PEMILIHAN Kepala Daerah di Provinsi Riau atau yang sering disebut masyarakat dengan Pemilihan Gubernur Riau (Pilgubri), hanya tinggal menghitung minggu. 22 September 2008 tepatnya. Tanggal 21 Juli lalu masing-masing calon telah mengambil nomor urut. Ketua DPRD Riau drh Chaidir MM yang berpasangan dengan Wakil DPRD Riau yang juga Ketua Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Riau Suryadi Khusaini mendapat nomor urut 1.

Gubernur Riau non aktif HM Rusli Zainal SE MP yang juga Ketua DPD I Partai Golkar Riau, yang berpasangan dengan Sekretaris Daerah Provinsi Riau H Raja Mambang Mit, mendapat nomor urut 2.

Sedangkan Ketua Partai Demokrat Provinsi Riau yang juga Bupati Indragiri Hulu non aktiv H Raja Thamsir Rachman MM yang berpasangan dengan Ketua DPW Partai Amanat Nasional (PAN) Riau H Tofan Andosi Yakin yang juga merupakan anggota DPRD Riau ini, mendapat nomor urut ketiga.

Artinya, dengan dikeluarkannya nomor urut ini satu tahapan Pilkada segera dimulai yakni kampanye. Dimana partai-partai pendukung calon akan berupaya mensosialisasikan pasangan calon yang diusungnya. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mensosialisasikan calon-calon tersebut mengingat perkembangan teknologi saat ini.

Seperti dengan memasang baliho, billboard, atau poster calon dimana-mana. Tidak hanya itu, mengingat perkembangan media massa yang telah masuk ke dalam ranah bisnis, maka calon juga telah memasuki ranah media massa tersebut dengan cara kontrak kerjasama.
Belum lama ini salah satu Pemimpin Redaksi Koran harian terbitan Pekanbaru, mengakui bahwa korannya telah melakukan kerjasama dengan salah satu calon Gubernur Riau seharga Rp100 juta. Bahkan salah satu Koran harian terkemuka di Pekanbaru dikabarkan mendapat ‘dana tutup mulut’ dari salah satu pasangan seharga Rp250 juta selama dua bulan. Saya tidak akan banyak menulis tentang idealisme media massa yang terkikis habis oleh kepentingan bisnis, politik dan sebagainya karena yang menilai itu semua adalah para pembaca sekalian.

Kembali ke topic awal. Cara lain yang bisa dilakukan oleh tim pemenangan Pilkada untuk mensosialisasikan melalui media komunikasi telekomunikasi. Diantaranya email atau surat elektronik, dan telepon genggam (handphone). Diantara kedua pilihan tersebut handphone merupakan alternative terbaik dalam melakukan kampanye yaitu menggunakan media SMS atau pesan singkat. Hal ini disebabkan oleh hampir semua kalangan masyarakat kita telah memiliki alat komunikasi yang satu ini Pesan singkat malalui handphone ini dinilai ampuh karena bisa menggunaan metode jaringan atau metode jarring laba-laba atau satu orang bisa mengirim pesan ke banyak orang yang dikenalnya.
Ketika nomor undian baru saja dicabut, salah satu pesan singkat dikirim oleh salah seorang untuk memperkenalkan nomo urutnya. Salah satu bunyinya begini. Nomor satu kertas suara dibuka, nomor dua dicoblos, nomor tiga dilipat. Membaca pesan ini tentu saja dibuat oleh tim sukses calon nomor urut dua. Ternyata pesan yang dikirim tersebut ampuh karena banyak orang lain yang juga mendapatkan pesan yang sama.

Perang Imej
Pesta demokrasi tidak bisa dilepaskan dari perang imej atau perang citra. Calon yang maju akan berusaha membentuk citra baik pada dirinya sementara dibalik itu dirinya juga akan berusaha membentuk citra buruk (negative campign) terhadap lawan-lawan politiknya.

Pembentukan citra baik atau imej berkesan bisa dilakukan banyak cara. Telah banyak contoh yang kita saksikan belakangan ini. Ada yang mengiklankan dirinya di media massa cetak atau media massa elektrinik seperti televisi. Atau ada juga dengan turun menemui calon pemilihnya, menyanyi walau suara pas-pasan, senyum terhadap semua orang walau terkesan terpaksa, mengutip ayat-ayat Al Quran walau dengan susah payah menghapalnya, bersedekah walau tidak ikhlas, membeli kerupuk buatan nenek-nenek di pasar walau tidak suka makan kerupuk.

Dunia politik memang aneh. Ia bisa merubah segalanya. Orang yang tidak biasa mendatangi masjid akan berusaha setiap waktu datang ke masjid. Orang yang tidak pernah bersedekah akan terbiasa bersedekah. Dunia politik ia akan merubah sikap orang baik dari yang tidak bersimpati menjadi bersimpati, dari yang jujur menjadi pembohong, tapi jangan harap orang pembohong bisa menjadi orang yang jujur.

Semoga Rakyat Riau mendapatkan pimpinan yang terbaik dari yang baik.