Titian papan bersusun-susun ini ku lewati guna menurunkan sepeda motor dari sampan berukuran 7×3 meter yang ku tumpangi ini. Sekitar 70 cm dibawahnya terdapat air sungai yang bening. Sangat jelas terlihat mata telanjang pasir-pasir putih yang diukir air dengan berbagai bentuk.


Saya cari tempat yang strategis untuk memarkirkan sepeda motor. Kesempatan pulang kampung halaman orang tua tidak saya sia-siakan. Ku nikmati berbagai panorama alam, bercengkrama dengan masyarakat.

Di sebuah posko ojek, terlihat beberapa masyarakat yang sedang asik diskusi. Ya, seperti umumnya perkempungan, akan belum lengkap jika duduk-duduk tanpa rokok, kopi dan goreng pisang. Akan tetapi saya tidak ikut nimbrung bersama mereka karena tidak jauh mereka ini saya melihat salah seorang warga yang asik memperbaiki jalanya dan mengeluarkan satu persatu ikan yang didapatnya.

“La duo kali den tuwun, tapi bau banyak itu dapek” kata Ocu (panggilan hormat masyarakat setempat). Kira-kira artinya begini, “Sudah dua kali turun menjala baru segini ikan yang didapat,” kata pencari ikan sambil menunjukkan belasan ekor ikan yang ada dalam embernya.

Momen untuk mengabadikan foto-foto juga tidak saya lewatkan. Mulai dari aktivitas masyarakat dalam sampan, menjalan, menjulang jambau dikepalanya. Setengah jam berlalu, tidak ingin terlalu lama membuang waktu, saya gas lagi kenderaan menuju tujuan yang ingin dijemput.

Dalam perjalanan, apa yang saya lihat mengingatkan kembali semasa kecil di kampung Teratak ini. Disinilah kakek, nenek, dan orang tua saya dibesarkan. Bangunan-bangunan dan rumah tua masih terlihat. Rumah-rumah panggung dari papan beberapa orang masih menggunakannya akan tetapi sepertinya sangat banyak yang mulai tidak terawat.

Sangat disayangkan, karena masyarakat sepertinya enggan untuk tinggal di rumah panggung ini. Mungkin karena sebagian besar rumah tersebut sudah mulai melapuk sehingga diantara mereka membangun rumah beton biasa.

Tidak banyak yang berubah, jalan-jalan berlobang masih seperti dulu. Puluhan kedai kopi masih terlihat. Yang berubah adalah rumah-rumah baru semakin banyak tumbuh dan didirikan.