Pemilihan Gubernur Riau (Pilgubri), tinggal menghitung hari. Hari pencoblosan akan dilaksanakan pada tanggal 22 September 2008, mendatang. Artinya, masa pendaftaran tinggal beberapa hari lagi.

Walaupun demikian, nuansa kampanye jauh-jauh hari sudah terasa di Provinsi Riau, mulai dari ibukota Riau Pekanbaru, hingga perkampungan. Mulai dari jalan Sudirman Pekanbaru, sampai di jalan-jalan berlumpur tanpa nama di perkampungan nun jauh di sana.

Beberapa kandidat juga telah bersiap-siap berebut simpati. Mereka ini telah dan bakal melakukan apapun cara agar bisa berkesan di hati rakyat. Masyarakat akan diberi bantuan, mulai dari bantuan bola volly, sembelih kerbau, bantu renovasi rumah, renovasi rumah ibadah, yah… banyak pokoknya.

Mereka rela menyanyi dengan suara yang pas-pasan di televisi, membuat buku untuk menghujat lawan, jadi khotib shalat jumat, berlumpur bersama warga ketika gotong royong, menghadiri pesta perkawinan, memenuhi undangan sunatan, shalat subuh bersama warga di kabupaten tetangga. Kandidat yang akan ikut bertarung akan senang hati datang ke pasar-pasar hanya untuk membeli sebungkus keripik goreng.

Bahkan yang lebih celakanya, sampai-sampai agama pun saat ini dengan mudah mereka politisir. Mereka seolah-olah boleh melakukan apa saja terhadap agama. Mereka mempolitisir ayat-ayat Allah, ya.. buat yasinan akbar, zikir akbar, thabliq akbar. Tujuannya satu, ingin menang dalam pemilihan kepala daerah.

Dalam politik yang ada hanyalah kepentingan yang abadi.