Laku atau tidaknya sebuah produk ternyata sangat dipengaruhi oleh iklan, khususnya iklan yang kreatif. Di era kemajuan teknologi seperti saat ini keberadaan sebuah iklan tidak bisa dinafikan lagi. Produsen atau bahkan lembaga sangat bergantung terhadap lembaga periklanan tujuannya adalah agar terbentuk imej yang baik, lekat di hati masyarakat, serta mendapat perhatian dari khalayak ramai.

Maka tidak heran saat ini hampir semua produk, mulai dari produk makanan, minuman, pelayanan dan jasa hingga iklan layanan masyarakat mulai mengiklankan diri. Bahkan saat ini juga telah ada istilah baru yakni Iklan Politik.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Iklan diartikan berita pesanan untuk mendorong, membujuk khalayak ramai agar tertarik pada barang dan jasa yang ditawarkan; atau bisa disebut sebagai pemberitahuan kepada khalayak mengenai barang atau jasa yang dijual, dipasang di dalam media massa (seperti surat kabar dan majalah) atau di tempat umum.

Sedangkan Politik adalah segala urusan dan tindakan (kebijakan, siasat, dan sebagainya) mengenai pemerintahan negara atau terhadap negara lain. Dari dua suku kata di atas setidaknya bisa disimpulkan bahwa Iklan Politik adalah suatu cara yang dilakukan dalam rangka membujuk khalayak ramai agar mau memilih tokoh politik yang ditawarkan.

Iklan politik di Indonesia muncul sejak era reformasi. Seperti halnya iklan produk dan jasa, Iklan Politik juga dilakukan diberbagai media, mulai dari media massa cetak, elektronik, bilboard, baliho, selebaran-selebaran.

Terkadang tidak sedikit biaya yang dikeluarkan para kandidat untuk menarik perhatian masyarakat. Bahkan tersiar kabar kalau biaya iklan politik oleh salah seorang tokoh nasional di layar kaca setiap hari, mencapai miliaran Rupiah. Tidak hanya tingkat nasional, iklan politik juga dilakukan oleh calon kepala daerah melalui layar kaca. Ada calon dari Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Sumatera Utara, dan sebagainya.

Selain melalui layar kaca, iklan juga dilakukan menggunakan baliho-baliho. Mulai dari ukuran mini hingga raksasa. Melalui iklan calon pemimpin terlihat manis ketika menggunakan sorban, mencangkul, panen padi, membaca buku, menyapa nenek-nekek, hingga membeli kerupuk.

Iklan politik juga bisa dimanfaatkan untuk menyerang kandidat lain. Melalui iklan seseorang boleh menyerang orang lain, bisa menyalahkan kebaikan orang lain.

Masalahnya apakah iklan politik lazim digunakan? Menurut pakar politik Universitas Indonesia, Arbi Sanit, iklan politik serupa itu memang wajar digunakan di pelbagai negara. Malah di Amerika Serikat hal itu biasa dilakukan. Masalahnya, di Indonesia, iklan politik kadang menjerumuskan rakyat untuk memilih tokoh yang memiliki popularitas tinggi tanpa mengenali kapasitas sebenarnya tokoh tersebut. “Lewat iklan itu, masyarakat hanya diajak memilih orang yang populer. Ini menjebak rakyat karena pemimpin tidak cukup hanya populer. Dia harus mempunyai pengalaman dan teruji,” kata Arbi Sanit. (taufik79.wordpress.com)

Iklan politik memang perlu untuk memupuk popularitas. Tinggal bagaimana cara kita menggunakannya dengan sebaik-baiknya, sesantun-santunnya! Tapi kita juga tidak perlu menanggapi iklan politik dengan sikap kekanak-kanakan. *