Akhir-akhir ini saya sangat menyukai Roman karya Pramoedya Ananta Toer, terutama Tetralogi Pulau Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca). Di dalam Roman yang pernah dilarang terbit oleh Pemerintah Indonesia ini, banyak memuat pesan-pesan dan kata-kata bijak. Roman yang pernah diterjemahkan ke dalam 42 bahasa ini juga bicara bagaimana mencintai Indonesia.

Sungguh sebuah mahakarya yang sangat ‘agung’, walaupun ditulis ketika Pramoedya berada di dalam penjara, selama puluhan tahun. Pada episode pertama, Bumi Manusia, saya sangat terkesan dengan kata-kata “Pelajar juga mesti adil sejak dalam pikiran,”. Sesuatu pesan yang sangat berkesan.

Sementara di Roman kedua Tetralogi Anak Semua Bangsa, Pramoedya, dalam pesannya mengatakan “Jangan agungkan Eropa sebagai keseluruhan. Dimanapun ada yang mulia dan jahat…. Kau sudah lupa kiranya, nak, yang kolonial selalu iblis, tak ada kolonial yang pernah mengindahkan kepentingan bangsamu,”. Sebuah pesan bagaimana mencintai dan memahami Indonesia.

Selain itu juga ada kata-kata, yang berpesan bahwa janganlah kita terlena dengan puji-pujian dan sanjungan-sanjungan yang dating dari orang lain. “Selalu waspadalah terhadap pujian” begitulah kira-kira pesan Bunda terhadap Minke, tokoh dalam Roman tersebut.

Ada benarnya juga kata-kata tersebut. Bagaimana tidak, selama ini kita selalu terlena dengan pujian. Kita terhanyut dengan sanjungan. Kita selalu ingin dipuji yang terkadang tanpa kita sadari itu hanya akan menjatuhkan diri kita sendiri. Memang ada banyak motivator mengatakan bahwa puji-pujian akan membuat seseorang akan merasa ‘hidup’. Tapi jangan lupa sanjungan-sanjungan lebih banyak membuat orang ‘tersungkur’ tiba-tiba.

Kita lebih ingin dipuji, yang memang terasa indah, dari pada mendapatkan kritikan, sekalipun itu akan membuat kita tercambuk maju. Terkadang dengan pujian kita lupa menggunakan logika dan akal sehat. Dengan pujian kita selalu mengikuti emosional.

Terkait dengan puji-pujian dan sanjungan ini, saya ingat dengan dilema demokrasi yang saat ini marak di Indonesia. Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Banyak tokoh masyarakat yang sedikit saja mendapatkan pujian dari orang-orang yang ingin memanfaatkannya, mencalonkan diri maju sebagai kepala daerah. “Saya maju karena banyak masyarakat yang meminta saya menjadi Gubernur. Ternyata saya diharapkan orang lain menjadi pemimpin,”.

Jangan heran ketika si A, yang telah gembor-gembor mensosialisasikan dirinya sebagai bakal calon gubernur, bakal calon bupati, tetapi ketika tiba masa pemilihan, tidak ada yang mendukungnya. Ini nyata terjadi. Di Pilkada (Pemilihan Kepala Daerah), yang mungkin akan tetajadi di Pilgubri (Pemilihan Gubernur Riau. Hanya karena mendapat sanjungan, pujian plus bisikan, ada banyak orang yang selama ini tidak pernah ‘berbuat’ tiba-tiba mencalonkan diri sebagai pemimpin.

Sebagai renungan, saya memaparkan pesan seorang teman. Ia mengatakan: perhatikanlah orang yang memberikan nasihat kepadamu. Seandainya dia memulai dari sisi yang merugikan orang banyak, maka janganlah engkau menerima nasihatnya dan berhati-hatilah darinya. Akan tetapi, jika dia memulainya dari sisi keadilan dan kebaikan (orang banyak), maka terimalah nasihatnya.

Janganlah sekali-kali engkau berjanji dengan suatu janji yang engkau sendiri ragu apakah dirimu dapat memenuhinya. Dan janganlah sampai memperdayakanmu bahwa tempat pendakian itu rata jika turunnya tidak rata. Ketahuilah, bahwa bagi setiap perbuatan ada balasannya, maka takutlah akan akibatnya; dan bahwa setiap perkara datangnya secara tiba-tiba, maka hendaklah engkau senantiasa dalam keadaan waspada.


Apabila Allah menghendaki kebaikan pada diri manusia, maka Dia akan menitiskan ke dalam hati mereka satu semangat cintakan ilmu-Nya. Dengan ilmu itu manusia mengerti mengenai dirinya, baik kelebihan, maupun kelemahannya. Ilmu juga menunjukkannya jalan yang benar dan menasihati hati untuk tidak mengambil jalan salah.
Adillah sejak dalam pikiran, berpikirlah sebelum mengambil keputusan.