Industri film bernafaskan agama dan budaya agama seharusnya berkonsultasi terlebih dahulu sebelum mengeksekusi film produksinya agar di kemudian hari tidak menuai kontroversi lantas repot memperbaikinya.

Presiden World Hindu Youth Organization (WHYO), Shri I Gusti Ngurah Arya Vedakarna, mengungkapkan hal itu di Jakarta, Selasa (2/9), yang mengkritisi film Drupadi. Drupadi adalah film pendek yang naskahnya ditulis oleh Leila S. Chudori.

Berbeda dengan kisah Mahabarata dalam wayang yang mengambil sudut pandang para Pandawa, film ini lebih banyak mengambil sudut pandang Drupadi, putri raja Panchala yang terbuat dari agni

Film yang disutradari Riri Riza, menampilkan Dian Sastrowardoyo sebagai Drupadi dan Nicholas Saputra sebagai Arjuna. Serta Ario Bayu (pemain di film Kala), yang memerankan Bhima, Dwi Sasono sebagai Yudhistira, dan Donny Alamsyah sebagai Adipati Karna.

Dia mengaku bahwa kritik terhadap Film Drupadi merupakan kejadian keempat setelah WHYO memperingatkan beberapa industri perfilman yang memproduksi film atau tayangan yang bernafaskan budaya Hindu yang salah tafsir dan interpretasi dari Kitab Suci Weda.

Film Drupadi dirilis pada akhir Agustus lalu, masih banyak kesalahan yang terjadi. Oleh karena itu, WHYO kembali menghimbau para pembuat film untuk berdiskusi terlebih dulu dengan Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat sebagai pihak yang secara resmi mewakili umat Hindu dan memahami betul isi kitab Weda, terutama Itihasa Weda Mahabarata.

“Ini himbauan dari WHYO secara terbuka agar produser film lain juga mendengar. Saya dengar ada beberapa film mendatang yang memang mengambil dari kisah Ramayana atau Mahabarata bersifat kolosal. Ini sekalian himbauanlah kepada para produser untuk berhati-hati,” ujar Arya.

Sebelumnya di tahun 2002, WHYO berurusan dengan Dewi Lestari soal logo Omkara yang digunakan di sampul depan novelnya, Supernova. Logo Omkara merupakan logo suci umat Hindu yang melambangkan Tuhan.

Akhirnya Dewi mengganti sampul depan novelnya. Pada tahun 2004, Iwan Fals dikritik oleh WHYO karena sampul depan albumnya, Manusia Setengah Dewa memuat personifikasi setengah Dewa Wisnu dan terdapat lirik lagu yang dinilai menjelekkan umat Hindu.

Akhirnya, kaset itu pun ditarik dari pasaran. Yang terakhir, pada tahun 2005, Garin Nugroho harus mengubah judul filmnya Shinta Obong Opera Jawa menjadi Opera Jawa karena dianggap menjelekkan Dewi Shinta yang disucikan umat Hindu.

“Sekarang ini (Drupadi). Maunya apa? Apa ini sistem coba-coba atau bagaimana. Kami kan perlu bersikap,” tandas Arya. Untuk itu, Arya terus meminta industri perfilman untuk mengupayakan konsultasi dengan PHDI sebelum mengeksekusi filmnya.

Arya mengharapkan film Drupadi dapat diperbaiki menjelang peluncuran perdananya pada bulan Desember mendatang. Arya juga memuji beberapa produser film yang sudah memperhatikan himbauan WHYO. Salah satunya film Ekspedisi Mahadewa yang akhirnya mengubah judulnya dari Mahadewa karena dinilai tidak sesuai dengan nilai-nilai Hindu.(tribun pekanbaru)