Lama tidak ke Kabupaten Indragiri Hilir, Kamis 14 Agustus malam saya bersama beberapa rekan-rekan wartawan, berkesempatan untuk mengunjungi Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil). Sebenarnya, ke Inhil adalah dalam rangka ‘kampanye’ salah seorang calon Gubernur Riau di kampunya sendiri. Salah satu agendanya adalah ziarah ke makan ibu calon gubernur yang juga mantan Gubernur Riau, HM Rusli Zainal.

Dari Pekanbaru, saya berangkat pada Kamis malam, pukul 11.00 wib dan sampai di kota Tembilahan, Ibukota Inhil pukul 04.30 pagi. Sungguh sebuah perjalan yang melelahkan. Jumat (15/8), setengah hari di Tembilahan mengikuti berbagai rangkaian kegiatan, kami berangkat ke Kecamatan Mandah dengan menggunakan speadboat yang masyarakat setempat menyebutkan dengan nama Pancung.

Ket foto:
Suasana di atas Pancung menuju Dusun Bolak, Kecamatan Mandah

Dua jam setengah lamanya kami berada di dalam pancung papan dengan kecepatan tinggi. Ternyata di perjalanan kami tidak langsung menuju kota Mandah. Kami berbelok ke dusun Bolak- kampung kelahiran Rusli Zainal dan tempat makamnya ibunda Rusli Zainal. Untuk masuk ke dusun Bolak ternyat tidak mudah. Mencari jalan masuknya saja amatlah susah. Maklum untuk kesana mesti melewati sungai-sungai kecil yang disebut dengan Parit, dan jumlah Parit dengan bentuk yang sama jumlahnya tidak sedikit. Selain itu Parit-parit ini kedalaman airnya juga tidak terlalu dalam. Hampir saja pancung yang kami tumpangi menyangkut ke dasar sungai.

Ket Foto: Suasana Dusun Bolak

Sesampai di Bolak, kami disambut hangat oleh masyarakat setempat. Maklum, yang datang ke dusun mereka adalah orang yang pernah duduk sebagai Gubernur Riau dan berasal dari kampung ini. Di kampung ini, Rusli Zainal melakukan ziarah ke makam ibunya.

Ket Foto: Pemimpin Redaksi Harian Rakyat Riau, Purwaji
Tidak terlalu lama di Dusun Bolak, rombongan menuju kota Mandah. Diperjalanan kami disuguhkan dengan pandangan alam Indragiri. Sepanjang jalan kami hanya melihat air, mangrove, sedikit pantai dan Kuala.

Ket Foto: Suasana Mandah
Sesampai di Mandah, saya melihat pemandangan yang tidak pernah saya lihat selama ini. Masyarakat di sana hidup dan beraktivitas di atas air. Rumah-rumah yang didirikan diatas air, masyarakat ke pasar dengan menggunakan sampan.

Ket Foto: Rombongan berada di atas Pancung
Ada hal yang selalu menjadi pikiran saya selama diperjalanan. Apa yang membuat mereka betah tinggal di daerah yang jauh seperti ini, ‘hidup’ di air, untuk ke ibukota kabupaten mesti mencari jadwal yang tepat karena jarak tempuh yang sangat lama.

Usai acara di Mandah, kami kembali pulang. Upps… ternyata tidak langsung pulang karena mampir di kota kecil bernama Sabuang. Di sini kami makan makanan laut sepuasnya. Mulai dari udang, ikan asin hingga makanan khas setempat lainnya.

Diperjalanan pulang, ternyata tidak semudah yang kami bayangkan. Sampai di Kuala Mandah kami menghadapi gelombang yang sangat tinggi sehingga pancung kami tidak bisa berjalan laju. Sebagian besar dari rombongan kami cemas. Yang ada dalam pikiran kami adalah apa yang terjadi jika Pancung ini terbalik, sementara kami tidak terbiasa melakukan perjalan seperti ini tanpa perlengkapan keamanan yang memadai.

Berikut beberapa foto di Mandah…..

Walau cemas saya tetap merindukan perjalan seperti itu. Tunggu aku Indragiri Hilir.