Baru saja saya membaca berita di beberapa media massa lokal tentang dukungan Ninik Mamak (pucuk adat) di Kabupaten Kampar, terhadap salah satu pasangan calon Gubernur Riau. Sungguh malu, pilu, geram, dan banyak perasaan lainnya mengetahui kalau tokoh adat di kampung sendiri tidak lagi bisa berbuat netral dalam menjaga kestabilitas kampungnya.

Jika mereka (baca Ninik Mamak) mau menyadari betapa bahayanya jika sikap politik mereka itu dicampur-adukkan antara sikap pribadi dengan sikap lembaga dan persukuan. Salah satu ancamannya adalah terjadinya perpecahan di tengah masyarakat dan anak kemenakannya. Pasalnya, anak kemenakannya juga terdiri dari berbagai golongan, pekerjaan dan profesi serta berbagai latar pendidikan.

Sekali lagi, saya sungguh merasa malu dengan sikap politik praktis ninik mamak di Kabupaten Kampar. Memang pada dasarnya Ninik Mamak yang juga berasal dari berbagai latar dan profesi juga memiliki hak politik, baik hak memilih atau hak dipilih. Akan tetapi jika sikap politik pribadi tersebut telah bercampur aduk dengan sikap ‘politik’ lembaga persukuan maka tunggulah keruntuhan era adat dan lembaga di Kampar.

Apakah ninik mamak tidak menyadari bahwa selama ini sikap-sikap yang telah mereka lakukan telah membuat kebencian disesama anak kemenakannya. Ninik Mamak tidak hanya telah ikut berpolitik praktis dan oportunis yang seharusnya bersikap netral, tetapi juga telah meruntuhkan kepercayaan anak kemenakannya. Mereka menjual pusako, dan tanah ulayat.

Sekali lagi, memilukan dan memalukan.

Coba simak berita berikut yang saya kutip dari salah satu media lokal di Pekanbaru:

………….

Ninik Mamak Kanagarian Rumbio Tegaskan Hanya Dukung CS

Dukungan untuk pasangan peserta Pilkada Riau Chaidir-Suryadi Khusaini (CS) terus bertambah. Kali ini Ninik Mamak Kanagarian Rumbio menegaskan hanya mendukung CS. Tidak yang lain.

Ninik Mamak Kenagarian Rumbio membantah mendukung calon lain selain Chaidir-Suryadi (CS) pada Pilkada Riau 22 September mendatang. Pucuk pimpinan Kenagarian Rumbio, Datuk Godang yang berasal dari Suku Domo mengaku, dari ketiga kandidat, hanya Chaidir lah yang dinilai pantas memimpin Riau ke depan. Selain ia sebagai sosok yang bersih, sederhana, Chaidir juga dinilai punya program yang jelas dan visi yang dalam untuk memajukan Riau.

Hal itu dikatakan Datuk Godang di depan ratusan warga suku ninik mamak dari empat suku, Ahad (31/8) pada acara ramah tamah Chaidir dengan warga Rumbio.

“Kami senang Pak Chaidir bisa datang ke tempat kami. Kami bahagia, karena calon yang sesungguhnya kami dukung bisa berada ditengah-tengah kami. Tidak benar suku kenagarian di Rumbio ini ada mendukung calon lain selain CS,” kata Datuk Godang.

Tampak hadir langsung pada acara itu, Datuk Datuk Putih dari suku Piliang, Datuk Godang dari suku Suku Domo, Datuk Hulak dari suku Pitopang, Datuk Sinaro dari suku Suku Kampai. Hadir juga Camat Rumbio Jaya, Febrinaldi dan Kades Pulau Payung.

Selain acara silaturrahmi dengan Chaidir, pada kesempatan itu juga dilakukan acara Menghilir Rantau yakni acara yang dikemas untuk menyambut warga yang kembali dari perantauan. “Acara Menghilir Rantau ini sempat vakum, dan kami berusaha menghidupkan kembali dan memelihara tradisi ini,” kata Datuk Godang.

…………….

Kepada Ninik Mamak, yang terhormat hentikan kebusukan-kebusukan seperti ini agar kemudian hari negeri yang kita cintai ini tetap bisa aman, tentram, dan damai. Biarlah sikap politik pribadi menjadi pribadi.

Peran Ninik Mamak dalam menciptakan ketentraman di kampungnya sangat besar, seperti halnya peran politik Kepolisian, TNI, ulama, hingga PNS.

Sekali lagi saya malu dengan sikap oportunis pemuka ada, selama ini.