Dalam kurun waktu 20 tahun telah terjadi perubahan besar-besaran terhadap budaya Sakai, salah satu suku asli di Provinsi Riau. Perubahan tersebut terjadi terhadap budaya berpakaian, bahasa dan hingga kesenian.

Penilaian tersebut disampaikan sendiri oleh salah, Mohamad Agar Kalipke MA, seorang masyarakat suku Sakai yang tinggal di Negara Jerman, ketika berbincang dengan satuRiau.com, Kamis (25/6/09) di Hotel Ratu Mayang Garden Pekanbaru.

“Dalam 20 tahun Suku Sakai di Riau sudah banyak berubah. Tidak hanya pada kehidupan sehari-hari seperti cara berpakaian, bahasa, hingga lagu-lagu, tetapi adat juga banyak bergeser,” ujar Mohamad Agar yang baru saja sampai ke Indonesia Rabu (24/5/09) kemarin dari Jerman.

Ia menyebutkan perubahan yang terjadi ini bukanlah hal yang harus dihindari akan tetapi hendaknya perubahan tersebut tidak meninggalkan adat dan budaya asli Suku Sakai. “Saat ini kita sudah susah membedakan mana masyarakat Sakai dengan masyarakat kota. Masyarakat Sakai sudah berpakaian seperti orang kebanyakan, sedikit-sedikit meninggalkan bahasanya bahkan lebih suka menyanyikan lagu-lagu Minang, Pop dan barat, itu tidak salah melakukan hal itu, tapi janganlah sampai mengabaikan adat sendiri. Pokoknya sudah banyak perubahan yang ekstrim,” ujarnya.

Suku Sakai adalah komunitas asli yang hidup di daratan Riau. Selama ratusan tahun mereka tinggal di hutan dan daerah pedalaman dan hidup berpindah-pindah. Belakangan, suku Sakai semakin tergusur seiring terus berkembangnya pembangunan yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar di Riau di kawasan hutan yang sebelumnya merupakan tanah suku Sakai.

Hutan-hutan yang dikelola oleh perusahaan itu ternyata dinilai tidak membawa keuntungan bagi masyarakat Sakai sendiri, bahkan suku yang lekat dengan hutan dan rimba ini tidak bisa memasuki wilayah hutan tanaman industri yang dikelola perusahaan.

Namun demikian Mohamad Agar tidak menyalahkan perusahaan-perusahaan yang telah menggusur masyarakatnya itu karena ia menilai perusahaan tersebut beroperasi atas izin pemerintah. Justru yang harus disalahkan adalah pemerintah yang tidak mempertimbangkan baik-buruknya izin yang diberikan tersebut terhadap kehidupan masyarakat asli.

“Masyarakat Sakai sebenarnya belum siap dengan kehidupan modern karena Sakai sudah terbiasa dengan kehidupan di hutan. Kami memiliki adat, wilayah dan ulayat sendiri. Akan tetapi pemerintah tidak memperhatikan dan mempertimbangkan hal seperti itu. Tiba-tiba hutan-hutan milik masyarakat sudah punah,” ujar ayah dari Hayko Suangga Perdana Putra ini.

Ia berharap pemerintah Indonesia dan Pemerintah Provinsi Riau untuk memperhatikan persoalan yang dihadapi masyarakat Suku Sakai ini. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Sakai tidak bisa dipaksakan hidup modern seperti kebanyakan masyarakat lainnya.

Lalu apa yang menjadikan suku Sakai semakin tergusur dan tertinggal? Mohamad Agar menyebutkan ada beberapa hal yang menjadikan Suku Sakai seperti saat ini. Diantaranya pendidikan yang sangat terbatas sehingga banyak masyarakat luar yang datang hanya untuk menjual lahan-lahan milik mereka.

“Ketika tidak memiliki lahan lagi mereka terpaksa menjadi buruh kasar, ingin jadi PNS itu hanya bagi orang-orang tertentu saja, dan ketika mau menanam ubi mereka tidak lagi memiliki lahan,” katanya lagi

Oleh sebab itu ia berharap pemerintah untuk mempertimbangkan segala kebijakan yang dikeluarkan, terutama yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat Sakai.

Mohamad Agar Kalipke, merupakan warga Sakai asal Tengganau, Kecamatan Pinggir, Bengkalis. Sejak tahun 1983 menetap di Hamburg, Jerman. Ia ke Jerman dibawa oleh salah seorang peneliti asal Jerman bernama Hans Kalipke. Peneliti inilah yang menjadi bapak angkatnya di Jerman.

Pria berkaca mata ini juga pernah menerbitkan beberapa buku yang berkaitan dengan adat dan budaya Sakai dalam bahasa Jerman. Seperti Pantun Melayu Sakai berbahasa Jerman, dan Kabus Bahasa Sakai-Indonesia- Jerman setebal lebih kurang 300 halaman yang diterbitkan tahun 2001 lalu. Kamus ini diterbitkannya bersama bapak angkatnya Hans Kalipke yang merupakan warna negara Jerman.

Konon, kamus ini hanya ada tiga di Indonesia, satu di tangan Prof dr Tabrani Rab, satu di Pemprov Riau untuk Perpustakaan Soeman HS, dan satu lagi dihadiahkannya kepada saudaranya yang telah membantu menyelesaikan kamus tersebut.

Pria kelahiran 1961 ini menikahi Susi Maryeni, wanita asal Kabupaten Bengkalis yang diboyongnya ke Jerman. Dari perkawinan ini mereka dikaruniai satu orang anak yang saat ini bekewarganegaraan Jerman. Ia kembali ke Indonesia untuk melakukan penelitian tentang Kepercayaan Melayu Lama. Rencananya, Agar yang masih WNI dan kuliah di University Hamburg ini akan meneliti Suku Sakai selama satu tahun. [jelprison]

pernah diterbitkan di http://www.saturiau.com