kampung-rison1Pemilu sebentar lagi, Daftar Calon Tetap (DCT) calon legislatif (caleg) telah diumumkan KPU di masing-masing wilayah di Indonesia. Puluhan ribu caleg pun mulai berbenah dalam mensosialisasikan dirinya, mulai dari membuat kalender 2009 bergambarkan dirinya, spanduk ucapan selamat hari raya, dan ucapan selamat Hari Pahlawan Nasional.

Tidak hanya itu, mereka juga sibuk mencetak kartu nama, menerbitkan buku, hingga sering-sering berkomentar di media massa mengenai apa saja agar disebut kritis oleh calon pemilih.

Sebelum masa pemilihan, caleg juga akan sibuk mendatangi rumah-rumah warga. Ada yang bersilaturrahmi biasa hingga rajin mengunjungi orang sakit dan melayat yang meninggal dunia. Padahal sebelumnya, hal semakan ini jarang mereka lakukan. Ini semua agar disebut peduli oleh rakyat-rakyat.

Caleg. Sebuah kata yang sangat popular di telinga masyarakat kita akhir-akhir ini. Mereka pun (caleg) bangga dipanggil dengan itu.

Saya masih ingat kata-kata yang tertulis di salah satu blog (maaf, saya lupa alamatnya) bahwa disaat-saat seperti ini mereka akan terlihat seperti dewa penolong, suka memberikan bantuan walaupun dengan berat hati. Yang jarang senyum akan sering tersenyum kepada saja yang ia jumpai. Yang jahat akan terlihat baik, mereka akan berubah. Tapi jangan harap yang jahat akan berubah menjadi baik. Ini demi sebuah jabatan politik praktis.

Tentu, tidak semua caleg yang seperti ini, tapi suka atau tidak suka, yakin atau tidak yakin, ini telah terjadi.

Caleg, siapa saja bisa mencalonkan diri maju sebagai calon anggota dewan. Yang penting pernah bersekolah. Tak peduli apakah ia pintar, kreatif, baik, berwibawa, kaya, miskin, pemalas atau durhaka kepada orang tua. Mereka bisa terpilih jadi anggota dewan, tak peduli siapa, karena yang menentukan adalah imej di mata masyarakat. Jika ia memiliki imej yang baik maka ia akan dipilih oleh masyarakat, tak peduli apakah itu hanya imej yang dibuat-buat atau yang sesungguhnya.

Berbagai alasan bagi masyarakat yang maju sebagai caleg. Ada yang ingin menjadi abdi masyarakat (walaupun akhirnya juga mengkhianati masyarakat), ingin terkenal, mendapat gaji yang besar, proyek yang banyak, jaminan hidup, serta demi idealisme.

Caleg, selamat berjuang mendapatkan hati rakyat5……