Setiap kali ada ‘orang luar’ yang berkunjung ke Riau, terutama ke Ibukota Provinsi Riau, Kota Pekanbaru, pertama yang akan mengucapkan dua hal. Pertama yang akan diucapkan tamu, “Pekanbaru Panas, ya,” atau “Beruntunglah anda tinggal di Pekanbaru. Ini kota yang sangat bersih,”.

Ya, betul. Saya rasa jika pembaca datang ke Pekanbaru anda juga akan mengucapkan kata-kata itu, kecuali jika anda tidak mau mengakuinya secara jujur. Kota ini, sejak dipimpin Walikota Herman Abdullah, memang sering mendapatkan penghargaan Adipura. Kota yang terkenal dengan suhu panas ini juga sering mendapat penghargan sebagai kota dengan tetertiban lalu lintas.

Tahun 2005 lalu, pernah saya membawa rombongan wartawan dari Provinsi Bengkulu dalam acara Pekan Olahraga Wartawan Nasional (Porwanas). Ketika itu, Pekanbaru dalam bidang lalu lintas masih semberaut dan belum begitu sebersih dan serapi sekarang ini. Jika saya rombongan wartawan Bengkulu ini datang kembali ke Kota Bertuah, mereka juga akan mengucapkan, “Ini kota panas yang rapi,”.

Pekanbaru memang terkenal dengan surganya para pendatang. Hampir segala etnis dan suku bisa anda temui di Pekanbaru. Akan tetapi jangan berpikiran kota ini begitu keras seperti yang anda temukan di kota-kota lain di Indonesia yang juga banyak pendatangnya. Di sini, masyarakatnya hidup berdampingan dan tetap memegang budaya Melayu (dalam arti yang luas). Di sini, ada Suku Melayu, Minang, Batak, Jawa, Bugis, Cina, India, Aceh, Sunda…. Banyak.

Ini kota, juga terkenal dengan kota budaya dan sejarah. Jika anda menyempatkan datang ke Pekanbaru coba sempatkan datang ke Pasar Bawah. Di pasar wisata ini selain akan anda temui barang-barang impor dari berbagai negara. Selain itu di Pasar Bawah akan anda temu penjual barang bekas (tapi terlihat baru) seperti ban mobil, TV, Karpet dari Timur Tengah, Keramik dari China dan sebagainya. Di pasar Bawah Kecamatan Senapalen, anda akan temui Masjid Raya, sebuah masjid tua penanda berdirinya Senapelan, cikal bakal Kota Pekanbaru.

Tidak jauh dari Masjid Raya Senapelan, anda akan temui sebuah kedai kopi yang berdiri sejak lama, namanya Kedai Kopi ‘Kim Teng’. Kim Teng didirikan oleh salah seorang pejuang kemerdekaan RI di Riau bernama Tam Kim Teng, salah seorang WNI keturunan China. Konon beliau berjasa dengan perjuangan RI di Riau sebagai pemasok senjata dari Singapura. Bangga Hamba (saya) bermastutin di Pekanbaru. !