Selain kaya dengan alam dan budaya, Bangsa Indonesia juga kaya dengan bahasa daerahnya. Pusat Bahasa Kementrian Pendidikan Nasional menyebutkan jumlah bahasa daerah di Tanah Air dari Sabang sampai Merauke, mencapai 746 bahasa. Bahasa daerah yang sebanyak itu bisa disatukan dengan satu bahasa nusantara, Bahasa Indonesia.

Namun jangan bangga dulu. Walau 746 bahasa daerah ini masih dituturkan, akan tetapi semakin lama bahasa ini akan semakin ditinggalkan terutama oleh kalangan muda.

Bahasa daerah di kalangan generasi muda semakin hari semakin ditinggalkan. Sekarang, orang-orang muda dari daerah yang tinggal di kota lebih suka menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa gaul dari kalangan mereka sendiri. Bukan berarti bahasa daerah tersingkirkan, tetapi bahasa Indonesia dan bahasa daerah mestinya harus saling melengkapi.

Demikian dikatakan Kepala Pusat Bahasa Kementrian Pendidikan Nasional Agus Darma di acara Simposium Internasional Perencanaan Bahasa, Senin (2/11/2010) di Jakarta. Acara yang digelar oleh Pusat Bahasa Kementrian Pendidikan Nasional tersebut berlangsung 2-4 November 2010 di Jakarta, mengusung tema Perencanaan Bahasa Pada Abad 21: Kendala dan Tantangan.

“Bukan berarti bahasa daerah tersingkirkan, tetapi bahasa Indonesia dan bahasa daerah mestinya harus saling melengkapi,” lanjut Agus dikutip dari Kompas.com.

Agus mengatakan, bahasa Indonesia tidak akan bisa berkembang tanpa adanya bahasa daerah. Tidak benar jika bahasa daerah tergerus untuk menunjukkan bahasa nasional, yaitu bahasa Indonesia. Bahkan, imbuhnya, pada muatan-muatan lokal pendidikan, bahasa daerah masih tetap dipertahankan.

“Bahasa daerah, bahasa Indonesia, ataupun bahasa asing, sekalipun memiliki hubungan timbal balik, fungsinya saling memperkaya satu sama lain,” tambahnya. (sumber: melalui proses tambal sulam)