Tepat pukul 21.05 wib, Sabtu 29 November 2008 (2 Zulhijjah 1429), anak pertama saya lahir dengan selamat, di Kampung Besar Seberang, Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Ia lahir ketika bulan dan dua planet muncul bersamaan berbentuk wajah tersenyum.

Bukan itu yang hendak saya ulas.

Jauh sebelum isteri melahirkan, saya telah menyiapkan beberapa nama. Awalnya, memang saya menyiapkan nama laki-laki, namun ketika di USG (Ultrasonografi), dokter memperkirakan akan lahir anak perempuan. Maka sibuklah saya dan isteri mempersiapkan nama perempuan, bahkan sampai membeli beberapa buku dan surfing di internet.

Akan tetapi, tiga hari menjelang kelahiran ketika di USG ulang ternyata anak saya kata dokter akan lahir perempuan. Ketika itu juga, kami dimudahkan mendapatkan nama bagi anak spesial ini.

Adalah Muhammad ‘Azzam Al- Muntashir, nama tersebut. Kira-kira artinya, Umat Nabi Muhammad, yang memiliki kebulatan tekad untuk meraih kemenangan. Sejak semula, ayah mertua saya, Raja Masnur, menginginkan awal nama anak kami jika laki-laki diberi nama Muhammad, dan jika perempuan diberi nama Siti. Ini adalah identitas kami sebagai seorang muslim.

Dalam bahasa Melayu, Azzam, atau Azam juga berarti tekad, tujuan, cita-cita. Sedangkan dalam bahasa Indonesia Azam juga berarti teramat mulia

Seminggu menjelang, ketika bertemu banyak kerabat, banyak yang mengkhawatirkan terhadap nama tersebut. Berbagai tanggapan yang dilayangkan. “Kenapa mesti nama seperti itu yang diberikan sama anak, tak gaul,” kata seorang kerabat.

Atau. “Ah, nama Jadul ( zaman dulu)”. Yang lebih berkesan adalah ketika ada yang berkomentar. “Susah anakmu nanti ke luar negeri, dikirain teroris. Jangankan ke Amerika, ke Singapura saja akan repot,”. Lama saya termenung. Apakah islampobia juga telah menjangkit umat Islam itu sendiri hingga ke kampung-kampung?

Apakah umat muslim sudah malu dengan identitasnya. Ketika itu saya menegaskan bahwa, saya bangga dengan nama anak saya tersebut. Karena ini adalah identitas bagi anak saya sebagai umat muslim, jika tidak kita lalu siapa yang mesti bangga dengan identitas kita sebagai muslim dan orang-orang melayu.

Jika kita menyadari, seharusnya kita malu menggunakan nama Alex, Charles, Arnol, dan nama-nama barat lainnya. Kenapa kita mesti selalu berkiblat ke dunia Barat? Saya yakin, suatu saat Islam akan meraih kejayaannya.