Suku Sakai Masih Tertinggal

Masyarakat suku Sakai yang terus terdesak pembangunan dan masih terus tertinggal, disebabkan karena kebijakan pemerintah yang tidak memihak pemerintahan lokal.

Hal tersebut disampaikan Sosiolog Universitas Islam Negeri (UIN) Suska Riau, Husni Thamrin MSi, kepada satuRiau.com, Kamis (25/6/09) di Hotel Ratu Mayang Garden Pekanbaru, di sela acara Pertemuan Memartabatkan Tamaddun Melayu Serumpun III yang diselenggarakan oleh Tenas Effendy Foundation.

“Dari hasil penelitian yang telah saya lakukan pada tahun 1998-2000 yang menghancurkan Sakai adalah kebijakan pemerintah yang tidak memelihara pemerintahan lokal, seperti batin di masyarakat suku Sakai,” ujar Husni Thamrin yang juga Direktur Lembaga Penelitian dan Pengembangan UIN Suska ini.

Ia menyebutkan sebagaian besar pemerintahan lokal di masyarakat suku Sakai tidak lagi dipegang oleh Bathin sebagai pemimpin tertinggi namun dipegang oleh kepala desa. Parahnya lagi, kepala desa yang menjabat dan memimpin masyarakat Sakai adalah orang luar, bukan dari keturunan Bathin sendiri.

Sementara itu di lain pihak ada faktor internal yang menyebabkan Sakai semakin terpinggirkan adalah karena banyaknya penduduk yang tidak mengenyam pendidikan yang layak. Bahkan masih banyak masyarakat Sakai yang tidak bersekolah.

“Selain itu, juga disebabkan oleh oknum-oknum yang memanfaatkan kondisi Sakai tersebut. Sehingga komplitlah permasalahan yang dialami mereka,” katanya lagi.

Kepada satuRiau.com, Husni yang konsen meneliti masyarakat terasing di Riau ini mengatakan tanah dan wilayah yang didiami masyarakat Sakai penuh dengan kandungan minyak, sumber daya hutan yang melimpah, ikan yang lumayan banyak dan potensi tersebut telah terpelihara oleh sistem adat yang mereka anut.

“Silahkan potensi alam seperti minyak yang dimiliki masyarakat Sakai dikelola oleh negara atau perusahaan, dengan syarat masyarakat Sakai mendapatkan fee dari itu,” ujarnya lagi.

Agar kondisi Sakai tidak semakin terbelakang, pemerintah harus memprotek dan menjaga kembali Suku Sakai sebagai budaya bangsa, meningkatkan pendidikan masyarakat terasing.

Sebenarnya persoalan yang dihadapi masyarakat Sakai sama dengan apa yang dialami suku terasing lainnya seperti suku Akit, Bonai, Laut dan beberapa suku lainnya. Hanya saja daerah yang didiami masyarakat Sakai lebih terbuka dan mudah diakses.

Husni berharap pemerintah segera memetakan persoalan suku-suku terasing di Riau dan membuat kebijakan yang memihak masyarakat. “Jangan hanya rethorika dan seminar saja,” tutupnya.*

pernah dimuat di http://www.saturiau.com