Suatu hari, duduklah beberapa pemuda di rumahnya. Sambil ngopi dan merokok, seperti biasa mereka akan memperbincangkan banyak hal, isu politik, pemberitaan media massa, gosip artis, teknologi, lagu hingga musik.

Diasik-asiknya ngobrol muazin yang ada di masjid yang tidak jauh dari rumahnya mengumandangkan azan mahgrib. Tanpa disadari, mereka juga ikut membicarakan suara sengau muazin yang memang tidak sedap didengar.

“Kenapa ya, pengurus masjid mengambil dia sebagai muazzin dan gharim. Seharusnya diseleksi dulu siapa yang layak untuk azan di masjid,” kata pemuda I.

“Iya, mana suaranya sengau lagi,” ujar pemuda II. “Seharusnya diseleksi dulu” tambahnya lagi.

“Kalau suara macam itu, siapa yang mau datang ke masjid,” ujar Pemuda I lagi dengan pendapat yang diyakininya benar.

Pembicaraan semakin ramai, seperti ramainya para tetangga dan jamaah mendatangi masjid.

“Kemarin ketika dia mengaji subuh dengan pengeras suara, saya dengar banyak yang tidak betul tajwid dan harkatnya,” ujar pemuda I kembali. “Kalau salah baca Al Quran, pasti salah makna,” tambahnya lagi.

Tanpa disadari, jamaah yang sedari awal berbondong-bondong, pun telah pulang dari masjid untuk kembali melaksanakan aktivitas yang tertunda. Dan kedua makhluk tuhan ini masih juga bercerita tentang si muazzin sengau. Tanpa disadari, waktu shalat pun telah terlewati dan mereka tetap menggunjing.

Mungkin adegan diatas pernah terjadi dikehidupan kita, mungkin dengan episode-episode yang berbeda. Mungkin ada. Kita mencela suara muazzin yang sengau padahal kita tidak pernah mau mendatangi masjid untuk azan dan shalat berjaamah. Kita selalu mencela tajwid dari jamaah masjid yang mengaji dengan pengeras suara, padahal kita sendiri jarang dan enggan mengaji. Semut di seberang lautan kelihatan, gajah di pepuluk mata tidak terlihat.

Kita selalu menyebutkan rekan sekantor tidak becus dalam bekerja, padahal kita sendiri juga tidak memiliki prestasi dan tidak melakukan apa-apa. Kita menyebutkan tetangga, sahabat tetangga dan semua, padahal belum tentu apa yang kita perbincangkan juga benar.

Sekedar mengutip ayat, dalam Surat AL HUJURAAT ayat 12 berbunyi.

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (AL HUJURAAT: 12)