Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyetujui usulan Komisi Nasional Perlindungan Anak, terkait larangan merokok bagi anak-anak dan remaja. MUI juga meminta perusahaan rokok tidak membuat iklan yang melibatkan kalangan remaja.

Pada dasarnya, larangan merokok ini merupakan hal yang sangat baik diterapkan. Karena, himbauan untuk menghindari rokok bukan hal yang pertama kita dengarkan. Yang menjadi persoalan, kenapa larangan merokok, atau tepatnya Haram Merokok hanya diterapkan kepada anak-anak atau usia remaja saja. Bukankah jika sesuatu diharapkan, tetap haram.

Semestinya, MUI sejak lama mengeluarkan Fatwa Haram jika memang telah terbukti haram. Tetapi di Indonesia, yang terkenal dengan negeri toleransi ini, hukum agama masih diberi toleransi untuk kepentingan politik, ekonomi dan bisnis. Semestinya MUI konsisten, jika HARAM maka Mesti HARAM.

Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan peningkatan jumlah perokok anak di Indonesia. Diperkirakan, 37 persen atau 25 juta dari 70 juta anak Indonesia sudah menjadi perokok. Ironisnya lagi, 1,9 persen di antaranya sudah merokok pada usia empat tahun.

Karena itu, Komnas Perlindungan Anak dan WHO meminta MUI turun tangan untuk mengatasi masalah tersebut. Akhir tahun nanti, MUI akan membahas kemungkinan melansir fatwa larangan merokok bagi anak-anak dan remaja. Fatwa yang nantinya bukan cuma berlaku bagi anak-anak tapi juga kalangan orang tua.

Sebenarnya, fatwa ini bukan merupakan hal yang baru di dunia Islam. Di beberapa negara fatwa ini telah diterapkan. Di Indonesia sendiri ulama Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) sudah mengharamkan rokok.

Fatwa ini menjadi kontroversi karena di negara ini tidak sedikit ulama yang juga merokok dalam aktivitas sehari-harinya. Lalu bagaimana pendapat anda?, silahkan beri komentar.