Berbagai cara yang dilakukan calon presiden dan wakil presiden untuk membentuk citra positif di mata rakyat Indonesia menjelang Pemilu Presiden tanggal 8 Juli mendatang. Mulai dari memasang iklan di media massa, membuat survei politik, hingga berdialog secara langsung dengan masyarakat bawah.

Para capres dan cawapres tidak akan sungkan-sungkan mendatangi masyarakat yang selama ini terlupakan. Deklarasi di Tempat Pembuangan Akhir sampah, mendatangi pondok pesantren, berdialog dengan para nelayan atau sekedar naik becak agar terlihat merakyat.

Capres dari Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono, Sabtu (20/6/09) juga melakukan hal serupa. Pukul 10.00 bersama rombongan mendatangi Pasar Bawah, sebuah pasar tertua di Pekanbaru yang saat ini dijadikan pasar wisata. Di pasar ini, SBY berdialog dengan masyarakat, menyalami pedagang dan pengunjung, hingga sekedar berbelanja pakaian khas Melayu Riau.

Tidak sampai disitu saja, SBY juga menyempatkan diri makan bersama dengan masyarakat umum di rumah makan Pondok Patin HM Yunus. Tentu saja apa yang dilakukan capres ini membuat luluh hati rakyat yang selama lima tahun ini terabaikan.

Untuk memoles citra elit politik yang akan bertarung dalam Pilpres mendatang tidak segan-segan merogoh kocek dalam-dalam, terutama untuk beriklan di media massa. Bahkan, para capres ini berani menghabiskan dana ratusan miliar hanya satu tujuan, mendapat simpati dan citra positif dari rakyat pemilih.

Perang pencitraan ini sebenarnya telah dimulai sebelum penetapan capres dan cawapres di KPU. Pada masa kampanye kali ini, pasangan SBY-Boediono mencoba menampilkan citra elegan dan bersih. Sedangkan pasangan JK-Wiranto mencoba menampilkan citra pemimping yang mampu bekerja dengan cepat demi kesejahteraan rakyat. Sementera pasangan Mega-Prabowo berusaha membentuk citra pro rakyat.

Salah satunya adalah dengan deklarasi di tumpukan sampah, Bantar Gebang. Menurut Bernard Katz, citra adalah cara bagaimana pihak lain memandang sebuah perusahaan, seseorang, suatu komite, atau suatu aktivitas. Setiap perusahaan (termasuk publik figur) mempunyai citra sebanyak jumlah orang yang memandangnya.

Citra adalah tujuan utama, dan sekaligus merupakan reputasi dan prestasi yang hendak dicapai bagi dunia hubungan masyarakat. Biasanya landasan citra itu berakar dari ‘nilai-nilai keperkacaan’ yang konkretnya diberikan secara individual, dan merupakan pandangan atau persepsi. Semoga, hasil Pemilu Presiden mendatang, rakyat Indonesia benar-benar mendapatkan pemimpin yang betul-betul mampu memimpin bangsa ini. Bukan pemimpin yang hanya bagus karena pencitraan… Semoga

Iklan