Supriyadi benar-benar hilang dari ‘peredaran’ setelah Konvensi Meja Bundar ditandatangani. Dia melakukannya karena kecewa terhadap kebijakan Bung Karno.

“Ia kecewa karena Bung Karno menyetujui hasil KMB yang menyatakan Indonesia berbentuk Republik Indonesia Serikat (RIS),” kata Supriyadi sebagaimana dituturkan pengunjung Bedah Buku di Toko Buku Gramedia Semarang, Jalan Pandanaran, Isti (28), seperti dilansir detikcom, Senin (11/8/2008).


Supriyadi menjelaskan, dengan bentuk RIS, secara otomatis Indonesia masih di bawah kendali Belanda. Baginya, hal itu mengandaikan Indonesia masih dijajah Belanda.

Pejuang yang telah di-‘monumen’-kan itu akhirnya mengundurkan diri sebagai Menteri Keamanan Rakyat yang dijabatnya sejak 6 Oktober 1945. Bung Karno tidak mencegahnya, karena itu hak Supriyadi.

“Saya boleh mengundurkan diri dari jabatan, tapi Bung Karno meminta saya tidak meninggalkannya,” katanya.

Setelah mundur dari kabinet, Supriyadi diangkat menjadi pembantu utama nomor dua Bung Karno. Pembantu utama nomor satu adalah Winoto Danu Asmoro, karena dianggap lebih senior.

Bung Karno tidak pernah memanggil Supriyadi dengan sebutan Andaryoko maupun Supriyadi, tapi Sup.