Kemenangan Barack Hussein Obama pada Pemilihan Presiden Amerika Serikat, beberapa waktu lalu, banyak menjadi inspirasi bagi beberapa partai politik, politikus hingga calon presiden di Indonesia. Ini bisa dimaklumi masa Pemilihan Presiden dan Pemilu di Indonesia dengan Pemilihan Presiden AS tidak terlalu jauh, apalagi Barack Hussein Obama terkenal sebagai Presiden muda yang bisa diterima berbagai kalangan di AS.

Kekaguman tokoh politik (tentu termasuk parpolnya) sebenarnya sudah terlihat sejak lama, seperti banyaknya kelompok-kelompok dukungan moril bagi Obama di Indonesia, hingga ada beberapa calon presiden dan caleg yang sengaja berkunjung ke AS untuk menyaksikan kampanye dan Pilpres AS.

Yang menjadi pertanyaan, apakah sistem perpolitikan di AS bisa diterapkan di Indonesia, sehingga banyak orang menginspirasikan Barack Hussein Obama, capres yang pernah tinggal di Menteng, Jakarta Ini?

Dari asumsi penulis sementara adalah sistem politik di AS tidak bisa, atau sulit untuk diterapkan di Indonesia. Ada berbagai alas an, seperti pengaruh tingkat pendidikan sehingga tingkat apatis masyarakat akan tergolong tinggi (disamping banyak tidak terdaftar di calon pemilih KPU).

Dr. Tulus Warsito, Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (HI UMY), menyebutkan, , perpolitikan yang dilaksanakan di AS, sama sekali tidak dapat diaplikasikan di negara Indonesia yang memiliki banyak pulau, dan perbedaan teritorial. Di AS hanya memiliki satu pulau, penggunaan sistem distrik pantas dipakai untuk negara tersebut. Berbeda dengan Indonesia, yang terdiri dari berbagai pulau, dan orang-orangnya sangatlah beraneka ragam, multipartai akan selalu hidup di Indonesia. “Dengan banyak partai, dan dapat mewakili di setiap masyarakat Indonesia, masyarakat Indonesia akan relax untuk memilih calon presiden, dan wakil rakyatnya,”

Barack Hussein Obama akhirnya terpilih sebagai Presiden ke-44 Amerika Serikat (AS), sekaligus presiden pertama berdarah Afrika-Amerika di tengah guncangan krisis ekonomi. Kemenangan Obama dengan suara pemilih sebesar 62,9 juta (52%) dibandingkan dengan suara pemilih McCain sebesar 55,8 juta (46%), itu bukan merupakan suara mutlak yang terwakili per negara bagian, masih banyak warga negara AS yang tidak menggunakan hak pilihnya pada pesta demokrasi Amerika” kata Dr. Tulus Warsito, Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (HI UMY), saat berdiskusi mengenai “Dampak Kemenangan Obama Bagi Perpolitikan Indonesia, kemarin, Kamis (06/11/2008).

Obama, dan Biden menang karena membawa Partai Demokrat, saat ini demokrat dikenal oleh warga AS yaitu anti kekerasan. Salah satu janji-janji perubahan yang diusung oleh Obama, adalah mengedepankan kerjasama, dan diplomasi. Berbeda dengan Partai Republik yang dibawa oleh McCain, yang lebih menekankan kepada kekerasan, salah satu janjinya mengirim pasukan lebih banyak ke Afghanistan.

“Untuk menjadi pembelajaran saja, janganlah sampai kebijakan yang dipakai Australia, dipakai juga di Indonesia. Pergunakanlah hak pilih kita untuk memilih pemimpin negara Indonesia, agar tercipta pesta demokrasi yang semestinya”, kata Tulus.

Bagaimana pendapat anda?