COBA lihat iklan operator telekomunikasi selular yang akhir-akhir ini semakin marak. Ada yang menawarkan biaya bicara lebih murah, Short Message Service (SMS) yang murah atau bahkan gratis. Lama bicara tak terbatas, jaringan suara jernih, dan bersih. Pokoknya masing-masing layanan mengklaim merekalah yang terbaik.

Tidak hanya menganggap dirinya yang hebat, iklan kartu handphone juga menyebut iklan milik operator merek lain berbohong dengan iklan tarif di media massa. Sehingga tidak ayal lagi kalau masyarakat menjadi bingung dibuatnya. Milih Global System for Mobile (GSM) atau Code Division Multiple Access (CDMA). Milih kartu ini dengan gratis SMS atau milih kartu itu yang murah bicara. Pokoknya semua dibuat bingung.
 
   
Iklan operator telekomunikasi selular di atas, sama halnya dengan perkembangan dunia politik akhir-akhir ini. Ketika seseorang ingin masuk atau jika telah masuk ia ingin sukses di dunia politik mesti mau dan mampu mengklaim bahwa dirinya lebih bagus dalam memimpin, lebih layak dipilih, lebih hebat dan berkualitas.

Sementara orang lain, politikus lain, pejabat dan orang-orang yang menjadi saingannya tidak ada satupun yang hebat dan mampu dalam bekerja. Tokoh lain jangan dipilih karena mereka hanya mengumbar janji, tidak berpengalaman, tidak jago lobi, memiliki latar belakang yang buruk. Pokoknya, tidak ada satupun orang lain yang dianggap baik.

Hal tersebut hampir terjadi di seluruh negara ini. Dalam pilpres, semua tokoh menganggap dirinya mampu. Setiap tokoh menganggap pimpinan yang duduk saat ini gagal, tidak tegas, lemah, penakut pada kebijakan asing, hanya mampu menikkan BBM dan sebagainya. Padahal ketika dia memimpin mereka yang mengkritik juga berkelakuan sama dengan yang sekarang.

Hal yang sama juga terjadi di daerah-daerah, termasuk di Riau. Ketika ingin maju menjadi gubernur, tokoh-tokoh politik yang merasa mampu dan mau maju dalam Pilgubri mengklaim dirinya terhebat, mampu memimpin negeri ini. Sedangkan incumben tidaklah ada apa-apanya. Yang menjadi pertanyaan, apakah hal itu sesuai dengan apa yang diucapkannya.

Mungkin mereka juga lupa, kalau masyarakat kita saat ini sudah semakin baik dalam berpolitik. Masyarakat tahu apa yang akan mereka pilih, tahu yang baik dan buruk. Mereka juga tahu politikus mana yang hanya mampu mengumbar janji, hanya berkata manis. Masyarakat juga tahu kalau politikus baru turun melihat rakyatnya ketika akan pemilu dan pilkada saja.

Saya masih ingat ucapan dari seorang warga di Kampar. “Ah, dulu ketika mau dipilih mereka mau turun ke sini. Mau datang ke pasar atau ke kedai hanya untuk membeli kerupuk. Sekarang mereka seperti ingkar janji,”. Nah, Looo. (jel)