PEKANBARU – Cuaca ekstrim melanda Riau akhir-akhir ini. Tidak tanggung-tanggung suhu di daerah penghasil minyak dan kelapa sawit ini ini mencapai 36 derajat celcius dan tidak bisa diprediksi. Siang panas begitu terik, satu jam kemudian berubah menjadi angin kencang dan hujan yang sangat deras.

Selain cuaca yang tidak menentu ini, Riau secara umum juga kembali dilanda musibah kabut asap yang menyesakkan pernapasan. Musibah bagi rakyat namun tidak demikian halnya dengan perusahaan dan pemilik lahan.

Kabut asap ini dihasilkan dari terbakarnya lahan perkebunan, dan atau lahan kosong baik milik masyarakat dan perusahaan. Bagi Riau dan wilayah lain di Sumatera, kabut asap ini bukanlah pertama kali terjadi. Asap plus dengan suhu udara yang ekstrim selalu terjadi saban tahun. Bahkan kebakaran hebat pernah terjadi sekitar tiga belas tahun lalu yang mengakibatkan terhentinya semua aktivitas warga di tengah terbatasnya jarak pandang.

Setelah 13 tahun ternyata masalah kebakaran atau tepatnya pembakaran hutan dan lahan oleh perusahaan ini masih belum kunjung tuntas. Ketika musim panas datang, seolah-olah pemerintah tidak bisa berbuat banyak untuk memadamkan api yang terus berkobar. Akan tetapi ketika asap pergi, hilang pula cerita dan upaya mencegah datangnya kembali asap.

Tahun ini, walau belum begitu parah tapi tetap mengkhawatirkan. Data yang dirilis Badan Metrologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru, berdasarkan hasil pantauan satelit NOAA 18 Rabu (20/10/10),  ditemukan 37 titik api di seluruh wilayah Riau. Terbanyak di Dumai dengan 12 titik, kemudan Rokan Hilir 11 titik dan Bengkalis 6 titik.

Masalah tidak hanya sampai di sini, akibat kencangnya pergerakan angin yang bergerak dari Selatan ke utara dan Timur Laut menyebabkan asap yang ‘diproduksi’ Riau dan provinsi di Sumatera terbawa ke negara tetangga, Malaysia dan Singpura.

Tentu saja dua negara yang jaraknya sangat dekat dengan Riau ini mengeluh. Kalangan pejabat Singapura gusar dengan memburuknya kualitas udara di negeri mereka akibat kiriman kabut asap kebakaran dari Indonesia.

Pemerintah Singapura meminta Indonesia untuk segera mengatasi masalah kebakaran lahan atau hutan di Sumatera, yang setiap tahun terus berlangsung. Laman harian The Straits Times mengungkapkan bahwa indeks standar polusi (PSI) atas kualitas udara di Singapura kian parah.

Pada Jumat pukul 8 pagi waktu setempat, tingkat PSI mencapai angka 90, atau sudah masuk dalam katagori tidak sehat. Bahkan pada Kamis sore, tingkat PSI mencapai 108. Ini adalah angka tertinggi sekaligus terburuk sejak 2006. Itulah sebabnya sejumlah menteri Singapura mulai menghubungi pemerintah Indonesia.

Menteri Lingkungan Hidup Singapura, Yacoob Ibrahim, telah menghubungi mitranya dari Indonesia, Gusti Muhammad Hatta, untuk mengungkapkan kekecewaannya serta mendesak pemerintah Indonesia untuk mengambil tindakan. Yacoob mengatakan bahwa kabut asap akan semakin memburuk jika Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia tidak melakukan tindakan secepatnya untuk memadamkan titik api di Sumatera.

Yacoob juga mendesak Indonesia untuk mengalokasi secepatnya sumber daya yang diperlukan dan segera melakukan tindakan yang cepat dan terukur serta efektif untuk mengatasi kabut asap yang juga menimpa Malaysia ini.

Yacoob juga sekali lagi menyampaikan bahwa Singapura siap membantu Indonesia dalam pemadaman titik api, yang diyakini terdapat lebih dari 100 titik di Sumatra. Titik-titik api ini timbul akibat pembakaran hutan untuk membuka lahan oleh para peladang dan perusahaan perkebunan.

Selain Yacoob, Menteri Luar Negeri Singapura George Yeo juga akan menyampaikan keluhan serupa kepada Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa. Kedutaan Besar Singapura di Indonesia juga telah diinstruksikan untuk memberitahukan kepada Kemlu Indonesia mengenai keinginan Yeo untuk berbicara dengan Menlu Natalegawa.

Selain Singapura, sebagian wilayah di Malaysia pun mengalami masalah serupa. Tidak seperti Singapura, Malaysia masih bersabar atas gangguan kabut asap dari kebakaran lahan atau hutan di Indonesia. Kendati tidak melayangkan keluhan, Malaysia berharap Indonesia bisa segera menuntaskan masalah kabut asap, yang mencemari udara di negara bagian Johor.

“Kebakaran hutan juga terjadi di negara lain, bukan hanya di Indonesia,” ujar Menteri Luar Negeri Malaysia, Anifah Aman, seperti dilansir kantor berita pemerintah Malaysia, Bernama, Jumat 22 Oktober 2010.

Anifah mengatakan bahwa jika memang hutan di Indonesia adalah sumber kabut asap di Johor, dia percaya pemerintah Indonesia tidak tinggal diam dan akan segera mengatasi hal ini. Anifah juga menawarkan kerja sama kepada pihak Indonesia jikalau dibutuhkan dalam proses pemadaman api.

Sebenarnya, polusi kabut asap di Johor telah masuk ke dalam tingkat berbahaya. Maka pemerintah Malaysia memutuskan untuk meliburkan 200 sekolah, yang menampung lebih dari 80.000 murid pada Kamis, 21 Oktober 2010. Mereka akan masuk kembali hari ini jika kabut asap telah mereda.

Akan tetapi keluhan dua negara jiran ini bisa dinilai sebagai sikap ‘lebay’. Bagaimana tidak, selama puluhan tahun sebagai negara bertetangga dengan Riau, setiap hari Warga Singapura dan Malaysia menghirup udara segar dari hutan-hutan Riau dan Indonesia secara umum.

Mereka tidak menyadari dan tidak pernah berterima kasih atas masih tersisanya hutan di Negara Indonesia sehingga masih bisa menopang iklim di wilayah sekitaranya. Kenapa ketika mereka mendapatkan ‘kiriman’ asap mengeluh namun tidak demikian hanya ketika pasir-pasir yang dikeruk di Kepulauan Riau dan sekitaranya untuk menimbun dan memperluas daratan mereka. Kayu-kayu ilegal yang ditebang dan dikirim secara ilegal pula ke Singapura dan Malaysia untuk kebutuhan mereka, diterima dengan sukarela oleh negara tersebut. Sebagai warga negara yang baik, saya rasa tidak ada yang menginginkan terus terbakarnya hutan-hutan dan lahan.

Kita berharap agar pemerintah bisa segera mencari solusi terbaik agar pembakaran lahan dan hutan tidak lagi terjadi setiap tahunnya. Bagi Singapura, jangan hanya mengeluh dong.

Sebagai negara bertetangga, Singapura juga mesti bertindak tegas dan harus berani menolak jika ilegal logging masuk ke negara mereka. Sehingga tidak ada yang diuntungkan dan dirugikan. (jel/ Vivanews/riauterkini)

Foto oleh soham_pablo. Lisensi Creative Commons Attribution 2.0.