Tidak bisa disangkal kalau akhir-akhir ini rasa nasionalisme rakyat Indonesia semakin mengkawatirkan. Sepertinya kita-kita ini sudah mulai malu mengakui bagian dari bangsa Indonesia. Yang lebih ironisnya tidak hanya malu mengakui sebagai bagian dari bangsa ini akan tetapi banyak diantara kita yang juga mempermalukan negeri ini seperti negara dan bangsa lain mempermalukan kita.

Sebenarnya keterpurukan rasa nasionalis kita ini disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya sistem yang berpengaruh. Contoh terkecil saja adalah ketika siswa-siswa di sekolahan yang tidak lagi melaksanakan upacara bendera setiap Senin pagi, sehingga jangan heran ada banyak anak-anak Indonesia yang sudah tidah lagi hapal teks Pancasila atau lirik lagu Indonesia Raya, atau lagu-lagu wajib yang biasa dilantunkan. Selain itu juga disebabkan oleh perkembangan teknologi dan media yang terus menyerap budaya luar seolah-olah telah menjadi budaya sendiri.

Konon katanya, rakyat bangsa ini baru timbul rasa nasionalisnya ketika dua hal. Pertama ketika iven olahraga internasional seperti Thomas dan Uber Cup, dan kedua ketika Negara lain mengambil pulau-pulau, seni, tradisi, budaya dan makanan Indonesia. Yang terakhir ini merupakan hal yang sensitif bagi rakyat kita dan tidak jarang kita berani untuk berperang dengan bangsa lain.