaan kolonial Belanda. Bisa dibayangkan bagaimana sulitnya membangun komunikasi bagi pemerintah Kolonial Belanda dengan penduduk pribumi di wilayah Indonesia yang memiliki keragaman bahasa sebanyak 577 bahasa daerah. Bertolak dari perjalanan sejarah dan perkembangan bahasa Melayu, maka Gubernamen Hindia Belanda menetapkan bahasa Melayu sebagai bahasa administrasi dan bahasa pengantar dalam dunia pendidikan ketika itu.

Tatkala semangat kebangsaan para pemuda dari berbagai pelosok tanah air memerlukan media penyatuan secara nasional. Berbagai pihak mengakui, bahwa; hanya bahasa Melayu, satu-satunya bahasa pribumi yang berpeluang dapat diterima sebagai bahasa komunikasi antar-etinis. Dalam hal ini, sekali lagi bahasa Melayu terpilih sebagai perekat yang mengikat kesatuan bangsa dengan diikrarkannya Sumpah Pemuda. Bahasa Melayu menjadi dasar dan pilar pembentukan bahasa nasional Indonesia.

Pada kongres bahasa Indonesia ke dua di Medan yang berlangsung 28 Oktober – 2 November 1954 , Seksi A memutuskan dalam pernyataan butir 8. Bahwa asal bahasa Indonesia ialah bahasa Melayu. Dasar bahasa Indonesia ialah bahasa Melayu yang disesuaikan dengan pertumbuhannya dalam masyarakat Indonesia sekarang.

Karena tidak ditegaskan serta tidak adanya pentaukidan bahasa Melayu mana yang dimaksud, menyebabkan muncul berbagai pendapat, karena daerah penutur dan pemangku bahasa Melayu tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Lalu, bahasa Melayu mana yang dimaksud?. Dalam buku Bahasa dan Aksara Melayu Nusantara yang ditulis Budayawan Riau SPN G.P Ahmad Darmawi (Juni 2010), penulis mencoba memperbaharui pengetahuan kita berkenaan dengan keberadaan sejarah dan perkembangan bahasa Melayu sehingga menjadi Lingua Franca dan seterusnya menjadi bahasa Nasional di beberapa Asia Tenggara kemudian diharapkan dapat menjadi bahasa Melayu Raya bagi seluruh penduduk di belahan Dunia Melayu.

Dalam buku ini penulis juga mengurai tentang asal kata Melayu, bangsa Melayu, periodesasi bahasa Melayu, penggolongan bahasa-bahasa Melayu Polinesia, dan dialek dan ragam bahasa Melayu.

Tidak hanya itu, buku yang diterbitkan Suska Press dan Rakyat Riau ini juga mengulas tentang Aksara dan Ejaan bahasa Melayu, mulai dari Aksara Melayu, periodesasi Aksara Nusantara hingga perbedaan antara bahasa Melayu dengan bahasa Indonesia. Diakhir tulisan dalam buku ini juga dibahas tentang bagaimana bahasa Melayu Riau menjadi asal dan dasar bahasa Indonesia, kekuatan, keagungan, keindahan bahasa Melayu dan menuju bahasa Melayu Raya.

Diuraikan penulis, bahasa Melayu piawai Johor- Riau sebagai bahasa Melayu Tinggi menjadi dasar pembentukan bahasa nasional di wilayah Asia Tenggara, terutama Malaysia (dari bahasa Melayu Johor) dan Indonesia (dari bahasa Melayu Riau).

Di Indonesia, bahasa Melayu telah diakui secara tidak langsung sebagai bahasa nasional sejak peristiwa Sumpah Pemuda pada tahun 1928, sementara itu di Malaysia, bahasa Melayu menjadi bahasa nasional satu-satunya semenjak Negara itu merdeka pada tahun 1957. Singapura, kendati memisahkan diri dari Malaysia pada tahun 1965 tetap mengakui bahasa Melayu sebagai bahasa nasional. Begitu pula dengan Brunei yang merdeka pada tahun 1984. Bahasa Melayu selalu saja dikaitkan dengan kemerdekaan nasional dan menjadi salah satu factor pemersatu antar penduduk di bumi Melayu yang tidak semua penuturnya bertutur dan berkomunikasi dalam bahasa Melayu.

Lalu mengapa Indonesia dan Malaysia bersikeras menggunakan kata bahasa, padahal sebenarnya keduanya hanya menggunakan varian bahasa Melayu? Baik Indonesia maupun Malaysia merasa perlu memisahkan identitas bahasa nasionalnya dari bahasa Melayu di Negara lain. Seperti dikatakan oleh Harimurti Kridalaksana bagi kelompok-kelompok sosial tertentu. Bahasa tidak sekadar merupakan sistem tanda, melainkan sebagai lambing identitas sosial. Dengan demikian, jelas terlihat bahwa bangsa Indonesia tidak ingin mempunyai identitas sosial yang sama dengan bangsa lain yang juga menggunakan bahasa Melayu, begitu pula bangsa Malaysia.

Namun bagaimanapun juga, bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia berakar dari bahasa yang sama, yaitu bahasa Melayu yang digunakan di Kepulauan Riau-Lingga dan pantai-pantai di seberang Sumatera. Itulah mengapa bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia mempunyai dasar-dasar yang sama. Maka tidaklah mengherankan jika ada universitas yang menggabungkan bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia ke dalam satu jurusan/departemen.

Hal yang harus diperhatikan adalah sebagai varian sosial dan varian regional, bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia digunakan oleh kelompok orang yang berbeda dan di tempat yang berbeda. Perkembangan bahasa Indonesia dipengaruhi oleh perkembangan bangsa Indonesia dan apa yang terdapat dan terjadi di Indonesia sendiri. egitu pula bahasa Malaysia. Dengan demikian, dari tahun ke tahun, perbedaan antara bahasa Indonesia dengan Malaysia semakin besar. Bagaikan saudara yang diasuh di rumah berbeda, bukan tidak mungkin kedua bahasa ini tidak saling mengenal lagi ketika sudah tua nanti.

Meski demikian, mengingat bahasa Indonesia berasal dan bersumber dari bahasa Melayu, maka usaha untuk mencoba mempertemukan kembali kebersamaan dengan bahasa di kawasan ASEAN, seperti bahasa Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam, bukan pejerjaan yang mengada-ada, karena sebelumnya sudah ada beberapa upaya antara beberapa Negara Asia Tenggara mulau mengarah kepada Bahasa Melayu Raya.

Dengan diterimanya bahasa Melayu sebagai bahasa nasional dan ditambah lagi dengan proses penyebarannya yang demikian luas dan cepat, maka secara gemilang telah berhasil menciptakan sebuah kesatuan dan kawasan nusantara, suatu prestasi politik kebudayaan yang mengagumkan. Kohesi nasional yang mampu mengikat dan merakit pluralisme etnis dan bahasa local ke dalam kesatuan nusantara di bawah paying bahasa nasionalnya masing-masing.[]

Judul: Bahasa dan Aksara Melayu Nusantara
Penulis: Ahmad Darmawi
Penerbit: Suska Press
Cetakan Pertama: Juni 2010
Halaman: xiii + 328