Siang pukul 12.20 wib, dengan berbagai persiapan, ku kemudikan kenderaan ke Kabupaten Kampar, sebuah daerah yang berbatasan langsung dengan Kota Pekanbaru. Kali ini tujuanku adalah Desa Teratak Kecamatan Rumbio Jaya, yang terletak lebih kurang 52 KM dari ibukota Provinsi Riau, sebelah Barat. Untuk sampai ke desa “pandai besi” ini, kita mesti melewati perjalanan selama lebih kurang 40 menit.


Tentu selama perjalanan tersebut berbagai pengalaman yang bisa dilihat. Sepanjang jalan, kita akan mudah menjumpai penjual buah-buahan. Jika masih di Desa Kualu Kecamatan Tambang, kita akan menjumpai penjual buah nenas dan penjual kripik nenas yang telah diolah dengan rasa yang menarik. Di desa Kampar, kita akan menjumpai penjual buah-buahan musiman seperti buah rambutan, cempedak, manggis, durian, dan sebagainya.

Tidak hanya itu, sebelum memasuki desa Rumbio kita juga akan menemukan hamparan ladang sawah milik masyarakat yang sedang menghijau. Pukul 12.55 wib, saya sampai di Desa Pulau Payung-Rumbio. Sampai disana, tidak seperti biasanya, kenderaan yang saya bawa dengan mulus dan tanpa antri lama dan langsung bisa masuk sampan (rakit).

Biasanya untuk masuk kampung seberang masyarakat mesti menunggu beberapa saat untuk kesana karena transportasi ke sana adalah hanya sampan. Jika sampan ini sudah berada diseberang, maka kita mesti menunggunya hingga datang kesebelah kita menunggu. Sampan ini bolak-balik mengantar penumpang biasanya memakan waktu selama 20 menit. Untuk ke kampung seberang, masyarakat mesti menggunakan sampan (tiap kampung memiliki sampan tambang masing-masing sebagai transfortasi umum), jika tidak maka masyarakat bisa menggunakan jalur darat akan tetapi ini akan memakan waktu yang lama dan serta jalan yang tidak mulus.

Selama dalam perjalanan sampan, kita akan menikmati nyanyian air Sungai Kampar yang sedang menabrak sampan atau rakit. Tidak hanya itu, kita juga akan menikmati bening dan sejuknya air sungat yang mengalir deras, batu-batuan, ikan yang berenang dan dasar sungai yang memiliki pasir yang putih.

Sementara itu dipinggiran sungai Kampar, juga akan terlihat berbagai aktivitas, mulai dari anak-anak kampung yang mandi berenang bersama teman-temannya tanpa takut akan hanyut, kaum laki-laki yang sedang menjala ikan. Kita juga akan melihat kaum muda yang sedang memacing ikan sambil menikmati rokok-rokok dan bualannya bersama rekan. Ditempat terpisah kita akan menjumpai kaum perempuang yang mencuci pakaian dan piring serta mandi di tepian sungai Kampar.

Disisi lain sepanjang sungai akan terlihat kerambah-kerambah ikan milik masyarakat setempat. Mereka ini sangat terlihat bersahabatkan dengan sungai yang juga merupakan “nyawa” bagi masyarakat setempat. Lebih kurang 5 menit hingga 7 menit kami di dalam sampan. Diujung sampan terlihat pria yang kelihatannya telah berumur. Dengan memakai baju kuning, topi warna krem, terlihat memagang sebuah galah panjang. Ditekannya galah kayu yang berujungkan besi ini ke dasar sungai sehingga terdengar gesekan-gesekan batu.

Sekuat tenaga ditekankannya lagi galah itu sehingga sampan yang kami tumpangi berjalan semakin laju. Sedangkan dibagian paling belakang terlihat seorang pengelola sampan yang bekerja sebagai pengemudi sampan. Ditangan dia inilah tujuan sampan terletak. Kira-kira perjalan sampan tidak ada masalah, sang pemegang galah tadi tiba-tiba datang membawa sebuah ember kecil.

Ternyata setiap orang dari penumpang akan dikenakan sumbangan sukarela. Sekalipun bernama sukarela, tiap penumpang tidak akan tega jika tidak menunaikannya. Biasanya masyarakat hanya dikenakan sumbangan seribu rupiah. Jika dibanding-bandingkan dengan jasa yang telah diberikannya, tentu jumlah ini tidak mencukupi. Tapi inilah masyarakat kampung yang mau bekerja dengan ikhlas. Apalagi seribu rupiah tersebut bisa digunakan sebagai ongkos bolak-balik.

Sungguh harga yang sangat murah. Menurut masyarakat, sampan besar dan memiliki atap serta mampu membawa puluhan penumpang ini dibuat secara gotong royong. Setelah jadi, sampan yang dibuat masyarakat ini akan dilelang. Siapa yang berani menawar harga sampan tertinggi maka dialah yang akan mengelola hingga sampan kayu ini tidak dapat difungsikan lagi.

Pengelola dan pemilik sampan inilah yang menikmati sumbangan masyarakat tersebut setiap kali menggunakan jasa sampan ini. Telah banyak cerita sampan yang menemani aktivitas masyarakat sekitar. Sampan sederhana ini digunakan sebagai alat penyeberangan bagi anak-anak yang ingin berangkat ke sekolah, guru pergi mengajar. Petani, pedagang, pengusaha, dosen, mahasiswa juga menggunakan jasa sampan ini. Ada berbagai pengalaman masyarakat terhadap sampan.

Tengah malam jika ada masyarakat yang ditimpa musibah dan ingin menyeberangi sungai, tinggal panggil dan teriak saja dari seberang maka dalam waktu dekat di tengah malam yang dingin pengayuh sampan ini akan datang menawarkan jasanya.

Tidak peduli hujan, bulan puasa, lebaran, musim haji atau musim-musim lainnya, sampan ini akan selalu ada. Seingat penulis, kira-kira tahun 2003 lalu, sampan sebelumnya sempat mengalami musibah yaitu tali tempat bergayutnya sampan putus ditengah perjalanan. saat ini air sungai sedang meluap pula padahal didalamnya terdapat puluhan pelajar-pelajar yang ingin ke sekolah. Tiba-tiba sampan ini hanyut dan akhirnya tenggelam bersama penumpang lainnya.

Tetapi karena penumpangnya sudah terbiasanya dengan sungai maka tidak ada diantara penumpang yang mengalami cedera. Ada lagi cerita lain, sekitar tahun 80-an, ketika itu penulis juga berada di dalamnya, karena penumpang terlalu banyak dan bersedakan ingin turun, sementara dipinggir pelabuan, juga terlihat calon penumpang lain yang rebutan masuk. Akhirnya, tanpa disangka kapal karam. Anak-anak, ibu hamil, orang tua hanyut.