Tak ada konflik yang sedemikian menguras tenaga, emosi, dan mengorbankan jiwa-jiwa tak berdosa sebagaimana perang antara Israel dan Palestina. Berlembar-lembar resolusi digaungkan, bertahun-tahun perbincangan damai di meja perundingan, rezim silih berganti. Usaha untuk mewujudkan mimpi tanah Palestina yang damai dan berdaulat tak pernah kurang. Pertempuran di Jalur Gaza menjelang tutup tahun 2008 itu membuktikan sekali lagi bagaimana damai adalah sebuah titik yang hampir tak terlihat dalam peta konflik Timur Tengah.

Berikut catatan tahun-tahun bersejarah dan bersimbah darah sejak Israel dan Palestina membangun mimpi menjadi negara yang berdaulat.

2 November 1917
Inggris mencanangkan Deklarasi Balfour, yang dipandang pihak Yahudi dan Arab sebagai janji untuk mendirikan ”tanah air” bagi kaum Yahudi di Palestina.

1936-1939
Revolusi Arab dipimpin Amin Al-Husseini. Tak kurang dari 5.000 warga Arab terbunuh. Sebagian besar oleh Inggris. Ratusan orang Yahudi juga tewas. Husseini terbang ke Irak, kemudian ke wilayah Jerman, yang ketika itu dalam pemerintahan Nazi.

15 Mei 1948
Perang Kemerdekaan Israel. Secara sepihak Israel mengumumkan diri sebagai negara Yahudi. Inggris hengkang dari Palestina. Mesir, Suriah, Irak, Libanon, Yordania, dan Arab Saudi menabuh genderang perang melawan Israel.

3 April 1949
Israel dan Arab bersepakat melakukan gencatan senjata. Israel mendapat kelebihan wilayah 50 persen lebih banyak dari yang diputuskan dalam Rencana Pemisahan PBB.

Mei 1964
Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) resmi berdiri. Tujuannya menghancurkan Israel. Dalam Perjanjian Nasional Palestina yang dibuat pada 1968, Palestina secara resmi menuntut pembekuan Israel.

13 September 1993
Deklarasi Oslo. Israel dan PLO bersepakat untuk saling mengakui kedaulatan masing-masing.

28 September 1995
Implementasi Perjanjian Oslo. Otoritas Palestina segera berdiri.

September 1996
Kerusuhan terowongan Al-Aqsa. Israel sengaja membuka terowongan menuju Masjidil Aqsa untuk memikat para turis, yang justru membahayakan fondasi masjid bersejarah itu. Pertempuran berlangsung beberapa hari dan menelan korban jiwa.

18 Januari 1997
Israel bersedia menarik pasukannya dari Hebron, Tepi Barat.

Oktober 1998
Perjanjian Wye River berisi penarikan Israel dan dilepaskannya tahanan politik dan kesediaan Palestina untuk menerapkan butir-butir perjanjian Oslo, termasuk soal penjualan senjata ilegal.

19 Mei 1999
Pemimpin partai Buruh Ehud Barak terpilih sebagai perdana menteri. Ia berjanji mempercepat proses perdamaian.

Maret 2000
Kunjungan pemimpin oposisi Israel Ariel Sharon ke Masjidil Aqsa memicu kerusuhan. Masjidil Aqsa dianggap sebagai salah satu tempat suci umat Islam. Intifadah gelombang kedua pun dimulai.

Maret-April 2002
Israel membangun Tembok Pertahanan di Tepi Barat dan diiringi rangkaian serangan bunuh diri Palestina.

Juli 2004
Mahkamah Internasional menetapkan pembangunan batas pertahanan menyalahi hukum internasional dan Israel harus merobohkannya.

9 Januari 1995
Mahmud Abbas, dari Fatah, terpilih sebagai Presiden Otoritas Palestina. Ia menggantikan Yasser Arafat yang wafat pada 11 November 2004

Juni 2005
Mahmud Abbas dan Ariel Sharon bertemu di Yerusalem. Abbas mengulur jadwal pemilu karena khawatir Hamas akan menang.

Agustus 2005
Israel hengkang dari permukiman Gaza dan empat wilayah permukiman di Tepi Barat.

Januari 2006
Hamas memenangkan kursi Dewan Legislatif, menyudahi dominasi Fatah selama 40 tahun.

Januari-Juli 2008
Ketegangan meningkat di Gaza. Israel memutus suplai listrik dan gas. Dunia menuding Hamas tak berhasil mengendalikan tindak kekerasan. PM Palestina Ismail Haniyeh berkeras pihaknya tak akan tunduk.

November 2008
Hamas batal ikut serta dalam pertemuan unifikasi Palestina yang diadakan di Kairo, Mesir. Serangan roket kecil berjatuhan di wilayah Israel.

26 Desember 2008
Israel melancarkan operasi Oferet Yetsuka, yang dilanjutkan dengan serangan udara ke pusat-pusat operasi Hamas. Korban dari warga sipil berjatuhan. Hingga akhir pekan lalu, sudah 400 korban tewas di pihak Palestina.

Sumber: Majalah Tempo