Belum lama ini saya kedatangan tamu dari luar Riau. Teman lama yang memang sudah lama tidak bersua yang memang belum pernah menginjakkan kaki di Tanah Lancang Kuning ini.

Ketika diajak keliling Kota Pekanbaru – ibukota Provinsi Riau – ada terlihat kesan kagum melihat arsitektur bangunan yang berciri-khas Melayu Riau. Di daerah ini memang sebagian besar arsitektur bangunan, terutama perkantoran pemerintahan, menonjolkan corak kedaerahan. Nuansa Melayu.

Lihat saja, Bandara Sultan Syarif Kasim, gedung DPRD Provinsi Riau, Pustaka Soeman HS, dan berbagai bangunan lainnya, minimal menggunakan Selembayung dan tidak lupa memajang tulisan Arab Melayu (Arab Jawi) pada papan nama kantor tersebut.

Namun tidak demikian halnya dari segi bahasa. Sejak lama, dan juga tercatat dalam sejarah, daerah tersebut sebagai provinsi penyumbang bahasa Indonesia. Artinya, Bahasa persatuan, Bahasa Indonesia, merupakan berasal dari daerah Riau (walau sekarang Riau telah terbagi menjadi dua provinsi, Riau dan Kepulauan Riau). Akan tetapi di kalangan masyarakat Pekanbaru, hanya sebagian kecil saja yang berbahasa
Melayu Riau.

“Saya kira ketika sampai di sini, saya akan mendengarkan masyarakat Pekanbaru berbahasa Melayu. Tapi kenapa masyarakatnya berbahasa Minang (Sumatera Barat)?,” kata tamu, bertanya.

Tidak bisa dipungkiri, sebagian besar penduduk Kota Pekanbaru berasal dan keturunan dari Sumatera Barat. Sebagian besar dari mereka ini berprofesi sebagai pedagang. Sehingga jangan heran kalau bahasa masyarakat akan dipengaruhi oleh bahasa pedagang atau bahasa Sumatera Barat.

Tentu hal ini tidak terjadi di sebagian daerah lainnya di Riau. Jika anda
mengunjungi kabupaten/ kota di Riau anda akan mendengar betapa masih aslinya bahasa Riau yang bermacam pariasi logat dan suku katanya antara satu daerah dengan daerah lainnya. Tentu jangan lupa, di daerah ini anda akan menjumpai masyarakat berbahasa daerah lain seperti Jawa, Batak atau Sumbar sendiri mengingat daerah Riau memang merupakan daerah yang sangat terbuka dengan ‘pendatang’.

“Loh, di daerah lain para pendatang mau menggunakan bahasa setempat,” kata rekan tadi.

Memang sebagai masyakarat Melayu asli, saya merasa miris mengingat makin tertinggalnya (tepatnya ditinggalkan) bahasa lokal di daerah ini. Tidak seperti masyarakat di daerah lain, dimana para ‘pendatang’ mau berbahasa daerah yang didatanginya tersebut. Jika di Yogya mereka akan menyesuaikan dengan menggunakan bahasa Jawa, di Makassar mereka akan menggunakan berbahasa setempat dan di Bandung akan menggunakan Bahasa Sunda.

“Mungkin inilah bedanya Riau dengan daerah lain di Nusantara. Riau lebih mudah membuka tangannya untuk para pendatang,” kata saya berkilah.