Beberapa saat setelah bangsa Indonesia memasuki era reformasi, politik identitas orang Melayu, seperti di Sumatra, tampak menguat. Ekspresi-ekspresi kemelayuan merebak di mana-mana melalui kesenian, baik itu seni tari, teater atau jenis kesenian lainnya, serta melalui simbol-simbol seperti pakaian.

Ada kemauan kolektif dari masyarakat Melayu untuk kembali membangun identitas kemelayuannya setelah sekian lama ditekan oleh sistem pemerintahan yang begitu opresif. Politik identitas semacam ini bagi masyarakat setempat sangat penting karena merupakan sarana penguatan jati diri.

Fenomena tersebut telah diteliti secara mendalam oleh Dr. Minako Sakai, seorang pengajar senior di Jurusan Antropologi Australian National University (ANU), sejak tahun 2003. Beberapa temuan-temuannya selama penelitian diperbincangkan dengan beberapa kru MelayuOnline.com di Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM), pada Jumat (05/09/08).

Dalam penjelasannya yang singkat, Ibu Mina atau Amina, demikian ia suka disapa, menyayangkan bahwa pemaknaan atau ekspresi kemelayuan di daerah-daerah di Sumatra sarat dengan muatan politis.

Biasanya nuansa kemelayuan terasa kuat pada saat-saat tertentu saja, yaitu ketika ada pihak-pihak mengadakan acara dengan agenda politik tertentu. Saat itulah orang-orang berpakaian adat Melayu dan menggelar kesenian Melayu. Dengan demikian ada ketidakjelasan, apa yang dimaksud Melayu dalam pengertian mereka.

Secara rinci, hasil penelitian Ibu Mina akan dipresentasikan di BKPBM dalam acara diskusi bulanan, pada hari Rabu tanggal 10 September mendatang. Rencananya, forum diskusi tersebut akan dihadiri beberapa peneliti dan mahasiswa dari beberapa universitas di Yogyakarta.

Kunjungan Ibu Mina di BKPBM ini adalah yang pertama kalinya. “Pada awalnya saya mengira lembaga ini milik Malaysia. Saya baru tahu ternyata dimiliki dan dikelola secara sungguh-sungguh oleh orang Indonesia,” kata Ibu Mina beberapa saat setelah memasuki ruang perpustakaan BKPBM. “Beberapa tulisan saya nanti akan saya kirim ke sini untuk menambah data,” janjinya.

Saat salah satu kru MelayuOnline.com, Ahmad Salehudin, menawari kerjasama penelitian bersama, Ibu Mina menyambut dengan antusias, dan akan menindaklanjuti tawaran tersebut dalam waktu dekat.

Bahkan, Ibu Mina juga bersedia menjadi konsultan MelayuOnline.com terhitung sejak 5 September 2008. Upacara pengangkatan sebagai konsultan akan dilaksanakan pada 10 September 2008, setelah ia menyampaikan presentasinya dalam diskusi bulanan.(ad/rls)