Tak terasa, jalanan Kota Pekanbaru ini semakin padat saja. Volume kenderaan cenderung meningkat, baik kenderaan roda dua maupun roda empat.

Sesampai di lampu merah (trafic light), terlihat kenderaan antri panjang, ini disebabkan tidak lain karena jumlah kenderaan tidak sebanding dengan infrastruktur (jalan) yang memadai.

Ketika lampu kuning menyala menjelang lampu hijau pertanda kenderaan boleh bergerak, terdengat bunyi klakson kenderaan bersahut-sahutan. Ya, karena tak sabaran ingin berjalan. Padahal jika ingin sabar mereka (kita-kita juga) hanya menunggu waktu sebentar.

Dalam pikiran saya berujar, apa betul kita ini bangsa yang sabar, tak banyak pinta. Soalnya, dalam urusan lalu lintas saja kita masih belum bisa menahan emosi. Terkadang ketika kenderaan yang kita kemudikan bersenggolan sedikit saja dengan kenderaan orang lain, membuat emosi kita memuncak. Hitam rasanya penglihatan karena ingin marah.

Dua hari lalu, ketika berada di bengkel sepeda motor, tiba-tiba ada dua remaja masih berseragam sekolah, bersenggolan dengan sepeda motor seorang pemuda. Pasalnya, sepeda motor pria tersebut berhenti secara mendadak karena di depannya juga ada kenderaan lain yang berhenti tiba-tiba.

Hanya bersenggolan sedikit plus luka gores yang tak seberapa, ketiga anak manusia ini rela bertengkar di hadapan orang banyak. Sungguh hanya karena mempertahankan ego (ego apa super ego ya?).

Yuk, renungkan lagi, apa benar kita ini bangsa yang sabar, rendah hati, pemaaf…… ntahlah.