Malam kemarin, karena segala urusan dan pekerjaan telah rampung di redaksi saya kembali melakukan aktivitas di depan dunia maya. Searching di dunia maya. Jika biasanya saya membaca-baca artikel atau berita, tapi malam lalu saya penasaran. Berapa jumlah kata “ojel” yang ada di internet.

Melalui internet, awalnya saya ketikkan kata ‘Jelprison”- nama lengkap saya di mesin pencari Google. Ada terdapat 880 kata ‘Jelprison’ di Google (web) dan 28 kata yang ada di halaman dari Indonesia, yang saya yakin semua nama tersebut memang nama saya sendiri tanpa pernah dipakai oleh orang lain sebagaimana nama kebanyakan. Kata tersebut merupakan nama-nama yang pernah saya tulis di blog pribadi, website redaksi www.rakyatriau.com, berita di beberapa media massa lokal dan nasional ketika mendapatkan anugerah Sagang -sebuah anugerah bidang karya Melayu Riau, di Provinsi Riau.

Tidak puas dengan kata ‘Jelprison’ saya tulis kata ‘ojel’ nama panggilan saya di kampus dan panggilan teman-taman. Ups.. ternyata kata ‘Ojel’ di web mencapai 25,600 dan 243 dari halaman Indonesia. Kata ‘Ojel’ ini terdapat di beberapa bahasa dan negara. Saya tidak tahu apakah arti dari “Ojel” di bahasa lain.

Memang nama saya Jelprison. Di keluarga saya dipanggil Ison. Khusus ibunda memanggil dengan nama Rison. Selain dipanggil Ison, ada juga yang memanggil Ijel, Ijef Jefri… ah banyak.

Kembali ke pokok awal. Ketika melihat kata-kata “ojel” saya melihat ada sebuah situs http://www.isekolah.org/. Ternyata di situs tersebut ada sebuah cerpen. Loh.. kok Ojel? Setelah saya baca lebih lanjut, ternyata nama lengkapnya juga mirip dengan nama saya, Jelprison.

Penasaran. Ternyata profesi tokoh utama dalam cerpen, postur tubuh, juga sama dengan apa yang pernah saya alami. Bahkan dalam cerpen juga disebutkan kalau tokoh utama adalah seorang jurnalis, kemana-mana menggunakan vespa, pakai kaos oblong bergambar Iwan Fals, celana jeans kumuh… semua mirip dengan perjalanan hidup yang saya lalui.

Ketika mula-mula menjadi jurnalis (di media massa cetak harian) saya memang menggunakan vespa, suka pakai jeans, pakai kaos oblong, dan selalu kebagian membuat berita feature dan human interest. Tidak hanya itu, mendiang ibunda saya semasa hidupnya memang pernah berdagang di pasar-pasar.

Saya semakin panasaran, Penulisnya bernama Rido Sadeli, siswa SMK MASMUR Pekanbaru (hanya berjarak 30 meter dari kampus saya). Saya yakin nama asli penulis cerpen ini bukan Rido Sadeli. Artinya penulis menyamarkan namanya. Saya yakin penulis tersebut merupakan orang dekat saya, setidaknya pernah mengenal pribadi saya (penggemar kali ya).

Siapa gerangan yang ‘nekat’ menggunakan inisial saya dalam cerpen? Ntah la….

Oya berikut saya lampirkan cerpen yang saya kutip dari http://www.isekolah.org/cerpen/cerpen_view_lulus.php?idx_cerpen=151

……………………..

Peserta Yang Telah Memenuhi Persyaratan

No Peserta : 151

Nama Peserta: Rido Sadeli

Asal Sekolah : SMK MASMUR PEKANBARU

Propinsi : RIAU

Posting : 25052005 , WIB

cerpen : Pelita Itu Ibunya

Oleh Rido Sadeli

Pelita Itu Ibunya

Pagi telah menyelimuti dinginnya malam yang sedang mencumbui mimpi. Fajar yang dihiasi gumpalan-gumpalan awan menyapaku dengan aroma indahnya. Kulihat jam dinding yang tergantung miring di sudut kamar. Jarum pendek berwarna merah jambu menunjuk angka tujuh dan jarum panjang dengan warna yang sama merapat ke angka sebelas.

Tiba-tiba bunyi ringtone berteriak di HP butut yang kubeli bekas, disebuah counter saat gaji pertama kuterima dari tabloid lokal. Kubuka menu mesej.

“Jel cpt dtng ke kantor, ada berita yang harus kau buat”. Kata yang terlukis di layar. Dari pak Andi, dia pasti akan menugaskan meliput berita yang sulit, pikirku. Kuraih handuk yang tergantung di dinding dan bergegas mandi. Dingin air menghilangkan rasa kantuk yang masih sedikit menempel. Dengan hanya memakai celana jeans yang sudah buram dan kaos oblong warna putih bergambar Iwan Fals, kubergegas ke kantor yang tak seberapa besar untuk ukuran penerbitan sebuah Tabloid.

“Pagi pak,” Sapaku berbasa-basi. Dengan sedikit senyum yang agak kupaksakan. “Eh kau Jel, lama kali!” Dengan logat bataknya yang kental, ia sudah menyerangku.. “Eh, iya pak soalnya macet tadi, emang ada tugas apa pak?” Tanyaku kemudian.

“Besok kan hari Kartini, untuk halaman profil aku minta kau mengisi dengan profil wanita yang hebat, semacam Kartini lah!”. Perintahnya. Sepertinya aku ini sudah ahli membuat profil, padahal kemampuanku masih jauh dibawah standart seorang wartawan. “Kau bisa khan!” Todongnya.

“Akan saya usahakan pak.” Jawabku sekenanya.

“Jangan Cuma kau usahakan, pokoknya aku nggak mau tahu!. Nanti sore berita itu harus sudah ada di file mu!” Dia mulai mendikte.

“Baiklah kalau begitu.” Aku permisi keluar dari ruangan yang sempit itu, melangkahkan kaki dengan tujuan entah kemana. Dengan vespa biru yang sudah mulai karatan di sana-sini kuputar gas dan pergi tanpa tujuan yag jelas. Aku harus mendapatkan berita itu, daripada kena pecat. Kendaraan inventaris inilah yang selama ini setia menemaniku.

Aku bingung harus mencari wanita yang hebat macam apa? Bukankah Kartini Cuma ada satu. Apakah di zaman yang serba uang ini masih ada wanita hebat semacam beliau. Bukankah wanita-wanita sekarang ini banyak yang sudah tak memperdulikan orang susah. Suka menggosip, dan cerewet seperti Yu Kartinah tetangga kosku yang sering ngomel-ngomel pada suaminya yang memang tidak bekerja. Tapi bukankah mencari kerja sekarang ini susah. Apalagi Bang Jali itu hanya lulusan SD dan sering sakit-sakitan.

Eh kok pikiranku sampai ngelantur mikirin orang.

Matahari sudah mulai membuat bayang-bayang berada tepat di bawah tubuhku, dengan keringat yang mulai bercucuran aku terus mencari wanita hebat yang akan dibuat profil. Pencarianku mengalami kebuntuan, tak terasa tubuhku sudah sampai di pasar. Dan baru kusadari perut ini mulai keroncongan. Dengan peluh yang membasahi tubuh aku mampir kewarung kopi, dan memesan segelas. Ku raih goreng pisang hangat diatas piring untuk mengisi perutku yang sudah mulai berdemo. Ku pandangi aktifitas pasar yang sudah mulai sepi.

Mataku tertuju pada seorang Ibu penjual sayur yang sedang melayani pembeli, diwajahnya nampak kelelahan yang sangat. Tidak jauh darinya seorang anak muda yang masih mengenakan seragam SMA dengan lahap makan nasi bungkus. Ibu itu mungkin Ibunya pikirku menduga-duga.

Timbul ide di kepalaku yang secara tiba-tiba terpikirkan. Bagaimana kalau Ibu itu kujadikan bahan untuk profil?. Ide yang konyol tapi akan kucoba, entah apa jadinya?.

Setelah membayar makanan, kudekati mereka. Ibu itu masih sibuk melayani wanita muda yang membeli sayur hijau. Bayam kelihatannya. Jadi ingat Popeye, film kartun kesukaanku.

“Dek bisa bicara sebentar nggak?” Tanyaku. Kuulurkan tangan memperkenalkan diri.

“Ojel, eh Jelprison. dari tabloid Senggang dek” kusebut nama lengkapku dan tabloid dimana aku bekerja.

Dengan agak kaget anak itu membalas jabatan tanganku. Dia memandangku sejenak, mimik wajahnya kebingungan.

“Hasan Bang, memang mau bicara apa bang?” tanyanya penasaran.

Kuutarakan maksudku untuk menanyakan tentang kehidupannya dan tentang Ibunya.

***

Hari ini udara panas sekali.keringat mengucur dari kepalaku melewati celah-celah rambut. Beberapa kali aku harus mengusap dengan handuk putih yang sudah mulai keabu-abuan. Seperti biasanya sepulang sekolah tanpa berganti pakaian dulu aku langsung ke pasar untuk membantu Ibu berjualan sayur. Biasanya aku berganti pakaian yang dibawakan oleh Ibu, hari ini Ibu lupa membawanya. Kios Ibu memang tidaklah besar tapi hasilnya lumayan untuk kebutuhan hidup.

Ibu tampak kelelahan sekali, berkali-kali aku melihatnya duduk untuk istirahat. Besok adalah hari ulang tahun Ibu yang tak pernah dirayakannya, hidup Ibu hanya untuk kami, aku dan kedua kakak perempuanku. Setelah makan siang dengan nasi bungkus, aku istirahat. Entah dari arah mana, datang seorang laki-laki yang menggenakan kaos putih bergambar Iwan Fals dengan bawahan jeans. Dia memperkenalkan diri. Ternyata ia wartawan. Dengan sopan ia mewawancaraiku, tentang Ibu dan keluarga kami. Kuceritakan padanya kalau ibuku adalah wanita yang hebat. Bukan sembarang wanita, Ibu adalah pelindung kami, juga pahlawan yang gagah perkasa ditengah peperangan mempertahankan kehidupan.

“Ibuku, ya itu Ibuku. Ibu yang telah membesarkanku, maksudku kami. Aku dan kedua kakak perempuanku. Bang, itulah sosok Ibu yang kami kagumi dan sepantasnya kami hormati. Dengan tetesan keringatnyalah kami bisa bersekolah dan bisa hidup dengan layak.

Memang sih, itu tanggung jawabnya, tapi ibu tak sekedar bertanggung jawab. Menurutku ibu memaksakan diri dengan harapan. dan harapan Ibu bukanlah harapan yang sia-sia. Kakak perempuanku yang pertama sekarang sudah bekerja di Bank setelah menamatkan kuliahnya. Dulu setelah lulus SMA sebenarnya kak Santi berniat untuk mencari kerja, alasanya kasihan sama Ibu, Ibu sudah mulai tua dan kak Santi ingin membantunya. Gurat-gurat keriput sudah terlukis diwajah Ibu. Tapi Ibu terus memaksa akan membiayai kuliah kak Santi sampai tamat. Ibu tidak ingin anaknya bodoh dan mudah dibodoh-bodohi, meskipun wanita, haruslah pandai. Dan akhirnya berhasil dengan nilai yang memuaskan.

Saat wisuda kak Santi jadi pemuncak kedua, setingkat juara dua kalau disekolah, begitu juga kak Yuni yang sekarang kuliah kedokteran dibandung, IPKnya masih diatas tiga. Abang mungkin heran, tapi itulah kenyataan Bang. Selain berjualan sayuran Ibu punya kebun kelapa warisan dari kakek yang tak seberapa luas, tapi bisa membantu kehidupan kami. Saat kami masih kecil dulu ibu rajin menabung untuk biaya sekolah kelak setelah kami dewasa. Dari tabungan itulah kami bisa sekolah. Bahkan kakak-kakakku bisa kuliah. Ibu selalu mengajarkan kami untuk gemi, setiti, ati-ati* dan jujur.

Aku menceritakan kehebatan ibu yang sangat kubanggakan pada bang Ojel. Wartawan itu.

“Bagaimana dengan ayahmu?” tanyanya kemudian. Anehnya wartawan ini kok tidak mencatat seperti yang pernah kulihat saat kepala sekolah diwawancarai tempo hari. Tapi aku tak mau memikirkan itu.

“Ayah sudah meninggal tiga belas tahun yang lalu. Dulu ayah hanyalah seorang sopir angkot. Tapi malang tak dapat ditolak Bang, Ayah kecelakaan. Kaki kanan Ayah tulangnya remuk dan harus diamputasi sedangkan kaki kirinya lumpuh. Untung perusahaan yang membayar biaya perawatan sehingga kami tak perlu mengeluarkan banyak uang, karena kami memang hanya keluarga pas-pasan. Saat itu aku masih kecil kira-kira empat tahun kata Ibu. Sejak saat itu Ayah hanya bisa duduk diatas kursi roda. Ibu merawatnya dengan ikhlas. Aku tahu ibu sangat terpukul dengan kejadian itu tapi Ibu tak pernah berhenti mencintai Ayah. Dan ayah tak pernah bisa melihat hasil jerih payah Ibu, ayahku kini tinggalah kenangan bagi kami. Dan ibu harus menjadi wanita ekspatriat yang membanting tulang untuk melanjutkan sebuah kehidupan.

Banyak yang menyarankan untuk menikah lagi terutama dari keluarga dekat dan kerabat kami. Tapi Ibu tak pernah mau. Bahkan dulu ada duda yang melamar Ibu namun Ibu menolaknya dengan halus.”

Kubelokkan ceritaku tentang Ibu, bila mengingat Ayah perasaanku jadi sedih. Seandainya Ayah masih hidup.

“Saat kecil dulu aku masih ingat. Ada tetangga kami melabrak Ibu, karena ada kabar miring kalau suaminya menjalin asmara dengan Ibu. Dengan alasan kalau suaminya menjual sayuran dengan tidak membawa uang. Padahal ibu sudah membayarnya Ibu dicaci-maki didepan umum, dari sudut mata ibu yang layu mengalir butiran air mata bening. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat itu. Ibu hanya terpaku dan diam. namun dalam hatinya yang terluka Ibu masih bisa tersenyum dan bersikap tenang. Aku hanya bisa menangis dan lari kepelukannya, tetes-tetes air mata jatuh satu-satu dirambutku. Cobaan demi cobaan datang silih berganti dan Ibu masih wanita yang tegar.�

Kuceritakan banyak hal lain tentang Ibuku padanya. Yang membuatku tak mengerti dan tak habis pikir, mengapa dia memberiku uang 50 ribu padaku. �Adek telah menolongku.� Katanya.

Kelihatanya dia terburu-buru bahkan ia hanya menjabat tangan ibu dan langsung pergi

meninggalkan kami.

***

Setelah mendengar cerita panjang tentang kehebatan Ibunya, perasaanku lega. Sudah beres pekerjaanku. Pikirku. Sebagai tanda terimakasih kuberikan selembar 50 ribuan padanya. Anak yang beruntung, punya Ibu yang hebat dan aku mendapatkan pertolongan dari kisahnya.

Kudekati ibu itu, dengan sopan kuucapkan terimakasih. Wajahnya mengingatkanku pada sosok pahlawan wanita yang lukisannya menempel di dinding sekolahku waktu SD. Kelihatan tua. Tapi senyum dan semangat masih bersinar di wajahnya yang anggun.

Aku pergi, kulihat mereka sibuk mengemasi dagangannya yang tinggal beberapa buah. Ada binar kebahagiaan diwajah mereka..

Dengan perasaan damai dan hati yang tenang ku ketik sejarah singkat tentang seorang wanita yang berhasil membawa anak-anaknya menuju puncak.

Pak Hotma senyum-senyum melihat hasil kerjaku yang hampir saja tenggelam. Aku pulang. Dalam otakku berteriak. �Aku ingin tidur nyenyak dan memimpikan sosok Kartini!�.

* . hemat, teliti, hati-hati.

Pekanbaru, 15 Mei 2005.

…………………………