Tidak salah bila Kabupaten Kampar disebut sebagai daerah yang memilki banyak potensi wisata. Baik wisata alam, wisata buatan maupun wisata budaya yang tersebar hampir di seluruh pelosok wilayah Kampar.

Satu contohnya adalah cagar budaya Masjid Jamik, Air Tiris yang terletak di Desa Tanjung Berulak Kecamatan Air Tiris Kabupaten Kampar. Tepatnya sekitar enam kilometer dari Kota Bangkinang, Ibu Kota Kabupaten Kampar dan 54 KM dari Kota Pekanbaru, Ibu Kota Provinsi Riau.

Masjid Jamik Air Tiris ini didirikan pada 1901 secara bergotong-royong oleh 20 banjar atau kampung yang diprakarsai oleh seorang ulama besar yang gigih dan berani dalam menyebarkan agama Islam di daerah Limo Koto yang bernama Engku Mudo Sangkal. Ulama ini lahir pada 1862 dan wafat sekitar 1927 di Desa Tanjung Belit, Kecamatan Air Tiris.

Menurut keterangan tetua Kampung H Datuk A Yazid dan penjaga masjid, Zakaria kepada Koran Riau ketika melihat-melihat keadaan masjid, Sabtu (24/5) lalu, bahwa dalam pelaksanaan pembangunan Masjid Jamik ini para tukang masjid diambil dari tiap-tiap banjar sebanyak empat orang tukang dan berkerja sekali sepekan tepatnya pada hari Ahad. Sementara tiang-tiang masjidnya dibebankan kepada setiap banjar, dengan masing-masing banjar dikenakan dua batang tiang dengan panjang lebih kurang 20 meter.

Ada sesuatu yang ganjil dalam pembangunan masjid ini. Bila secara umum setiap bangunan mempergunakan paku dan besi pada pembangunannnya, tapi tidak demikian halnya dengan bangunan Masjid Jamik. Masjid ini sama sekali tidak mempergunakan paku dan besi, tapi hanya mempergunakan sebatas kayu saja sebagai penyambung ataupun pemasak untuk mengokohkan setiap sambungan tiang, atap, maupun dindingnya.

Setelah dikerjakan selama tiga tahun, dengan berbagai hambatan dan rintangan yang dihadapi serta menewaskan dua orang tukang akibat jatuh di saat berkerja, akhirnya Masjid Jamik ini selesai juga dibangun pada 1904. Masyarakat ingin meresmikan pemakaian masjid dengan satu perhelatan besar.
Dan dengan sumbangan dana yang berasal dari masing-masing anak kemenakan di semua banjar dan persukuan, terkumpullah uang yang cukup banyak dan dipergunakan untuk membeli sepuluh ekor kerbau yang akan disembelih pada acara peresmian.

Acara peresmian pemakaian masjid berlangsung dengan meriah. Ribuan orang dari segenap penjuru negeri tumpah ruah di sekitaran masjid, bahkan anak kemenakan yang berada di perantauan pun menyempatkan diri untuk pulang guna mengikuti acara yang sakral ini.

Percaya atau tidak, di pekarangan masjid juga ada sebuah batu yang mirip dengan kepala kerbau. Kata penjaga masjid, batu ini muncul setelah beberapa hari acara perhelatan dilangsungkan, dan diyakini batu tersebut berasal dari jelmaan satu kepala kerbau yang menghilang ketika selesai disembelih.
Masih menurut penjaga masjid, batu yang mirip kepala kerbau ini sering berpindah-pindah tempat.

Terakhir ini batu kepala kerbau tersebut diletakkan di dalam sebuah bak air, dan anehnya air yang didalam bak diyakini juga bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit, sehingga membuat banyak orang yang datang ke masjid hanya sekadar untuk mandi dengan air tempat batu kepala kerbau berada. Arah hadap kepala batu kepala kerbau inipun diyakini selalu berpindah-pindah.
Dan masih banyak lagi keanehan yang tersimpan di dalam masjid ini. Seperti ketika banjr melanda Desa Tanjung Berulak pada beberapa tahun lalu, air banjir ini tidak sampai menenggenangi bangunan masjid. Padahal areal perumahan di sekitarnya sudah rata tergenang air.

Makanya masjid dijadikan tempat pelarian oleh masyarakat ketika itu.
Saat ini, Masjid Jamik sudah berumur lebih dari seratus tahun. Beberapa bagian sudah mengalami perehaban karena sudah mulai lapuk dimakan usia dan beberapa bagian lainnya masih tetap bertahan dengan keasliannya. Bantuan perehaban masjid ini mengalir bak air bah. Mulai dari Presiden RI HM Moh Suharto pada 1982 sebesar Rp10 juta, yang oleh pengurus bantuan tersebut dipergunakan untuk merehab bangunan atap dan lantai yang sudah mulai lapuk, hingga bantuan dari jajaran pejabat di negeri ini pada beberapa tahun berikutnya.

Dan menyadari akan nilai luhur dan sejarah yang dikandung oleh Masjid Jamik ini, Pemprov Riau menetapkan Masjid Jamik Air Tiris sebagai objek wisata di Provinsi Riau, yang diharapkan bisa menarik para wisatawan lokal dan manca negara.
Hasil wawancara Koran Riau dengan penjaga masjid disebutkan, kebanyakan pengunjung yang datang selain untuk melihat bangunan fisik masjid, juga untuk mandi dengan air yang ada didalam bak tempat batu kepala kerbau berada, yang diyakini juga banyak membawa berkah.

Demikian juga dengan hasil pengamatan sepintas Koran Riau, tempat ini bisa menjadi tempat wisata yang menjanjikan bagi Kabupaten Kampar dan Provinsi Riau secara umum, jika pengelolaannya dilakukan secara serius, antaranya dengan cara menambah di sekitar pekarangan masjid dengan taman-taman yang indah dan hal-hal lain yang menarik perhatian para wisatawan.
Apalagi letak bangunan masjid yang berada di tempat yang strategis, di pinggir jalan dan di tepian sungai, serta mudah dijangkau oleh wisatawan baik yang datang dari daerah Sumatera Barat maupun dari arah Pekanbaru.

Mudah-mudahan apa yang diharapkan oleh segenap masyarakat di Desa Tanjung Berulak Kecamatan Air Tiris Kabupaten Kampar, agar Masjid Jamik ini betul-betul bisa menjadi objek wisata andalan seperti yang dilakukan oleh pemerintah terhadap objek wisata Candi Muara Takus dan yang lainnya, bisa juga digulirkan ke Masjid Jamik ini.

Apalagi, saat ini Pemprov Riau bersama dengan sebelas kabupaten/kota bertekad untuk mengembangkan dunia pariwisata di Riau. Pemprov Riau juga telah memberi abatas waktu agar kabupaten kota menyiapkan satu buah objek wisata unggulannya. Mudah-mudah objek wisata Majid Jamik mendapat bagian dari kebijakan Pemprov tersebut, tentuanya melalui perpanjangan tangannya di Kabupaten Kampar.