Hasil seleksi penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) tingkat provinsi Riau dan Pemkab/Pemko telah diumumkan. Ada sebanyak 2738 orang dari 53.090 orang pelamar yang beruntung tahun ini.

Kenapa saya bilang beruntung? Bagaimana tidak. Hingga kini dari tahun ke tahun pekerjaan menjadi pegawai negeri masih saja menjadi magnet yang sangat menarik bagi banyak orang akan tetapi hanya sedikit saja yang bisa ditampung di kantor-kantor pemerintah.

Sehingga, ada di antara kita yang melakukan banyak cara agar termasuk ke dalam orang-orang yang beruntung tersebut. Dalam tulisan ini, penulis tidak akan mempersoalkan apakah cara-cara merih keberuntungan itu dilakukan melalui cara yang benar atau salah, melalui cara kejujuran atau suap menyuap.

Yang menjadi pertanyaan adalah apakah benar pemerintah, baik tingkat provinsi atau kabupaten/kota betul-betul kekurangan pegawai negeri sipil mengingat setiap tahun selalu saja dilakukan perekrutan pegawai baru.

Jika di lihat di lapangan tentu sekiranya pembaca setuju kalau kiranya pemerintah daerah kita tidaklah kekurangan pegawai mengingat setiap hari selalu saja kita menemukan para PNS yang masih tidak diberdayakan. Pagi-pagi mereka lebih suka kongkow-kongkow di cafe-cafe. Dengan mudah kita menemukan PNS berkumpul di Kim Teng pada jam kerja, belanja pakaian di mal-mal, atau lebih suka pergi ke kebun jagung miliknya daripada ke kantor yang katanya lebih banyak duduk-duduk dan baca koran. Atau jika mereka datang ke kantor, karena tidak ada pekerjaan yang bisa dilakukan mereka lebih suka main game online.

Menurut penulis, saat ini pemerintah daerah tidak kekurangan pegawai tapi hanya kekurangan pekerja. Ya, kita hanya memiliki sedikit pegawai negeri sipil yang berjiwa pekerja.

Dalam banyak buku manajemen organisasi, gejala ini lebih disebabkan oleh para pemimpin kita yang tidak pandai memenej anggotanya (pegawai). Di samping para PNS-nya yang juga tidak pandai bekerja atau tidak tahu apa yang mau dikerjakan.
Lagi-lagi penulis berasumsi, ini disebabkan karena ada yang salah dalam sistem perekrutan pegawai negeri.

Jika dilihat dari seleksi CPNS belum lama ini tidak ada jaminan kalau yang keluar sebagai ‘pemenang’ menjadi CPNS benar-benar orang yang bisa diandalkan dalam bekerja di bidangnya. Bagaimana mungkin berbeda jurusan dan pekerjaan tapi pertanyaan-pertanyaan yang diujikan semua sama.

Ya, pelamar CPNS dari jurusan Akuntansi untuk ditempatkan sebagai tenaga Pelaporan Keuangan atau auditor memiliki soal ujian yang sama dengan jurusan Administrasi Negara atau Ilmu Komunikasi. Kenapa panitia seleksi penerimaan CPNS membedakan saja soal-soal ujian antar jurusan atau bidang yang dilamar.

Idealnya, peserta yang melamar jabatan tertentu akan mendapatkan soal-soal ujian yang berkaitan dengan jabatan atau pekerjaan yang akan mereka tempati nantinya.

Jika hal ini telah dilakukan setidaknya masyarakat kita tidak lagi mempertanyakan kualitas para PNS yang ada. Ini juga tentunya jika sistem seleksi dilaksanakan dengan jujur tanpa ada kongkolinkong. Jika tahun depan masih dilakukan perekrutan CPNS kita hanya berharap tidak hanya sekedar formalitas semata. Semoga.*