Mungkin saya bukan merupakan seorang teman curhat dan teman bicara yang baik dan mengasikkan, tapi saya merupakan pendengar yang baik ketika ada yang mengeluh. Akan tetapi sifat seperti itu membuat saya menyesal berkepanjangan.

Bagaimana tidak, delapan tahun lalu ketika ibunda yang saya panggil Amak (bahasa Ocu) pernah mengeluh kalau kondisi tubuhnya semakin memburuk. Karena tidak pandai menghibur saya hanya diam seribu bahasa, walau saya terenyuh mendengarnya.

“Amak tadi sudah ke dokter Edi, katanya harus ke Pekanbaru untuk diperiksa. Kita tidak punya uang,” katanya ketika itu di rumah kami yang sangat sederhana. “Amak rasa ibu tidak akan lama lagi,” ujarnya, tapi saya tetap diam. Dari kampung saya hanya membutuhkan waktu 20 menit ke Pekanbaru.

Dokter Edi merupakan dokter andalan di daerah kami waktu itu. Semua penyakit dia obati dengan biaya murah. Saat Amak berkeluh kesah saya masih berusia 19 tahun dan baru tamat SLTA. Hingga pembicaraan usai saya hanya diam dan hingga saat ini saya masih menyesal karena tidak mampu menghibur seorang yang telah mempertaruhkan hidupnya demi anak-anaknya.

Sekitar dua bulan setelah itu, saya berangkat ke Pekanbaru untuk untuk bekerja dan kursus (dari pada menganggur di kampung). Empa bulan di Pekanbaru saya berangkat ke Dumai untuk praktek kerja selama dua bulan di sebuah perusahaan besar. Awalnya, Amak menolak kepergian saya ke Dumai karena waktu itu kondisi keuangan memang lagi sulit. Akan tetapi karena keteguhan hati untuk melihat daerah lain saya tetap berangkat dengan dana seadanya.

Bulan pertama saya pulang. Tidak banyak berubah pada ‘Kartini’ bagi anak-anaknya ini, hanya badannya saja yang terlihat lebih kurus. Lagi-lagi saya tidak banyak komentar tentang kondisinya. Diam dan mengamati.

Tidak beberapa hari di kampung, saya kembali ke Dumai. Selama di Dumai ada teman yang datang ke rumah. Ia mengatakan bahwa banyak orang di rumah. Sebulan lebih disana dan pulang sembilan hari sebelum lebaran. Sampai di kampung pukul 18.00, beberapa menit sebelum berbuka puasa dan akhirnya saya berbuka seadanya dijalan menuju rumah.

Diperjalanan menuju rumah rasa-rasanya ada hal yang sangat mendesak saya untuk mempercepat langkah. Tapi tak tahu apa penyebabnya.

Baru menginjak lantai rumah, saya terkejut ketika melihat Amak. Masyaallah, badannya begitu kurus. Tanpa daging. Terlihat hanya tulang yang dibungkus oleh kulit tipis. Saya melihat beliau ketika masih berada di dalam kamar, sambil tergolek di kasur yang dibentang di lantai.

Sama seperti sebelumnya, cukup lama saya terdiam melihat kondisi tubuhnya yang hampir tidak saya kenali. Saya cium keningnya sepuas-puasnya sambil menangis menyesal. Ternyata selama di daerah orang, Amak berada dalam kondisi krisis.

Dari cerita tetangga, beliau terlihat sangat tersiksa sakit yang dideritanya. “Ketika sakit jantungnya kambuh, dadanya tidak bisa dipegang. Terlalu kuat detak jantungnya,” kata tetangga ketika itu.

Satu malam saya menangis menyesali pengabdian yang sepenuh hati kepada orang tua. Ingat terhadap ‘perlawanan-perlawanan’ terhadap beliau, mendongkol ketika ditegur, membandel ketika diminta cuci piring dan menyapu lantai.

“Son, carikan Amak pisang. Tak bisa Amak makan nasi do,” permintaan beliau ketika itu. Saya usahakan mencari pisang sampai dapat. Tentu selama diperjalanan saya masih menangis menyesal kenapa tidak berada disisinya ketika beliau sakit.

Keesokan harinya, saya bawa beliau ke rumah sakit. Sembilan hari di sana. Sebagai ungkapan penyesalan, tidak saya tinggalkan beliau di rumah sakit. Sebisa mungkin saya kerjakan semua kebutuhannya, mulai mencarikan makan hingga memandikannya. Selain tidak ada saudara perempuan juga karena saya merupakan anak pertama. Saya masih ingat, pernah dia minta martabak Mesir tengah malam dan ia makan sampai habis dan meminta dicari lagi. Tapi martabak yang kedua tidak disentuhnya sama sekali.

Kata orang, seperti apapun sakitnya seseorang, sebelum meninggal dia akan sembuh beberapa saat. Beberapa hari menjelang lebaran, sang dokter menyebutkan kalau Selasa Amak telah bisa meninggalkan rumah sakit. Benar saja, kami meninggalkan rumah sakit pada tanggal 29 Ramadhan 1421 atau 26 Desember 2000, satu hari menjelang lebaran, tapi bukan karena sembuh tapi karena Amak meninggal dunia.

Tidak saya kasih tahu kepada keluarga di kampung atas meninggalnya beliau. Langsung saya bawa pulang. Kontan saya raungan serine ambilance membuat orang satu kampung terkejut.

——

Ketika memasuki lebaran, saya tidak akan melupakan bagaimana peristiwa itu. Meninggalnya Amak dipangkuanku, yang ternyata menyadarkan aku dari kelalaian-kelalaian walau terlambat.

Saya selalu ingat bagaimana ia mempertahankan keluarga yang pernah retak. Bagaimana ia menyekolahkan anak-anaknya dengan segala cara, tentu dari jalan yang halal. Ia tidak pernah malu berjualan buah di pasar, menjual sayur. Tidak ada kata gensi yang keluar dari mulutnya ketika menjual nanas di pasar-pasar Pekanbaru.

Ia juga tidak enggan mengiring sepeda pinjam dari kakaknya untuk berjualan ikan teri, ikan asin, cabe kering dan kain bekas yang dibelinya di daerah Selatpanjang (satu malam perjalanan dari kampung kami). Masih saya ingat, bunda, bagaimana engkau keliling kampung menjual ikan asin demi sekolah anaknya tanpa pakai sandal. Itupun masih ada yang mengutang.

Selama hidupnya, tidak pernah memukul anak-anaknya walau dia ‘makan’ hati dengan ulah anak-anak yang semuanya laki-laki. Setelah seperti sekarang ini, saya baru menyadari betapa ‘perkasanya’ beliau. Saya tahu, di pundaknya yang lembut, Amak mampu menjadi tempat bersandar anak-anaknya. Dialah Kartini yang sesungguhnya.

Saya menyesal, Bunda.