Lama berkeliling kampung Teratak, tidak seperti biasanya, kali ini tiada lagi kedengaran orang yang menitik di apau setiap harinya. Menitik adalah sebuah pekerjaan sebagian masyarakat disini yaitu berprofesi sebagai pandai besi. Menitik ini dilakukan di sebuah tempat yang telah dirancang bernama Apau.

Di Apau inilah segala alat-alat pertanian seperti parang, pisau, pisau karet (pisau motong), dan sebagainya dibuat. Belasan tahun lalu, masyarakat disini bekerja Manitik secara sederhana dan sangat manual, tentunya jauh dari teknologi. Untuk menghidupkan bara api guna memanaskan dan melunakkan besi yang akan ditempa, digunakanlah Linggau. Linggau ini adalah alat yang dibuat seperti pompa besar.

Dalam membentuk besi, pengrajin masih menggunakan ototnya, begitu juga dengan mengasah besi. Akan tetapi kualitas yang dihasilkan mereka pernah disebut-sebut sebagai kualitas nomor wahid. Bahkan hasil karya masyarakat setempat sampai ke negara tetangga seperti Malaysia.

Setelah dicari tahu, masyarakat setempat tidak bekerja hari itu adalah karena ada salah seorang masyarakat yang meninggal. Dalam kebiasaan setempat, jika ada yang terkena musibah, maka tidak akan ada terlihat masyarakat yang bekerja karena mereka ini akan ikut mengantarkan hingga ketempat peristirahatan terakhir. Selain itu, jika hari Jumat, mereka juga akan libur guna mempersiapkan ibadah shalat Jumat.

Saya agak sedikit kecewa karena tujuan ke sana jagi gagal, yaitu ingin melihat secara dekat pembuatan alat-alat pertanian yang dibuat masyarakat. Walaupun demikian saya tetap bisa melakukan kontak dengan berbagai masyarakat.

“Sekarang walaupun peralatan sudah sekikit canggih, tapi disini masih terlalu bergantung kepada listik. Kalau listik mati, ya kami tidak bekerja,” kata Alizar, seorang pengrajin besi di rumahnya.

Memang menurut Alizar, dengan adanya listrik pekerjaan semakin ringat, tapi akhir-akhir ini pekerjaan mereka sering terganggu karena listrik selalu padam. “Dengan adanya listrik sekarang Linggau tidak kami gunakan lagi, karena ada mesin peniup yang lebih kencang,” katanya lagi.

Akan tetapi yang lebih menyedihkan, ternyata jumlah pengrajin besi semakin lama semakin berkurang. Ada berbagai faktor penyebab, diantaranya tidak adanya modal, tidak adanya pembinaan, pasar tidak banyak lagi yang membutuhkannya. Selain itu, walaupun dulu disini merupakan daerah penghasil kerajinan besi terbesar, tapi sekarang karena teknologi masih sederhana maka mereka kalah saing dengan daerah lain seperti di Palembang dan Malaysia.

“Mereka sekarang sudah memiliki peralatan yang canggih, jadi kami kalah saing,” tukasnya.