Ketika novel Maryamah Karpov – edisi terakhir dari Tetralogi Laskar Pelangi, karya Andrea Hirata- dirilis di Pekanbaru, Provinsi Riau, menurut petugas saya merupakan orang yang pertama yang membelinya, di Toko Buku Gramedia. Tentu saya merasa bangga, karena buku ini merupakan buku yang paling ditunggu-tunggu pecinta Laskar Pelangi, yang sebelumnya telah diangkat dalam sebuah film dengan judul yang sama.

Di sampul buku tersebut, seorang gadis cantik memagang biola yang di belakangnya ada banyak daun berguguran. Di sampul juga tertulis sub judul “Mimpi-mimpi Lintang” dan tentu judul utama “Maryamah Karpov”.

Awalnya ketika membaca judul buku, saya berpikiran buku ini akan banyak membahas tentang nasib dan perjalanan Lintang, seorang sahabat Ikal- tokoh utama Laskar Pelangi- yang juga digelari Issac Newton, oleh Ikal. Dalam pikiran saya, akan banyak kesedihan-kesedihan Lintang yang akan ditampil Andrea, budak Melayu Belitong.

Saya juga berpikiran, Andra juga akan mengangkat siapa sebenarnya Maryamah Karpov, dalam alur yang panjang. Namun pikiran saya, mungkin juga banyak pembaca lainnya, terkecoh mentah-mentah, kata orang Melayu. Karena anda tidak akan menemukan cerita Lintang yang mesti meninggalkan bangku sekolah karena ketidakmampuan ekonominya setelah ayah dan ibunya tiada lagi.

Jika kembali membaca edisi ketiga dari tetralogi tersebut, Edensor, yang menceritakan panjang lebar perjalanan Ikal dan saudaranya di negeri Eropa. Dari kedinginan di jalanan, kelaparan, kuliah, hingga menemukan sebuah perkampungan bernama Edensor. Akan tetapi, jangan harap kisah perjalanan nyata Andrea ini akan anda temukan panjang lebar dalam Maryamah Karpov. Pasalnya, di edisi ini, cerita negeri Eropa berakhir setelah bab-bab awal ketika Ikal meraih gelar akademiknya.

Andrea memang jago mendeskripsikan siapa orang Melayu Belitong sebenarnya. Ia menceritakan dengan menarik apa-apa saja yang terjadi di kampungnya, yang mungkin juga kita temui di kehidupan sehari-hari. Seperti sifat orang Melayu yang memiliki kegemaran memberi gelar-gelar aneh kepada saudara-saudaranya atau menertawakan jika ada warga lain yang terlihat aneh.

Namun, yang membuat saya terkejut adalah ketika Ikal pulang kampung, setelah jauh-jauh menimba ilmu di Eropa. Ternyata, sesampai di kampung ikal tidak berusaha mencari pekerjaan, sebagaimana layaknya sarjana-sarjana lainnya. Biasanya anak Melayu, dan menjadi aib bagi keluarga, jika setamat kuliah atau sekolah tinggi-tinggi tapi tidak memiliki pekerjaan. Namun, ini berbeda. Ikal hanya membuat hal-hal ‘gila’ mengisi waktunya.

Ia ternyata hanya membuat perahu walau belum pernah bekerja sebagai pembuat perahu, yang terbuat dari kayu-kayu yang telah terbenam di sungai selama ratusan tahun. Perahu inilah yang dinamakan “Mimpi-Mimpi Lintang”. Perahu ini dibuat Ikal dengan dibantu dengan pikiran-pikiran Lintang yang memang terkenal jenius. Tentu niat Ikal membuat warga Belitong menertawakannya.

Perahu “Mimpi-Mimpi Lintang’ inilah yang akan digunakan Ikal bersama rekan-rekannya, termasuk teman sekolah dasarnya Mahar, yang akhirnya menjadi dukun amatiran, mencari A Ling.

Novel ini memiliki ending yang sedih, ketika hubungan Ikal dan A Ling tidak direstui ayahnya.