Pernah dengar kata Ocu? Mungkin bagi anda yang berasal dari Provinsi Riau kata ini sudah akrab ditelinga anda. Atau bagi anda yang berasal dari provinsi-provinsi di pulau Sumatera, khususnya di Sumatera bagian Tengah, seperti Sumatera Barat, dan tetangga Riau.
Ocu adalah salah satu suku yang tidak terlalu besar di Riau salah satu suku dari Melayu. Orang-orang dari suku ini berasal dari Kabupaten Kampar Provinsi Riau. Memang hingga saat ini banyak kontroversi tentang asal-usul dari suku ini. Seperti, ada yang mengatakan orang-orang Ocu berasal dari Sumatera Barat, karena memang Kabupaten Kampar sendiri berbatasan langsung dengan Provinsi Sumatera Barat.
Pendapat pertama ini memang punya alasan sendiri karena budaya, adat istiadat, bahasa, struktur pemerintahan, hingga gaya bangunan agak memiliki kemiripan dengan budaya Sumatera Barat. Selain itu dalam sejarah daerah ini juga merupakan wilayah kerajaan Pagaruyung.
Akan tetapi, hingga saat ini, belum ada satu orang anak keturunan Ocu yang mau disebut sebagai orang Minang. Entah apa sebabnya, kemungkinan juga karena beberapa sifat antara Orang Ocu dengan Minang agak berbeda ditambah lagi dipengaruhi oleh faktor masa lalu dan sejarah.
Selain ada yang mengatakan dari Sumatera Barat, juga ada yang menyebutkan orang Ocu asli orang Melayu Daratan. Hal ini disebabkan di daerah Riau sendiri sifat dan karakteristik yang dimiliki oleh wilayah Kampar juga persis seperti adat dan kebudayaan di beberapa Kabupaten di Riau seperti Kabupaten Kuantan Singingi.
Ada juga yang mengatakan Kampar atau negeri Ocu merupakan wilayah atau kerajaan yang berdiri sendiri, karena memiliki kerajaan tersendiri. Apapun pendapat tersebut mesti dipastikan kebenarannya.
Kembali kepada Ocu. Selain sebuah suku, kata Ocu juga bisa disebut sebagai sebuah bahasa, yaitu bahasa Ocu – percampuran bahasa Melayu dengan bahasa Minang, dan mirip seperti bahasa Kuantan. Memang dalam kosa kata bahasa Ocu banyak yang sangat mirip dengan bahasa Melayu.
Selain bahasa, Ocu juga bisa digunakan untuk sebutan sebuah wilayah, dan sebutan bagi saudara atau anak yang ke empat hingga selanjutnya. Dalam adat Kampar, anak pertama oleh saudara-saudaranya dipanggil dengan sebutan Uwo (berasal dari kata Tuo, Tua, yang paling tua).
Anak kedua dipanggil oleh adik-adiknya dengan kata Ongah, yang berasal dari kata Tengah, artinya anak yang paling tengah, atau anak ke dua. Sedangkan anak yang ke tiga dipanggil oleh adik-adiknya dengan nama Udo, atau anak yang paling Mudo atau yang paling Muda.
Untuk anak yang ke empat baik laki-laki maupun perempuan, juga dipanggil dengan Ocu, yang kemungkinan besar juga berasal dari kata Ongsu, yang dalam bahasa Indonesianya berarti Bungsu atau anak yang bungsu (terakhir). Anak ke lima dan seterusnya juga berhak untuk disapa dengan Ocu.
Tidak hanya dalam struktur kekeluargaan saja kata Ocu ini digunakan, tapi juga digunakan bagi anak-anak yang lebih muda kepada teman, kerabat dan sanak keluarga. Seperti anak muda kepada yang sedikit lebih tua dari pada dirinya.
Kata ini juga dipakai sebagai panggilan kehormatan dan kebanggaan (bukan panggilan kebesaran seperti gelar adat) bagi orang Kampar.
Jadi Ocu adalah sebuah wilayah, suku, bahasa, adat, sebutan atau nama panggilan, dan panggilan kebanggaan bagi orang-orang di Kampar.***
11 Maret 2009 at 11:05 pm
Kato kuncinya adalah bukti dan fakta sejarah. Siapo ajo bolio berargumen tentang asal muasal suku ocu iko. mo la wak mualai pambahasan ko jen bukti sejarah….suda tu bau pulo wak tanyo kan dek apo dan mangapo dek pontiong mambahas asal muasal suku ocu go. jen kato lain kalau suku ocu du minang anyuik….itu adolah pandapek….akan bisa ditemo bilo minang du adolah suku nan bakombang digunuong sobab dek ado hukuman adat (gadi buntiong dibuang ka utan ukan ka tompek ami..bilo ayah si jabang bayi indak jole). itu hukuman dai zaman hindu du le cu….TEMO LU DU YE…Agamo hindu manuik pelajaran sejarah SMP, inyo du Matrialineal….jadi budaya suku tuwun ka batino du ukan budaya minang tapi budaya hindu la doklunyo cu.
Kalau manuik pelajaran (ukan ceto dikodai do, sobob nang pandai mbuek ceto dikodai du kan kawan awak du juo)sejarah du dapek dipicayo, bilo disokong dek ilmu lain, baik dari suduik pandangan sosiologi, antropologi jen arkeologinyo gai.. banyak nan lain du le.
Diantao peninggalan budaya nan ado kini adolah candi Muao takui nan lobio doklu masyarakatnyo berperadaban dibandiong jo kerajaan Pagaruyuong, sobab muao takui du paninggalan Sriwijaya sodangkan Pagaruyuong peradabannyo nan terkenal du maso majo paik bakuaso (baco baliok buku sejarah SMA wak komua). kalau nak lobio tenggi ngenek buka-buka juolah sajarah Minang du nan terkenal dikalangan panaliti BAKABA TAMBO ADAT ALAM MINANGKABAU, ep…jen sampai disitu ajo. nakyo dapek dek awak bahan bandingannyo baco pulo SULALAT AS-TSALATSIN. Bau la awak bisa baceto ngenek.
Bekas sungai nan menjadi fokus ceto dalam prasasti KEDUKAN BUKIK du..Kampar kanan jen Kiri…lotaknyo pas katiko wak maadok ka minang maimbau du…(Tengok Tangan Kanan ocu du..dimano kanan dan mano pulo kiri)
Suda tu cu….nan akrab ditalingo awak cu..nan mempunyai pola migrasi Merantau du..kan minang ye cu?…tu la diakui di ughang sajagat go cu…dan uwang minang du bangga nyo maantau (baco Buku Muchtar Naim uaghang minang juo)….jadi…kalau la inyo maghantau…oso sumbang atau kok ndak kan salah lo pulo inyo cu..bilo maghaso bakuaso pulo dinagoghi Kampar go..jen baliok lo awak le ka zaman penjajahan. ola la sadektu derita bangsa go..manjaja wak nomo du ye cu???.
Ado kutipan dai ceto ocu nan diate go ngenek “karena budaya, adat istiadat, bahasa, struktur pemerintahan, hingga gaya bangunan agak memiliki kemiripan dengan budaya Sumatera Barat” itu parolu diluruskan du cu..budaya mano nan mirip du…malu la ngenek kalau pasukuan ka batino du dianggap dek wang minang budaya inyo…Hindu du banyak nan matrialiniel
tolong tukuok nan kughang ye cu…kughangi nan talobio
13 Maret 2009 at 9:14 pm
Masyaallah, hari ko den banyak dapek ilmu. Terimakasih Cu Ifan.
24 Maret 2011 at 12:28 pm
Bali nan hindu agamonyo ndak matrilineal do cu..Bakpo cagho e lae du?Lai pun di Sumatera tengah du dulu ndak Hindu agamonyo, melainkan Budha,,bisa ocu ifan crosscheck tu..
Ciek lai, Memang pagaruyuong rajo nyo keturunan jao jo minang,,tapi sabalun pagaruyuong ado,lah ado kerajaan dharmasraya cu..Tampeknyo di Kab. DHarmasraya SUMBAR, cu..
10 April 2011 at 12:36 am
orang ocu tu dilema nak ngaku melayu kami tolak nak ngaku minang tak di akui……
jangan pernah kalian bilang orang melayu atau orang minang ingin menjadikan kalian bagian dari mereka……itu mustahil karna melayu itu suku besar apalagi minang, suku minang adalah suku yang sangat besar dan di akui kejayaannya di negeri ini…..yang mengharumkan nama sumatera itu di indonesia cuma orang minang dan batak karena mereka banyak menduduki kursi pemerintahan……contohnya saja mentri dalam negri kita pak gamawan fauzi orang minang kalo dalam bisnis karni ilyas pemimpin redaksi TV one, kalau di riau ada basrizal koto, di ptn sperti di UIN suska walopun katanya kusus kampar memang mahasiswa dan karyawannya banyak orang ocu namun orang minag dan melayu lebih mendominasi keapada guru2 besar di UIN sperti pak alaidin koto dan bnyak lagi yg lainnya yang tak bisa saya tuliskan di kolom yang sangat terbatas ini , dan sampai detik ini belom pernah saya dengar orang ocu berpengaruh di indonesia, mungkin kalau kita tanyakan kpda pak sby ocu itu apa saya yakin dan percaya dia akan berkata “apa itu ?, saya baru dengar kata2 itu” jadi saya mohon dengan segala hormat jangan pernah menyudutkan suku lain yg lebih besar dengan suku kalian yang kecil itu yang tidak punya identitas itu……
tksh
maaf sblumnya
17 Mei 2011 at 9:31 am
maafnya diterima..keterbatasan keilmuan dalam kesejarahan terkadang menjadikan orang subjektife dan ngawur..dipahami sekali..apa yang menjadi kebanggaan anda sebenarnya juga gak bermasalah dimata orang ocu…silahkan saja..namun pemutar balikkan sejarah yang dilakukan tentu mesti diluruskan ..setidaknya ada pembanding..itu saja..dan sejarah bukanlan BAKABA..(cerita2 yang terkesan mengada2)
12 Juni 2011 at 7:20 pm
iyo du cu satuju den jo pandapek ocu!!
memang suku awak ketek nye cu…
tpi tolong te hargai ughang Ocu…
jan ciek mambaco buku sejarh jie nan isa!! analisa tek muo!!
kci nak jdi peneliti jan fokus ke buku jie!! datnglah komai!! bia jan nak sampai babolik-bolik cito du apolai smpai memuta balio an fakta!!
13 Juni 2011 at 8:00 am
Rudien@: Kok sanak baco komentar2 uwang nan manulih disiko bisa sanak caliek pak Witrianto Caniago manulih berdasarkan penelitian nan beliau lakukan..
19 Januari 2012 at 4:35 pm
Kamu orang minang klau di lihat gelagat kamu menyudutkan orang ocu.ocu tak pernah supaya di akui minang ato melayu karena nota bene ocu tu melayu.tak guna kita saling menyudutkan dan berdosa kita membanggakan etnis kita sendiri,krn itu sombong !
11 Juni 2011 at 1:13 pm
apo yang membadakan antara bahaso ocu dengan bahasa inggris, di nilai dari segi phoneme . makasih moh.
7 Desember 2011 at 2:59 am
Orang Kuantan dan kampar adalah Orang Minang
Mengapa harus malu mengatakan bahwa orang Kuantan adalah orang Minang yang daerahnya dimasukkan Pemerintah ke dalam wilayah Provinsi Riau. Sesungguhnya anda minder dengan kenyataan dan sejarah. Anda sebenarnya pasti tahu kalau kita orang Kuantan adalah bagian dari rumpun Minangkabau. Hanya karena letak daerah kita yang anda tidak tahu mengapa tidak berada dalam Prov. Sumatera Barat yang dikenal sebagai daerah asal orang Minang. Melainkan berada dalam Provinsi Riau yang mayoritas bersuku Melayu sehingga selalu diidentikkan sebagai tanah Melayu. Itu tidak salah karena persepsi itu sudah terbentuk dari dulu lebih dari 50 thn pasca pendirian Prov. Riau 1958. Pemerintah Pusat saat itu menggunakan dasar tuntutan para tokoh Melayu Riau yang menginginkan daerah ex Keresidenan Riouw zaman Belanda lepas dari wilayah Provinsi Sumatera Tengah yang berpusat di Bukittinggi. Tahukah kita bahwa daerah Kuantan Hulu (Kuansing sekarang) adalah daerah asli Minangkabau yang dimasukkan oleh Belanda ke dalam wilayah Keresidenan Riouw akhir abad ke 19 dengan alasan geopolitis & militer strategis Kolonial Pemerintah Hindia Belanda. Daerah sepanjang aliran Sungai Kuantan yang mengalir dari hulu di bagian Barat (Kuansing) ke hilirnya di pesisir Timur Sumatera menuju ke Selat Malaka harus dikuasai oleh satu pemerintahan Keresidenan agar tidak overlapping dengan Keresidenan lain (Sumatera’s westkust/Keresidenan Sumatera Barat & Keresidenan Djambi). Belanda juga melihat bahwa ada batas alam berupa rangkaian bukit barisan yang membagi 2 Pulau Sumatera secara tidak proporsional yaitu belahan Pesisir Barat dan Pesisir Timur.(Daratan Bag. Timur jauh lebih luas daripada daratan bagian Barat Bukit Barisan). Batas tersebut dijadikan sebagai perbatasan alami di wilayah Tengah Pulau Sumatera untuk membagi daerah Keresidenan Sumatera’s Westkust di bagian Barat dengan Keresidenan Riouw & Keresidenan Djambi di pesisir Timur. Daerah Kuansing dan Kampar hulu sebenarnya secara geografis jauh lebih dekat ke Pesisir Barat daripada ke Pesisir Timur Sumatera. Belanda tidak menggubris kesamaan etnis, kultural, dan dialek lokal lingustic kedua daerah yang terletak di perbatasan alam tersebut. (Kuantan dengan serumpunnya di bagian Barat yakni Sijunjung, Sawahlunto & Darmasraya) dan (Kampar Hulu V Koto-Taratak Buluh dengan Lima Puluh Kota di bagian Baratnya). Bahkan oleh Belanda daerah Minangkabau yang disegressi dari induk rumpunnya di Sebelah Barat ini diintegrasikan dengan daerah Pesisir Timur yang murni beretnis Melayu Riau. Dimasukkan ke dalam suatu Kewedanan (afdeling) yang diberinama Kampar dan sebagian masuk Indragiri. Mulai saat itu terpisahlah orang Kuantan dan orang Kampar (Ocu) dari rumpun induknya Minangkabau di bagian Barat secara de jure dan de facto. Pada zaman awal kemerdekaan 1945 hingga tahun 1958 Kampar dan Kuantan sempat mengalami reunifikasi dengan saudara serumpun Minangnya dalam satu Provinsi besar yakni Prov. Sumatera sampai tahun 1948. Berkutnya dalam Prov. Sumatera Tengah pasca pemekaran Prov. Sumatera menjadi 3 Provinsi : Prov. Sumatera Utara, Prov. Sumatera Tengah dan Prov. Sumatera Selatan. Kebersamaan itu berlangsung tidak lama karena kemudian Provinsi Sumatera Tengah ini akhirnya dimekarkan pula menjadi 3 Provinsi pasca kekalahan PRRI yang berpusat di Bukittinggi. Wilayah Kuantan dan Kampar Hulu sekali lagi dipisahkan kembali dengan rumpun induknya atas dasar klaim sejarah para Tokoh Melayu Riau yang menggunakan dasar wilayah ex Keresidenan Riouw. Tentu saja Ranah Minangkabau sebagai pihak pecundang perang tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolak kebijakan Pemerintah yang dituangkan dalam UU No. 61 thn 1958 yang membagi wilayah Provinsi Sumatera Tengah menjadi 3 Provinsi baru. Mereka tidak punya dasar hukum untuk mengklaim sebagai bagian yang diinginkan masuk ke dalam wilayah Provinsi Sumatera Barat (selain mungkin hanya berupa de facto rumpun etnis dan kultural Minang). Begitu juga dengan masyarakat Kuantan dan Kampar (Juga Kerinci dimasukkan ke Prov. Jambi) saat itu yang mayoritas masih hidup di bawah standard kesejahteraan. Mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa karena memang tidak disosialisasikan kepada masyarakat awam oleh Pemerintahan yang dipegang oleh Militer pasca PRRI. Yang pasti menurut cerita tetua Kampung kita dulu bahwa mereka tetap mengakui sebagai orang Minang sejak dahulu kala. Dan bilamana saat itu diberi kesempatan untuk memilih mau ikut bergabung ke Riau atau ke Sumbar, tentu saja seluruh etnis asli (non pendatang tentunya) Kuantan dan Kampar (Non Melayu Riau) akan memilih sesuai naluri mereka ke Sumbar. Tapi itu tidak pernah terjadi dan sudah berlalu lebih dari 50 thn yang lalu. Sudah hampir 3 generasi yang berlalu dan tidak perlu dipermasalahkan lagi. Yang jadi masalah adalah generasi baru seperti kita-kita ini yang merasakan termarginalisasi oleh kenyataan berada di luar situasi ideal. Mau mengaku jadi orang Melayu tidak mau karena terlalu banyak perbedaan budaya, bahasa dan adat istiadat dengan kita. Mengaku sebagai orang Minang ada rasa sungkan karena secara de facto dan de jure tanah Kuantan dan Kampar tidak (lagi) berada dalam wilayah Prov. Sumatera Barat. Image umum juga mengatakan bahwa orang Minang berasal dari Prov. Sumatera barat dan orang Riau adalah orang Melayu. Seharusnya kita tidak perlu malu mengakui bahwa kita tetap adalah bagian dari Rumpun Minangkabau. Apalagi sampai mengarang rangkaian sejarah sendiri yang dikutip sana-sisni dari Tambo Minang dan peninggalan arkeologis tanpa dasar (selain karena rasa malu dan minder) untuk diakui sebagai suku tersendiri yang unik? Suatu upaya yang sangat naif dan tidak intelek karena bersifat pembodohan public dan berselera rendah dengan merendahkan etnis dan budaya sendiri. Prov. Riau dan orang Melayu Riau mayoritas tahu bahwa kita memang berbeda dengan mereka, tapi kita punya tanah dan kampung sendiri dan bukan pendatang dari luar di Provinsi ini. Merekalah yang menginginkan wilayah kita dimasukkan ke dalam wilayah Provinsi Riau ini dulunya. Menjadi orang Minang bukanlah suatu yang hina, bahkan merupakan suatu kebanggaan karena mereka sangat terkenal dalam sejarah dan keberadaan mereka mudah dikenali di seluruh wilayah tanah air dan manca negara. Kebudayaan mereka dikagumi sebagai salah satu keunikan budaya Indonesia dan Malaysia (Negeri Sembilan). Pengakuan masyarakat Riau akan adanya minoritas Minang di daerah Perbatasan Barat Provinsi Riau sudah ada, walaupun agak direkayasa seolah menjadi etnis Melayu yang berdialek mirip Minangkabau. Tidak ada indikasi upaya Melayunisasi yang mematikan potensi bahasa, dan budaya asli kita. Justru malah budaya kita dijadikan sebagai bagian dari khasanah budaya Riau. Biarlah itu dilakukan itu sebagai ajang promosi budaya kita lewat mereka karena mereka mayoritas dan dominan. Hanya saja akan semakin sukar untuk meluruskan image kepada pihak luar bahwa tidak seluruh daerah Riau bersuku Melayu, ada juga minoritas asli yang bersuku Minangkabau. Tapi sudahlah tidak usah diperpanjang karena bersama mereka dalam Prov. Riau ini kita juga sudah merasakan kemajuan dan peningkatan kesejahteraan. Artinya keberadaan kita dalam pangkuan mereka tidak disiasiakan sebagai daerah taklukan yang hanya diexploitasi seperti zaman Kerajaan dan Kolonial dahulu. Itulah mengapa Kuantan dan Kampar seolah sepakat sama sekali tidak mendukung wacana tidak populer “Riau merdeka” yang pernah didengungkan oleh segelintir tokoh Melayu Riau yang tanpa malu mengatasnamakan Masyarakat Riau. Kalau mereka mau merdeka, silakan aja berurusan dengan NKRI dan kita tidak ikut-ikutan. Mungkin satu-satunya ide dari Pusat bila Riau merdeka adalah wilayah Kuantan dan Kampar akan diunifikasikan ke Prov. Sumatera Barat. Tapi yang fantastis saat itu adalah kenyataan bahwa Riau Kepulauan yang beretnis dan berbudaya sama dengan Melayu Riau Daratan malah memilih melepaskan diri karena tidak sependapat dengan ide bodoh itu. Tidak ada alasan untuk malu bagi kita untuk mengaku sebagai orang Minang. Bahkan teman-teman Kerinci saya di Jakarta tanpa tedeng aling-aling tetap mengatakan bahwa orang Kerinci adalah orang Minang yang wilayahnya termasuk ke dalam Provinsi Jambi.
4 Januari 2012 at 10:33 pm
Rudi@rudi atau pun hantu belau namo kau,tolong jgn sudutkan kami dan jgn mengarang cerita yg tidak2 karena itu akan menambah kebencian kami terhdp ranah mu.sejarah telah mencatat,bahwa kampar,kuantan,Rohul masuk prop Riau atas kemauan segenap anak negeri.karena history dan persamaan budaya maka kami bergabung dan membentuk propinsi Riau.karena residen Riau dlm prop sumbagteng sungguh tdk beruntung,pnddkn di abaikan,pasar di kuasai minang,pejabat bnyk transperan bkt tinggi.
Sudahlah tak usah kalian klaim sana sini bagian dari kalian,dunia pun dah tau sifat etnis anda.
Bnyklah menghargai adat dan budaya orang,supaya etnis anda di hargai.
Maaf !
12 Januari 2012 at 8:57 am
den bangga jadi uwang ocu.
jan la suko manindas uwang ocu. ibaratnyo selamo ko uwang ocu ditindas samo urang mudiok alias sumbar. tu la di sumbar banyak musibah musibah terjadi nyo urang nyo suko menghina suku lain yg inyo anggap bagian dari inyo du.
mangucap la awak basamo
22 Oktober 2009 at 10:32 am
Ocu ifan…Botue du…Kek awak wang du ba asal mulonyo…dek kini ajo ba kombang wang du podo awaknyo
20 Desember 2009 at 1:20 pm
propaganda vs fakta sejarah…????
atur aja…yg penting NKRI jgn pecah ya..gara2 isme2 an…god bless indonesiaaa..!!
20 Desember 2009 at 1:26 pm
setuju dgn vito…yg penting indonesia jen untuo…ndak guno awak saling menyudutkan do…apo lg togak dek hal2 dimasa lalu..awak iduik saling membutuhkan dan saling melengkapi…..piiisss 4 all…
20 Desember 2009 at 2:52 pm
yup..terima kasih cu…kita sesama warga kampar…memang bangga sbg orang ocu..tp lebih bangga sbg orang indonesia..dan teramat bangga sbg orang muslim…kesampingkan perbedaan kedepankan ukuwah islamiyah agar kt tak mudah terpecah…ayo saudaraku sebangsa seagama..cu ifan,kruhut&ocu ayu tiyi semuanya…kita saling bersatu utk maju……mohon maaf kl ada kata yg salah…pisszz..!!
24 Januari 2010 at 12:43 am
YG PENTING JAGA KEKOMPAKAN ORANG OCU. Jangan jual tanah & haroto pusoko kito kepada orang kafir.AWAK NDAK BULIO MAHINA SATU SUKU.ALUN ONTU SUKU AWAK LOBIO ELOK DAI UANG.
Kalau nak ontu dai mano asal ocu, cubo riset ka pedalaman Semenanjung Malaya, pedalaman Batu Sangkar, pedalaman 50 koto, pedalaman Lintau, daerah Subaliong, daerah asal sungai Kampar Kanan & Kiri, batas kampar sumbar,pahami Tambo Alam Minangkabau, pahami literatur sejarawan Belanda di Amsterdam,dll.
Asal muasal uang ocu tidak cukup dgn tafsiran2 sempit ocuifan,”maaf ya”. Kita harus objektif bila ingin mengungkap fakta sejarah.
Sekarang ada 3 pertanyaan yg perlu diteliti dg cermat tanpa bermaksud pecahbelah, yakni APAKAH KAMPAR DARI MINANG,atau MINANG DARI KAMPAR,atau KAMPAR & MINANG MEMILIKI NENEK MOYANG YG SATU KETURUNAN.
Yang jelas Orang Kampar & Orang Minang sama2 keturunan Nabi Adam,as.INGAT!!! SESAMA UMAT ISLAM HARUS BERSATUPADU.SUKU & ADAT LETAKNYA DI BAWAH AGAMA.
17 Mei 2011 at 9:45 am
ocu sodo2nyo…sapangatahuan deyen apo nan deyen tuli…sekedar untuk manggoli2 akal budi tuan2…masih iduik datuok nan mambuek canduong di ayu tiyi dule sanak???
7 Juli 2011 at 10:52 am
Suai tu cu Pambalap..
25 Agustus 2011 at 11:16 pm
Ocu pembalap, kalau mau jujur, antara minang di Sumatera Barat dengan saudara mereka di kawasan perbatasan propinsi sekarang adalah satu rumpun etnis, tapi karena adanya tekanan pemerintah Riau, maka kita dipisahkan dan dibuat saling benci begini…
minanga tamwan (tamwan, tamuan)
minanga kampau (kampar)
minang kabau
minanga (nama di palembang)
binanga (sungai dalam bahasa batak)
itu terjadi karena beda dialek saja.. sebenarnya itu satu, hanya orang tolol yang tidak mengerti perkembangan bahasa dan dialeklah yang membuatnya berbeda…
orang minanga tamwan (sungai yang bertemuan, mungkin kampar, pertemuan sungai juga dianggap suci) yang pergi ke gunung (malay) di kawasan sumatera barat sekarang, karena gunung dianggap tempat suci. lalu mereka dikenal orang orang asing sebagai orang gunung (malay, malaya, malayu) untuk membedakan mereka dari orang pesisir. Pada tradisi lama orang akan pergi ke gunung terlebih dahulu untuk membangun negeri dan kebudayaan, lalu kemudian baliak mudiak (turun ke hilir) untuk berdagang dan merantau.
orang sungai (minanga) itulah yang pergi ke gunung (malay) dan orang gunung itu turun ke sungai kembali untuk merantau dan mencari penghidupan…
tapi kalau sudah benci, ya pasti akal sudah tertutup.
Orang ocu menghina minangkabau, sama sepereti mereka menghina nenek moyang mereka sendiri, darah daging mereka.
Tapi karena provokasi dari pihak lain (mungkin melayu riau atau pengusaha cina karena mereka disulitkan oleh pedagang minang) maka terjadilah peristiwa paling lucu dan paling tolol sedunia ini. Sebuah etnis menolak identitas budaya mereka sendiri.. Hahahahahaha lucu deh… Orang kampar tidak mau disebut orang minang. Orang kampar itu adalah campuran antara orang minanga (sungai) dan sekaligus orang melayu (turun dari gunung)
Bagaimana orang minangkabau ? mereka memang orang melayu 100% (malay, pegunungan) dan asal mereka dahulunya dari sungai (minanga) lalu pergi ke gunung, dan hidup bersuku-suku dan turun gunung lagi dan menyebar… sudah match kan? Please deh,
4 April 2010 at 7:45 pm
Sabananyo nenek muyang uwang ocu,kuantan,jo minang samo sen..Adaiknyo samo,gala-gala nan ado samo, suku samo…Bak po tu kanti? Jan dek la masuak prov. Riau, mangaku lo jadi uwang melayu (melayu ko suku atau kompilasi uwang minang, ocu, kuantan, bugih, banjar, dll??): adaik bedo (melayu = patrilineal, bahaso bedo, dll)…Kok sarancaknyo cubo lah kanti tanyo ka uwang2 tuo nan ado sampai kiniko..Manotau angku-angku du tau nan sabananyo..tarimo kasih..
12 Januari 2012 at 9:04 am
doa uwang ocu yg lagi ditindas
jan la awak ko semena-mena kek uwang ocu ko, jadi tambah banyak doso urang mudiak ko ha, ala tu muo datang gompo le dibayang-bayangi tsunami le, yg penting tau diri la
17 Januari 2012 at 6:51 pm
Kalau blh tau apa arti Minangkabau itu ?
4 April 2010 at 7:48 pm
Ciek lai nan nio ambo tulih, mari perkuat ukhuwah islamiyah..Ok ok..
12 Januari 2012 at 9:09 am
klo iko den setuju. jan ado adu domba biarkan la ocu itu ocu. minang itu minang mereka memang tidak bisa disatukan yg bisa disatukan adalah kita sama2 mahkluk ciptaan Allah SWT.
1 Juni 2010 at 12:21 pm
ocu itu bukan bagian dari suku melayu… orang ocu ngaku-ngaku suku melayu..
7 Juni 2010 at 4:08 am
baluok ola dek ang gosrong.wang condo longek !.g’tau persoalan jngn ikt nimrung bung!!!kya’ toge aja loe!
25 April 2011 at 1:48 pm
den asli ughang minang!!
tapi den tingge di ocu…
manughuik den ndak ado pebedaan budayo ghaso dek den…
contoh pakaian adat perkawinan daerah ocu.. takojuik den ha”" ko ughang ocu apo wang minang?!!!??
den elon2 kek ughang situ!!
den tanyo ko pakaian pengantin asli mano pak?? cek den!!
asli kampar cek apak du!!
den tanyo baliok apo ndak baju ughang melayu pakai pak??
jwb pakai bhaso luhak dek apa du!!
ngalo pakei baju urang mlayu..
ndak hubungan jo urang mlayu ko do!!
jadi manughuik ughang ocu kampar timur tak mengakui dighinyo uaghang melayu…
7 Desember 2011 at 3:04 am
Orang Kuantan dan kampar adalah Orang Minang..
Mengapa harus malu mengatakan bahwa orang Kuantan adalah orang Minang yang daerahnya dimasukkan Pemerintah ke dalam wilayah Provinsi Riau. Sesungguhnya anda minder dengan kenyataan dan sejarah. Anda sebenarnya pasti tahu kalau kita orang Kuantan adalah bagian dari rumpun Minangkabau. Hanya karena letak daerah kita yang anda tidak tahu mengapa tidak berada dalam Prov. Sumatera Barat yang dikenal sebagai daerah asal orang Minang. Melainkan berada dalam Provinsi Riau yang mayoritas bersuku Melayu sehingga selalu diidentikkan sebagai tanah Melayu. Itu tidak salah karena persepsi itu sudah terbentuk dari dulu lebih dari 50 thn pasca pendirian Prov. Riau 1958. Pemerintah Pusat saat itu menggunakan dasar tuntutan para tokoh Melayu Riau yang menginginkan daerah ex Keresidenan Riouw zaman Belanda lepas dari wilayah Provinsi Sumatera Tengah yang berpusat di Bukittinggi. Tahukah kita bahwa daerah Kuantan Hulu (Kuansing sekarang) adalah daerah asli Minangkabau yang dimasukkan oleh Belanda ke dalam wilayah Keresidenan Riouw akhir abad ke 19 dengan alasan geopolitis & militer strategis Kolonial Pemerintah Hindia Belanda. Daerah sepanjang aliran Sungai Kuantan yang mengalir dari hulu di bagian Barat (Kuansing) ke hilirnya di pesisir Timur Sumatera menuju ke Selat Malaka harus dikuasai oleh satu pemerintahan Keresidenan agar tidak overlapping dengan Keresidenan lain (Sumatera’s westkust/Keresidenan Sumatera Barat & Keresidenan Djambi). Belanda juga melihat bahwa ada batas alam berupa rangkaian bukit barisan yang membagi 2 Pulau Sumatera secara tidak proporsional yaitu belahan Pesisir Barat dan Pesisir Timur.(Daratan Bag. Timur jauh lebih luas daripada daratan bagian Barat Bukit Barisan). Batas tersebut dijadikan sebagai perbatasan alami di wilayah Tengah Pulau Sumatera untuk membagi daerah Keresidenan Sumatera’s Westkust di bagian Barat dengan Keresidenan Riouw & Keresidenan Djambi di pesisir Timur. Daerah Kuansing dan Kampar hulu sebenarnya secara geografis jauh lebih dekat ke Pesisir Barat daripada ke Pesisir Timur Sumatera. Belanda tidak menggubris kesamaan etnis, kultural, dan dialek lokal lingustic kedua daerah yang terletak di perbatasan alam tersebut. (Kuantan dengan serumpunnya di bagian Barat yakni Sijunjung, Sawahlunto & Darmasraya) dan (Kampar Hulu V Koto-Taratak Buluh dengan Lima Puluh Kota di bagian Baratnya). Bahkan oleh Belanda daerah Minangkabau yang disegressi dari induk rumpunnya di Sebelah Barat ini diintegrasikan dengan daerah Pesisir Timur yang murni beretnis Melayu Riau. Dimasukkan ke dalam suatu Kewedanan (afdeling) yang diberinama Kampar dan sebagian masuk Indragiri. Mulai saat itu terpisahlah orang Kuantan dan orang Kampar (Ocu) dari rumpun induknya Minangkabau di bagian Barat secara de jure dan de facto. Pada zaman awal kemerdekaan 1945 hingga tahun 1958 Kampar dan Kuantan sempat mengalami reunifikasi dengan saudara serumpun Minangnya dalam satu Provinsi besar yakni Prov. Sumatera sampai tahun 1948. Berkutnya dalam Prov. Sumatera Tengah pasca pemekaran Prov. Sumatera menjadi 3 Provinsi : Prov. Sumatera Utara, Prov. Sumatera Tengah dan Prov. Sumatera Selatan. Kebersamaan itu berlangsung tidak lama karena kemudian Provinsi Sumatera Tengah ini akhirnya dimekarkan pula menjadi 3 Provinsi pasca kekalahan PRRI yang berpusat di Bukittinggi. Wilayah Kuantan dan Kampar Hulu sekali lagi dipisahkan kembali dengan rumpun induknya atas dasar klaim sejarah para Tokoh Melayu Riau yang menggunakan dasar wilayah ex Keresidenan Riouw. Tentu saja Ranah Minangkabau sebagai pihak pecundang perang tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolak kebijakan Pemerintah yang dituangkan dalam UU No. 61 thn 1958 yang membagi wilayah Provinsi Sumatera Tengah menjadi 3 Provinsi baru. Mereka tidak punya dasar hukum untuk mengklaim sebagai bagian yang diinginkan masuk ke dalam wilayah Provinsi Sumatera Barat (selain mungkin hanya berupa de facto rumpun etnis dan kultural Minang). Begitu juga dengan masyarakat Kuantan dan Kampar (Juga Kerinci dimasukkan ke Prov. Jambi) saat itu yang mayoritas masih hidup di bawah standard kesejahteraan. Mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa karena memang tidak disosialisasikan kepada masyarakat awam oleh Pemerintahan yang dipegang oleh Militer pasca PRRI. Yang pasti menurut cerita tetua Kampung kita dulu bahwa mereka tetap mengakui sebagai orang Minang sejak dahulu kala. Dan bilamana saat itu diberi kesempatan untuk memilih mau ikut bergabung ke Riau atau ke Sumbar, tentu saja seluruh etnis asli (non pendatang tentunya) Kuantan dan Kampar (Non Melayu Riau) akan memilih sesuai naluri mereka ke Sumbar. Tapi itu tidak pernah terjadi dan sudah berlalu lebih dari 50 thn yang lalu. Sudah hampir 3 generasi yang berlalu dan tidak perlu dipermasalahkan lagi. Yang jadi masalah adalah generasi baru seperti kita-kita ini yang merasakan termarginalisasi oleh kenyataan berada di luar situasi ideal. Mau mengaku jadi orang Melayu tidak mau karena terlalu banyak perbedaan budaya, bahasa dan adat istiadat dengan kita. Mengaku sebagai orang Minang ada rasa sungkan karena secara de facto dan de jure tanah Kuantan dan Kampar tidak (lagi) berada dalam wilayah Prov. Sumatera Barat. Image umum juga mengatakan bahwa orang Minang berasal dari Prov. Sumatera barat dan orang Riau adalah orang Melayu. Seharusnya kita tidak perlu malu mengakui bahwa kita tetap adalah bagian dari Rumpun Minangkabau. Apalagi sampai mengarang rangkaian sejarah sendiri yang dikutip sana-sisni dari Tambo Minang dan peninggalan arkeologis tanpa dasar (selain karena rasa malu dan minder) untuk diakui sebagai suku tersendiri yang unik? Suatu upaya yang sangat naif dan tidak intelek karena bersifat pembodohan public dan berselera rendah dengan merendahkan etnis dan budaya sendiri. Prov. Riau dan orang Melayu Riau mayoritas tahu bahwa kita memang berbeda dengan mereka, tapi kita punya tanah dan kampung sendiri dan bukan pendatang dari luar di Provinsi ini. Merekalah yang menginginkan wilayah kita dimasukkan ke dalam wilayah Provinsi Riau ini dulunya. Menjadi orang Minang bukanlah suatu yang hina, bahkan merupakan suatu kebanggaan karena mereka sangat terkenal dalam sejarah dan keberadaan mereka mudah dikenali di seluruh wilayah tanah air dan manca negara. Kebudayaan mereka dikagumi sebagai salah satu keunikan budaya Indonesia dan Malaysia (Negeri Sembilan). Pengakuan masyarakat Riau akan adanya minoritas Minang di daerah Perbatasan Barat Provinsi Riau sudah ada, walaupun agak direkayasa seolah menjadi etnis Melayu yang berdialek mirip Minangkabau. Tidak ada indikasi upaya Melayunisasi yang mematikan potensi bahasa, dan budaya asli kita. Justru malah budaya kita dijadikan sebagai bagian dari khasanah budaya Riau. Biarlah itu dilakukan itu sebagai ajang promosi budaya kita lewat mereka karena mereka mayoritas dan dominan. Hanya saja akan semakin sukar untuk meluruskan image kepada pihak luar bahwa tidak seluruh daerah Riau bersuku Melayu, ada juga minoritas asli yang bersuku Minangkabau. Tapi sudahlah tidak usah diperpanjang karena bersama mereka dalam Prov. Riau ini kita juga sudah merasakan kemajuan dan peningkatan kesejahteraan. Artinya keberadaan kita dalam pangkuan mereka tidak disiasiakan sebagai daerah taklukan yang hanya diexploitasi seperti zaman Kerajaan dan Kolonial dahulu. Itulah mengapa Kuantan dan Kampar seolah sepakat sama sekali tidak mendukung wacana tidak populer “Riau merdeka” yang pernah didengungkan oleh segelintir tokoh Melayu Riau yang tanpa malu mengatasnamakan Masyarakat Riau. Kalau mereka mau merdeka, silakan aja berurusan dengan NKRI dan kita tidak ikut-ikutan. Mungkin satu-satunya ide dari Pusat bila Riau merdeka adalah wilayah Kuantan dan Kampar akan diunifikasikan ke Prov. Sumatera Barat. Tapi yang fantastis saat itu adalah kenyataan bahwa Riau Kepulauan yang beretnis dan berbudaya sama dengan Melayu Riau Daratan malah memilih melepaskan diri karena tidak sependapat dengan ide bodoh itu. Tidak ada alasan untuk malu bagi kita untuk mengaku sebagai orang Minang. Bahkan teman-teman Kerinci saya di Jakarta tanpa tedeng aling-aling tetap mengatakan bahwa orang Kerinci adalah orang Minang yang wilayahnya termasuk ke dalam Provinsi Jambi.
7 Desember 2011 at 3:02 am
Orang Kuantan dan kampar adalah Orang Minang.
Mengapa harus malu mengatakan bahwa orang Kuantan adalah orang Minang yang daerahnya dimasukkan Pemerintah ke dalam wilayah Provinsi Riau. Sesungguhnya anda minder dengan kenyataan dan sejarah. Anda sebenarnya pasti tahu kalau kita orang Kuantan adalah bagian dari rumpun Minangkabau. Hanya karena letak daerah kita yang anda tidak tahu mengapa tidak berada dalam Prov. Sumatera Barat yang dikenal sebagai daerah asal orang Minang. Melainkan berada dalam Provinsi Riau yang mayoritas bersuku Melayu sehingga selalu diidentikkan sebagai tanah Melayu. Itu tidak salah karena persepsi itu sudah terbentuk dari dulu lebih dari 50 thn pasca pendirian Prov. Riau 1958. Pemerintah Pusat saat itu menggunakan dasar tuntutan para tokoh Melayu Riau yang menginginkan daerah ex Keresidenan Riouw zaman Belanda lepas dari wilayah Provinsi Sumatera Tengah yang berpusat di Bukittinggi. Tahukah kita bahwa daerah Kuantan Hulu (Kuansing sekarang) adalah daerah asli Minangkabau yang dimasukkan oleh Belanda ke dalam wilayah Keresidenan Riouw akhir abad ke 19 dengan alasan geopolitis & militer strategis Kolonial Pemerintah Hindia Belanda. Daerah sepanjang aliran Sungai Kuantan yang mengalir dari hulu di bagian Barat (Kuansing) ke hilirnya di pesisir Timur Sumatera menuju ke Selat Malaka harus dikuasai oleh satu pemerintahan Keresidenan agar tidak overlapping dengan Keresidenan lain (Sumatera’s westkust/Keresidenan Sumatera Barat & Keresidenan Djambi). Belanda juga melihat bahwa ada batas alam berupa rangkaian bukit barisan yang membagi 2 Pulau Sumatera secara tidak proporsional yaitu belahan Pesisir Barat dan Pesisir Timur.(Daratan Bag. Timur jauh lebih luas daripada daratan bagian Barat Bukit Barisan). Batas tersebut dijadikan sebagai perbatasan alami di wilayah Tengah Pulau Sumatera untuk membagi daerah Keresidenan Sumatera’s Westkust di bagian Barat dengan Keresidenan Riouw & Keresidenan Djambi di pesisir Timur. Daerah Kuansing dan Kampar hulu sebenarnya secara geografis jauh lebih dekat ke Pesisir Barat daripada ke Pesisir Timur Sumatera. Belanda tidak menggubris kesamaan etnis, kultural, dan dialek lokal lingustic kedua daerah yang terletak di perbatasan alam tersebut. (Kuantan dengan serumpunnya di bagian Barat yakni Sijunjung, Sawahlunto & Darmasraya) dan (Kampar Hulu V Koto-Taratak Buluh dengan Lima Puluh Kota di bagian Baratnya). Bahkan oleh Belanda daerah Minangkabau yang disegressi dari induk rumpunnya di Sebelah Barat ini diintegrasikan dengan daerah Pesisir Timur yang murni beretnis Melayu Riau. Dimasukkan ke dalam suatu Kewedanan (afdeling) yang diberinama Kampar dan sebagian masuk Indragiri. Mulai saat itu terpisahlah orang Kuantan dan orang Kampar (Ocu) dari rumpun induknya Minangkabau di bagian Barat secara de jure dan de facto. Pada zaman awal kemerdekaan 1945 hingga tahun 1958 Kampar dan Kuantan sempat mengalami reunifikasi dengan saudara serumpun Minangnya dalam satu Provinsi besar yakni Prov. Sumatera sampai tahun 1948. Berkutnya dalam Prov. Sumatera Tengah pasca pemekaran Prov. Sumatera menjadi 3 Provinsi : Prov. Sumatera Utara, Prov. Sumatera Tengah dan Prov. Sumatera Selatan. Kebersamaan itu berlangsung tidak lama karena kemudian Provinsi Sumatera Tengah ini akhirnya dimekarkan pula menjadi 3 Provinsi pasca kekalahan PRRI yang berpusat di Bukittinggi. Wilayah Kuantan dan Kampar Hulu sekali lagi dipisahkan kembali dengan rumpun induknya atas dasar klaim sejarah para Tokoh Melayu Riau yang menggunakan dasar wilayah ex Keresidenan Riouw. Tentu saja Ranah Minangkabau sebagai pihak pecundang perang tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolak kebijakan Pemerintah yang dituangkan dalam UU No. 61 thn 1958 yang membagi wilayah Provinsi Sumatera Tengah menjadi 3 Provinsi baru. Mereka tidak punya dasar hukum untuk mengklaim sebagai bagian yang diinginkan masuk ke dalam wilayah Provinsi Sumatera Barat (selain mungkin hanya berupa de facto rumpun etnis dan kultural Minang). Begitu juga dengan masyarakat Kuantan dan Kampar (Juga Kerinci dimasukkan ke Prov. Jambi) saat itu yang mayoritas masih hidup di bawah standard kesejahteraan. Mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa karena memang tidak disosialisasikan kepada masyarakat awam oleh Pemerintahan yang dipegang oleh Militer pasca PRRI. Yang pasti menurut cerita tetua Kampung kita dulu bahwa mereka tetap mengakui sebagai orang Minang sejak dahulu kala. Dan bilamana saat itu diberi kesempatan untuk memilih mau ikut bergabung ke Riau atau ke Sumbar, tentu saja seluruh etnis asli (non pendatang tentunya) Kuantan dan Kampar (Non Melayu Riau) akan memilih sesuai naluri mereka ke Sumbar. Tapi itu tidak pernah terjadi dan sudah berlalu lebih dari 50 thn yang lalu. Sudah hampir 3 generasi yang berlalu dan tidak perlu dipermasalahkan lagi. Yang jadi masalah adalah generasi baru seperti kita-kita ini yang merasakan termarginalisasi oleh kenyataan berada di luar situasi ideal. Mau mengaku jadi orang Melayu tidak mau karena terlalu banyak perbedaan budaya, bahasa dan adat istiadat dengan kita. Mengaku sebagai orang Minang ada rasa sungkan karena secara de facto dan de jure tanah Kuantan dan Kampar tidak (lagi) berada dalam wilayah Prov. Sumatera Barat. Image umum juga mengatakan bahwa orang Minang berasal dari Prov. Sumatera barat dan orang Riau adalah orang Melayu. Seharusnya kita tidak perlu malu mengakui bahwa kita tetap adalah bagian dari Rumpun Minangkabau. Apalagi sampai mengarang rangkaian sejarah sendiri yang dikutip sana-sisni dari Tambo Minang dan peninggalan arkeologis tanpa dasar (selain karena rasa malu dan minder) untuk diakui sebagai suku tersendiri yang unik? Suatu upaya yang sangat naif dan tidak intelek karena bersifat pembodohan public dan berselera rendah dengan merendahkan etnis dan budaya sendiri. Prov. Riau dan orang Melayu Riau mayoritas tahu bahwa kita memang berbeda dengan mereka, tapi kita punya tanah dan kampung sendiri dan bukan pendatang dari luar di Provinsi ini. Merekalah yang menginginkan wilayah kita dimasukkan ke dalam wilayah Provinsi Riau ini dulunya. Menjadi orang Minang bukanlah suatu yang hina, bahkan merupakan suatu kebanggaan karena mereka sangat terkenal dalam sejarah dan keberadaan mereka mudah dikenali di seluruh wilayah tanah air dan manca negara. Kebudayaan mereka dikagumi sebagai salah satu keunikan budaya Indonesia dan Malaysia (Negeri Sembilan). Pengakuan masyarakat Riau akan adanya minoritas Minang di daerah Perbatasan Barat Provinsi Riau sudah ada, walaupun agak direkayasa seolah menjadi etnis Melayu yang berdialek mirip Minangkabau. Tidak ada indikasi upaya Melayunisasi yang mematikan potensi bahasa, dan budaya asli kita. Justru malah budaya kita dijadikan sebagai bagian dari khasanah budaya Riau. Biarlah itu dilakukan itu sebagai ajang promosi budaya kita lewat mereka karena mereka mayoritas dan dominan. Hanya saja akan semakin sukar untuk meluruskan image kepada pihak luar bahwa tidak seluruh daerah Riau bersuku Melayu, ada juga minoritas asli yang bersuku Minangkabau. Tapi sudahlah tidak usah diperpanjang karena bersama mereka dalam Prov. Riau ini kita juga sudah merasakan kemajuan dan peningkatan kesejahteraan. Artinya keberadaan kita dalam pangkuan mereka tidak disiasiakan sebagai daerah taklukan yang hanya diexploitasi seperti zaman Kerajaan dan Kolonial dahulu. Itulah mengapa Kuantan dan Kampar seolah sepakat sama sekali tidak mendukung wacana tidak populer “Riau merdeka” yang pernah didengungkan oleh segelintir tokoh Melayu Riau yang tanpa malu mengatasnamakan Masyarakat Riau. Kalau mereka mau merdeka, silakan aja berurusan dengan NKRI dan kita tidak ikut-ikutan. Mungkin satu-satunya ide dari Pusat bila Riau merdeka adalah wilayah Kuantan dan Kampar akan diunifikasikan ke Prov. Sumatera Barat. Tapi yang fantastis saat itu adalah kenyataan bahwa Riau Kepulauan yang beretnis dan berbudaya sama dengan Melayu Riau Daratan malah memilih melepaskan diri karena tidak sependapat dengan ide bodoh itu. Tidak ada alasan untuk malu bagi kita untuk mengaku sebagai orang Minang. Bahkan teman-teman Kerinci saya di Jakarta tanpa tedeng aling-aling tetap mengatakan bahwa orang Kerinci adalah orang Minang yang wilayahnya termasuk ke dalam Provinsi Jambi.
6 Januari 2012 at 2:02 pm
Rudi@klau memperbodoh orang anda rajanya minang.bakaba anda tntg kampar telah bnyk anda pelesetkan sama seperti kebohongan bakaba tambo daerah anda.kongres Riau 2,menghasilkan slh satunya poinnya yakni MERDEKA.dan itu di dukung oleh seluruh masyarakat Riau,terutama kampar.dgn keputusan merdeka maka Rumpun melayu bersatu-Laskar hulu balang melayu Riau di tubuh kan di kabupaten kampar,tepatnya di daerah perhentian Raja,kec,siak hulu,kab.kampar.
Saya kutip tulisan anda:Itulah
mengapa Kuantan dan Kampar seolah
sepakat sama sekali tidak mendukung
wacana tidak populer “Riau merdeka” yang
pernah didengungkan oleh segelintir tokoh
Melayu Riau yang tanpa malu
mengatasnamakan Masyarakat Riau.
Prl anda anda tau tdk sedikit tokoh kampar,kuansing yg terlibat di dlm opsi merdeka tersebut.anda hanya berbohong dan tak tau ujung pngklnya.
Tiada sedikit pun di hati masyarakat kampar,kuantan ingin berpisah dari Riau,karena bagaimana pun Riaulah Ruh budaya kami yg sesungguhnya.apa lagi ingin bergabung tiada terniat di ht kami.dan jikalau ada oknum2 yg mengambil kampar dari Riau dan di gabungkan dgn prop.sumbar,langkahi dulu mayat kami.
Anda menggebu2 crt tntg pgr ruyung,tp kami tak prcy pagaruyung tu sbsr apa yg anda tulis,istananya aja atau duflikat istananya mcm kubuk/dangau2,tiada seninya.
9 Juli 2010 at 9:00 pm
Fanatik kesukuan bisa menghancurkan dan memecah belah bangsa indonesia,bisa saja kita merasa lebih dari suku yg lain,tapi apa untungnya?tidak zamannya lagi kawan.Indonesia adalah negara bhineka tunggal ika,berbeda-beda tp tetap satu,yg membedakan kita cuma iman dan takwa kpd Allah Swt,bukankah kalau tuhan mau kita diciptakan-Nya dalam 1 suku semuanya?dan bukankah kita diciptakan bersuku-suku utk saling mengenal?buka mata kawan jgn jadi katak dalam tempurung….
9 Juli 2010 at 9:09 pm
Ocu atau kampar atau bangkinang atau apalah namanya bukan bagian dari melayu riau,suku melayu riau tidak punya suku, sementara ocu punya suku dan adat istiadat sperti mereka di minang sumbar (caniago,jambak,koto dll)ocu seharusnya malu menyebut dirinya melayu,rumah adatnya saja beda dgn melayu riau,rmh adat ocu lbh mirip rmh adat suku batak bangunan n atapnya,kalo tdk percaya silahkan selidiki.ocu memaksakan diri menjadi melayu riau,belagak-lagak berbahasa melayu n ikut2 ukiran melayu riau rmh adatnya,sadar dirilah org ocu kalo anda bkn bagian dari melayu,akui sajalah….adat istiadat anda lebih mirip n dekat ke minang dr pada ke melayu riau,cuma anda beruntung masuk propinsi riau……
25 Juli 2010 at 1:07 am
Pak Jejen saudaraku, apakah anda tau asal-muasal melayu riau??
Melayu itu suku besar Bos, dari Aceh sampai Bengkulu adalah bangsa melayu. Jadi jangan mengkotak2kan suku melayu, okay?!
Kata ‘Riau’ sendiri berasal dari kata ‘riuh’, yang disematkan pada sebuah kerajaan baru di Pulau Bintan. Lebih lengkapnya coba tanya ke Bakosurtanal mengenai toponimi daerah. Kerajaan Riau pun berawal dari wilayah kepulauan. Dan ingat, ibu kota provinsi riau awalnya di Tanjungpinang lho… Satu lagi, selat riau itu adanya diantara pulau batam dan pulau bintan. Jadi, yang mana sebenar Riau?? Jangan ngaku2…beruntung saja dulu wilayah melayu sampai ke daratan dan ibukota provinsi dipindahkan ke pekanbaru :p
Satu pesan saja buat Pak Jejen;
“Jangan mempermasalahkan hal yang tidak kita pesan kepada Allah. Sebelum dilahirkan, apakah anda meminta untuk dilahirkan sebagai seorang melayu??”
Lebih kurang mohon maaf bila tersinggung
24 Agustus 2010 at 4:36 pm
Memang benar, yang namanya Melayu itu luas, ada Melayu Deli, Melayu Palembang, Melayu Jambi, Melayu Bengkulu, Melayu Johor, dll di semenanjung, Melayu Riau, dan Melayu Minangkabau. Orang Ocu memang bagian dari masyarakat Melayu, tapi bukan Melayu Riau, melainkan Melayu Minangkabau. Hanya saja secara administratif termasuk Provinsi Riau. sebenarnya tidak ada yang namanya orang Ocu, itu adalah orang Minangkabau Luhak 50 Kota yang sebagian wilayahnya masuk ke Riau dan masyarakatnya kemudian menyebuit diri mereka sebagai orang Ocu. Dalam ensiklopedi Sukubangsa di Indonesia tidak ada yang namanya suku Ocu, yang ada hanya Sukubangsa Minangkabau.
24 Maret 2011 at 12:17 pm
Ambo suai jo dewah jo witrianto chaniago..
12 Januari 2012 at 9:25 am
Ridho Sutan Palimo Bandaro dari sikap anda sepertinya sangat menyudutkan orang ocu. jangan buat rakyat ocu marah dan berimbas dg daerah anda sendiri akan datangnya bencana alam. Allah itu maha adil dan mendengar doa doa orang teraniaya. camkan itu
11 Oktober 2010 at 1:18 pm
Jan sampai tapoca bola lo le sanak awak kan nak mampajole dai mano uang awak go asal muasal
7 Januari 2011 at 9:16 pm
[...] sumber : http://kampungrison.wordpress.com [...]
12 Januari 2011 at 12:05 pm
cu… den iyo asli uang minang… tapi den suko di imbau uang ocu pado uang minang…den tingge di nagoi kualu nenas.. cu tingge di nagoi apo?
suku den piliang disiko cu… ci di sinan suku koto..urang bukik apik..
24 Maret 2011 at 12:18 pm
Suku ambo Caniago cu..:D
5 Mei 2011 at 2:04 pm
samo cu den uang piliang jonyo….
5 Juli 2011 at 9:46 am
ambo uang piliang juo, di sabana pusaik minangkabau bana..
kalau ado nan nio singgah, buliah kamari, nak kito coliak dima nagori tu bana..
nak jole baso kito samo
6 Februari 2011 at 12:11 am
Saya yakin 100% bahwasanya kampar , rohul dan kuantan adalah 1 ibu dengan minang. Tak bisa d elakkan lagi , bahwasanya daerah kampar,rohul dan kuansing adalah kekuasaan kerajaan minang silam. Jangan bohongi diri kalian dengan mengatakan kalian orang melayu , orang melayu asli saja tidak paham bahasa kalian(ocu) tp kok ngaku melayu? Ini semua sudah jelas bahwa kalian itu SATU , yaitu satu bahasa (minang) , satu adat(minang) , satu budaya ,dan satu matrianial serta nama suku yg sama(minang) .
Orang kampar , rohul dan kuansing bagaikan anak ayam lepas dari induknya. Jadi kalian itu satu induk dgn minang . Kalian sama2 minang . Bahasa ocu adalah bahasa minang dialek 50 koto. Ok lah sumatra itu provinsi melayu . Jd ocu itu adalah etnis melayu MINANGKABAU^^ !!
24 Maret 2011 at 12:20 pm
Batue du cu!
19 Februari 2011 at 11:26 pm
di sejarah minangkabau telah mengatakan,.minang berasal dari3 luhak/3kabupaten sekarang yaitu., tanah datar, agam , 50 koto. dan semakin banyaknya penduduk,sehingga menyebar ke seluruh sumbar membuat koloni baru, begitu pula di kampar dan kunsing, bahkan pada abat ke 15 masyarakat minang yang berasal dari 50 koto bermigrasi ke negeri9.. dan juga terdapat di sekitar aceh selatan yaitu urang anuek jamee..yang artinya anak tamu dalam bahasa aceh.. thank
24 Maret 2011 at 12:21 pm
Batua tu pak..rang simabue iko namo kampuang e atau suku pak?Apak ambo suku simabue..
12 Juni 2011 at 7:36 pm
obe bonau ang panduto mayuong!!
kek komentar “ocu tambang” ang sobuik suku ang caniago. disiko la lain lo. io tio panduto!!
ang ma ASBAK
13 Juni 2011 at 8:05 am
Rudien@: Hahahaha..caliek elok2 yo Rudien..Ambo punyo abak jo amak. Nan amak ambo suku e Caniago, Jadi otomatis suku deyen Caniago. Nan Ambo tulih di siko pakai kato “Apak ambo suku Simabue”..Jadi Rudien lah tau kan suku kaduo gaek deyen? Cubo nak batanyo lo deyen,,dima latak batudo deyen?Jadi intinyo jan ASBUN (asal bunyi),,di inok2 an kok mambaco komen uwang…
5 Juli 2011 at 9:53 am
Sutan,
Rudien ko nampaknyo kurang banyak waktu mambaco, jadi susah wak danga komentar2 nyo.. soalnyo, alun baco lah komen…
urang2 kayak giko cocok untuak marusak negara kayak DPR..
21 Februari 2011 at 2:41 pm
g’ penting… kalau anda merasa minang,menjadilah orang minang.. tpi klau merasa melayu jadilah orang melayu,walaupun anda berbeda dengan melayu riau…
12 Juni 2011 at 7:40 pm
ha.. kmi melyu acu kwn……………. bukn melayu melayu…
kmi melayu acu mmg ga” sama budayanya dengan melayu melayu… ha…
asataga………. masih bnyak nan condo iko le??
13 Juni 2011 at 8:07 am
Rudien@: Baru tau lo deyen ado lo melayu melayu, melayu ocu, dll…hehehe..dima lo dapek kaji co itu sanak?
25 Agustus 2011 at 11:28 pm
suku patopang ini ada di banyak kawasan di sumatera barat kalian itu orang minang kawan, kalian orang sungai (minanga).. hahahahah LUCU sangat… ini karena Anda telah dipisahkankan oleh propinsi Riau, dan dikebiri oleh pemerintah anda sendiri, bukannya membuat anda semakin cerdas.. makanya anda tidak tahu bahwa BANYAK SEKALI saudara anda yang bersuku patopang di sumatera barat sana..
13 Juni 2011 at 12:08 pm
iyo tio pendek antena waang koma… den kecen melayu melayu du ye.. ndak samo brarti jo melayu ocu ko do…
samo condo melayu jambi, melayu minangkabau..
ha olun juo paham dule…
????
13 Juni 2011 at 1:22 pm
Sabanyak go deyen mambaco buku sejarah suku2 di Sumatera, baru tau deyen ado lo melayu melayu (ndak lo ado uwang nan manyabuik melayu ocu do). Ambo yakin pasti angku mambacao buku karangan angku surang ndak?hehehehe
6 Juli 2011 at 11:37 am
ndak-ndak malang.kkkk
12 Januari 2012 at 9:31 am
Bertobat la waang Ridho Sutan Palimo Bandaro, jan tambah doso le
2 Maret 2011 at 9:34 pm
orang minang sendiri tak pernah berpikir agar ocu jadi bagian darinya.. tapi ocu kok malah ketakutan yang tak beralasan. untuk mengetahui ocu itu minang atau melayu riau Coba ocu yang totok disuruh bicara dengan melayu bengkalis pedalaman, apa nyambung… jawabannya pasti tidak nyambung. karena apa .. ya karna ocu bukan bagian melayu riau.
12 Juni 2011 at 7:42 pm
baca komentar aden nan diate namo wen!!
2 Maret 2011 at 9:49 pm
satu lagi…………..
Jangan sampai diantara sesama anak bangsa saling menghina seperti komentar paling atas “minang anyuik” dan merasa sukunya lebih baik dari suku lainnya. Dan ingat “MINANG TU SUKU BESAR DI NEGERI INI DAN TIDAK ADA KEINGINAN SEDIKITPUN AGAR OCU MENJADI BAGIAN DARINYA” dan “APAKAH MELAYU DI RIAU MENGANGGAP SETULUS HATI BAHWA OCU BAGIAN DARINYA? DENGAN BANYAK PERBEDAAN YANG MENCOLOK DARI SUKU MELAYU RIAU ITU SENDIRI”
26 Agustus 2011 at 1:39 am
Suku Ocu (yang meskipun banyak miripnya dengan minang tapi tidak mau ngaku), padahal orang minang juga (minanga) hahahahah
Anda bagian dari sejarah awal minangkabau
lalu berlanjut dengan sejarah kaki gunung marapi..
Lebih baik Suku OCU bikin propinsi sendiri, mereka (melayu RIau itu) tidak akan pernah menganggap Anda saudara mereka !! Mereka akan tetap menjajah anda dan membuat kalian Tolol begini terus-terusan! Percaya deh…
Jika Anda sadar kelak dan mengaku bagian dari keluarga besar Minang itu artinya anda sudah paham betapa di bawah melayu riau bertahun2 membuat anda tolol..
Toh Anda adalah saudara kami, bersuku, matrilinial… Suku di sana piliang, koto, patopang, dsb sama sepereti suku kami di ranah minang.
Suku Melayu Riau mau membesarkan Anda? Pikirkan lagi kawan.. Selama ini mereka hanya bisa membuat anda tolol selama bertahun-tahun, padahal jika Anda tergabung dengan Sumatera Barat dengan aset dengan demikian banyak (mungkin, bukan jaminan, korupsi dimana-mana) hidup ada akan lebih baik.
By the way, SDM lebih penting, tak pula kami nak berharap anda bergabung kembali ke induk budaya Anda!
Toh anda mengejek saudara kandung anda sendiri!
Benar kan sanak ,Wen?
24 Maret 2011 at 11:04 am
Tu iyo du ,..
25 Maret 2011 at 9:30 pm
den uang ocu. bkan uawang minang, bukan uwang melayu.
den bangga jadi uwang ocu
20 April 2011 at 8:56 pm
Ok lah kalo begitu, pak rumbio..
25 April 2011 at 1:33 pm
den ughang piliang!! ntah piliang ocu ntah piliang minang?! jadi den asli ughang kaduonyo… hahaha..
26 April 2011 at 8:49 am
sok tau ang yuang…
26 April 2011 at 9:08 am
apa
26 April 2011 at 9:22 am
apo yang di bangga kan jadi orang ocu…
9 Juni 2011 at 9:30 am
ughang ocu du pantang Putus Asa N ga” pilih-pilih pekrjaan!!
aslkan pendapatnnya Halal 100%. beda dengn Melayu… PEMALE!!
orng melayu SDMnyo kuang!! ughang ocu tio Nan ionyo…
aku bangga jadi orng Ocu..!! wlwpun akhir2ni… aku dengar ocu tu SDMnya kurang…ha itu cuma akalan ughang nan ndak suko jo Ocu..
coba aja test bersaing bersih dengan orang ocu!!
liat aja pekanbaru…. terkenal karena orng kmpar pada dahulunya!! wlwpun skrg udh diambil oleh org melayu……. tpi kami tetap bangga…… karena org oculah mula-mula pekanbaru itu berkembang!! yg dahulunya disabuik “Pakan Baghu” sampai sekrg org ocu tetap memanggil dengan sebutan itu!!
orng-org dri perntauan kemnyakan jadi tukng suruh Ocu… minyak aja orng Ocu yang fungi’in makanya….. di kmpar urutan pertama dlam penyalurn minyak bumi!!
tpi gara-gara Minang satitian jo ughang kmi, Ocu du dibilang orang minang!!
byarlah aslkan tidak menganggu keharmonisan NAGARI kami……
klo Minang apa yg dibanggakan??
Ocu nan io tio nyo!!
12 Juni 2011 at 7:48 pm
den satuju jo pandapek ocu kampau
19 Juni 2011 at 10:38 am
Ocu Kampau@: Bara tingga oil reserve di bawah kab. Kampar du lai sanak?
Menurut deyen, umumnya alasan orang dari luar Kampar datang untuk bekerja di perusahaan minyak di sana karena tidak ada SDM yang memadai tersedia di tempat minyak itu ditemukan. Lai enter dek sanak du? Jadi kesimpulannyo, walaupun anda memiliki SDA yang handal, tapi karena keterbatasan SDM, orang dari luarlah yang menangguk..Ga ngerti saya apa yang harus anda banggakan??! Gedung2 menjulang tinggi? Perpustakaan yang mewah, dll?Menurut saya semuanya meaningless kalau ente2 tidak paham.
Trus pernyataan anda: “klo Minang apa yg dibanggakan??” Wah,,ini ga perlu saya jawab, karena semua kita sudah pada tahu seperti apa kontribusi orang Minang di kehidupan bernegara..Satu lagi saya nak tanyo, daerah kita berdekatan (SUMBAR-RIAU), tapi kenapa rang Minang yang di Sumbar lebih banyak memilik SDM yang handal dibandingkan dengan saudaranya yang ada di Riau?Tanya Kenapa??
5 Juli 2011 at 9:59 am
Orang minang apa yang dibanggakan?
Orang minang bisa jual minyak tanpa punya minyak..
memimpin perusahaan SDA tanpa punya sumber daya..
sabanta lai, orang minang kan jua uang ocu.. hehehe
7 Desember 2011 at 3:06 am
Orang Kuantan dan kampar adalah Orang Minang…….
Mengapa harus malu mengatakan bahwa orang Kuantan adalah orang Minang yang daerahnya dimasukkan Pemerintah ke dalam wilayah Provinsi Riau. Sesungguhnya anda minder dengan kenyataan dan sejarah. Anda sebenarnya pasti tahu kalau kita orang Kuantan adalah bagian dari rumpun Minangkabau. Hanya karena letak daerah kita yang anda tidak tahu mengapa tidak berada dalam Prov. Sumatera Barat yang dikenal sebagai daerah asal orang Minang. Melainkan berada dalam Provinsi Riau yang mayoritas bersuku Melayu sehingga selalu diidentikkan sebagai tanah Melayu. Itu tidak salah karena persepsi itu sudah terbentuk dari dulu lebih dari 50 thn pasca pendirian Prov. Riau 1958. Pemerintah Pusat saat itu menggunakan dasar tuntutan para tokoh Melayu Riau yang menginginkan daerah ex Keresidenan Riouw zaman Belanda lepas dari wilayah Provinsi Sumatera Tengah yang berpusat di Bukittinggi. Tahukah kita bahwa daerah Kuantan Hulu (Kuansing sekarang) adalah daerah asli Minangkabau yang dimasukkan oleh Belanda ke dalam wilayah Keresidenan Riouw akhir abad ke 19 dengan alasan geopolitis & militer strategis Kolonial Pemerintah Hindia Belanda. Daerah sepanjang aliran Sungai Kuantan yang mengalir dari hulu di bagian Barat (Kuansing) ke hilirnya di pesisir Timur Sumatera menuju ke Selat Malaka harus dikuasai oleh satu pemerintahan Keresidenan agar tidak overlapping dengan Keresidenan lain (Sumatera’s westkust/Keresidenan Sumatera Barat & Keresidenan Djambi). Belanda juga melihat bahwa ada batas alam berupa rangkaian bukit barisan yang membagi 2 Pulau Sumatera secara tidak proporsional yaitu belahan Pesisir Barat dan Pesisir Timur.(Daratan Bag. Timur jauh lebih luas daripada daratan bagian Barat Bukit Barisan). Batas tersebut dijadikan sebagai perbatasan alami di wilayah Tengah Pulau Sumatera untuk membagi daerah Keresidenan Sumatera’s Westkust di bagian Barat dengan Keresidenan Riouw & Keresidenan Djambi di pesisir Timur. Daerah Kuansing dan Kampar hulu sebenarnya secara geografis jauh lebih dekat ke Pesisir Barat daripada ke Pesisir Timur Sumatera. Belanda tidak menggubris kesamaan etnis, kultural, dan dialek lokal lingustic kedua daerah yang terletak di perbatasan alam tersebut. (Kuantan dengan serumpunnya di bagian Barat yakni Sijunjung, Sawahlunto & Darmasraya) dan (Kampar Hulu V Koto-Taratak Buluh dengan Lima Puluh Kota di bagian Baratnya). Bahkan oleh Belanda daerah Minangkabau yang disegressi dari induk rumpunnya di Sebelah Barat ini diintegrasikan dengan daerah Pesisir Timur yang murni beretnis Melayu Riau. Dimasukkan ke dalam suatu Kewedanan (afdeling) yang diberinama Kampar dan sebagian masuk Indragiri. Mulai saat itu terpisahlah orang Kuantan dan orang Kampar (Ocu) dari rumpun induknya Minangkabau di bagian Barat secara de jure dan de facto. Pada zaman awal kemerdekaan 1945 hingga tahun 1958 Kampar dan Kuantan sempat mengalami reunifikasi dengan saudara serumpun Minangnya dalam satu Provinsi besar yakni Prov. Sumatera sampai tahun 1948. Berkutnya dalam Prov. Sumatera Tengah pasca pemekaran Prov. Sumatera menjadi 3 Provinsi : Prov. Sumatera Utara, Prov. Sumatera Tengah dan Prov. Sumatera Selatan. Kebersamaan itu berlangsung tidak lama karena kemudian Provinsi Sumatera Tengah ini akhirnya dimekarkan pula menjadi 3 Provinsi pasca kekalahan PRRI yang berpusat di Bukittinggi. Wilayah Kuantan dan Kampar Hulu sekali lagi dipisahkan kembali dengan rumpun induknya atas dasar klaim sejarah para Tokoh Melayu Riau yang menggunakan dasar wilayah ex Keresidenan Riouw. Tentu saja Ranah Minangkabau sebagai pihak pecundang perang tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolak kebijakan Pemerintah yang dituangkan dalam UU No. 61 thn 1958 yang membagi wilayah Provinsi Sumatera Tengah menjadi 3 Provinsi baru. Mereka tidak punya dasar hukum untuk mengklaim sebagai bagian yang diinginkan masuk ke dalam wilayah Provinsi Sumatera Barat (selain mungkin hanya berupa de facto rumpun etnis dan kultural Minang). Begitu juga dengan masyarakat Kuantan dan Kampar (Juga Kerinci dimasukkan ke Prov. Jambi) saat itu yang mayoritas masih hidup di bawah standard kesejahteraan. Mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa karena memang tidak disosialisasikan kepada masyarakat awam oleh Pemerintahan yang dipegang oleh Militer pasca PRRI. Yang pasti menurut cerita tetua Kampung kita dulu bahwa mereka tetap mengakui sebagai orang Minang sejak dahulu kala. Dan bilamana saat itu diberi kesempatan untuk memilih mau ikut bergabung ke Riau atau ke Sumbar, tentu saja seluruh etnis asli (non pendatang tentunya) Kuantan dan Kampar (Non Melayu Riau) akan memilih sesuai naluri mereka ke Sumbar. Tapi itu tidak pernah terjadi dan sudah berlalu lebih dari 50 thn yang lalu. Sudah hampir 3 generasi yang berlalu dan tidak perlu dipermasalahkan lagi. Yang jadi masalah adalah generasi baru seperti kita-kita ini yang merasakan termarginalisasi oleh kenyataan berada di luar situasi ideal. Mau mengaku jadi orang Melayu tidak mau karena terlalu banyak perbedaan budaya, bahasa dan adat istiadat dengan kita. Mengaku sebagai orang Minang ada rasa sungkan karena secara de facto dan de jure tanah Kuantan dan Kampar tidak (lagi) berada dalam wilayah Prov. Sumatera Barat. Image umum juga mengatakan bahwa orang Minang berasal dari Prov. Sumatera barat dan orang Riau adalah orang Melayu. Seharusnya kita tidak perlu malu mengakui bahwa kita tetap adalah bagian dari Rumpun Minangkabau. Apalagi sampai mengarang rangkaian sejarah sendiri yang dikutip sana-sisni dari Tambo Minang dan peninggalan arkeologis tanpa dasar (selain karena rasa malu dan minder) untuk diakui sebagai suku tersendiri yang unik? Suatu upaya yang sangat naif dan tidak intelek karena bersifat pembodohan public dan berselera rendah dengan merendahkan etnis dan budaya sendiri. Prov. Riau dan orang Melayu Riau mayoritas tahu bahwa kita memang berbeda dengan mereka, tapi kita punya tanah dan kampung sendiri dan bukan pendatang dari luar di Provinsi ini. Merekalah yang menginginkan wilayah kita dimasukkan ke dalam wilayah Provinsi Riau ini dulunya. Menjadi orang Minang bukanlah suatu yang hina, bahkan merupakan suatu kebanggaan karena mereka sangat terkenal dalam sejarah dan keberadaan mereka mudah dikenali di seluruh wilayah tanah air dan manca negara. Kebudayaan mereka dikagumi sebagai salah satu keunikan budaya Indonesia dan Malaysia (Negeri Sembilan). Pengakuan masyarakat Riau akan adanya minoritas Minang di daerah Perbatasan Barat Provinsi Riau sudah ada, walaupun agak direkayasa seolah menjadi etnis Melayu yang berdialek mirip Minangkabau. Tidak ada indikasi upaya Melayunisasi yang mematikan potensi bahasa, dan budaya asli kita. Justru malah budaya kita dijadikan sebagai bagian dari khasanah budaya Riau. Biarlah itu dilakukan itu sebagai ajang promosi budaya kita lewat mereka karena mereka mayoritas dan dominan. Hanya saja akan semakin sukar untuk meluruskan image kepada pihak luar bahwa tidak seluruh daerah Riau bersuku Melayu, ada juga minoritas asli yang bersuku Minangkabau. Tapi sudahlah tidak usah diperpanjang karena bersama mereka dalam Prov. Riau ini kita juga sudah merasakan kemajuan dan peningkatan kesejahteraan. Artinya keberadaan kita dalam pangkuan mereka tidak disiasiakan sebagai daerah taklukan yang hanya diexploitasi seperti zaman Kerajaan dan Kolonial dahulu. Itulah mengapa Kuantan dan Kampar seolah sepakat sama sekali tidak mendukung wacana tidak populer “Riau merdeka” yang pernah didengungkan oleh segelintir tokoh Melayu Riau yang tanpa malu mengatasnamakan Masyarakat Riau. Kalau mereka mau merdeka, silakan aja berurusan dengan NKRI dan kita tidak ikut-ikutan. Mungkin satu-satunya ide dari Pusat bila Riau merdeka adalah wilayah Kuantan dan Kampar akan diunifikasikan ke Prov. Sumatera Barat. Tapi yang fantastis saat itu adalah kenyataan bahwa Riau Kepulauan yang beretnis dan berbudaya sama dengan Melayu Riau Daratan malah memilih melepaskan diri karena tidak sependapat dengan ide bodoh itu. Tidak ada alasan untuk malu bagi kita untuk mengaku sebagai orang Minang. Bahkan teman-teman Kerinci saya di Jakarta tanpa tedeng aling-aling tetap mengatakan bahwa orang Kerinci adalah orang Minang yang wilayahnya termasuk ke dalam Provinsi Jambi.
12 Januari 2012 at 8:52 am
den bangga jadi uwang ocu. jan la suko manindas uwang ocu. ibaratnyo selamo ko uwang ocu ditindas samo urang mudiok alias sumbar. tu la di sumbar banyak musibah musibah terjadi nyo urang nyo suko menghina suku lain yg inyo anggap bagian dari inyo du. mangucap la awak basamo
2 Mei 2011 at 12:26 pm
ughang ocu tak bisa kain sasuku sama hlnya orang minang… ughang ocu juga ga” bisa nikah ama orang melayu… mnrut peraturan adat istiadat.. soalnya orng ocu matrilineal sdngkn melayu patrilineal…jadi orng ocu asli mana ya.. asal muasal kerajaan pagaruyung tapi kok sebgian gak meng akuinya yah… apsih..? pasti ada kontroversi kyknya nih…
17 Juli 2011 at 3:58 pm
sosek ang go yuong!!
ci condo tu ndak batemo ang ughang ocu
2 Mei 2011 at 12:38 pm
cieklai ughang ocu 98% menggunakan cri khas orang minang contoh atap rumah… pakaian.. trus cara berbicara and 2% menggunakan ciri khas melayu..contoh baju melayu..tiok hari juma’at siswa siswi memakai baju kurung khas melayu…hahahahahahahaha
17 Mei 2011 at 7:44 pm
Itu kono disuruah dek Pemda du ma cu..
5 Mei 2011 at 2:33 pm
hidup uwang ocu…. Sejarah membuktikan kebudayaan kampar lebih dulu perkembang dari orang minang… Lihat saja candi muara takus usianya lebih tua dari istana pagaruyung
10 Mei 2011 at 7:28 pm
bahaso ocu/kampar mmg ado mrp2 dgn bahaso minang itu krn keduo daerah tersebut bersepadan,ttp secagho vokal,kental nuansa melayunyo.
Kami ughang ocu,sikik hagham dak omoh di sobuik minang,km bangga dgn melayu,,,,,
ughang tuo2 kami m,laghang kami kawin dgn ughang minang.ontah apo sobab,hanyo tuhan yg tau.jgn sbt2 kampar tu daghi minang,slm ko km khlngn jati dighi krn kalian,krn pgr ruyung yg kalian bangga2kn tu mnjjh tnh dn budayo km. Ingat ckplh skali gmpa mnghntm ngr kalian,,,,,,,
Tak melayu hilang di nogoghi kampar
17 Mei 2011 at 7:50 pm
Yo lah,,haram ndak amuah disabuik urang minang..Tapi kok kami urang Minang nan adaik basandi syarak, syarak basandi kitabullah haramnyo kok maresek kondiak jo anjiang, tuan..Ambo ndak tau lo agamo tuan apo yo sahinggo haram disabuik rang minang??
10 Mei 2011 at 7:54 pm
betol tu cu l sayam,sayo ni oghang bengkalis,,,,melayu pesisir dgn melayu daratan agak sikit berbeda,tuah kami di laut,tuah kalian di sungai.ttp pnyo watak yg samo.ngapo lak oghang minang,klaim kampar tu minang,scr history dah jelas kampar tu melayu.
Ocu tu istilah penyebutan buat oghang bangkinang,samo sprt ucu di siak,ongah di pasir dn bagan,jd ocu tu bknlh suku.klau oghang minang di pnggl ajo,pst klian bs tebak daghi mano dio,,,,cam tulh dgn ocu, hdp melayu
17 Mei 2011 at 7:55 pm
@Putra Melayu: Anda dengan penuh semangat bilang “Hidup Melayu”..Kami pun sebagai orang minang yang notabene sub melayu pun merasa senang..Tapi ayo kerja keras dong,,biar melayu “riau” khususnya terdengar prestasinya ke seluruh bagian Indonesia..jangan hanya menggadang-gadangkan unggul karena SDA (Sumber Daya Alam) saja, tapi SDM nya mana?So, prove it!
11 Mei 2011 at 12:20 pm
dek apo km bangga jd anak jati kampar,krn kami tak jadi pngemis dll.tengok klau satu orang minang punya jbtn di ghantau ughang,keluarga,ughang skmpgnyo di bawak keghantau,, sakik utak kami di riau ko nengok e,dlm daghah kami mnglir daghah melayu daghatan,itu makanya km ughang ocu mrs melayu,mngnai gaya bngnn yg di blng mrp minang,yg mano yg mirip,,,, arsitek dn gy bngn srt ukiran kental nuanso melayunyo,tngok msjd jamik dn umah lontiok/lancang,,,
Klau ado pun bergonjong mcm kerbau tu ,tu pngrh jjhn pgr ryng dn sumatera tengah,pgr ryng mnjjh scr budayo.skrg kampar bngkt,mnjnjng tuahnyo.
klau bhso ocu mrp payakumbuh,awak snggh sikik,,,,mlh orang payah kumbuh yg bcakap mrp bhs ocu dn minang,mrk pnggl uda,brcmpr2 bhs minang dn kampar klau ughang pyh kmbh bcakap.
Tdkkn kalian sadar kampar tu lbh baik dr kalian,km pny smbr dy alam,klau klian hny ada gunung,untuk mmbngn jmbtn kelok smbilan aja mrnggek2 dgn pusat,smpai skrg alhmdllah blm tbangun,,,,,
Suku asli kampar adalh suku domo,suku melayu
Km tak mngnll suku jambak,koto do cik minang,oi,,,,,,krn di kampar mmg dak ado puak tu.
Hdp kampar,bertuahlah melayu
17 Mei 2011 at 10:01 am
kalau nak baghajo dinagoghinyo…nak bangso di kaumnyo… nak godang dilemunyo..sosuaikan tingkah jo gondang cu…kalau manumpang dipghou ughang yo badab2 jo lah saketek..jen di tundo pantang ughang punyo uma..batarotik awak numpang dinaghoi ughang …sadektu nyo du tuok…nanpontiong bokla makanan nan elok kalau nak batamu…jen dibok makanan sisa..apolagi smapah (pengemis)
17 Mei 2011 at 8:00 pm
@Awang: sanak, engkau lah salah satu contoh orang yang terbuai dengan SDA yang “berlimpah” tapi cuma jalan ditempat saja..Ckckckck..Diakui daerah darek dan rantau rang minang tak sekaya dibanging Riau,,Tapi justru itulah yang jadi pelecut kami untuk merubah nasib dan maju,,tidak seperti katak dalam tempurung..salam dari rang Minang Di Balikpapan..
18 Mei 2011 at 4:45 am
Meskipun Kampar mungkin memiliki SDA yg lebih baik dari Sumbar, tapi dari hasil penelitian dan observasi saya, ternyata masyarakat Sumbar lebih makmur hidupnya dibandingkan orang Kampar. Di Kampar dan Riau lainnya yg makmur itu terutama adalah pejabat2nya, sementara rakyatnya masih banyak yg miskin. Orang Sumbar tidak terlalu mengharapkan SDA, mereka lebih cenderung ke SDM. Lihat Singapura meskipun miskin SDA, tapi menjadi negara termakmur di Asia Tenggara. Begitu juga Sumatera Barat. Sebagai orang Ocu, atau Riau dg jujur anda harus mengakui bahwa rumah2 penduduk di pedesaan Sumbar jauh lebih baik daripada rumah2 penduduk di pedesaan Riau. Siapakah pribumi yang punya ruko2 di Pakanbaru, Duri, Dumai, Bangkinang, dan kota2 di Riau lainnya? Jawabannya adalah orang (sebagian besar). Pertanyaan berikutnya, adakah orang Riau yang punya ruko di kota2 yang ada di Sumatera Barat seperti Padang, Payakumbuh, Bukittinggi, Solok, Padangpanjang, dll? Jawabannya bisa dipastikan adalah TIDAK ADA. Hal ini membuktikan bahwa SDA yg dimiliki oleh Riau hanyalah kebanggan semu belaka yg suatu saat akan habis. Sumbar sendiri sebenarnya juga punya SDA yg sangat besar, Sumbar juga punya minyak dll yg jumlahnya sangat besar, saat ini belum diolah karena masalah tanah ulayatdan juga karena selagi Riau masih berproduksi untuk apa Sumbar harus dieksploitasi juga. Secara jujur harus diakui masyarakat mana yg lebih diuntungkan dg keberadaan tambang2 minyak di Riau seprti Caltex dll, jawabannya adalah rang Minang. Lihat saja karyawan2nya kemudian yg mendapatkan keuntungan secara tidak langsung seperti pedagang2 yg memiliki toko dan ruko di kota2 minyak tsb. Jawabannya sebagian besar adalah orang Minang. Saya sudah berkeliling melakukan penelitian di kota2 seperti Pekanbaru, Dumai, dan Duri, saya menyimpulkan bahwa orang Minanglah mendapatkan keuntungan terbesar dari adanya tambang minyak ini.
Alhamdulillah kalau orang Ocu tidak mengakui sbg orang Minang, karena saya lihat orang Ocu memiliki karakter yang mirip dg orang Melayu Riau, yaitu tidak punya jiwa bisnis, cenderung mengharapkan bantuan dari pemerintah, kurang suka bekerja keras, dll yg mohon maaf semuanya agak negatif. Kesimpulan saya adalah berdasarkan hasil p[enelitian selama bertahun2, bahkan sekarang pun saya masih sedang melakukan penelitian di kampar. Yang membiayai penelitian saya adalah DIKTI lewat Hibah Strategis nasional untuk jangka waktu 3 th. Sebelumnya juga dibiayai oleh pemerintah Jepang yang merasa bertanggung jawab atas Bendungan Kotopanjang.
9 Juni 2011 at 10:16 am
ia memang orng Ocu dlm saing Bisnisnya kurang!!
tpi orng ocu tidklah bodoh!!
kau tau “pekanbaru”? jelas taukan!!
kau kira pekanbaru berkembang oleh pedagang-2 minang? bulset kata orng minang kli yah”
“pekanbaru itu kmpar punya!! yg diambil oleh kraj’an siak kota pekanbaru diambil dari bahasa kampr yaitu” Pakan Baghu” yg ditranslet ke bahasa melayu….(sjarh peknbaru)
trus kw bilng ruko2 itu kbnykn punya orng minang!! ngelawak kw ya!! jan dek gara2 adek bhaso jo budayo wak ampiang samo salomak de’ ang je ma… ngrng2 cito…
kini pemimpin orng peknbaru asli orng kmpar!! ya wlwpun msih dibilng minang!! tpi ya apa bolebwt.. kami ocu adlah sukubudaya yg kecil yang budaya nya memang nyerupai minang, n klian popularitas minang yg besar karena merntau kemana-mana…. wlwpun hidup kami sansai tpi tidak pernh mengemis…. stu hal lgi dsini SDM minang yg kebanykn pedagang kakilima… SOpir Oplet.. Grosir barang……….. n hebohnyalagi jadi pembersi jalan!! beda dengn SDM Ocu…..stidak-tidaknya tingkat paling rendah tukng Pengemis dijalanan. klo orng ocu.. ada kerja dikantor, SIpil, Guru, politik, org Asli Ocu ya…… rata-rata menengah keatas pokoknya!! apa yg dy mw bisa terpenuhi……..SDM yg klian banggakn hnyala berdagang …
Ocu Nan iyo nyo…
11 Juni 2011 at 12:15 am
hahahaha………… tujek e’
mambuok-buokkan nmo ocu go yuong…. e” Ocu mada……….
stidak-tidaknya jadi seorng pengemis….hahaha…..
ughang mintak sumbangan di topi jalan jan ang sobuiklo pengemis le yuong…
maleset wa’ang go. naghoi mano ang tingge…??
11 Mei 2011 at 1:59 pm
salah satu contoh melayunisasi yang sukses..
Urang jawa bertukang barulah berpeluh
urang minang bersorak menjual barang baru lah berpeluh
urang melayu barulah berpeluh kalau makan..
17 Mei 2011 at 8:02 pm
@indomo: hahahaha..yo tu sanak??Ndeh,,patui la angku2 disabuik pamaleh yo?Tangan manampuang sajo,,ndak paralu kojo tapi lah dapek makan..
11 Mei 2011 at 2:02 pm
cam mano lah kolian ko..lah joleh ughang kampar jo kuansing ko unghang minang bakatokan pulo melayu daratan…bodohlah kalian ko..
17 Mei 2011 at 8:03 pm
Sanak Charlan dari mano ko?Dari Rao?
12 Juni 2011 at 7:53 pm
kmi org melayu ocu….
bukan org melayu…dari melayu… paham!!
11 Mei 2011 at 2:17 pm
siapo bilang,kampar dngn kuansing minang ? Cubo kau tanyokn samo pnddk tempata(kampar,toluk kuantan)bkn taluk versi minangya.,atau ughang gilo sekali pun,cakap sm mrk,psti jwbnnya bkn mrk minang.minang ko ola idup di nogoghi ughang,blagak pulo tu,,,klain sekalian batak toba tu st rmpn dgn kalian,,,,
dah jelas antara watak orang kampar dgn minang,bebezo,,,,,,,
Mcm bngs yahudi aja kaliannnn,,,,,,
16 Mei 2011 at 12:26 pm
tanduok duo…bialah kapalalo baluluok asal tanduok mangonai…kalau oghang ocu ndak omuonyo kapalonya lunai dek lumpu…tangan nan diluluokkan..jen sampai kakapalo >>> tapi sedih juo deyen cu..dengan tulisan nan menyudutkan ughang minang ..koton dee ugang minang dayi suku yahudi samo jen ahmad dinejad kasusnyo..ndak cayo baco lah
17 Mei 2011 at 8:07 pm
You guys are the weird persons who I have seen. Wow, takojuk deyen mambaco rang minang dihubuangan jo Yahudi..Lah abih kato2 berdebat sanak sahinggo hal2 yg ndak logical dipaso masuak ka dalam diskusi ko??sanak manulih ko lai sadang jago kan??
18 Mei 2011 at 4:56 am
Alhamdulillah kalau orang Kampar tidak merasa bagian dari orang Minang. saya melihat banyak perbedaan antara orang Ocu dg masy minang yg berasal dari Sumbar, terutama dari segi mental, walupun secara budaya sama.
Orang Ocu jiwa bisnisnya jelas lebih rendah dibanding orang Minang, orientasi hidup mereka cenderung hanya untuk masa sekarang saja (kurang memikirkan masa depan),hal ini jelas berbeda dg orang minang yg lebih memiliki orientasi ke masa depan. Orang Ocu lebih berharap kepada SDA, sementara orang Minang lebih ke SDM. Implikainya adalah pribumi yg memiliki toko2 dan ruko2 di kota2 yg ada di Riau seperti Pekanbaru, Dumai, Duri, bangkinang, dll, sebagian besar adalah orang Minang. Di Sumatera barat sendiri adalah orang Riau yang punya toko dan ruko di kota2 seperti Bukittinggi, Padang, Solok, Payakumbuh, Padangpanjang, Pariaman, dll? Jawabannya bisa dipastikan adalah TIDAK ADA.
Saya merasa bersyukur orang Ocu tidak merasa sbg orang Minang, karena karakter mereka mmg berbeda yg disebabkan oleh pola asuh yg juga berbeda selama ini. Meskipun menurut ilmu etnologi orang kampar sebenarnya adalah tergolong sebagai orang Minangkabau, tetapi karena diasuh oleh pengasuh yg berbeda dg orang Minangkabau yg ada di Suamtera Barat, hasilnya juga jadi berbeda. Mereka memiliki mental dan karakter yg sangat jel;as berbeda dg mental dan karakter orang Minang yg berasal dari Sumatera barat.
12 Juni 2011 at 8:18 pm
iya orang minang ya ooooOOOooo orang minang san!!
tapi tunggu lu kawn den bnyak nan tingga di pokan… sanak sodaro kawan banyak juo nan tingga di pokan… ???? ha asli du yg?? ndak duto angdu memutar bilio an fakta ang ndak?? cek cek testing testing 1,2,3
hahahahahahahahahahahahahaha
bnyak juo ughang condo ko gu lai?? jan mntang2 sanak sodaro awk ado nan tingga di pokn baghu yung!!
cito-cito bongak aso dek den ko le ha..
woi kmi ibo nengok kolien!! tanah kolien di sumbar du payah ntuok mncai makn ank jo bini!! nak kmi lo nan cai piti sitan le disumbar… mkin payah lai cai piti de ughang sumbar dule…
sungguh salomak dek waang nan bacito!! jole den siko ughang asli pokan baghu..
Witrianto Chaniago
pedagang sumbar di pokanbaghu io 100% cayooooooooo dennyo..
mg ndak tau temo kasi ughang minang kola!! iduik di antau ughang blagu lo lei..
ndak sadar dek untuong!!!
12 Juni 2011 at 8:35 pm
alhamdulillahirobbilalamin.. ucapan anda bagaikn tongkosong nyaring bunyinya..
11 Mei 2011 at 4:31 pm
melayunisasi,,,,,,,, ? Jgn asal cakap,kami oghang melayu tak perna melayukn suku apa pun,cumo km hrpkn di mano bumi di pijak di situ langit di junjong.sayo merasa risih,,,,ketiko minang mngklaim kampar,,,pdhl rumpun melayu brsatu-LHMR di bentuk di kab.kampar.
Tak slh klau km oghang riau bngga dng melayu riau kami,sprt minang bngga dgn minang kerbaunyo,,,
18 Mei 2011 at 5:02 am
Minangkabau tidak pernah berniat mengklaim kampar, untuk apa? Orang kampar jelas memiliki mental dan karakter yg sangat jauh berbeda dg orang Minang pada umumnya. Orang kampar pada umumnya lebih suka menunggu bola, sedangkan orang Minang lebih suka menjemput bola. Karakternya beda kan.
11 Juni 2011 at 12:05 am
woi jan sembarangan mangecek ang siko ondek!!
pantek dek ang… sok ontu ang ma yuong… sok tontu ang jo ughang kmpar ma anjiong…. patuiksan ughang MINANGKABAU ko tasobuik licik…..busuok hati……… patuik san… ndak salah putra kampar nyobuik pemuda minangkabau du.. anjiongkampungan……..condo inyo kn dipadulin dek ughang condo inyo nan jagok condo inyo nan tontu. indak malu dek untuong do…
minang batanduok……haha ndak salah itu minang ga” punya otak…hahaha
ASBAK.. asa bacakap..
iyolah kami penanti bola… nan sangat mantap… kelien menjemput bola nan bughuak..
12 Juni 2011 at 7:58 am
Rudin” anak ughang Ocu Patopang basah@:
kalau manulih komen du bataratik stek sanak..Manga uwang lain ang pacaruik an?Adonyo mampacaruik an waang? Dari komentar angku lah nampak deyen singan ma kualitas ang yuang!!Ndak labiah dari kato nan “ampek” je ang tau nyeh..hehehehe.
Ciek lai,, kecek si Awang Maulana Azzam (caliek se komentar2 baliau tu di topik ko), uwang asli kampar (ocu) du cumo Domo jo Melayu..Angku suku e patopang, jadi angku uwang Ocu abal-abal dong??
12 Juni 2011 at 12:19 pm
Ridho St. Palimo Bandaro
iyo pulo kato wa’ang ye….
maaf sanak nyosal den jadi e’.. baa cagho mapui komentar den sanak??
tapi ciek pinto jaan samokan kami(kampar) jo ughang melayu melayu.. kmi ughang melayu ocu ndak melayu melayu do…..
ughang melayu melayu du nan tasobuik pamelh.. kojo maleh piti nak banyak.. tu sindiran ughang ocu ke” ughang melayu…du. sanak!!
Witrianto Chaniago
jaan samokan kami melayu ocu.. jo melayu melayu!!
11 Mei 2011 at 4:57 pm
kampar tu minang,,,,, dsr caplok budayo ughang,,,,,
Klau di kampar gelar:
Kerajaan gunung sahilan/kampar kiri,kampar rajanya bergelar tengku
Tapung, kampar,bnyk yg bergelar said dan sarifah,
Krjaan di Rokan hulu, raja bergelar tengku
Kerajaan Pelalawan,raja bergelar tengku
Kerajaan siak,rajanya bergelar tengku.
Kerajaan di kepri/indragiri,rajanya bergelar,tengku,raja.
Klau di pagar ruyung,minang raja bergelar sutan,,,,
Angku=paman(bhs minang )
Raja terakhir dr pd raja kampar kiri adalah tengku sulong,,,
Jd kampar dn daerah di riau msh satu persamaan budayo melayu,km di kampar tak ada sbtn sutan dlm sbtn adat,yg ada datuk.skrg lembaga adat kampar tlh berganti nama dgn lembaga adat melayu kampar di bwh payung LAM RIAU.
satu lagi km tak pakai sbtn uda ,ya di kampar lazim di sebut uwo,ulong(tapung)ongah,ocu,
Sdgkn di tanjng belit dn tnjg pauh(minang)daerah perbatasan tanah melayu riau dng ranah minang,pnggln uda,menemani sapaan akrab masyarakat di sana..
18 Mei 2011 at 8:48 pm
Sewaktu Kongres budaya Minangkabau th 1970 di batusangkar, panitia masih mengundang utusan dari Kampar sebagai peserta. tahun 2010 ketika berlangsung kongres serupa di Kota Padang, panitia tidak lagi mengundang Kampar, karena kampar dianggap skrg bukan lagi sebagai bagian dari Minangkabau. Ranah Minang memiliki budaya yg sangat tinggi dg alamnya yg indah dan SDM yg unggul di banding etnis lain di Indonesia. Orang Minang punya jiwa bisnis, berjiwa enterpreneurship, lebih suka menjemput bola daripada menunggu bola. Hal2 tsb tidak ditemui pada diri orang kampar, shg panitia menaganggap orang kampar bukan orang kampar dan juga tidak memenuhi syarat sbg orang Minang, karena jiwa dan mental mereka berbeda dg orang Minang di Sumatera Barat.
16 Mei 2011 at 11:32 am
DIMANA AIR DISAUK DISITU RANTING DIPATAH, deyen ngeri jen kejadian di aceh, tragedi mandar madura, banyak faktor yang menjadi penyebabnyo….kalau dibinjiek ciek2…kolom ayi dee…tapi marginalisasi terbalik kodok dijadikan sebagai salah satu faktor penyebab …(Agus condro), kesalahan oghang tuo2 nan dipakso menjual tanah ulayat jaman orba dan kini masih tetap ado mambuek anak cucu cilako cuu…menjamurnyo perumnas nan dibangun di nagoghi pokan go ditanah ulayat ughang kampar..semakin memungkinkan masyarakat padang dan sekitarnya membuat negeri baru dikampar…sebab jual beli rumah semakin meningkat diperumnas kota pokan baghu dengan adonyo tsunami dan isu ranah mingkabau (padang) akan menjadi kota mati, komailah kolian suku minang..di tanah kampar go..lai ado tompek untuok kolian..kolian juo saudara kami…sakik kolian kami ikuik juo maghaso sakik…tapii jen pulo datang nak manguasai…pengemis2 nan ado dikota go..mo la samo2 awak TUNTUANI…pulang la kakampuang nan jauah dimato…jen mausak citra nagoghi riau ko…tsunami itu bencana alam..ndak datang tuluok ayi do…baliok la kokien..baladang la..bakobunla baliok…jen menjadi pengemis minta sadakah di jalan udaaaa..uni…..angkat baliok citra minang kobou nan banyak ugahng godang nyo du(kok iyo)..tolong dunsanak kolian nan mengemis2 duuuu disalosaikan…suon baliok kampuang nan jauah dimato..ndeee tu iyo du ye…koghe bonou ma nak konai tanduok du..bialah kapalo baluluok..huuuuffff
17 Mei 2011 at 8:17 pm
@Ocu ifan: Anda takut kalah bersaing kah dengan rang Minang di Riau?Belon dihadapi tapi udah “kacun”..Soal mengemis, saya cukup sering ke Pekanbaru karena bako dan mintuo saya di sana..Saya kasi contoh di perempatan mal SKA, tiap pengemis yang ada di sana saya coba bicara pakai baso minang,,tapi dia balas dengan bahasa Indonesia (saya beranggapan, mereka tak berasal dari Sumbar atau minang).
Satu lagi, kami sebagai rang minang terbukti banyak punya “ughang godangnyo” dari zaman penjahahan sampai sekarang (tidak setuju dgn kalimat anda “kok iyo”)..Sekarang pun ada 4 menteri orang minang..Jangan banyak omongla ocu ifan,,buktikan sajo la..lai obeh dek ocu du??
5 Juli 2011 at 10:16 am
Urang melayu ocu ko takuik dengan kemajuan urang lain, sutan.. takuik basaing, ndak bisa diajak ka tangah…
soalnyo mental nyo masih mental pamaleh..kiro2 100 tahun tatingga lah dari minang. Awak lah ngirim urang baraja kalua nagari sebelum merdeka, urang melayu ocu ko masih alun merdeka juo lai sampai kini.. hehe
16 Mei 2011 at 12:11 pm
TULISAN YANG KETERLALUAN….TERLALU BONOU … JANGAN MENGADA2
(FAKTA) ORANG MiNANG KETURUNAN YAHUDI!!
B’nai Jacob (MInagkabau), The lost Jews Tribe from West Sumatera??/ B’nai Jacob (Minangkabau), Suku Yahudi yang hilang dari Sumatera Barat??
Hampir semua orang Minang percaya bahwa nenek moyang mereka berasal dari dataran tinggi di Sumatera yang dipimpin oleh Raja Alexander Agung atau Izkandar Zulkarnain.. Menurut Sejarah Kristen, raja tersebut hidup dari zaman 356 SM sampai 323 SM
Dia juga dikenal sebagai Raja Alexander III dari Macedonia, seorang pemimpin militer yang paling berhasil sepanjang zaman dan dianggap tidak bisa dikalahkan dalam setiap pertempuran. Di zamannya, dia sudah menguasai kebanyakan daerah yang sudah dikenal.
Ayahnya adalah Philip II yang menyatukan kebanyakan kota2 di dataran utama Yunani dalam kepemerintahan Macedonian dalam sebuah Negara federasi yang disebut Persatuan Corinth (League of Corinth) Raja Alexander menguasai daerah2 termasuk Anatolia,Syria,Phoenicia,Judea ,Gaza,Mesir, Bactria,Mesopotamia (Irak),dan dia memperluas batas2 imperiumnya sejauh Punjab,India.
Menurut AlQuran, Zulkarnain juga sempat mengunjungi China dan membantu membangun Tembok Besar China. Alexander menyatukan banyak suku2 asing ke dalam kesatuan tentaranya, yang akhirnya membuat para cendikiawan menganggap dia sebagai seorang Bapak Penyatuan. Dia juga Mendorong pernikahan antara tentaranya dengan suku2 asing tersebut,dan dia sendiri juga menikahi 2 putri dari suku2 asing tersebut
Daerah paling terpopular yang pernah ia kuasai adalah Alexandria (Mesir) atau dalam bahasa arab Iskandariyah,dinamai sesuai namanya. Al Quran menyebutkan Raja Alexander dalam beberapa ayat antara lain Al Kahfi 83-89. Diantara tentaranya, ada beberapa suku Yahudi yang ikut yang dikenal sebagai B’nai Jacob (Anak dari Nabi Yakub)
Hari ini,para keturunannya menyebut dirinya sebagai orang Minangkabau, yang didapat dari kata2 generasi mereka sebelumnya “Bainang Ka Yakubu” atau aslinya B’nai Yakub (sesuai lidah generasi pertama). Selama kunjungan Alexander ke Asia Timur,Pernikahan besar2an antara tentara Alexander dan suku asli Asia timur terjadi sesuai perintah Alexander,karena China adalah tempat yang sangat damai untuk beristirahat,dan tentu saja,karena raja tidak membawa wanita di dalam tim tentaranya.
Dan hasilnya, pria dari suku Yahudi B’nai Yakub menikah dengan wanita2 dari suku di China dan membawa kebudayaan dari masing2 adat. Dari Cina, Raja melanjutkan berlayar ke Laut Cina Selatan dan memutari Selat Malaka menuju pantai barat Sumatera
Beberapa keluarga percampuran Yahudi-China tersebut memutuskan untuk menetap, yang lain mengambil rute lain ke India dari jalur Nepal. Ketika mereka sampai diantara pulau Siberut dan dataran utma Sumatera mereka dapat Melihat puncak Gunung Merapi.
Jika anda pergi naik Speedboat dari Pelabuhan Ikan Padang,Muara dan pergi ke Pulau Siberut, sekitar 2 jam setelah meninggalkan pulau utama, dengan cuaca yang baik,anda akan bisa melihat Gunung merapi nun jauh disana. Kelihatan mistik. Sekitar 4 jam dengan boat dari Padang ke Pulau Siberut. Merapi adalah sebutan sekarang, kata ini diturunkan dari kata “Marave”, bahasa Aram yang berarti “tempat yang paling tinggi”
(ada lagu daerah yang terkenal yang diambil dari cerita kuno yang mengatakan “Sajak
Gunuang Marapi sagadang talua itiak.” Yang berarti “sejak Gunung Merapi sebesar telur itik). Bahasa Aram adalah bahasa Ibu dari Bahasa Arab dan Ibrani.Bahasa ini dipercaya sebagai bahasa yang dipakai Nabi Ibrahim A.S dan dan tidak diragukan lagi begitu juga dipakai Raja Alexander juga.
16 Mei 2011 at 6:03 pm
Hampir semua posting diatas lepas dari konteks utama pembicaraan yaitu asal muasal ocu. Bukannya sumbang pengetahuan sejarah, malah cekcok. Kok malah menghujat suku yang lain.Belum tentu O berasal dari M kok si O matian-matian mengatakan dirinya tdk berasal dari M, malah menghujat M sebagai orang yang jelek…Dan M pun tdk pernah berpikir bahwa O bagian darinya (mungkin malah tidak mau pula mengakui o bagian darinya). Sungguh ironis…..
17 Mei 2011 at 8:21 pm
@Seno: itu la Seno,, saya sangat kesal sekali kenapa setiap komen dari yg mengatasnamakan orang O atau melayu pasti menjelek-jelekkan suku/daerah asal saya..Huuuuf..kapan mereka maju kalau keahlian mereka cuma menjelek-jelekkan orang lain??
20 Mei 2011 at 12:54 pm
yups…
kapan bersatunya indonesia klo kyk gini…
ha….binguang di emah… phapo je..fuck lah..
19 Mei 2011 at 5:52 am
Dunia politik berbeda dg dunia ilmiah. Berdasarkan penelitian linguistik yg dilakukan oleh Prof. Nadra, seorang ahli dialektologi dari Unand dan juga penelitian dari profesor-profesor lainnya, mereka menyimpulkan bahwa bahasa yang digunakan oleh masyarakat kampar adalah sebuah dialek dari bahasa Minangkabau. Balai bahasa di pakanbaru pun mengakui hal ini, akan tetapi mereka tidak mau mempublikasikannya ke masyarakat umum, karena dilarang oleh Pemerintah Provinsi Riau yg demi kepentingan politik menyatakan bahwa semua penduduk asli provinsi Riau adalah orang melayu. Alhasil bahasa yg digunakan oleh penduduk di kampar kemudian disebut sebagai bahasa Melayu Dialek kampar. Walaupun ini aneh, karena orang Melayu Pesisir, apalagi Melayu Kepulauan tidak mengerti dg bahasa yg digunakan oleh orang Kampar mereka tidak peduli, dg alasan Melayu itu luas. Berbeda halnya dg orang yg datang dari minangkabau, ketika sampai di kampar dg mudah segera memahami bahasa yg diucapkan oleh orang kampar. Menurut Teori Identitas, ciri utama sebuah etnis adalah bahasa.
Jelas bahwa dunia politik sangat berbeda dg dunia ilmiah. Dari segi sosiologi, sejarah, etnografi, arkeologi, dan antropologi pun semua juga menyimpulkan berdasarkan hasil penelitian dari pakar2nya yg berasal dari dalam dan luar negeri bahwa orang Kampar adalah orang Minangkabau. bahkan para pakar dari jepang yang menangani bendungan PLTA Kotopanjang merasa sangat heran ketika mereka tahu bahwa orang Kampar tidak mau mengakui sebagai orang Minang. “Kok bisa seperti itu ya?” kata mereka. “Mengapa ada masyarakat yang mengingkari identitas mereka sendiri?”. Itulah dunia politik, segala sesuatu bisa dibuat mungkin. Semuanya dikembalikan kepada orang kampar itu sendiri, apakah anda lebih percaya kepada hasil penelitian ilmiah atau lebih percaya kepada ucapan politikus2, semua terserah anda. Ketika hasil penelitian saya mengenai identitas baru orang kampar sebagai orang Ocu disampaikan di sebuah seminar di jakarta, para pakar ilmu sosial dari UI, UGM, Unpad, Undip, dll semua terkejut dan menganggap bahwa ini adalah sebuh fenomena yg sangat menarik, karena ternyata ada sebuah kelompok masyarakat di Indonesia mengingkari mereka jati diri sendiri, dan berusaha untuk menjadi bagian dari masyarakat tetangganya yg secara administrasi satu provinsi, walaupun budaya masyarakat yg ingin mereka jadikan sbg tempat bergabung tsb memiliki peradaban dan tingkat budaya yang lebih rendah dari peradaban dan budaya mereka sendiri.
20 Mei 2011 at 1:22 pm
oi… semuanya memang orng melayu… trmasuk orng ocu.. juga orng melyu!! tpi mlyu ocu… dn juga dngn minng mlyu minang!!
tpi hrgai budya ocu..!!
stu lgi aku bilng sma kou ocu tu budaya yg sangt kntal dengn peraturan adat istiadat!! memang sih banyak kesamaan ocu dengn minang malahan hmpir 100% dengn minang!! dri sgi manapun!! tpi dsini ocu mngndalkan AGAMA bru MENANG!! sdngkn orng MINANG mengndalkan MENANG bru AGAMA yg di dimpulkan MINANGKABAU. .. kau tau arti singkatan dri OCUMINANG(mnurut niniok mamak!! selain dri singktn Ongshu at si bungshu.. sini diartikan bhwa si bungsu.. yng diharapkan untuk pnerus bangsa!! sama halnya pemuda hrapan bangsa yg pling mudah..trus ocu juga mliki pnjangan yaitu..Olloh Cinto Ughang MINANG..atw ALLAH CINTA ORANG YG MENANG.. dn artinya allah mncintai orng yg slalu mengingatnya dn menang bersamanya).
dan disini mengapa orng ocu tk mengakui drinya MinangKabau.. karena mereka bukan mendapatkan kemanangan dri seekor kerbau… tpi karena seizin ALLAH..
haa… ko memang pengamat politik yg bodoh… prcaya tnpa mengmati terlebih dhulu…
dan karna tulh ocu tak emngakui drinya sbgai orng minang maupun orng Melayu daratan… ha lbih baik ditinggalkan dipisah dari pada ditinggalkan AGAMA!!
ha lbih baik memisahkan diridri minangkabau dari pada menduakan AGAMA!!
20 Mei 2011 at 11:21 pm
@Anak Mentawai Kampar:
1. Kalu komentar ilmiah ya dibalas secara ilniah juga dong!Masa dibalas dengan dongeng?!
2. Sepertinya pengetahuan anda ttg adat minang masih dangkal..Di minang kita punya “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah”..Apapun adat yg ada haruslah sesuai dengan ajaran Islam.
3. Untuk yang merasa alergi dengan orang Minang: kenapa anda2 merasa risih kalau orang minang makin banyak di sekitar anda??Bagaimana respon anda terhadap orang non-muslim yang ramai (dari catatan ttg pertambahan penduduk kota pekanbaru terkini bahwa pertambahan penduduk dari utara (SUMUT) yg sebagian beragama non-muslim paling besar dibanding suku lain) datang untuk mengadu nasib ke pakanbaru??apakah anda mau tanah ulayat anda diambil sama mereka??
23 Mei 2011 at 2:29 pm
Anak Mentawai Kampar: anda salah besar jika anda menganggap saya sebagai seorang pengamat politik, apalagi pengamat politik yg bodoh. Saya bahkan sangat tidak suka dengan kehidupan politik. Coba anda baca lagi tulisan saya tsb, apakah itu mencerminkan bahwa yg menulisnya adalah seorang pengamat politik?
6 Juni 2011 at 3:51 am
MENTAWAI KAMPAR.
asal amak den urang minang caniago tpi den lhir di ocu tpi den diangkek ocu caniago lo… ndak ado istilah membedabedakan budayo ocu jo minang sabonaunyo do…
budayo ocu jo minang du samo…. kci ado yg beda 5juta di tangan anda!! orng ocu ibaratnya ndak satitian jo uang melayu tu ndak sajanjang jo minang!!(mnuruik pribahaso den) sobab ocu diblang orang minang ocu jie di wilayah melayu RIAU, dibilang orang melayu tak ada yg sma budayanya…contoh ocu ngikut ibu sedangkan melayu bapak.
ha … jan ang mamburuak-buruakkan anjiong..
kci ndak ontu apo juo diam jie la ang yuong!!
jan mamburuak-buruakkan budayo ughang..
“RIDHO & WARIANTO.. den yakin itu bukn org ocu… tpi klo io.. maafknlah..
“WARIANTO : sbenarnya aku ga” tau asalmuasal orang Ocu dari mana… yang aku tau ocu jo minang du samo adek..dan sma-sama kerajaan Pagaruyung.
“RIDHO : sbenarnya orang minang d peknbaru juga dianggap orng ocu.. tpi karena smkin banyaknya popularitas Minang dibilang orang pekanbaru.. karena sudah smar-samar antra minang dan ocu..ada yg bilng minang dan ada yg bilang ocu.. kata orang di pekanbaru bahasa Ocu bahasa sehari-hari di pekanbaru dan minang bahasa dagang di pekanbaru..ngertikan!!
23 Mei 2011 at 5:51 am
Cerita ttg adanya pertandingan kerbau antara orang Melayu (Minangkabau)di Sumatera dg orang Jawa adalah karangan Belanda yg bertujuan untuk memecah belah bangsa indonesia sesuai dg politik devide et Impera. Kata Minangkabau bukan berasal dari acara pertandingan adu kerbau, tetapi dari kata Minangakamvar yg artinya pertemuan dua buah sungai, yaitu sungai kampar kanan dan sungai kampar kiri yg skrg terletak di Provinsi Riau. Istilah Minangkabau baru menjadi populer setelah diperkenalkan oleh Joustra, seorang penulis Belanda. Sebelumnya orang luar lebih mengenalnya sebagai orang Melayu saja. itulah sebabnya di Jakarta tidak ada Kampung Minangkabau, tetapi yg ada adalah kampung Melayu, walaupun maksudnya itu adalah orang Minangkabau, bukan Melayu Riau, Melayu Deli, atau Melayu jambi, karena ketika etnis tsb tidak banyak yg merantau. Sampai hari ini pun kita lihat bahwa di antara semua rumpun Melayu di Sumatera, orang Minangkabau adalah yg paling tinggi tingkat mobilitasnya (orang Batak tidak termasuk rumpun Melayu). Itu pula lah sebabnya di kota2 besar Indonesia banyak ditemukan asdanya kampung Melayu yg maksudnya adalah orang Minangkabau.
Saya bicara atas nama ilmiah dan melalui penelitian selama bertahun-tahun. Bukan asal ngomong. Sampai hari ini pun kita masih bisa melihat bahwa di antara semua rumpun Melayu, orang Minang lah yang paling banyak tersebar di seluruh pelosok Nusantara. Jika di Makasar, Ambon, atau Manado kita temukan adanya kampung Melayu, maksudnya adalah orang Minangkabau.
23 Mei 2011 at 9:51 am
ponah makan asam podas ikan selais ? Klau tuan dn puan nak tontu ghasonyo,cubolah datang ke kampar.
Pasti sodap tie,,,hehehehehe
Daghi pado kito bebantah,,,, moohlah wak makan,,,
23 Mei 2011 at 9:57 am
ponah makan asam podas ikan selais ? Klau tuan dn puan nak tontu ghasonyo,cubolah datang ke kampar.
Pasti sodap tie,,,hehehehehe
Daghi pado kito bebantah,,,, moohlah wak makan,,,wkwkwkwkwkwkwk
23 Mei 2011 at 10:58 am
tiada yg sempurna dlm hdp ini,satu suku pny kelebihan dn kkurangan,,,
untuk apa kt slg caci2 smntr kt pny kkurangan masing2.
Hargailah budaya kampar !
kami menjaga budaya melayu khas sungai kampar.
semoga ALLAH melindungi kita dr saling menghujat.
Salam RMB,,,,,,
27 Mei 2011 at 5:45 pm
ridho sutan palimo@klau anda tak pandai cakap kampar jgn bongak/ngomong lg,klau tak pakai bhs indonesia aja,key,,, ontah2 apo2 bahason yg anda tulis ko,,goli ati kami mmbaconyo,yg anda tulis tu bkn bhs ocu,tp bhs minang payokumboh.
hrp mklm !
28 Mei 2011 at 6:25 am
Awang maulana azzam@ Trima kasih atas kritikannya…Saya memang sedang belajar bahasa Kampar/Ocu karena saya tertarik dengan bahasanya. Dalam proses belajar pasti ada salahnya..Saya belajar apapun yang bertujuan baik agar tidak menjadi katak dalam tempurung yang hanya bisa bermimpi dengan Sumber Daya Alam yang berlimpah ruah tapi tidak menghasilkan apa-apa untuk daerahnya secara maksimal. Lai obe dek ocu du?
10 Juni 2011 at 11:28 pm
apo nyo ang go yuong?? sambie kukumu ang bacakap du?
tapapo nyie ang ma…… bahaso manong pakai du yuong…….
12 Juni 2011 at 8:02 am
Rudin” nak ughang Ocu Patopang basah:
Maaf sanak, kok ndak bisa mambedo an antaro mangecek jo manulih ancak sanak Rudin anok sajo! Jaleh2 siko aden manulih (ado tulisan), indak bacakap do. lai lulus dulu angku sikola dulu??
12 Juni 2011 at 12:27 pm
Ridho St. Palimo Bandaro
salah ketik du mayuong santailah…
condo ndak pona buek salah jie angma!!!
jan mntng2 ang kulya jau du ceme’eh loang!!
cuma tuntuik ilmu tinggi2 nyo ndak juo ado guno!!
28 Mei 2011 at 1:42 pm
mantaplah tu,klau omoh blajou cakap kampou,,,mcm tu hrsnyo oghang,baghu bs mmbezokn sesuatu.jgn asal klaim.budayo kampou ko dakkn losap di tolan zaman de,silo anda blajou juo,,,
Klau soal SDA yg melimpah itu sdh anugerah daghi ALLAH buat nogoghi Melayu Lancang Kuning ini.dn km dak ponah bangga dgn itu.tlng di koreksi tulisan anda di atas,,,,,
Mf ye ngah sutan,,,,,,,,
28 Mei 2011 at 7:13 pm
Deyen ndak mangklaim itu budayo ocu samo jo minang..Tapi ahli2 antropolog, etnologi, sejarah, sosiologi se Indonesia (kecuali prov. Riau) manganalisa Urang kampar,minang,kuantan du ciek induek e..
Tulisan ambo ndak do ngecek angku “bangga” jo SDA yo, tapi kalau “mimpi” yo ado..
28 Mei 2011 at 2:55 pm
SRI BINTAN MENYELURUH KE PAYUNG SEKAKI
ROKAN,KAMPAR BERGEMA HINGGA INDRAGIRI
DARI HULU KUANTAN HINGGA HILIR NATUNA
TERBENTANG RIAU GEGAP GEMPITA.
SYAIR MELAYU :
LURUS ADAT SAMBUNG LEMBAGA
MELEBAR LUAS RANAH SAMUDERA
UKURAN NEGERI SELATAN DAN UTARA
RANAH KUANTAN HINGGA NATUNA.
PETAPAH NIAN RAYANYA SUKU
TIMUR DAN BARAT HARKAT BERSATU
JAZIRAH MEMANJANG DARI KUNTU
HINGGA KE SIAK BERSUSUN MUTU.
29 Mei 2011 at 1:38 pm
ongah sutan,,,, klau ongah nak tontu budayo kampar,cubolh ongah datang ke kampong2 di kampar jgn menganalisa daghi pndngn luar dulu ngah,,, !
kampar tu ado sblm pgr ryng exsist,dan prlu ongah catat,pnddk asli kab.kampar adalah suku domo,,,sungai kampar milik oghang domo,candi muara takus harta pusaka oghang domo,sdngkn suku melayu,mereka di percayai berasal daghi johor semaso kerajaan pekan tua kampar exsist.suku domo dn suku melayu keduanya inilh suku yg terbanyk di tiap kampung di kab.kampar.sdngkn suku chaniago,peliang,petopang berasal dr minang kabau,tp krn sdh berbaur dgn masyarakat tempatan skrg sdh mnjd satu kesatuan.mrk ini pun tak bnyk dlm kampong2 di kampar,plg2 ada 6 rmh. bgt jg dgn suku mendailing mgkn mrk b,asal dr tapanuli,ini pun mrk tak bnyk.
Di kampung saya,suku chaniago dgn suku piliang,mrk tak blh nikah.wlau pun pny datok berbeda.kt mrk,mrk bersaudara dn satu asal.
Oke,,,klau ongah nak lbh jls lg,cubolah ke kampar yo,,,,,,,
Mf,,,,,,,,,,
30 Mei 2011 at 6:10 pm
suku melayu berasal dari dharmasraya, bukan dari johor. Di Sumatera Barat juga ada suku Domo, terutama di 50 Kota
26 Agustus 2011 at 12:47 pm
Itu benar, suku melayu itu dari hulu sungai batanghari pertama kali dikenal sejarah abad 6-7 masehi, sebutan untuk orang pegunungan (malay) yang berniaga di sepanjang sungai di hulu batang hari..
Seluruh suku yang disebut di sana, ada di Minangkabau.. tapi kalau sudah diperbodoh oleh pemerintah sendiri ya apa boleh buat, sudahlah diperbodoh, tidak mau pula belajar dan berpikiran sempit lagi.
Saya paham bahwa orang2 tua anda dahulu sengaja mengaburkan identitas ini karena pertimbangan bahwa jika tetap mengaku orang minangkabau akan ditinggalkan oleh orang melayu RIau. Itulah alasannya kenapa disamarkan, saya terima ini sebagai strategi politik.
Catat seluruh produk budaya orang Ocu, dan Kuantan, kemudian bawa ke minangkabau (sumatera barat) bandingkan sendiri, nama suku, nama gala, nama negeri, syarat pendirian negeri 4 suku, utama (sepertinya suku Domo adalah suku pertama yang menempati Kampar). .
Di negeri Minangkabau juga demikian, jika suku yang pertama menempati daerah itu Koto, maka yang lain harus hormat dan mengikuti permainan suku koto secara adat. Suku Koto akan punya semacam hak “veto” di dalam rapat adat. Jika suku koto tidak hadir, maka rapat tidak bisa dilakukan.
Tapi percayalah orang Melayu Riau TIDAK AKAN PERNAH memandang anda bagian dari mereka, kecuali basa basi belaka. Budaya Anda BEDA dengan mereka. Budaya matrilinial yang anda miliki lebih TInggi kelasnya dari budaya mereka, itu fakta, sistem nagari memiliki tatanan sebuah negara dan kompleks dan merupakan model negara mini. !
Sebaiknya ada BIKIN PROPINSI SENDIRI propinsi sendiri yang masih satu rumpun budaya dengan Anda (Kampar, sebagian Rokan dan Kuantan). Saya juga tidak pernah sarankan Anda harus gabung ke Propinsi Sumbar, karena terlalu luas, dan tidak perlu (buat apa pula ?). Itu AKAN LEBIH BAIK buat anda karena di bawah melayu Riau hanya akan memperpanjang pembodohan atas diri anda sendiri, identitas dan jatidiri, serta memperburuk SDM anda.. Dengan propinsi sendiri Anda tetap punya jati diri sendiri tanpa harus diperbodoh oleh melayu Riau (bukan saudara anda) dan Anda pasti akan hidup lebih baik. Percayalah dan berbuatlah sebelum terlambat, jika SDA anda sudah habis, anda hanya tinggal kerabang telur belaka.
30 Mei 2011 at 6:17 pm
Minangkabau adalah melayu yang sesungguhnya, jika ingin belajar kebudayaan Melayu, pergilah ke Minangkabau, karena Minangkabau adalah Truly Malay, Melayu yang sesungguhnya. Semua orang Melayu di dunia nenek moyangnya berasal dari Minangkabau. Jika Kampar tidak mau mengaku berasal dari minangkabau, berarti mereka bukan Melayu.
Etnis Melayu yg lain, seperti Melayu Jambi, Melayu Bangka, Melayu Bengkulu, Melayu Belitung, Rejang, Lebong, Kerinci, Pesisir Barat, dll di dalam folklor mereka menyatakan berasal atau keturunan dari orang Minangkabau. bahkan Cut Nyak Dien dan Teuku Umar, pahlawan dari Aceh, pun adalah keturunan orang2 Minangkabau.
31 Mei 2011 at 7:15 am
klau mmg minang kabau anda, melayu sesungguhnya,knp hr ini orang minang tak mengakui dr mrk melayu ? Munafik ……. !
anda inilah orang yg terlena dgn sejarah minangkabau….
Mmg minang tu melayu,cuma orang minang tu aja yg tak mengakuinya
31 Mei 2011 at 10:21 am
mmg banyak orang minang hari ini yg tidak tahu bahwa mereka adalah orang melayu. Seandainya tahu pun banyak yg tidak mau mengakuinya. Kenapa?
Karena orang minang merasa kebudayaan dan peradaban minangkabau jauh lebih tinggi dibandingkan kebudayaan dan peradaban melayu yg lain, seperti melayu riau, melayu jambi, bengkulu, palembang, dll. hal ini sudah terbukti sejak lama, dan tidak perlu diperdebatkan. Ditambah lagi karena adanya pernyataan2 dari orang Barat yang mengatakan bahwa Melayu itu bodoh, melayu pemalas, dan lain2 yg lebih banyak negatifnya daripada positifnya, shg orang minang sejak abad ke-19 lebih sering menyatakan diri mereka sbg orang minangkabau saja bukan sbg melayu minangkabau, berbeda halnya dg orang Riau, Jambi, Palembang, Deli, bengkulu, dll, yg sampai hari ini masih tetap menyebut diri mereka sbg Melayu Riau, melayu jambi, Melayu Palembang, Melayu Deli, dan Melayu Bengkulu.
Saya bicara bukan asal bicara, tapi melalui penelitian selama bertahun2, dan saya juga sudah menghadiri beberapa seminar di malaysia yg kesimpulan dari pakar2 di malaysia pun menyatakan bahwa induk dari semua etnis Melayu di Asia Tenggara adalah etnis Minangkabau.
Saya tahu bahwa orang Riau pasti tidak akan rela dan menolak mentah2 hasil seminar tsb, karena orang Riau sering menyatakan bahwa merekalah pusat dunia melayu. Tapi tahukah anda? dimanakah letak kerajaan melayu? Jawabannya adalah di Dharmasraya, Sumatera barat, di pinggir sungai batanghari. Pada masa pemerintah Adityawarman, pusat kerajaan kemudian dipindahkan ke Pagaruyung untuk menghindari serangan dari Majapahit. Ekspedisi Pamalayu yg pernah dilakukan oleh Kerajaan Singasari adalah terhadap kerajaan Melayu Dharmasraya yg kemudian membawa dua orang Putri Melayu yaitu dara Petak dan dara Jingga. Putri Melayu disini maksudnya tentu saja dari Dharmasraya atau Minangkabau.
Siapakah raja kerajaan Melayu yg terbesar, jawabannya adalah Adityawarman, yg sebenarnya juga adalah raja kerajaan pagaruyung. Sampai hari ini belum ditemukan data bahwa apakah ada yg namanya Kerajaan Minangkabau. Yg ada adalah kerajaan pagaruyung yg merupakan kelanjutan dari kerajaan Melayu.
saya bukan orang yg terlena dg sejarah Minangkabau lama, saya mengeluarkan statement setelah melakukan penelitian selama bertahun2, disamping sebagai sejarawan, saya juga adalah sosiolog lulusan IPB (sosiologi pedesaan), dan saya sudah melakukan penelitian di desa2 yg ada di kampar. oleh karena itu, saya mengerti betul karakter masy kampar dan Riau pada umumnya.
31 Mei 2011 at 2:27 pm
Tp prl ulong witrianto catat bhw oghang barat bilang melayu pemalas,perajuk.kato itu di sematkn semaso belando dn inggris mnjjh,oghang melayu tak mau mnjd antek mrk,pnjila mrk dll.sjk itu oghang minang tak mengakui dighi mrk melayu,,,apo itu nmnyo pnya kbsrn budayo,apo itu nmny berwarwah ?
Jgn anda terpesona dgn kbsrn suku anda,skrg bkn zaman sumatera tengah,
Nilah oghang minang,sikit2 pamer titel dn pndidikan,,,,
Saran saya baco bakaba /tambo minang dn baco jg sulalat as-tsalatsin, bndngkn,,,
Dgn bakaba yg tak jelas tu
31 Mei 2011 at 2:31 pm
Tp prl ulong witrianto catat bhw oghang barat bilang melayu pemalas,perajuk.kato itu di sematkn semaso belando dn inggris mnjjh,oghang melayu tak mau mnjd antek mrk,pnjila mrk dll.sjk itu oghang minang tak mengakui dighi mrk melayu,,,apo itu nmnyo pnya kbsrn budayo,apo itu nmny berwarwah ?
tekughong nak di luar terimpit nak di atas,,,camtu penilai km di riau tu trhdp oghang minang skrg,,
Jgn anda terpesona dgn kbsrn suku anda,skrg bkn zaman sumatera tengah,
Nilah oghang minang,sikit2 pamer titel dn pndidikan,,,,
Saran saya baco bakaba /tambo minang dn baco jg sulalat as-tsalatsin, bndngkn,,,
Dgn bakaba yg tak jelas tu
31 Mei 2011 at 9:48 pm
maaf, saya tidak mau melayani pernyataan yg hanya didasari oleh emosi dan perasaan saja, bukan dg hasil penelitian ilmiah. Saya tidak pernah bicara masalah tambo, buat saya itu tidak begitu penting, dalam penelitian pun saya tidak menggunakan tambo, jadi saya tidak perlu membaca sulatat as-tsalatsin. dari awal saya sudah katakan banyak juga sifat2 yg tidak baik yg ada pada diri orang minangkabau. Sbg peneliti kami tidak hanya mengungkapkan hal yg baik2 saja, tapi juga hal2 yg bersifat negatif. Tidak sama dg dunia politik.
Buat saya suku mana yg lebih besar atau sebagainya tidak penting buat saya> saya tidak punya urusan dg hal2 tsb. Saya hanya menyampaikan apa2 hasil penelitian saya. Kewajiban saya adalah menyampaikan hasil penelitian karena saya sudah dibiayai oleh pemerintah (DIKTI) ratusan juta rupiah dan juga oleh pemerintah jepang yang mendanainya karena mereka bertanggung jawab dg PLTA Kotopanjang.
Anda salah besar jika anda menganggap saya terpesona dg kebesaran suku Minangkabau di masa lalu. Buat saya itu hal yg sangat tidak penting sama sekali. Hanya orang2 bodoh yg terlena dg kebesaran di masa lalu. Yg paling penting adalah hari ini dan hari mendatang.
Kenapa saya perlu menyebutkan titel dan pekerjaan saya adalah dg tujuan supaya anda tidak menganggap saya hanya menjual pepesan kosong. Anda jangan menyamakan saya dg orang2 Minang lainnya yg ikut berkomentar di sini, karena mungkin sebagian besar di antara mereka bicara hanya berdasarkan emosi dan dongeng2 belaka.
saya ikut berkomentar di sini adalah karena diminta dan juga karena saya saat ini pun masih sedang melakukan penelitian (saya dikontrak 3 th, dan sekarang baru th kedua). Hasil penelitiannya tentu saja tidak akan saya laporkan atau berikan ke pemerintah Riau, karena mereka pasti akan menolak mentah2 hasil penelitian saya. Hasil penelitian saya adalah untuk DIKTI. Sebelumnya saya dibayar oleh Pemerintah Jepang dan hasil penelitiannya juga saya laporkan ke pemerintah Jepang.
2 Juni 2011 at 6:17 am
Sanak Awang@ Gimana sanak, dapat penjelasan komprehensif dari cadiak pandai nya (pakarnya)kan (komentar dari Pak Witrianto)?! Penjelasan ini ilmiah sanak Awang jadi harus dibalas dengan komen ilmiah juga. Kalau sanak bertanya dengan orang2 kampung lagi maka yang didapat hanyalah cerita dari mulut ke mulut yang dikenal dengan istilah tambo/bakaba dimana tingkat keauthentikannya kecil. Seharusnya paparan ilmiah dari orang luar Ocu ini jadi masukan buat sanak Awang agar tidak menjadi katak dalam tempurung.
Pak Witrianto@ Terima kasih atas penjelasannya Pak..Ini ilmu/informasi yang berharga untuk kita semua.
2 Juni 2011 at 9:17 am
hahahaha,,,,,,,, itukn mnrt pkr2 dr minang kerbau,tdk dngn budayawan melayu.orang sumatra berasal dr minang ?lupokoh anda dgn pljrn sklh SD anda dl,dr mn orang sumatera berasal ? Minang tu bnyk bengaknyo,mknyo pgr ruyung srg tebakar,ingat jgn smpai sumbar tu hncr di tmph azab ALLAH.
Sutan,,,,,,, ht2 anda cakap, katak dlm tempughung !
.
3 Juni 2011 at 12:18 pm
Awang@
1. Sebagaimana komentar dari Pak Witrianto, hasil penelitian2 yang dilakukan beliau tidak hanya diketahui oleh orang Minang saja, tapi telah didiskusikan dan diakui oleh peneliti2 lainnya termasuk dari Malaysia. Baca lagi semua komentar Pak Wit di blog ini!
2. Ingat, Pak Wit bilang apa yang beliau tulis bukanlah “pepesan kosong” atau tambo, dsb melainkan penelitian. Beliau menulis ini dengan pertaruhan title2 yang telah beliau dapatkan, jadi impossible kalau pak Wit hanya berdongeng sepeti anda (orang pandai berdongeng memang tidak butuh latar pendidikan yang tinggi).
3. Gimana Cik Awang, tak punya jawaban kah? Sehingga anda sekali lagi mendongeng dan mengejek orang Minang? Saran saya,,kalo kesal jangan ungkapkan di media ini, ntar ketahuan kualitas anda hanya sampai mana, OK?!
4. Sekali lagi saya sarankan, buka cakrawala pengetahuan anda, jangan pandang negatif sesuatu yang baru untuk anda walaupun itu adalah kebenaran yang pahit, biar tidak menjadi katak dalam tempurung seperti sekarang ini!!
6 Januari 2012 at 1:53 am
di negri sembilan itu ada sebutan/panggilan “ocu”
silakan download lagu asli negri sembilan dengan judul “apo kono e jang”
saya tidak ingin berbantahan disini, maf ya sutan. thank’ atas kesabaran anda dengan coment2 saudara2 ambo,…
ada pepatah saatrawan melayu asal siak ” kerasnya orang kampar, makannya orang kuantan dan pilin kayuhnya orang minang” (abad 14).
memang mental orang kampar, sedikit keras. ( liat sejaraah sriwijaya- dapuntahyang adalah raja pertama kerajaan itu, dan bliau (dapunta) berasal dari minanga tamwa (muara kampar-dekat candi muara takus) atau sekarang dikenal dengan muara takus. mereka ( pasukan tentara sriwijaya) berangkat dari muara takus sekarang.
muara takus sekarang meliputi kampar, payakumbuh dan padang sidempuan (sumut) makanya ketika orang kampar dan minang bila berbahasa indonesia terkadang terdengar seperti orang batak.
# saya kuliah di sastra melayu (unilak)
8 Juni 2011 at 3:43 am
Para tetua dikampar menganggap orang kampar dari melayu malaysia.. darimana faktanya?
APAKAH CUKUPSELAMA 2 TAHUN Sultan Mahmud Syah mengembangkan budaya melayu malaysia
dikampar? sedangkan budaya dikampar sebelum 1500an sudah melekat dengan budaya Kerajaan
MALAYU di sumbar. Bukti kita bisa lihat dari adat sehari-hari dikampung kampar seperti
rumah adat,perkawinan adanya bundo kanduang dan satu yg tak bisa dibantah MATRILINEAL
dikampar (garis ibu) yang didunia hanya ada 2 di india dan sumbar. Dan coba cek tahun
melayu malaysia masuk kampar abad ke 15 1526-1528 (cuma 2 tahun) dengan kerajaan MALAYU 5-7-13-15 Masehi,ratusan tahun bedanya dari 7 ke 1526.
Budaya minang mengakar dikampar sebelum kedatangan Sultan Mahmud Syah malaysia.
Sebenarnya bukan ekspansi minang kekampar seperti persepsi tetua kampar selama ini. tidak ada penjajahan terhadap kampar yang ada kampar itu memang orang-orang minang bahagian kerajaan MALAYU. Masalah yang bersuku melayu dikampar jangan terlalu memvonis berasal dari melayu malaysia kenapa disumbar juga ada suku asli melayu yaitu suku MALAYU. Sedangkan suku MALAYU sendiri sub suku dari 2 suku besar minag piliang dan chaniago. Bisa sangat mungkin sekali suku melayu dikampar itu dari suku malayu disumbar mengingat rentang waktu ratusan
tahun bisa berkembang jumlahnya dan sangat tidak mungkin 2 tahun Raja malaka bisa
melahirkan suku melayu sebanyak itu dikampar. Anehnya sekarang kalau menyebut melayu kenapa langsung merujuk ke malaysia atau riau? apakah kita tak bisa membaca sejarah, prasasti, bahasa dan budaya yang melekat ditinggalkan??
saudara kami dikampar anda berhak mengkalim bagian dari melayu riau itu hak anda namun
walau bagaimanapun data fakta tak bisa dipungkiri bahwasanya minang dan kampar bersaudara sesuku dan seibu. Tidak ada klaim wilayah dan budaya disini cukuplah itu buat mereka diatas sana yang diuntungkan dengan SDA kampar yang melimpah ruah.
8 Juni 2011 at 4:05 am
Mengkorek seluk beluk sebenarnya melayu kampar.
Jika anda berkiblat melayu itu berasal dari melayu riau atau malaysia sungguh sangat tidak adil. Melayu berasal dari Kerajaan MALAYU atau moloyu di sungai batang hari perbatasan SUMBAR dan JAMBI (pelajari dulu sejarah dulu baru anda bisa paham jangan baca buku sejarah versi ORLA dan ORBA). disinilah nenek moyang bangsa melayu membentuk peradaban. darimana mereka berasal? Mnurut penelitian jauh sebelum masehi atau awal masehi rombongan ini datang dari yunan (diperkirakan birma skrang) masuk ke nusantara melewati sungai kampar mencari gunung untuk menetap dan bercocok tanam.
kenapa dikawasan gunung? ketika anda menggali semua
literatur sejarah ini yg bisa anda temukan.
1. Tanah pergunungan subur, untuk bercocok tanam.
2. Dari animisme kepercayaan lokal, hindu, budha mempercayai gunung tempat bersemayamnya para dewa. Mereka ingin dekat dengan dewa2nya. disini blum ada islam. Dan Kawasan gunung hanya berada di sekitar sumbar dan jambi skrang (berkaitan dgn kerajaan malayu ini)
3. Sangat Tepat dengan semua catatan sejarah india,cina bahwa gunung tempat yg dimuliakan oleh penganut mayoritas bangsa-bangsa terdahulu..
Dipegunungan ini memulai peradaban makin lama makin besar lalu mendirikan kerajaan moloyu atau malayu bukan melayu di antara hulu dan hilir sungai batang hari tepatnya perbatasan sumbar dan jambi sekarang. Dari bukti dan keterangan yang disimpulkan dari prasasti dan berita dari Cina, keberadaan kerajaan yang mengalami naik turun ini dapat di diketahui dimulai pada abad ke-5-7 yang berpusat di MINANGA, pada abad ke-13 yang berpusat di Dharmasraya dan diawal abad ke 15 berpusat di Suruaso atau Pagaruyung.
Sekarang kita bedah satu-satu biar mudah dipahami.
A.Dalam kitab Hindu Purana pada zaman Gautama Buddha terdapat istilah Malaya dvipa yang bermaksud tanah yang dikelilingi air.Hanya ada dua tempat yang mirip dengan data sejarah ini yakni Perbatasan sumbar jambi di sungai batang hari antara hulu hilir dan Minangkamwa diapit oleh dua sungai kampar. kerajaan Malayu tersebut terletak diantara sungai kampar kiri dan kanan atau wilayah sumatra barat sekarang. walaupun ada 2 tafsiran yang berbeda namun intinya tetap saja kerajaan ini mengacu kesumbar bukan ke riau, palembang (hanya 1 sungai musi tmpat bernaungya sriwijaya), malaysia atau lainnya.
Lalu pasti anda bertanya negeri dikelilingi air bisa saja itu malaysia. Sangat tidak tepat kalau malayu berasal dari malaysia karena perdaban di malaysia dibawa oleh raja sriwijaya Parameswara yang lari dari serangan majapahit ke tumasik (Singapura sekarang) dan kemudian pindah ke wilayah Semenanjung Malaka mendirikan kerajaan Malaka. Sedangkan Kerajaan malayu yang berpusat di Sumbar sudah eksis sebelum adanya sriwijaya palembang. walaupun akhirnya kerajaan malayu ditaklukan sriwijaya tahun 685 menurut catatan I-tsing. Namun kerajaan malayu tidak hancur, kerajaanya berpindah ke dhamasraya (sawahlunto sumbar skrang).
coba anda Baca buku Hasan Djafar “Masa Akhir Majapahit”. Majapahit disegani kerajaan sekitar karena mampu menjaga keamanan dan kestabilisan regional dan memiliki pengaruh luas di Nusantara. Majapahit juga mempunyai kerjasama dengan Kerajaan Malayu yang DIPIMPIN oleh Raja Adityawarman yang beribukota di Dharmasraya (Sumatra Barat). Hasan Djafar adalah seorang arkeolog, ahli epigrafi dan sejarah kuno Indonesia,mengusai bahasa sanskerta dan jawa kuna. Berarti setelah ditaklukan sriwijaya tahun 685 kerajaan MALAYu dibatang hari pindah dan eksis dhamasraya sumbar pada abad ke 13 (kerjaan MALAYU jilid 2)
MALAYU sumbar beda dengan SRIWIJAYA palembang artinya jika nenek moyang orang malaysia dari palembang masih bisa dimaklumi walaupun masih dipertentangkan karna sebelum raja sriwijaya mendirikan malaka sudah ada orang MALAYU disana yang berasal dari kerajaan Malayu.
Pertanyaanya sekarang. apakah nenek moyang orang KAMPAR dari MALAYSIA?
tidak tepat kenapa?
1. Secara geografis kampar dahulunya masuk kedaerah kawasan kerajaan MALAYU yg berpusat disumbar atau jambi juga setlah di dhamasraya (Raja adityawarman dalam banyak prasasti menyebutkan dia penguasa swarnadwipa/sumatra berarti termasuk kampar. bisa anda cek sendiri prasastinya dan bukan omong kosong karena sejarah harus punya bukti)
2. Ketika Malaka jatuh 1511 raja malaka Sultan Mahmud Syah melarikan diri diri kekampar 1526 sebelumnya sempat ke bintan. 2 TAHUN dikampar Sultan Mahmud Syah wafat 1528. Sangat singkat pengaruh melayu malaysia dikampar.
Para tetua dikampar menganggap orang kampar dari melayu malaysia.. darimana faktanya?
APAKAH CUKUPSELAMA 2 TAHUN Sultan Mahmud Syah mengembangkan budaya melayu malaysia dikampar? sedangkan budaya dikampar sebelum 1500an sudah melekat dengan budaya Kerajaan MALAYU di sumbar. Bukti kita bisa lihat dari adat sehari-hari dikampung kampar seperti rumah adat,perkawinan adanya bundo kanduang dan satu yg tak bisa dibantah MATRILINEAL dikampar (garis ibu) yang didunia hanya ada 2 di india dan sumbar. Dan coba cek tahun melayu malaysia masuk kampar abad ke 15 di 1526-1528 (cuma 2 tahun) dengan kerajaan MALAYU 5-7-13-15 Masehi,ratusan tahun bedanya dari 7 ke 1526.
Budaya minang mengakar dikampar sebelum kedatangan Sultan Mahmud Syah malaysia. Sebenarnya bukan ekspansi minang kekampar seperti persepsi tetua kampar selama ini. tidak ada penjajahan terhadap kampar yang ada kampar itu memang orang-orang minang bahagian kerajaan MALAYU.
Masalah yang bersuku melayu dikampar jangan terlalu memvonis berasal dari melayu malaysia kenapa disumbar juga ada suku asli melayu yaitu suku MALAYU. Sedangkan suku MALAYU sendiri sub suku dari 2 suku besar minang yaitu piliang dan chaniago. Bisa sangat mungkin sekali suku melayu dikampar itu dari suku malayu disumbar mengingat rentang waktu ratusan tahun bisa berkembang jumlahnya dan sangat tidak mungkin 2 tahun Raja malaka bisa melahirkan suku melayu sebanyak itu dikampar.
Anehnya sekarang kalau menyebut melayu kenapa langsung merujuk ke malaysia atau riau? apakah kita tak bisa membaca sejarah, prasasti, bahasa dan budaya yang melekat ditinggalkan??
saudara kami dikampar anda berhak mengkalim bagian dari melayu riau itu hak anda namun walau bagaimanapun data fakta tak bisa dipungkiri bahwasanya minang dan kampar bersaudara sesuku dan seibu. Tidak ada klaim wilayah dan budaya disini cukuplah itu buat mereka diatas sana yang diuntungkan dengan SDA kampar yang melimpah ruah.
piss dari cuden (peranakan kampar dan minang)
8 Juni 2011 at 3:47 pm
Tarimo kasi jo penjelasannyo Cuden..Valuable explanation for Ocu people..
25 November 2011 at 1:52 am
oy diwikipedia menyebutkan bhwa asal usul minangkabau itu memang sllu dikaitkan dengan cerita menang kerbau lho tp org minang dlm diskusi ini bilang menang kerbau itu tahayul ini link nya http://id.wikipedia.org/wiki/Orang_Minang yg jadi pertanyaan nya sebnr nya yg manakah yg tahayul ini minanga tamwan atau menang kerbau ya…?
8 Juni 2011 at 4:56 pm
Cuden, terimakasih banyak atas data2 dan keterangan yg anda berikan, semoga ini dapat bermanfaat dan merupakan pencerahan bagi kita semua.
10 Juni 2011 at 4:42 am
Ya Masalah ini sebenarnya sudah sangat jelas dari dahulunya. Hanya saja banyak dari kita yang tidak mau menggali peninggalan, prasasti (yang tak bisa bohong) dan budaya itu sendiri. selalu bertanya pada orang tua-tua kampung yang kadang maaf ada yg buta huruf, tidak cerdas dan suka memandai-mandai padahal tidak tahu sama sekali atau cuma sedikit tentang sejarah akhirnya generasi dibawahnya jadi bingung dan rancu dengan asalnya sendiri.
Untuk mendapatkan fakta sejarah tak cukup dengan hanya mendengar lisan seorang tua berumur 70 thunan, pandai besi tua, juru kunci makam tua dsb. Seperti halnya mengatakan muara takus lebih tua dari kerajaan pagaruyung. inikan suatu hal aneh yang tak patut dibanggakan. Kenapa? BELUM ADA penelitian khusus dari kampar dan riau sendiri tentang asal-usul candi muara takus entah karna tak serius atau karna 1 hal yang tak bisa dibantahkan sama sekali yaitu luasnya pengaruh kerajaan malayu sumbar ratusan tahun hingga ke zaman pagaruyung yang melahirkan beberapa candi di sumbar antara lain candi Pulau Sawah, Padang Roco, dan Candi Pulau Sawah II yang sangat mirip sekali dengan karakter candi muara takus. malah diperkirakan candi Pulau Sawah, Padang Roco, dan Candi Pulau Sawah II lebih tua dari muara takus
dikarenakan bentuknya sudah tidak utuh lagi. Hebatnya di jambi juga ditemukan candi yang berkarakter sama dengan sumbar dan kampar yaitu candi muaro jambi.
Mari kita bahas penyebab/faktor pembangunan sebuah candi pada umumnya dan khususnya disumatera:
1. Kebutuhan untuk beribadah:
Aliran sungai di Sumatera pada masa lampau merupakan jalur transportasi untuk perdagangan. Sementara menunggu waktu berlayar mereka menetap dan membangun candi untuk beribadah.
2. Faktor kekuasaan kerajaan juga berpengaruh dalam pembangunan suatu candi. Kerajaan besar selalu meningalkan tanda yang menggambarkan ciri khas suatu kerajaan tersebut. Tinggalan tersebut dapat berupa PRASASTI maupun CANDI.
Oke sekarng bedakan candi yang ada disumatra dan jawa:
Candi yg ada di SUMATERA/swarnadwipa berbahan tanah liat, tanah pasir, dan batu bata sementara candi yang ada di Jawa terbuat dari batu andesit. tidak ada hubungan peradaban candi jawa ke sumatera. yang ada hanya hubungan erat antara sesama candi yang ada disumatera.
Sejauh ini sudah tampak jelas darimana semua candi sumatera ini berasal hanya satu jawabannya yakni dari Kerajaan yg sama yaitu MALAYU abad 5-7, dhamasrya abad 13, pagaruyung abad 15 yang semua itu berasal dari pinang kabu (tanah asal)/minanga/minangkamva/minangkabwa nenek moyangnya orang kampar dan minang sekarang.
Sekali lagi cek semua literatur, peninggalan prasasti, budaya yg melekat jangan buku sejarah karangan ORBA yang membahas asal usul kerajaan MALAYU kurang lebih dua paragraf dan kerajaan-kerajaan dikampar seperti gunung sahilan ( tokoh adat Gunung Sahilan, berpendapat Kerajaan ini berdiri tahun 1901) dan lain-lain nyaris luput dari pantauan ORLA-ORBA. Pada masa ORLA dan ORBA memang masa-masa buruk untuk membahas dan menggali Kerajaan- kerajan sumatra/swarnadwipa.
Sekarang apakah sumbar, jambi dan kampar memperebutkan candi muara takus ini? wualah.. tidak pernah terbesit sama sekali dihati orang sumbar, jambi dan kampar. camkan itu saudara-saudarku. Jangan dipilntir diskusi diatas dengan pernyataan-pernyataan orang-orang dangkal tak bertanggung jawab yg bisa posting tak jelas terus kabur atau senang jika rusuh. Diskusi bukan asal cakap kosong, sindiran jadul, gertak-gertak preman, mencela karena tak bisa atau apalah yang sungguh tidak pantas. Keluarkan saja bukti itu saja cukup biar saja orang lain yg menilai. JIka tak bisa memberikan bukti ya sudahlah jangan
dipaksakan. Menerima itu hak tidak menerima juga hak sungguh tak ada paksaan.
salam hormat buat saudara sekampar dan seminang disini.
piss dari cuden
10 Juni 2011 at 10:50 pm
yups….
tpi apa itu MINANGKABAU?? apakah Kobau monang?, atau Kobau manongah?
memang kmi (ocu) adalah orang MINANG…. tpikami takkan pernh mengakui dari “minangkabau” camkan itu..(karena itulh kmi tk mengakui minang soalnya kmi tau kalu kmi mnybut diri kmi itu minang… jdi anda pasti tau ap jwbnnya…
yups pasti anda mengira minang itu adlah minangkabau) padahal Minang itu bukan berarti Menang!! sangat tidak nymbung!! jlas2 minang berasal dari kata melayu yaitu Minanga..
wlaupun anda mnjelaskan pnjang lebar….. kmi tk kan terpengaruh!!
ninik moyang kmi tetaplah brasl dri KAMPAR bukn MINANGKABAU…..
Ocu nan io tio nyo…
oke Ocuden makasih yo..
10 Juni 2011 at 11:17 pm
o iyo kmi ughang melayu…tpi bukan melayu dai melayu
tpi dek salah pham seorng peneliti.. melayu kecen pulo melayu e”.. padahal kmi ko ughang melayu OCU(melayu daghek)… condo dijambi Melayu jambi…. jdi kci nak lobio jole lai.. dtnglah kekmpar…. kolien sadonyo memanglh slh pemahaman ke ughang Ocu… sedngkan adat ughang Ocu jo Melayu melayu jie jauo tempang, dai segi perkawinan. toui ninikmamak melayu melayu manolo daghi kampar!! sdngkn kmi jie ndak tontu asal melayu melayu du daghi mano….. ancak itu nan sanank talitio.. jaan wang ocu lai….
ocu berasal daghi Minang(berasal dri kata melayu minang atau manongah ba nyo uaghang ocu)… yups intisarinya kmi MINANGKAMPAR.. jdi ndak ado sangkuik pauik jo minangkabau.. sdngkn kmi jie ndak tontu sejrh minangkabu du… ado-ado jie minang batanduok.. sungguh ceme’eh bagi kami…
11 Juni 2011 at 2:04 am
Diatas sudah kita bahas jangan terpengaruh dari cerita orang-orang tua dahulu berarti termasuk dari orang tua minang juga orang tua kampar saudara rudin. Ikuti dan dalami prasati budaya yg melekat yang menjadi bukti keberadaan Kerajaan ASAL kampar-minang itu dimana??
sekali lagi tidak bisa dari cerita (lisan) turun temurun fakta sejarah harus berupa prasasti salah satunya. sedangkan Prasasti terbanyak disumatera adalah prasastinya ADITYARMAN. silahkan saudara pedalami lagi kalau data ini salah tolong beri buktinya.
Sekarang darimanakah peradaban kampar? Pekantua kah? tidak karena termasuk kerajaan baru. Gunung sahilankah? tidak karena rajanya dari pagaruyung dan ingat kerajaan gunung sahilan termasuk kerajaan yg paling terakhir dikampar yang meminta raja minang. so BAGAIMANA SEBELUMNYA keadaan kerajaan dikampar??
kita juga sudah bahas kok diatas. boleh terima atau tidak tapi tolong kasih bukti biar yang lain bisa menilai saudaraku rudin.
PIss dari cuden.
22 November 2011 at 9:38 pm
asslmlikum saudara n saudariku skalian seiman dan sekeyakinan, o y tuk smntara aku sengaja nyembunyiin identitasku apakah aku suku minag or ocu, skrg aku cuma pengen jadi pengenengah aja, soal nya aku paling suka debat untuk membuktikan kebenaran atas sesuatu, aku biasa nya juga sllu nonton debat atau diskusi antar agama dan idolaku nama nya zakir naik anda bisa liat dinternet siapa zakir naik, dari situ anda semua akan tau bagaimana adat berdebat atau berdiskusi atau sejenis nya lah, yang mana masing2 pihak boeh mengemukakan pendapat mereka masing2, dan masing2 pihak tidak boleh memaksasakan pihak lain untuk mengakui bahwa pendapat nya lah yg paling benar, kata ahmed deedat kalo kamu benar nyatakan bukti nya, jadi dalam debata ato diskusi berbeda pendapat itu wajar cuma yg sangat tidak wajar hanyalah memaksa pihak lain untuk mengakui kebearan pendapat kita, kembali kemasalah ocu dan minang, jujur saya tidak tahu bnyak tntang hal itu apalgi masalah itu banyak pula kontraversi, oleh krna saya kurang referensi ttg asal usul ocu dan minang izinkan lah saya mngulas sedikit dari komentar cuden pada nmor urut yg ke 55 yg mana pendapat nya ini dianggap agak sahih dr yg lain krna punya bukti sjrah n melalui peneltian, cuma disepanjang komentar cuden ini ada hal yg agak menarik menurut saya yaitu nenek moyang kita melayu ini berasal dari luar yaitu yunan n yg paling menarik lagi nenek moyang kita itu sempat melewati kmpar stelah melewati kmpar barulah mereka sampai kepersinggahan terakhir nya yaitu di perbatasan jambi dan sumbar(btg hari) yang kata nya diapit oleh 2 sungai kmpar yakni kmpar kiri dan kanan, kmbali kita keperjalanan yg dilalui oleh nenek moyang kita itu yaitu melalui kmpar, yg jadi pikiran sama saya disini ialah sangat mungkin rasa nya nenek moyang kita itu singgah dulu dikampar dan buat peradaban disana trus baru mereka melanjutkan perjalanan nya ke btg hari atau perbatasan sumbar dan jambi tersebut,dan sangat mungkin juga rasa nya ada beberapa golongan dari mereka yg menetap dikampar tersebut dan yg sebagian nya lagi baru melanjutkan perjalan nya ke batang hari yg merupakan tempat persinggahan nya yg terakhir, dan mereka hidup dan berkembang disana dan buat berbagai mcm kerajaan disana, dan setelah makmur hidup disana mereka enggan kembali ke kampar apalagi ke yunan krna udah merasa makmur disana, dan setelah mereka berkembang pesat disana (disumbar) dan setelah menjalani perkembangan dari hari berganti bulan dan bln berganti tahun hingga ke abad jatuh lah kelompok tadi mengatas nama kan kelompok nya minang kabau, kembali kita keasal usul minang dan ocu, dari mana asal org ocu… ya tntu dari yunan dan kalo ditanya lagi dari mna asal org minang… ya dari yunan juga, sbab dri yunan singgah dikampar dan yg lain ada yg mlnjutkan perjalan ke sumbar yg akhir nya bernama minang, jadi ocu bukan dari minang dan minang bukan dari ocu tapi minang dan ocu itu dari yunan, klo soal persamaan adat dan bahasa sangat wajar krna nenek moyang kita sama2 dari yunan, tp itu pendapat saya saja, mohon diperbaiki jika salah, krna yg lebih tau hanya org yg hidup pada masa itu dan alah azza wajalla, smoga ocu dan minang gak saling menyudutkan lagi satu sama lain, ingat yg membedakan kita cuma, yarfaillah illaziin aamanuu minqum wautul ilmi darojaat, wassalamulaikum ww
25 November 2011 at 3:36 am
o y kalo dipikir2 ada benar nya juga lho apa yg dibilang sipengenengah itu, coba kita pikir asal nenek moyang org melayu atau minanga itu sebelum ke sumbar dia melalui kmpar dulu kan, sehubungan itu dikmpar ada pula candi tua muara takus yang apabila kita kaitkan dengan sejarah kata minanga tamwan yakni yg diapit dua sungai pas kan,,,,setelah itu baru dia melanjutkan perjalanan sehingga sampai ke tempat terakhir nya yaitu sumbar, jadi gak perlu tanya lagi kenapa adat agak sama dang bahasa agak sama krna nenek moyang nya sama tp bukan brrti org kampar dari minang krna dia kan dari kampar dlu baru ke sumbar bukan dari sumbar ke kampar ya khan…?dan itu hal yg sudah lumrah kan org invasi kekuasaan dari tmpat pertama dia masuk trus bergerak kepedalaman hingga ke tujuan nya terakhir yg disini dibilang perjalanan terakhir nya sumbar ya khan,
11 Juni 2011 at 12:57 am
Nyang punye blog sembunyi…wkwkwk..
Tuh anak murid pada kelahi,, setelah guru kasi wacana tak jelas.
Ente nyang punye blog = Goblogggg. krn blog lu ajang disentigrasi bangsa. Tengahi ding.. Jangan asal lempar wacana.
11 Juni 2011 at 1:21 am
ocu memang ughang minang ..kata minang berasl dari kata melayu yaitu minangah atau manongah ba nyo ughang ocu..
asal-usul nama Minang, adalah pusat kerajaan Sri Perca (lebih dikenal dengan Sri Wijaya) yakni di Minanga Kanwa. Minanga Kanwa berawal dari bahasa sansekerta; Minanga bermakna ‘menengah’ dan Kanwa adalah ‘pertemuan dua sungai’. Kalau kita teliti, tempat Candi Muara Takus berdiri tepat di titik khatulistiwa dan berada di pertemuan dua Sungai, yakni Kampar dan Tapung Kanan. Seiring Waktu, rakyat dan pejabat Minanga Kanwa ada yg berhijrah ke Mudik (sebutan Sumbar oleh orang Kampar) dan disebut sebagai orang Minanga saja, tanpa Kanwa-nya. Akan halnya Kanwa, diduga menjadi Kampar.
maka intisari disebut dengan MINANGKAMPAR..
dan sekrng kemana kata minang??
yups… anda pasti tau jawabannya..
bermula dari cerita tahayul orng dari sebuah adu kerbau, minangkampar mnjadi minangkabau..sungguh… mmbwt orng kmpar kcewa.. dn untuk mnghilng rasa kekecewaan itu orang Ocu menghapu kata minang dari kmpar.. yg skrng tinggal nama KAMPAR….
jadi maka dari itu orng ocu itu tidak perna mengakui dirinya berdarah MINANGKABAU.
“JADI JNGNLAH KALIEN MENGKLAIM OCU ITU BAGIAN DARI MINANGKABAU!! SEHARUSNYA KALIEN YG HRUS SADAR DIRI DARI MANA MINANGKABAU ITU BERASAL!! saya ga” asal bercerita ini adalah cerita ilmiah…maka dari itu orng ocu cendrung menyebut orng melayu!! (melayu ocu) saya jelaskan lagi bukan melayu melayu.
jdi orng ocu cendrung kemelayu.. yaitu melayu Ocu(tau dikenal melayu darek)
bukan melayu melayu..
jadi para sejarwan generasi baru saya minta jngn keliru lgi terhadap budaya ocu..kenapa ocu tak mengakui ninikmoyngnya minangkabau.
11 Juni 2011 at 4:32 am
Coba jawab saudara rudin. jika orang kampar kecewa karna tidak adanya namanya lagi disitu kenapa belakangan MASIH meminta raja dari pagaruyung? padahal nama minangkabau masa itu sudah melekat karena mengingat kerajaan gunung sahilan termasuk baru diakhir ABAD 18.
Silahkan anda main ke kerajaan gunung sahilan terlebih dahulu.berkas dan data sejarahnya masih sangat utuh tidak ada kebohongan disitu. Kerajaan gunung sahilan meminta raja dari MInang karena dianggap minang saudara tua mereka dan kerajaan minang sudah sangat kuat mengenal demokrasi. Penulisan dan penelitian mengenai Kerajaan gunung sahilan sudah banyak termasuk Melayu malaysia mengakui sendiri tentang data Kerajaan gunung sahilan meminta raja Minang pagaruyung. Tolong jangan dirusak sejarah dengan cerita-cerita aneh yg tak ada bukti. Walaupun beberapa setelah raja dari gunung sahilan terakhir-terakhir memakai gelar melayu riau namun tetap saja sejarah kampar mencatat diawal krajaan gunung sahilan meminta raja dari pagaruyung diabad yg sudah mulai maju. Dan tidak ada ekspansi atau masalah dijaman dulu antara minang, kampar dengan melayu riau. INGATLAH sejarah melayu MENCATAT raja siak sri indrapura yaitu RAJA KECIL diasuh,digembleng dan dibesarkan sementara di PAGARUYUNG sumbar setelah dewasa akhirnya kembali merebut tahtanya di JOHOR tahun 1717. Lalu 1712 Abdul Jalil Rahmad Syah I (raja kecil) mendirikan KERAJAAN SIAK SRI INDRAPURA setelah terjadi kemelut di johor.
Ini bentuk persahabatan melayu riau dengan minang. Raja kecil sendiri yang membawa orang minang ke Riau (siak-pekanbaru) dimasa itu karena adanya keterkaitan yg sangat kuat. Jadi fakta orang-orang minang ini banyak diriau tidak pernah dipermaslahkan melayu riau mengingat JASA pagaruyung membesarkan raja kecil. Apalagi Pagaruyung sebelumnya pernah mendamaikan Kerajaan JOHOR dengan Kerajaan JAMBI tahun 1624 dikarenakan melayu riau sudah menganggap minang pagaruyung saudara tua mereka (silahkan GALI sejarah riau) begitu juga kampar masa dahulunya berhubungan baik dengan pagaruyung jadi jangan dirobah-robah. Tidak ada datanya menarik diri sentimentil seperti itu.
YANG ADA karena kampar sekarang secara teritorial indonesia masa kini masuk bagian dari RIAU ya tentulah mengikuti pemerintah yang baru yaitu MELAYU RIAU. Alasan ini jika saudara rudin utarakan dari awal pasti semua orang kampar-riau-minang SUAI karena sangat logis daripada merajuk pada minang terus bikin komunitas baru yaitu melayu ocu. Semua sejarahwan akan bingung jadinya saudara rudin dengan karangan sejarah anda seperti ini.
NAH sekarang bagi bangsa minang itu sendiri yg saya teliti, itu biasa saja mau dibesarkan dipagaruyung atau minta raja tidak sesuatu yg luar biasa. Cuma yg menjadi catatan SEJARAH sekali lagi jangan dirobah-robah saudara rudin kasihan generasi dikampar sekarang sebahagian sudah kehilangan identitas. tidak mengakui minang juga tidak mengakui melayu riau. Penelitian ini hanya membantu meneliti darimana asal bahasa ocu, budaya ocu. Jadi jngan dianggap ini sebuah KLAIM kepemikikan dll. TOLONG dibaca lagi tulisan saya baik-baik diatas (berguna juga bagi provokator yang tak bisa diskusi). Maaf saya TIDAK melayani lagi postingan diskusi yg tidak ilmiah dan asal-asalan yg jelas membuang waktu saya.
AKhirnya mari kita BEDAH INTI dari tulisan Saudara rudin diatas:
tolong catat, jawab dan jangan diganti pernyataanya:
1. Saudara rudin mengatakan MENGAKUI dari minang tapi karena kecewa dari sebab fakta yg tak jelas akhirnya kampar menarik diri dari bangsa nenek moyangnya yaitu minang. fakta darimana ini? ada prasasti atau bukti lainnya?
2. Mengakui bukan dari MELAYU melayu melainkan MELAYU OCU. Nah disini jadi catatan penting BAGI MELAYU RIAU BAHWA OCU bukan dari MELAYU RIAU kata saudara kita rudin.
3. Mengakui adat Melayu-melayu (saya pakai bahasa saudara rudin maksudnya melayu riau) Sangat BEDA ATAU TEMPANG dengan MELAYU OCU. Disini Saudara rudin TERAMAT JELAS Mengakui beda sekali budaya ocu dengan melayu riau.
4. Saudara rudin Mengatatakan “kmi jie ndak tontu asal melayu melayu du daghi mano” (maksudnya, Kami orang ocu tidak tahu asal MELAYU RIAU). Berarti SELAMA INI tidak pernah belajar dan meneliti darimana sejarah melayu itu sendiri. WAW! anehnya berani ikutan posting sejarah walau tidak tahu menahu tentang sejarah.
5. TOLONG beri data yang akurat seperti TAHUN biar kita semua disini JELAS diskusi sejarah bukan mengada-ada asal cerita.
6. Terakhir. Saudara rudin mengatakan, “Tidak asal bercerita (mengenai minang dari ocu) ini adalah cerita ilmiah” Pertanyaanya, CERITA ILMIAH SIAPA??
Namun walau bagaimanapun saya meminta maaf sekali lagi kepada saudara-saudara sekampar dan seminang. Sungguh tidak ada niat merusak hubungan kita selama ini. Saya TETAP mendukung,menghargai dan menjaga persatuan, ukhuwah islamiyah daripada yg lainnya, hanya membantu memberikan data mengingat disiplin ilmu yg saya geluti selama ini. Menerima dan tak menerima itu hak anda jadi jangan dilebih-lebihkan. Trims tuk semuanya.
Piss dari cuden.
12 Juni 2011 at 8:27 am
Rudin @:
Kerajaan Minang pertama berada di dharmasraya jauh sebelum sriwijaya lahir! Kerajaan melayu itu pindah ke pagaruyuong untuk menghindari serangan dari Jawa..
12 Juni 2011 at 8:30 am
Rudin @:
Satu lagi: Sriwijaya itu di Palembang bukan di Kampar! Sanak Rudin kalo ga punya bukti ilmiah yang benar jangan asbun (asal bunyi) dong!
12 Juni 2011 at 12:36 pm
ooontahla.. yuong ndak ahli sejarah den do!!
ocu totaplah ocu!! minang totaplah minang!! uruslah mandailing dsumbar du ha… jole masuok wilayah koliennyo… tapi ndak omuo mengakui inyo uang minang do…
OC !!
23 November 2011 at 7:41 pm
asslmlikum ridho palimo bandaro, saya sngaja langsung menyapa anda krna dari skian banyak org yg mngemukakan pndpt nya disini saya lbih suka anda krna anda lebih suka pndapat yg ilmiah n yg punya bukti sejarah, o y tadi sanak ridho prnah bilang ada org ocu yg bilang klo sriwijaya brtmpat di kampar itu ngawur n tidak ada bukti sjrah nya, tapi setelah saya baca diwikipedia indonesia disana ada tercatat bhwa ada salah satu pendapat bilang klo sriwijaya itu memang brtmpat di kampar bagaimana mnurut anda ni link nya saya kasi sama sanak ridho http://id.wikipedia.org/wiki/Sriwijaya , oy saya juga pernah baca komentar sanak ridho sanak bilang klo kerajaan minang lebih tua daripada kerajaan sriwijaya boleh saya minta bukti sejarah nya n klo bisa minta link nya dunk, maaf klo saya merepotkan saya cuma baru belajar sejarah dari anda2 semua wassalam
11 Juni 2011 at 2:12 am
(bermula dari cerita tahayul orng dari sebuah adu kerbau, minangkampar mnjadi minangkabau..sungguh… mmbwt orng kmpar kcewa.. dn untuk mnghilng rasa kekecewaan itu orang Ocu menghapu kata minang dari kmpar.. yg skrng tinggal nama KAMPAR)
waduh siapa yang bilang orang kampar kecewa? ada-ada saja.
trus karena masalah itu kampar menarik diri dari minang? hahahaha. saudara rudi
anda sudah sangat berlebihan dan sangat mengada-ada.
kasih satu prasasti saja saudara rudi. biar jelas dan tidak memandai-mandai.
11 Juni 2011 at 12:25 pm
terserahlah!!
waang jiela nan ontu…kobau
kmi ndak tgntuong kek sejarh sa’etu do.. ninikmoyang kami pokok ughang Kampa ndak dai sumbar do..
iyo kami ughang minang.
tpi bukan minangkabau..
cubo waang citon apo du MInangkabau….
n apo sangkuik pauik jo kami?? sedngkn kami ndak mngenal minangkabau!! yg kmi tontu minangkampau tau Minangkampar!!
n maslah sesukuan… dek apo ughang Mandailing di sumbar du ndak mengakui inyo minangkabau??
sedngkan Mndailing disiko mengakui dighinyo Ocu?? apo nan tajadi(sungguh ndak masuok akal dek kami. paluinlah dek waang kci iyo waang ughang codiok pandai nan ba aghok kan??
iyo suku adek wak samo!! daghi segi manojie..
yups..tolong jolekan
slam angek daghi Ocu rudien
11 Juni 2011 at 9:23 pm
Saran utk ocu rudin…….
1) Cari lagi bukti sejarah (ilmiah) yg memmbuktikan ocu bukan dr minang jangan bicara tanpa dasar jelas (postingan hanya berdasarkan sentimen kebencian yg tdk jelas)
2)Jangan memposting sumpah serapah) ok…
12 Juni 2011 at 8:14 am
Rudin” nak ughang Ocu Patopang basah@:
Sanak, minangkabau = minangkamvar = minangatamwan samo intinyo du..Definisi dari tigo istilah di ateh du untuak urang2 nan mandiami daerah sumatera tengah (Sumbar, Kampar, Kuansing, Kerinci jambi). Sanak bisa caliek bukti katigo istilah tu samo di artikel2 di internet go! Jadi subananyo ndak masuak aka apo nan sanak tulih tu do: “Kami uwang minangkampau (minangkamvar) tapi ndak minangkabau”.
12 Juni 2011 at 10:20 am
Rudin” nak ughang Ocu Patopang basah
cia’ la cu aponyo ughang du lah… ndek mentng2 budayo wk samo jo inyo basobuik ughang ocu du ndak ado… yg ado du minangkabau..bialah…inyo baiak surang!!
lusuah den mambaco de’e…
pokoknyo jan sampe tapocabolah ocu ko.. dek gara budayo.. minang.. ocu ko ndak jole le..
ocu nan io tio nyo..
12 Juni 2011 at 1:56 am
txs tuk yg diatas.
Buat sauadara rudin kok malah bertanya tapi belum bisa mejawab peryataannya sendiri. tak apa-apa kita sangat maklum karena minimnya data sejarah dikampar membuat saudara kita disana kehilangan jati diri lalu mudah emosi. Sabar cu sesama muslim marilah menggunakan bahasa orang islam yaitu akidah akhlak.
piss dari cuden
12 Juni 2011 at 11:45 am
yups… maaf kaci sanak tasingguong…
tpi sanak olun mnjolekn minangkabau du le……… den nak tontu minangkabau du!!! kalau minangkampar du kampar tengah nan diapaik de duo sungai kampau, yakni kampau kanan jo kampau kiri….
obe dek sanak nye kini ndak zaman sumatera tengah lai!!
12 Juni 2011 at 9:54 am
Silahkan lihat dan baca wikipedia tentang Kabupaten Kampar yg tentunya ditulis bukan oleh orang Sumatera Barat. Di situ jelas2 ditulis bahwa bahasa yg digunakan oleh penduduk Kampar adalah bahasa Minangkabau. Menurut teori identitas sosial, faktor utama untuk menentukan identitas etnis suatu komunitas adalah dengan meilihat bahasa yg mereka pergunakan. Artinya, jika suatu komunitas mengaku sebagai bagian dari komunitas yang lain, tetapi bahasa mereka berbeda berarti mereka bukanlah bagian dari etnis tsb, begitu juga sebaliknya.
Saya pikir keterangan ini sangat jelas, kalau ada juga yg mempertentangkannya silahkan mengirim surat ke departemen pendidikan nasional R.I. di Jakarta untuk menentangnya.
Secara jujur harus saya akui bahwa adanya fenomena menarik yg terjadi di Kampar ini, yaitu adanya pengingkaran suatu identitas oleh satu komunitas, sangat menguntungkan bagi saya. Beberapa kali saya mengajukan proposal penelitian untuk membahas hal ini dan Alhamdulillah sebagian besar di antaranya jebol dan penelitian tsb dibiayai oleh pemerintah.
Bagi saya pribadi tidak penting apakah orang Kampar mau mengakui diri mereka sebagai orang minang atau bukan, sebagai orang Melayu Riau atau bukan, terserah mereka saja. Buat orang Minang yg saya wawancarai ternyata sebagian besar juga tidak peduli apakah orang Kampar itu Minang atau bukan. Orang Minangkabau adalah satu etnis di Indonesia yg sangat kuat rasa kesukuannya di samping etnis Batak. Oleh karena itu di tempat lain, seperti di UGM, IPB, UI, dll, tidak kita temui adanya nama organisasi Persatuan Mahasiswa Sumatera Barat seperti dari provinsi yg lain. Yg ada hanyalah Organisasi Mahasiswa Minangkabau. Hanya orang Minang yg seperti itu. Hal ini menunjukkan bahwa orang Minangkabau sangat bangga dg etnis mereka. Satu-satunya nama Bandara di Indonesia yg memakai nama etnis juga hanya Bandara Minangkabau di Padang. Di tempat lain tidak ada, biasanya lebih banyak yg memakai nama pahlawan. Di mana pun berada orang Minang tidak pernah malu mengakui diri mereka adalah orang Minang, bahkan mereka sangat bangga menjadi orang Minang. Rasa persatuan di antara sesama orang Minang pun juga sangat tinggi, itulah sebabnya orang Minang menyebut sesama mereka dg sebutan Urang Awak, yg maksudnya bukan orang lain, artinya masih saudara kita juga. Hal seperti ini tidak pernah ditemui pada etnis lain.
Di Riau, orang Bengkalis bahkan tidak mau mengakui orang kampar adalah bagian dari mereka, apalagi orang Kepri. segera menolak mentah2 bahwa orang kampar adalah bagian dari mereka (saya sudah melakukan wawancara dg banyak orang di Tanjung Pinang, Tanjung Uban, Dumai, dan Lingga untuk hal ini). Hal seperti ini tidak akan ditemui pada orang Minang, orang Bukittinggi akan mengatakan bahwa orang Solok, orang padangpanjang, orang padang, orang pariaman, orang Batusangkar, orang Pasaman, orang Sawahlunto, orang Dharmasraya, dan daerah lainnya di Sumatera Barat sebagai Urang Awak, yang bermakna bahwa mereka semua bersaudara.
12 Juni 2011 at 11:17 am
Pak Wit@: Kita pribadi boleh tidak peduli apakah orang kampar mau mengaku mereka satu nenek moyang dengan saudaranya yg dipanggil sebagai orang Minang, tapi kewajiban kita dengan ilmu, fakta, dll untuk menyampaikan suatu kebenaran..Wallahu alam..
12 Juni 2011 at 11:47 am
kami juga bangga jadi orang ocu……
12 Juni 2011 at 12:20 pm
Untuk menunjukkan rasa bangga anda, usulkanlah supaya semua mahasiswa yg berasal dari kampar, membuat nama organisasi mereka dg sebutan Persatuan Mahasiswa Ocu, atau Organisasi mahasiswa Ocu seperti yg dilakukan oleh orang Minang. Nama bandara di Bangkinang (kalau suatu saat di sana dibuat bandara) atau nama bandara di Pekanbaru (karena Pekanbaru adalah kotanya orang Ocu) usulkan supaya namanya diganti menjadi Bandara Ocu. Organisasi orang2 kampar yg ada di Jakarta, Medan, Batam, Malaysa, dll usulkan juga ganti namanya menjadi Organisasi Ocu Jakarta, Ikatan Masyarakat Ocu, Persatuan Ocu, dsb. Kemudian jika ada orang Ocu yg punya toko, restoran, usaha fotokopi atau apa saja, selipkan ciri2 atau simbol2 Ocu pada papan nama usaha mereka, seperti yg dilakukan oleh orang Minang. Hal ini bisa dijadikan acuan bahwa orang Kampar sangat bangga menjadi orang Ocu
12 Juni 2011 at 3:04 pm
hahaha…. kmi bukan tukang pamer tau….
13 Juli 2011 at 7:46 am
Bukannya karena tidak suka pamer, tapi memang karena tidak ada yg bisa dipamerkan
12 Juni 2011 at 12:19 pm
Maaf….. Kenapa ya orang ocu benci sekali sama kami orang minang ??? Dan selalu menjelek2an orang minang ??? Kami juga tak mau kok ocu tu sebagai bagaian dari kami (walaupun bukti2 sejarah yang diungkapkan diatas tidak bisa terbantahkan). Jadi tak usahlah takut
Sepengetahuan sejauh saya merantau di bumi Indonesia ini, hanya etnis ocu ini aja yg keterlaluan membenci etnis minang (bahkan kata orang ocu sendiri, kebencian itu sdh ditanamkan sejak nenek moyang mereka). Astagfirullah……..Bukankah ocu mengaku bangkinang Serambi Mekah-nya Riau, tetap melihat komentar2 yg notabene dr org ocu diatas tdk mencerminkan orang islam. Kita ni sebangsa, senegara dan seagama Mari buang jauh2 hal yg berbau negatif itu.
Dan ada juga isu di masyarkat ocu bahwa kalau minang telah bermukim di suatu daerah, maka orang minang tsb akan mengklaim sbg miliknya. Astagfirullah ……Apa bisa ini dikatakan pemikiran org islam ????
Saran saya utk ocu : Buang Jauh-jauh doktrin dari nenek moyang yg bersifat negatif apalagi yg tdk berdasar.
Thank. Peace (perdamaian lbh penting dr mengorek-ngorek keburukan org lain)
12 Juni 2011 at 3:22 pm
ya Allah ampunilah doso sanak do sodaro den ko..
ya Allah berilah petunjukmu kapado sanak do sodaro den ko..
ya Allah jaan lope an kami saliong mambonci ciek samo nan lain……
amie…in
salam sambal lado!! HHuaHH
wasslam..
14 Juni 2011 at 1:30 pm
Amin…
Salam Rang Ganteng Ciek lu!
12 Juni 2011 at 3:31 pm
sanak add den lah!!
alamatnyo: lian_pikolo@yahoo.com
12 Juni 2011 at 3:35 pm
yolah..
salam sambal joyong!! hahaha
wassalam
13 Juni 2011 at 12:33 pm
Sebetulnya bukan karena orang kampar tidak suka pamer, tapi kalau mau jujur harus anda akui bahwa memang tidak ada atau sedikit sekali yg bisa dipamerkan oleh orang ocu ke dunia luar tentang etnis mereka, kecuali SDA yg suatu saat akan habis. Jika orang Ocu di Jakarta atau di tempat2 lain membuat organisasi dg nama Ikatan Mahasiswa Ocu, Persatuan orang Ocu, dll, orang kan mengerutkan kening dan akan berpikir, “Ocu itu apa ya?” Jika orang Ocu mencantumkan simbol2 mereka, orang akan berpikir itu adalah Minangkabau. Jadi sebaiknya mmg tidak usah saja, karena ciri khas Ocu sampai sekarang yg betul2 khas Ocu mmg belum ada.
14 Juni 2011 at 2:28 am
kmi blun apa2 kok anda spert merasa tkut??
liat saja pasti kmi buktikan!!
dan kmi buknlah penjilat sperti klian…
14 Juni 2011 at 9:12 am
Rudin@: Inilah mental yang bikin dia ga berkembang & maju,,dikit2 ngejek,,dikit2 bilang “Penjilat”.
14 Juni 2011 at 6:15 am
godang bual kalian minang,
Nmpknyo kalian iri dgn symbol2 melayu riau yg kami pakai,, dsr tetangga dengki.kalian sadar coment2 daghi minang tlah mmbuat km trsinggung,mngapo klian sprt itu ? Sdrkh kalian,b,ghapo banyk saudagho kalian di di riau ini ?
Mhn,klau anda tnggl kek riau,hargai km.
14 Juni 2011 at 8:49 am
Awang@: Saya tidak pernah iri dengan anda dan simbol melayu anda..Karena saya pun masuk dalam rumpun melayu. Di sini umumnya kita share info kepada baik orang ocu maupun minang. Info mengenai penelitian2 yang beliau2 lakukan (baca komentar Pak Wit dan Cuden!) mulai dari keterkaitan orang ocu dengan minang karena satu nenek moyang sampai penelitian terhadap demografi kota Pekanbaru. Perlu ditekankan di sini, beliau2 memaparkan hasil penelitian..Tapi apa yang anda balas?? Anda bisa baca komentar pertama anda, di sana anda tulis
“untuk mmbngn jmbtn kelok smbilan aja mrnggek2 dgn pusat,smpai skrg alhmdllah blm tbangun,,,,,”.
Saya menilai anda bersyukur kelok sembilan belum selesai dan itu adalah salah satu rasa IRI anda!. Dan komentar terakhir anda sebelum yg ini, anda mengejek orang Minang “Minang tu bnyk bengaknyo,mknyo pgr ruyung srg tebakar,ingat jgn smpai sumbar tu hncr di tmph azab ALLAH.”
Siapa yang mulai dahulu? Jangan lempar batu sembunyi tangan serta menyalahkan orang lain?Introspeksi diri anda dulu baru liat orang. Harusnya anda berterima kasih kepada peneliti2 di atas karena beliau2 mengorbankan waktu, tenaga, uang untuk meneliti komunitas anda!
Saya copy-paste apa yang telah saya tulis sebelumnya untuk anda!
1. Sebagaimana komentar dari Pak Witrianto, hasil penelitian2 yang dilakukan beliau tidak hanya diketahui oleh orang Minang saja, tapi telah didiskusikan dan diakui oleh peneliti2 lainnya termasuk dari Malaysia. Baca lagi semua komentar Pak Wit (tambahan komentar dari Cuden) di blog ini!
2. Ingat, Pak Wit bilang apa yang beliau tulis bukanlah “pepesan kosong” atau tambo, dsb melainkan penelitian. Beliau menulis ini dengan pertaruhan title2 yang telah beliau dapatkan, jadi impossible kalau pak Wit hanya berdongeng sepeti anda (orang pandai berdongeng memang tidak butuh latar pendidikan yang tinggi).
3. Gimana Cik Awang, tak punya jawaban kah? Sehingga anda sekali lagi mendongeng dan mengejek orang Minang? Saran saya,,kalo kesal jangan ungkapkan di media ini, ntar ketahuan kualitas anda hanya sampai mana, OK?!
4. Sekali lagi saya sarankan, buka cakrawala pengetahuan anda, jangan pandang negatif sesuatu yang baru untuk anda walaupun itu adalah kebenaran yang pahit, biar tidak menjadi katak dalam tempurung seperti sekarang ini!!
7 Desember 2011 at 3:08 am
Orang Kuantan dan kampar adalah Orang Minang..,.
Mengapa harus malu mengatakan bahwa orang Kuantan adalah orang Minang yang daerahnya dimasukkan Pemerintah ke dalam wilayah Provinsi Riau. Sesungguhnya anda minder dengan kenyataan dan sejarah. Anda sebenarnya pasti tahu kalau kita orang Kuantan adalah bagian dari rumpun Minangkabau. Hanya karena letak daerah kita yang anda tidak tahu mengapa tidak berada dalam Prov. Sumatera Barat yang dikenal sebagai daerah asal orang Minang. Melainkan berada dalam Provinsi Riau yang mayoritas bersuku Melayu sehingga selalu diidentikkan sebagai tanah Melayu. Itu tidak salah karena persepsi itu sudah terbentuk dari dulu lebih dari 50 thn pasca pendirian Prov. Riau 1958. Pemerintah Pusat saat itu menggunakan dasar tuntutan para tokoh Melayu Riau yang menginginkan daerah ex Keresidenan Riouw zaman Belanda lepas dari wilayah Provinsi Sumatera Tengah yang berpusat di Bukittinggi. Tahukah kita bahwa daerah Kuantan Hulu (Kuansing sekarang) adalah daerah asli Minangkabau yang dimasukkan oleh Belanda ke dalam wilayah Keresidenan Riouw akhir abad ke 19 dengan alasan geopolitis & militer strategis Kolonial Pemerintah Hindia Belanda. Daerah sepanjang aliran Sungai Kuantan yang mengalir dari hulu di bagian Barat (Kuansing) ke hilirnya di pesisir Timur Sumatera menuju ke Selat Malaka harus dikuasai oleh satu pemerintahan Keresidenan agar tidak overlapping dengan Keresidenan lain (Sumatera’s westkust/Keresidenan Sumatera Barat & Keresidenan Djambi). Belanda juga melihat bahwa ada batas alam berupa rangkaian bukit barisan yang membagi 2 Pulau Sumatera secara tidak proporsional yaitu belahan Pesisir Barat dan Pesisir Timur.(Daratan Bag. Timur jauh lebih luas daripada daratan bagian Barat Bukit Barisan). Batas tersebut dijadikan sebagai perbatasan alami di wilayah Tengah Pulau Sumatera untuk membagi daerah Keresidenan Sumatera’s Westkust di bagian Barat dengan Keresidenan Riouw & Keresidenan Djambi di pesisir Timur. Daerah Kuansing dan Kampar hulu sebenarnya secara geografis jauh lebih dekat ke Pesisir Barat daripada ke Pesisir Timur Sumatera. Belanda tidak menggubris kesamaan etnis, kultural, dan dialek lokal lingustic kedua daerah yang terletak di perbatasan alam tersebut. (Kuantan dengan serumpunnya di bagian Barat yakni Sijunjung, Sawahlunto & Darmasraya) dan (Kampar Hulu V Koto-Taratak Buluh dengan Lima Puluh Kota di bagian Baratnya). Bahkan oleh Belanda daerah Minangkabau yang disegressi dari induk rumpunnya di Sebelah Barat ini diintegrasikan dengan daerah Pesisir Timur yang murni beretnis Melayu Riau. Dimasukkan ke dalam suatu Kewedanan (afdeling) yang diberinama Kampar dan sebagian masuk Indragiri. Mulai saat itu terpisahlah orang Kuantan dan orang Kampar (Ocu) dari rumpun induknya Minangkabau di bagian Barat secara de jure dan de facto. Pada zaman awal kemerdekaan 1945 hingga tahun 1958 Kampar dan Kuantan sempat mengalami reunifikasi dengan saudara serumpun Minangnya dalam satu Provinsi besar yakni Prov. Sumatera sampai tahun 1948. Berkutnya dalam Prov. Sumatera Tengah pasca pemekaran Prov. Sumatera menjadi 3 Provinsi : Prov. Sumatera Utara, Prov. Sumatera Tengah dan Prov. Sumatera Selatan. Kebersamaan itu berlangsung tidak lama karena kemudian Provinsi Sumatera Tengah ini akhirnya dimekarkan pula menjadi 3 Provinsi pasca kekalahan PRRI yang berpusat di Bukittinggi. Wilayah Kuantan dan Kampar Hulu sekali lagi dipisahkan kembali dengan rumpun induknya atas dasar klaim sejarah para Tokoh Melayu Riau yang menggunakan dasar wilayah ex Keresidenan Riouw. Tentu saja Ranah Minangkabau sebagai pihak pecundang perang tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolak kebijakan Pemerintah yang dituangkan dalam UU No. 61 thn 1958 yang membagi wilayah Provinsi Sumatera Tengah menjadi 3 Provinsi baru. Mereka tidak punya dasar hukum untuk mengklaim sebagai bagian yang diinginkan masuk ke dalam wilayah Provinsi Sumatera Barat (selain mungkin hanya berupa de facto rumpun etnis dan kultural Minang). Begitu juga dengan masyarakat Kuantan dan Kampar (Juga Kerinci dimasukkan ke Prov. Jambi) saat itu yang mayoritas masih hidup di bawah standard kesejahteraan. Mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa karena memang tidak disosialisasikan kepada masyarakat awam oleh Pemerintahan yang dipegang oleh Militer pasca PRRI. Yang pasti menurut cerita tetua Kampung kita dulu bahwa mereka tetap mengakui sebagai orang Minang sejak dahulu kala. Dan bilamana saat itu diberi kesempatan untuk memilih mau ikut bergabung ke Riau atau ke Sumbar, tentu saja seluruh etnis asli (non pendatang tentunya) Kuantan dan Kampar (Non Melayu Riau) akan memilih sesuai naluri mereka ke Sumbar. Tapi itu tidak pernah terjadi dan sudah berlalu lebih dari 50 thn yang lalu. Sudah hampir 3 generasi yang berlalu dan tidak perlu dipermasalahkan lagi. Yang jadi masalah adalah generasi baru seperti kita-kita ini yang merasakan termarginalisasi oleh kenyataan berada di luar situasi ideal. Mau mengaku jadi orang Melayu tidak mau karena terlalu banyak perbedaan budaya, bahasa dan adat istiadat dengan kita. Mengaku sebagai orang Minang ada rasa sungkan karena secara de facto dan de jure tanah Kuantan dan Kampar tidak (lagi) berada dalam wilayah Prov. Sumatera Barat. Image umum juga mengatakan bahwa orang Minang berasal dari Prov. Sumatera barat dan orang Riau adalah orang Melayu. Seharusnya kita tidak perlu malu mengakui bahwa kita tetap adalah bagian dari Rumpun Minangkabau. Apalagi sampai mengarang rangkaian sejarah sendiri yang dikutip sana-sisni dari Tambo Minang dan peninggalan arkeologis tanpa dasar (selain karena rasa malu dan minder) untuk diakui sebagai suku tersendiri yang unik? Suatu upaya yang sangat naif dan tidak intelek karena bersifat pembodohan public dan berselera rendah dengan merendahkan etnis dan budaya sendiri. Prov. Riau dan orang Melayu Riau mayoritas tahu bahwa kita memang berbeda dengan mereka, tapi kita punya tanah dan kampung sendiri dan bukan pendatang dari luar di Provinsi ini. Merekalah yang menginginkan wilayah kita dimasukkan ke dalam wilayah Provinsi Riau ini dulunya. Menjadi orang Minang bukanlah suatu yang hina, bahkan merupakan suatu kebanggaan karena mereka sangat terkenal dalam sejarah dan keberadaan mereka mudah dikenali di seluruh wilayah tanah air dan manca negara. Kebudayaan mereka dikagumi sebagai salah satu keunikan budaya Indonesia dan Malaysia (Negeri Sembilan). Pengakuan masyarakat Riau akan adanya minoritas Minang di daerah Perbatasan Barat Provinsi Riau sudah ada, walaupun agak direkayasa seolah menjadi etnis Melayu yang berdialek mirip Minangkabau. Tidak ada indikasi upaya Melayunisasi yang mematikan potensi bahasa, dan budaya asli kita. Justru malah budaya kita dijadikan sebagai bagian dari khasanah budaya Riau. Biarlah itu dilakukan itu sebagai ajang promosi budaya kita lewat mereka karena mereka mayoritas dan dominan. Hanya saja akan semakin sukar untuk meluruskan image kepada pihak luar bahwa tidak seluruh daerah Riau bersuku Melayu, ada juga minoritas asli yang bersuku Minangkabau. Tapi sudahlah tidak usah diperpanjang karena bersama mereka dalam Prov. Riau ini kita juga sudah merasakan kemajuan dan peningkatan kesejahteraan. Artinya keberadaan kita dalam pangkuan mereka tidak disiasiakan sebagai daerah taklukan yang hanya diexploitasi seperti zaman Kerajaan dan Kolonial dahulu. Itulah mengapa Kuantan dan Kampar seolah sepakat sama sekali tidak mendukung wacana tidak populer “Riau merdeka” yang pernah didengungkan oleh segelintir tokoh Melayu Riau yang tanpa malu mengatasnamakan Masyarakat Riau. Kalau mereka mau merdeka, silakan aja berurusan dengan NKRI dan kita tidak ikut-ikutan. Mungkin satu-satunya ide dari Pusat bila Riau merdeka adalah wilayah Kuantan dan Kampar akan diunifikasikan ke Prov. Sumatera Barat. Tapi yang fantastis saat itu adalah kenyataan bahwa Riau Kepulauan yang beretnis dan berbudaya sama dengan Melayu Riau Daratan malah memilih melepaskan diri karena tidak sependapat dengan ide bodoh itu. Tidak ada alasan untuk malu bagi kita untuk mengaku sebagai orang Minang. Bahkan teman-teman Kerinci saya di Jakarta tanpa tedeng aling-aling tetap mengatakan bahwa orang Kerinci adalah orang Minang yang wilayahnya termasuk ke dalam Provinsi Jambi.
14 Juni 2011 at 8:28 am
MOHON COMENT JANGAN KETERLALUAN,,,,
FAKTA PADA HARI INI…….
KAMPAR ADALAH ULAYAT TANAH MELAYU RIAU.
VISI RIAU: SEBAGAI PUSAT BUDAYA MELAYU DI ASIA TENGGARA.KALAU MASYARAKAT KAB/KOTA SERIAU BERSATU,INSYA ALLAH PST TERUJUD.JGN MEMBANGGAKAN SUKU ANDA KRNA SUKU ANDA BNYK KURANGNYA.
SALAM RMB:TAK MELAYU HILANG DI BUMI
14 Juni 2011 at 9:01 am
Awang@: Surely we are proud to be Urang Minang since reality and history say Urang Minang has been being involved in this country development. I can say, Urang Minang has contribution for this country eventhough no abundance of natural resources in our homeland like yours. Yet, Urang Minang has also any drawbacks since everyone must have drawbacks/mistakes.
16 Juni 2011 at 12:05 am
Ridho Sutan Palimo Bandaro
since reality and history say Urang Minang has been being involved in this country development.
become why you differentiate UGHANG OCU with PEOPLE MALAY ( unidirectional do not band)
do you know originally MALAY history
what in fact UGHANG MINANG wish from UGHANG OCU
but is insignificant!!
tightening string association of NUSA dan BANGSA
“sholatlah kaci lai takonang !! & jan maliong kaci ndak tapaso”!!
better arrange your strategy to make best
if you of love fatherland of INDONESIA prove!!
proved sanak!!
jan urus balako budayo ughang….
16 Juni 2011 at 8:40 am
Rudin@:
1. I dont separate you with Malayan because we’re Malayan. You can cross check with every statements written by me. On other hand, you actually distinguish Ughang Ocu with Ughang Melayu. Didnt you remember what you write, Melayu Ocu and Melayu melayu? Tell me if it is typomistake..hehehe..
2. Here in this subject, no one are prohibited to say about Ughang Ocu as long as they are polite. Some people even wrote what they observed and for sure they did it hardly after spending their time, money, and energy just for studying your community!But, some Ocu people even didnt realise if it is extra-ordinary information. I believe you guys didnt do any observation or study about your community, only rely on what people said?!
3. “Strategy to make the best one”..Every one has their own way to do the best dude..No need to coach or ask me to make the best..hehehe
4. “jan urus balako budayo ughang…”, please refer to point. 2. Kadang2 deyen yo binguang lo e,,lah diagiah info dek urang lain jo bukti jo penelitian, tapi tetap basikareh indak manarimo..Tipikal urang co a tu?Ingek sanak, kebenaran tu harus absolut ditarimo walaupun itu pahik..Kok ndak, yo angku2 akan kehilangan jati diri co kini ko sahinggo mambuek komunitas baru, padohal dari sejarah dsb,,kito: rang minang di Sumbar, rang ocu jo kuantan di Riau samo niniak moyangnyo..Lai enter dek sanak tu?
16 Juni 2011 at 9:53 am
http://www.ziddu.com/download/15373599/OCU.rar.html
kamus bahasa indonesia ke Ocu.
16 Juni 2011 at 9:44 pm
just direct:
first ponint briefly!! its kernel of us of Malay!!
second point, don’t be overconfident expertly history!! better of corrective you return provenance forming of MINANGKABAU!!
third point, O.K… become best!!
fourth point, ” truth of only having Allah!!.. and don’t destroy friendliness of Malay people”!!… hard of people of BANJAR, BUGI, KUALA KAMPAR!! also have different culture with MALAY!! become the which real MALAY?? ” only ALLAH knowing”
remember!! all of us clan of Prophet of ADAM!!
yups altogether depended to us all this is us of INDONESIA us ought to be proud become people of INDONESIA… rich of culture, Ianguage, ethnical, and its mores
forceps don’t from your MINANGKABAU feel more super!! we really do not affect !!!!!!!
” if in perceiving!! in fact we do not difference – differentiate people of OCU and people of MINANG!! because having tribe – is same tribe
” if checked!! OCU is not people of MINANG!!
( become difference of us is OCU and of MINANGKABAU)
now at the discretion of assessment of you
19 Juni 2011 at 10:17 am
Rudin@: Whatever lah sanak..
7 Desember 2011 at 3:52 am
—–Original Message—–
From: Datuk Endang
Date: Mon, 30 Nov 2009 05:13:35
To:
Cc:
Subject: [...@ntau-net] Re: Minang di tanah Melayu…Melayunisasi???
Sanak Bot yth.
Memang efek dari otonomi daerah adalah mencuatnya kebutuhan simbol/lambang di
berbagai daerah, di seluruh penjuru tanah air. Berbagai upaya dilakukan,
misalnya menggali kesejarahan dll. Beberapa bulan lalu saya ke Pekanbaru, dan
melihat telah banyak upaya untuk itu, seperti pembangunan huge structures, dan
atap tradisional itu. Mengenai disain atap itu (lontiak : pasak atap?) saya
sudah mendapat penjelasan dari arsitek2 lokal kalau itu diangkat dari satu
disain rumah di suatu daerah. Sebenarnya saya punya kritik terhadap konsep atap
itu, dan mereka memahaminya. Di antaranya adalah bila dikembangkan dalam ukuran
besar, malah kesannya tidak tipikal bangunan untuk dataran rendah. Termasuk
kayu bersilang V, sangat mirip dengan rumah Bugis. Sebenarnya arsitektur asli
Melayu pesisir timur seharusnya hampir serupa. Kelompok terbesar dapat dilihat
pesisir timur Sumut. Jadi sebenarnya perlu penggalian lebih lanjut.
Saya kurang tahu perkembangan dunsanak kita di Kampar, Kuantan, dll; apakah di
tempat itu juga dikembangkan rumah-rumah bagonjong. Bila ada, secara pribadi
saya tidak keberatan bila diangkat juga arsitektur bagonjong itu untuk
identitas/lambang bagi bangunan-bangunan di Riau.
Wassalam,
-datuk endang
— On Mon, 11/30/09, Bot S Piliang wrote:
Sdr Harismanto, atau Anto…Kok ambo indak salah…batetangga kito di
pagambiran ndak…heheh
Uda/Uni/Mamak jo Etek2 ambo dan Milist…
Agak gembira saya mendengar koment dari Bapak/Ibu yang berdomisili di RIAU.
Artinya selentingan mungkin hanya kekecewaaan satu atau dua pihak saja. Untuk
kota Pekanbaru yang heterogen saya rasa masalah etnis ini tidak masalah. Karena
masing-masing sudah punya jalur dan jatahnya masing-masing.
Akan tetapi, pada situs pemda riau, dan beberapa tulisan, terdapat istilah
“Melayunisasi Kultural”, khususnya untuk daerah Kampar, Kuansing dan
daerah-daerah di perbatasan dengan SUMBAR. Entah apa yang dimaksud dengan
Melayunisasi Kultural ini.
Seperti email saya terdahulu, pada saat saya mengunjungi lapangan MTQ di
Pekanbaru dimana disana terdapat replika rumah2 adat di Prov Riau, khusus di
Rumah Lontiak Bangkinang, ditambahkan kayu bersilang khas melayu di kedua ujung
lancip.
Kemudian saya membaca situs sejarah KUANSING, http://www.sungaikuantan.com , dimana
disana juga semacam pengingkaran keterkaitan sejarah teluk kuantan dengan
Minangkabau. Bahkan di situs ini juga ‘memaksakan’ bahwa mereka merupakan
bagian dari Melayu (meskipun bahasa, rumah adat dan budaya nyata-nyata 90%
identik dengan budaya minang).
Apakah ini yang dimaksud Melayunisasi Kultural…Berbeda dengan Kerinci yang
meskipun masuk dalam prov Jami, namun masih merasa satu keluarga besar dengan
Minangkabau. Karena Minangkabau ini adalah sebuah konsep kesatuan budaya yang
jauh melewati batas-batas teritori edministratif sumatera barat.
15 Juni 2011 at 11:56 am
helow bos,wah Bnyk perdebatan,cukup menambah pengetahuan aj..
16 Juni 2011 at 10:04 am
memang sanak baduo ko!!
sok bhaso inggris…
ngaroti.. sughang-sughang sajo… io tio………
tapi ingek indonesia jan sampai tapocabolah..le dunsanak!!
16 Juni 2011 at 11:43 am
Lian@: Bia iduik stek debat ko sanak..hehehe..Salam rang Ganteng ciek Lu!
18 Juni 2011 at 9:12 am
Sdr Rudin: Pertanyaan anda tentang orang Mandahiling di Sumbar yang tidak mau mengatakan bahwa mereka adalah Minangkabau sementara di Kampar mereka mengaku sebagai Ocu, jawabannya sebenarnya simpel saja, yaitu:
1. Orang Mandahiling yang tinggal di Sumatera barat tidak mengaku sebagai orang Minang karena mereka sadar bahwa mereka pasti akan ditertawakan oleh orang Minang jika mereka mengaku sbg orang Minang, karena bagaimana mungkin orang yang berbahasa Mandahiling (bahasa mereka tidak dimengerti oleh orang Minang), punya marga, Nasution, Lubis, Martondang, Hasibuan, dll, menganut sistem patrilineal, dan sebagainya, tiba2 mengaku Minang. Sangat tidak logis dan tidak masuk akal hal ini bagi orang Minang.
2. Di Kampar, orang Mandahiling menyatakan diri mereka sebagai orang Ocu, walaupun mereka punya marga Nasution, Lubis, Hasibuan, Martondang, dll, berbahasa Mandahiling, dan sebagainya. Orang Riau tidak menganggap aneh fenomena ini, sebagaimana pemerintah daerah Riau yang tidak merasa aneh ketika seseorang yang punya suku Chaniago, Piliang, Domo, dll dikelompokkan sebagai orang Melayu, walaupun mereka sehari2 berbicara dalam bahasa Minangkabau (yang oleh pemerintah Riau disebut sbg bahasa Melayu Dialek kampar), menganut sistem kekerabatan matrilineal, dan adat Minangkabau. Tidak seorang pun di Kampar yg merasa heran dg fenomena seperti ini, Semua masyarakatnya mendudkung bulat2 dan bahkan merasa sangat marah kalau mereka dikatakan sebagai orang Minang. Hal inilah yang membuat orang Mandahiling di Riau pun tiba2 mengaku diri mereka sebagai Melayu Ocu.
3. Di Sumbar, pemerintah dan masyarakatnya tidak benci kepada pendatang, semua pendatang diperlakukan sama, semua orang boleh berkompetisi secara sehat di bumi ranah Minang ini, dari etnis mana pun. Hal seperti ini tidak berlaku di Riau, apabila dia bukan orang Melayu, maka bisa dipastikan karirnya tidak akan bisa naik (ini fakta yg tidak bisa dibantah). Kebencian orang Melayu Riau kepada orang Minang sudah bukan rahasia lagi, hal ini tentu diketahui oleh orang Mndahiling, sehingga supaya aman mereka pun kemudian mengakui diri mereka sebagai orang Ocu.
4. Di Rohul banyak saya temui seseorang yg bermarga nasution, Lubis Siregar, dll menyatakan bahwa dia adalah orang Melayu. Hal ini buat saya dan mungkin juga buat semua orang Minang adalah sesuatu yg sangat menggelikan, akan tetapi orang Riau ternyata menganggapnya sbg sesuatu yg sangat wajar, bahkan mereka bangga jika ada etnis lain yg mengaku sbg bagian dari mereka.
5. Menjadi anggota suatu etnis tertentu adalah takdir yang sudah ditentukan sejak seseorang lahir, kita tidak bisa berganti etnis menjadi etnis lain. Seseorang tidak bisa memilih mau menjadi etnis apa. Hal ini sangat disadari oleh orang Sumbar. Buakanlah suatu kesalahan jika seseorang terlahir sebagaui orang Minangkabau, orang jawa, Sunda, Batak, Tionghoa, mandahiling, Melayu Riau, Dayak, dll. Semua sudah kodrat yang tidak bisa dipertukarkan. Di Riau, seseorang ternyata bisa memilih mau menjadi etnis apa. Teori identitas sosial ternyata tidak berlaku di Riau, terutama di Kampar dan Kuantan.
6 Juli 2011 at 11:46 am
yups… ternyata setelah saya teliti dikampung2…
ternyata orng2 itulah yg ingin jadi orng ocu!!. kkkkkk
mungkin krena tergiur dengan SDA kami…
maaf sanak kami juga membedakan.. suku-suku lain kecuali suku melayu… karena melayu adalah sahabat orang kampar sejak sa’etu nyo!!
6 Juli 2011 at 2:45 pm
Rudien@:Manuruik ambo ndak do lo pengaruh urang2 itu jadi urang Ocu karano tergiur SDA..Baa kaji kalau urang Jawa, Batak, Minang nan karajo di Chevron misalny??Mereka tu mengolah SDA di Riau dan makmur tapi mereka ndak harus mengubah identitasnya jadi urang Ocu..
6 Juli 2011 at 7:41 pm
Wah, semakin banyak orang2 “Melayu Riau” menulis di sini: ocu siak hulu, si budak indragiri, si awang..Dan makin banyak pula bukti kualitas mereka hanya sampai mana…hehehe
Buat tiga orang yang saya sebutkan, kalo anda ingin menjadi lebih baik pemahaman tentang adat budaya salingkaran kawasan sumatera bagian tengah, baca dulu komentar2 yang ditulis oleh Cuden dan Pak Wit di blog ini.. Jangan hanya jadi tim sampah saja di sini, yang hanya bisa ngejek, cemeeh, dan ketawa..OK?!!
27 Juni 2011 at 4:26 pm
ikut nimbrung nih…kebencian antar melayu di riau dipupuk oleh riau pos, koran yang sangat disukai oleh pegawai negeri disini..sebenarnya kebencian antar minang dan melayu riau adalah hasil ulah raja lingga yang berasal dari dabo singkep yang coba merebut kekuasaan raja kecik (raja siak) yang dulu bersahabat dgn pagaruyung…dengan tunfat an nafis dan tsubulus salasin raja haji mengarang cerita bahwa orang2 raja kecik dan orang darat (minangkamva) adalah licik dan pengkhianat, karena saat itu singapura merupakan pabrik informasi global, maka cerita itupun berkembang dgn pesat. sedangkan candi2 di kampar yang menunjukkan hubungan erat antara minang dan melayu banyak yg dimusnahkan kaum paderi. jadi kebencian itu sangat kentara hingga kini dipelihara untuk membesarkan perut sastrawan dan pujangga yg menjilat penguasa.
@awang
anda sangat tendensius mengatakan kampar adalah tnah ulayat suatu kaum, kampar adalah tanah jati bg kaumnya sendiri, bukan tanah ulayat siapa-siapa, bahkan pekanbarulah tanah ulayat kampar, karena pekanbaru yg masuk kerajaan siak, mempunyai perwakilan datuk orang kampar (datuk lima puluh) dan siak bersahabat dgn pagaruyung.
@cuden
saya sangat terkesan dengan penjelasan anda, saya juga heran kenapa tidak ada prasasti di sekitar muara takus, hal ini saya sadari waktu sy kesana, saya heran, ada candi kok ga ada prasastinya..
27 Juni 2011 at 6:43 pm
pening la aku,knp lak orang minang x suka melayu lak,kt malaysia negri 9 org nye byk yg melayu minang,pening la aku ngan kaum2 nie,suku2 nie… kita kn sume sama jew….yg beza cuma agama jerk,jd ape nk gadoh2 pasal nie sume….malaysia sume islam org melayu,melayu ape xkira la,dier nk melayu minang ke,melayu johor ke,melayu melaka ke,melayu KL ke,ape2 je la..jnji yg pntg agamanya ttap islam….lagi 1,pasal adat tu aku xsuka sket,biar mati anak jgn mati adat,kalau zaman nenek moyang dulu boleh la nk banggakan adat,psl agama lum terang lagi….pening aku…PENING!!!!….
aku suka tengok KIAMAT SUDAH DEKAT…hahahha…
28 Juni 2011 at 9:04 am
Eman@: Saya orang Minang. Orang Minang itu adalah sub-melayu juga..Di wall ini para anthropologist / sociologist / historist hanya sampaikan hasil-hasil penelitian beliau terhadap komunitas orang Kampar secara ilmiah..Itu saja..
29 Juni 2011 at 11:53 am
0o0o…aku ingat nk tegakkan sgt cite2 korang tu,yg penting kalo nk berdebat boleh,tp jgn memburukan/meretakkan keharmonisan dlm bersosial…peace no war!!! hehehe..kt johor nie byk org ocu taw,org minang pon byk,sumeny bisnes kt sni…org minang smpai ade persatuan lagi kt sni…
30 Juni 2011 at 9:33 am
Eman@: Betul betul betul…Debat yes , memburukkan no..! Tapi kalau bisa debate nya tidak cerita dongeng la..hehehe..
Ocu dan Minang sama nenek moyangnya..
29 Juni 2011 at 10:35 am
woi , waang tu memang urang melayu , yaitu urang melayu minang , bukan melayu riau. Alah joleh baso , adat , budayo kalian tu samo jo minang , ndak muah loh kaliah mangaku . Oo mentang2 kalian masuak prov riau kini makonyo kalian malu manyabui diri kalian minang . Jan kalian identikkan bahaso minang tu cuma ciek yo , baso minang tu laweh , nan kami gunokan ko baso minang dialek padang , baso nan kalian kecek an ocu tu baso minang dialek luak 50 koto samo jo payakumbuh . Paralu kalian ketahui oii urang minang rantau(ocu) , minang tu alah ado sabalun pagaruyung , jadi jan kalian pikia pagaruyung dulu bru minang , asal kato minang tu dari minanga tamvan artinyo pertemuan 2 buah sungai yaitu sungai kampar , nan tampek kalian kini ko asal namo minang . Cubo xan pikia elok2 lu ,budayo kalian tu ndak beda jauh jo minang , candi muaro takus tu talatak di luak 50 koto lai tau ang ha ! Masih juo kalian bohong jo diri kalian . Jan kalian buek carito2 baru yg ndak ado kaitan jo minang , generasi mudo bukan untk dbohongi tapi ditunjuak kebenaran caritonyo bahwa kalian itu adolah urang minang. Wilayah kekuasaan minang tu laweh , wilayahnyo meliputi sumbar , sbgian daratan riau(kampar,kuantan) , muko2 , kerinci(jambi) . dan wilayah rantau adatbudayo di aceh (orang minang di aceh dsbut dgn aneuk jamee) dan di negeri 9 malaysia (org minang n9 dsbut dgn urang nogoghi) .
2 Juli 2011 at 3:38 pm
minang bengak
2 Juli 2011 at 3:54 pm
Ocu pintar..
6 Juli 2011 at 12:23 pm
kkkkkk…
minang codiok…
lah du sanak …
orng minang perantauan dri kampar… tpi kalian identik dengan kata minang!! sedangkn kmi identik sebutan kampar!!
minang vs kampar sama aja menjelek2an kampar t minang!!
dan sebtan ocu pemalas!! karena orng ocu ini asetnya banyak…
mklum saja ocu ini kebnyakan pangku tangan kayak orng pemalas!!
sanak orng ocu ni rata2 ekonominya menengah keatas!!
rata2 orng ocu ini penanti bola.. dan mengopornya lagi ketempat yng baik..
ngertikan sanak??
hampir sama kyk kalien tpi kalien punya sendiri jual sendiri!!
klo kami punya orng opor kekami!! baru opor kepedagng!!
kalo kjian akuntansi nya begitulah!!
jdi orng kampr nih slalu kebagian..
2 Juli 2011 at 3:57 pm
hahahahaha,,,,,,,, mana ada datuk melayu minang,sakit dikou ?org minang tu melayu secara bangsa tp tidak melayu secara budaya, dulu kalian membuang melayu krn melayu di cap pemalas oleh penjajah,kn krn bumi melayu kaya dn tmpt kalian cari mkn ngaku2 sub melayu,,,,dsr munafik,,,,, !
Kalian tengok di indonesia, tamiang,deli,riau,jambi,palembang,bengkulu,pontianak ttp mngaku orang melayu hngg hr ini,
Kalian tau dari perut kampar dn bengkalis,indragiri,kepri propinsi riau di lahirkn, jgn bnyk cerita kalian,,,,,,
Setan@datuk pekan baharu bukan datuk 50 puluh tp yg benar adalah datuk kampar,,,
Yg ngaku nm datuk melayu minang tolong di koreksi lg,krn tak ada nama dan gelar sprt itu,,,faham,,,,
2 Juli 2011 at 4:17 pm
l.syams@
1. Pernyataan anda tentang minang yang munafik telah dibahas oleh awang maulana azzam dan witrianto chaniago di komentar no. 50..
2. Pekanbaru didirikan oleh 4 datuk: datuk pesisir, datuk lima puluh, datuk tanah datar, dan datuk kampar..Jangan main klaim aja cuy,,ntar arwah datuk2 yg lain pada protes!
6 Juli 2011 at 12:43 pm
hahaha…..
tutio cu belajar la ye… jan tampuong sayak jie ye…kkk borosion sabuik nyo lu…..bau posting koment…kkkkk
pekanbaru du io tanah kampar du!! tpi yg membngun du topeknyo yg disobuik ridho du!!
2 Juli 2011 at 4:03 pm
sutan@kamu aja g ngrt apa itu bengak,dsr sok tau,,, bengak=pembohong
Bongak= bodoh
Berongak=cakap/ngomong
Bnyk belajou ye,jgn asal cakap,, key g
Bongak= bodoh
Berongak=cakap/ngomong
Bnyk belajou ye,jgn asal cakap,, key
2 Juli 2011 at 4:20 pm
makasi ocu awang,,ente emang mantap!
2 Juli 2011 at 7:42 pm
DT MINANG@TOLONG ANDA JGN KETERLALUAN.
MMG DATUK KT ADAM TP JGN PROVOKASI DGN CRT2 YG BLM JELAS.
KAMI PD HR INI TLAH MENEMUKAN JATI DR KAMI YG SELAMA INI DI PERBODOH OLEH SUMATRA TENGAH.
JGN UNGKIT2 MSLH YG MEMBUAT KEBENCIAN KAMI LG,KM ORANG MELAYU RIAU DARATAN TERBUKA BAGI PENDATANG.
TIDAK BENAR MELAYUSASI DARI PEMPROV, KRN PEJABAT DI PEKAN BARU KEBANYAKAN ORANG KAMPAR SENDIRI.
DI BLOG INI DAN MN BLOG YG BERCERITA TNTG KAMPAR,MANUSIA YG SLALU MENGHUJAT ORANG2NY ITU2 SAJA.APA ANDA TAK SADAR,ITU MELUKAI HT KAMI ?
KPD ANDA YG MENGKLAIM TOLONGLAH BERHENTI,,DAN BAGI YG PUNY BLOG INI TUTUP AJA,
SALAM RMB DR BUMI SARI MADU KAMPAR
2 Juli 2011 at 8:58 pm
Laskar Malay Bersatu@
Diperbodoh?dengan fakta2 dan data2 yang telah diteliti oleh orang2 yg berkompeten dibidangnya?dan beliau rela mengorbankan uang, tenaga, dan waktunya hanya untuk memberikan setitik cahaya tentang komunitas anda..(baca tulisan dari “witrianto chaniago” dan “cuden” di blog ini..)
Saya mau tanya: apa justifikasi anda bahwa anda merasa dibodohi tentang jati diri anda?apakah anda bisa menjelaskan secara ilmiah (tanpa sangkut paut legende, hikayat, dongeng, dst)??
2 Juli 2011 at 8:00 pm
sutan@saya tidak menyebutkan pendiri pekan baru ttp menyebutkan datuk pekan baru,pekan baru dulunya termasuk wilayah kampar dan setelah menjadi kota madya ibu kota kab.kampar berpindah ke bangkinang.
Mmg pekan baru di dirikan datuk 4 suku, dan kami tidak menafikn itu,
Datuk kampar adalah perwakilan dari pekan baru dan kampar sendiri,sdgkn datuk yg 3 lg berasal dari minang.
Dan itu tersirat dlm kerajaan siak.
2 Juli 2011 at 8:14 pm
betollah tu,,,,,,,,
Dan inilah melayu riau
Melayu pekan baru
Melayu kampar
Melayu rokan hulu
Melayu rokan hilir
Melayu dumai
Melayu bengkalis
Melayu siak
Melayu kepulauan meranti
Melayu pelalawan
Melayu kuantan singingi
Melayu indragiri hulu
Melayu indragiri hilir
Semuanya dah syah dlm lembaga adat melayu riau.betollah tu,,,,,,,,
Dan inilah melayu riau
Melayu pekan baru
Melayu kampar
Melayu rokan hulu
Melayu rokan hilir
Melayu dumai
Melayu bengkalis
Melayu siak
Melayu kepulauan meranti
Melayu pelalawan
Melayu kuantan singingi
Melayu indragiri hulu
Melayu indragiri hilir
Semuanya dah syah dlm lembaga adat melayu riau.
4 Juli 2011 at 3:30 pm
Putera melayu@: apa bedanya melayu pekanbaru dengan melayu kampar? Kok anda membedakan dua tempat tersebut?Padahal kan Pekanbaru itu di dalam Kampar..
6 Juli 2011 at 7:49 am
Pakanbaru bukan bagian dari kampar, pakanbaru bagian dari Siak
6 Juli 2011 at 10:48 am
yah….betul-betul-betul
tapi dulu asal pekanbaru tetaplah dari kampar yg asal pekantua pagaruyung.. jadi pokanbaghu-pekanbaru….
sejarahnya… baca buku sejarah pokan nan bertuah.
di pusil PKU!!!
7 Desember 2011 at 3:10 am
Orang Kuantan dan kampar adalah Orang Minang..,,..
Mengapa harus malu mengatakan bahwa orang Kuantan adalah orang Minang yang daerahnya dimasukkan Pemerintah ke dalam wilayah Provinsi Riau. Sesungguhnya anda minder dengan kenyataan dan sejarah. Anda sebenarnya pasti tahu kalau kita orang Kuantan adalah bagian dari rumpun Minangkabau. Hanya karena letak daerah kita yang anda tidak tahu mengapa tidak berada dalam Prov. Sumatera Barat yang dikenal sebagai daerah asal orang Minang. Melainkan berada dalam Provinsi Riau yang mayoritas bersuku Melayu sehingga selalu diidentikkan sebagai tanah Melayu. Itu tidak salah karena persepsi itu sudah terbentuk dari dulu lebih dari 50 thn pasca pendirian Prov. Riau 1958. Pemerintah Pusat saat itu menggunakan dasar tuntutan para tokoh Melayu Riau yang menginginkan daerah ex Keresidenan Riouw zaman Belanda lepas dari wilayah Provinsi Sumatera Tengah yang berpusat di Bukittinggi. Tahukah kita bahwa daerah Kuantan Hulu (Kuansing sekarang) adalah daerah asli Minangkabau yang dimasukkan oleh Belanda ke dalam wilayah Keresidenan Riouw akhir abad ke 19 dengan alasan geopolitis & militer strategis Kolonial Pemerintah Hindia Belanda. Daerah sepanjang aliran Sungai Kuantan yang mengalir dari hulu di bagian Barat (Kuansing) ke hilirnya di pesisir Timur Sumatera menuju ke Selat Malaka harus dikuasai oleh satu pemerintahan Keresidenan agar tidak overlapping dengan Keresidenan lain (Sumatera’s westkust/Keresidenan Sumatera Barat & Keresidenan Djambi). Belanda juga melihat bahwa ada batas alam berupa rangkaian bukit barisan yang membagi 2 Pulau Sumatera secara tidak proporsional yaitu belahan Pesisir Barat dan Pesisir Timur.(Daratan Bag. Timur jauh lebih luas daripada daratan bagian Barat Bukit Barisan). Batas tersebut dijadikan sebagai perbatasan alami di wilayah Tengah Pulau Sumatera untuk membagi daerah Keresidenan Sumatera’s Westkust di bagian Barat dengan Keresidenan Riouw & Keresidenan Djambi di pesisir Timur. Daerah Kuansing dan Kampar hulu sebenarnya secara geografis jauh lebih dekat ke Pesisir Barat daripada ke Pesisir Timur Sumatera. Belanda tidak menggubris kesamaan etnis, kultural, dan dialek lokal lingustic kedua daerah yang terletak di perbatasan alam tersebut. (Kuantan dengan serumpunnya di bagian Barat yakni Sijunjung, Sawahlunto & Darmasraya) dan (Kampar Hulu V Koto-Taratak Buluh dengan Lima Puluh Kota di bagian Baratnya). Bahkan oleh Belanda daerah Minangkabau yang disegressi dari induk rumpunnya di Sebelah Barat ini diintegrasikan dengan daerah Pesisir Timur yang murni beretnis Melayu Riau. Dimasukkan ke dalam suatu Kewedanan (afdeling) yang diberinama Kampar dan sebagian masuk Indragiri. Mulai saat itu terpisahlah orang Kuantan dan orang Kampar (Ocu) dari rumpun induknya Minangkabau di bagian Barat secara de jure dan de facto. Pada zaman awal kemerdekaan 1945 hingga tahun 1958 Kampar dan Kuantan sempat mengalami reunifikasi dengan saudara serumpun Minangnya dalam satu Provinsi besar yakni Prov. Sumatera sampai tahun 1948. Berkutnya dalam Prov. Sumatera Tengah pasca pemekaran Prov. Sumatera menjadi 3 Provinsi : Prov. Sumatera Utara, Prov. Sumatera Tengah dan Prov. Sumatera Selatan. Kebersamaan itu berlangsung tidak lama karena kemudian Provinsi Sumatera Tengah ini akhirnya dimekarkan pula menjadi 3 Provinsi pasca kekalahan PRRI yang berpusat di Bukittinggi. Wilayah Kuantan dan Kampar Hulu sekali lagi dipisahkan kembali dengan rumpun induknya atas dasar klaim sejarah para Tokoh Melayu Riau yang menggunakan dasar wilayah ex Keresidenan Riouw. Tentu saja Ranah Minangkabau sebagai pihak pecundang perang tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolak kebijakan Pemerintah yang dituangkan dalam UU No. 61 thn 1958 yang membagi wilayah Provinsi Sumatera Tengah menjadi 3 Provinsi baru. Mereka tidak punya dasar hukum untuk mengklaim sebagai bagian yang diinginkan masuk ke dalam wilayah Provinsi Sumatera Barat (selain mungkin hanya berupa de facto rumpun etnis dan kultural Minang). Begitu juga dengan masyarakat Kuantan dan Kampar (Juga Kerinci dimasukkan ke Prov. Jambi) saat itu yang mayoritas masih hidup di bawah standard kesejahteraan. Mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa karena memang tidak disosialisasikan kepada masyarakat awam oleh Pemerintahan yang dipegang oleh Militer pasca PRRI. Yang pasti menurut cerita tetua Kampung kita dulu bahwa mereka tetap mengakui sebagai orang Minang sejak dahulu kala. Dan bilamana saat itu diberi kesempatan untuk memilih mau ikut bergabung ke Riau atau ke Sumbar, tentu saja seluruh etnis asli (non pendatang tentunya) Kuantan dan Kampar (Non Melayu Riau) akan memilih sesuai naluri mereka ke Sumbar. Tapi itu tidak pernah terjadi dan sudah berlalu lebih dari 50 thn yang lalu. Sudah hampir 3 generasi yang berlalu dan tidak perlu dipermasalahkan lagi. Yang jadi masalah adalah generasi baru seperti kita-kita ini yang merasakan termarginalisasi oleh kenyataan berada di luar situasi ideal. Mau mengaku jadi orang Melayu tidak mau karena terlalu banyak perbedaan budaya, bahasa dan adat istiadat dengan kita. Mengaku sebagai orang Minang ada rasa sungkan karena secara de facto dan de jure tanah Kuantan dan Kampar tidak (lagi) berada dalam wilayah Prov. Sumatera Barat. Image umum juga mengatakan bahwa orang Minang berasal dari Prov. Sumatera barat dan orang Riau adalah orang Melayu. Seharusnya kita tidak perlu malu mengakui bahwa kita tetap adalah bagian dari Rumpun Minangkabau. Apalagi sampai mengarang rangkaian sejarah sendiri yang dikutip sana-sisni dari Tambo Minang dan peninggalan arkeologis tanpa dasar (selain karena rasa malu dan minder) untuk diakui sebagai suku tersendiri yang unik? Suatu upaya yang sangat naif dan tidak intelek karena bersifat pembodohan public dan berselera rendah dengan merendahkan etnis dan budaya sendiri. Prov. Riau dan orang Melayu Riau mayoritas tahu bahwa kita memang berbeda dengan mereka, tapi kita punya tanah dan kampung sendiri dan bukan pendatang dari luar di Provinsi ini. Merekalah yang menginginkan wilayah kita dimasukkan ke dalam wilayah Provinsi Riau ini dulunya. Menjadi orang Minang bukanlah suatu yang hina, bahkan merupakan suatu kebanggaan karena mereka sangat terkenal dalam sejarah dan keberadaan mereka mudah dikenali di seluruh wilayah tanah air dan manca negara. Kebudayaan mereka dikagumi sebagai salah satu keunikan budaya Indonesia dan Malaysia (Negeri Sembilan). Pengakuan masyarakat Riau akan adanya minoritas Minang di daerah Perbatasan Barat Provinsi Riau sudah ada, walaupun agak direkayasa seolah menjadi etnis Melayu yang berdialek mirip Minangkabau. Tidak ada indikasi upaya Melayunisasi yang mematikan potensi bahasa, dan budaya asli kita. Justru malah budaya kita dijadikan sebagai bagian dari khasanah budaya Riau. Biarlah itu dilakukan itu sebagai ajang promosi budaya kita lewat mereka karena mereka mayoritas dan dominan. Hanya saja akan semakin sukar untuk meluruskan image kepada pihak luar bahwa tidak seluruh daerah Riau bersuku Melayu, ada juga minoritas asli yang bersuku Minangkabau. Tapi sudahlah tidak usah diperpanjang karena bersama mereka dalam Prov. Riau ini kita juga sudah merasakan kemajuan dan peningkatan kesejahteraan. Artinya keberadaan kita dalam pangkuan mereka tidak disiasiakan sebagai daerah taklukan yang hanya diexploitasi seperti zaman Kerajaan dan Kolonial dahulu. Itulah mengapa Kuantan dan Kampar seolah sepakat sama sekali tidak mendukung wacana tidak populer “Riau merdeka” yang pernah didengungkan oleh segelintir tokoh Melayu Riau yang tanpa malu mengatasnamakan Masyarakat Riau. Kalau mereka mau merdeka, silakan aja berurusan dengan NKRI dan kita tidak ikut-ikutan. Mungkin satu-satunya ide dari Pusat bila Riau merdeka adalah wilayah Kuantan dan Kampar akan diunifikasikan ke Prov. Sumatera Barat. Tapi yang fantastis saat itu adalah kenyataan bahwa Riau Kepulauan yang beretnis dan berbudaya sama dengan Melayu Riau Daratan malah memilih melepaskan diri karena tidak sependapat dengan ide bodoh itu. Tidak ada alasan untuk malu bagi kita untuk mengaku sebagai orang Minang. Bahkan teman-teman Kerinci saya di Jakarta tanpa tedeng aling-aling tetap mengatakan bahwa orang Kerinci adalah orang Minang yang wilayahnya termasuk ke dalam Provinsi Jambi.
2 Juli 2011 at 9:44 pm
SUTAN@KLAU SOAL ITU KAMI SDH TAU TP SOAL MINANG KABAU KAMI TIDAK TERMASUK DI DLMNYA.KRN KAMPAR TELAH ADA SEJAK DULU.KAMI PERCAYA KALIAN BERASAL DARI KAMI..
PENELITIAN,,,,,,, MKN TU PENELITIAN KALIAN,,
SEKALI LAGI KAMI TEGASKAN KAMI ORG MELAYU RIAU BUKAN ORG MINANG KABAU,FAHAM,,,,,
SBTLNYA MINANG TU MELAYU TTP SKRG KALIAN MENGINGKARI JATI DR KALIAN MLH LBH MENONJOLKN SIMBOL HEWAN,,
PERLU ANDA TAU BAHW BUDAYA MELAYU DAN BUDAYA MINANG ITU SELARAS,,,
4 Juli 2011 at 11:39 am
Laskar@:
Aneh aku baca komentar kamu ini. Udah ada penelitian tentang komunitas kamu eh justru ga berterima kasih justru ente bilang balik “PENELITIAN,,,,,,, MKN TU PENELITIAN KALIAN..” Jadi anda maunya apa? Dongeng, Hikayat, Legenda?
Untung aja para guru dan siswa di Kampar dahulu berdemonstrasi terhadap anggaran pendidikan yang kecil hanya 5,39 persen dari total Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kampar yang sekitar Rp 400 miliar ketika Jefri Noer menjabat sebagai bupati Kampar, sehingga beliau lengser dari kedudukannya. Kalau dibiarkan terus-menerus anggaran pendidikannya kecil, saya pikir akan lebih banyak lagi orang2 kampar yang punya pandangan sempit seperti anda..
Saran saya: buka cakrawala pengetahuan anda, jangan pandang negatif sesuatu yang baru untuk anda walaupun itu adalah kebenaran yang pahit, biar tidak menjadi katak dalam tempurung seperti sekarang ini!!
5 Juli 2011 at 10:36 am
udah angggaran pendidikannya nya kecil, orang melayu lain pun bilang: anggaran daerahnya kampar kecil aja, soalnya mereka kan bukan melayu…
hehehe..
2 Juli 2011 at 10:07 pm
di mana tulisan tentang ocu,sutan pst ada,, aku hrn,,,,,,,
Klau kampar tu minang pst dah mnytkn minang,hehehe,,,, ini tidak mlh org minang pula ngaku2 kampar tu satu induk dgn minang,yg benar kt satu nenek yaitu siti hawa. Kami aja orang kampar tak merasa minang,klian pula yg bemiang.
Sutan lbh baik diam,,,, krn km di riau dah tau watak dan perangai orang minang mcm mana,,,
Percuma anda bilang penelitian,krn kami tak percaya lg nang,hehehe,,,, ini tidak mlh org minang pula ngaku2 kampar tu satu induk dgn minang,yg benar kt satu nenek yaitu siti hawa. Kami aja orang kampar tak merasa minang,klian pula yg bemiang.
Sutan lbh baik diam,,,, krn km di riau dah tau watak dan perangai orang minang mcm mana,,,
Percuma anda bilang penelitian,krn kami tak percaya lg
4 Juli 2011 at 11:47 am
Awang@: Anda benar, kita satu nenek yaitu siti Hawa. Suatu pencerahan yang tak ternilai bagi saya selama mengikuti diskusi tentang Minang dan Ocu ini..Thanks ya sob..!
3 Juli 2011 at 8:03 pm
kenapa orang ocu tidak mau dikatakan minang…..
sudah jelas bahasa yang mereka pakai bahasa minang dialek payakumbuh, adat yang mereka pakai adat minang.
semua jelas karena sekarang riau sdang bangkit dengan SDA nya yag melimpah, malu doooonnggg kalo ngaku orang minang. Trus utuk masuk pemda riau harus melayu jadi ngapin ngaku minang…. asal kalia tau saja bahasa kalian itu bahasa minang… coba ke sibolga… ke meulaboh… ke muko-muko pasti kalia orag ocu mengerti bahasa yang digunakan, karena memang bahasa minang, cuma ada bebrapa kata yang bebeda da dialek berbeda pula, iu biasa di seluruh sumatra barat banyak pula dialeknya.
Trus kenapa daerah -daerah tadi yang menggunakan bahasa minang, adat istiadat minang tidak masuk provisi sumbar… padahal sebelumnya mereka semua ( kampar,kuansing,rokan dan sampai ke sibolga) sebelum pemisahan provinsi sumatera tengah ngaku minang.
6 Juli 2011 at 12:53 pm
sanak..pmikiran anda negatif ya…
dari zaman kerajaan sampai penjajan sampai sekarang orang kampar tidak pernah mengakui minang!!
apa hubungannya SDA??
itu sudah rezeki kampar…
kkkkk… komailah sanak.. kolien tio anak asuhan kami nye…
6 Juli 2011 at 2:34 pm
Rudien@: anak asuhan anda lebih kaya dari anda di sana..Mereka memanfaatkan SDA anda..Kalo buat anda, cukup saja rasa kebanggan yang anda miliki..
3 Juli 2011 at 8:56 pm
tak malu kalian klaim sibolga dan aceh ? Di mana otak kalian ?
Minang tu sbsr lingkaran obat nyamuk,,pejabat di pevrop tu kbnykn org kampar dn kuansing,, untuk apo mrk bgt ?kampar tu dr dl tak prn bahagian minang dan ngaku2 orang minang dan terbukti sampai skrg,klau bagian pagar ruyung, iya.krn pgr ruyung dn sumatra tengah mnjjh kami,satu lg,, bhs mn yg sm ? Mrp iya tp bhs kt bnyk prbedaan,,,,kamu tau galak tu klau kamparny artiny buas,,,klau kalian ketawa kan ?
4 Juli 2011 at 11:20 am
Awang@:
Deyen malu la baca tulisan kamu ini..Sesuai komentar saya menanggapi komentar kamu di nomor 53, lihat balasan komentar dari saya pada point no. 3: “Gimana Cik Awang, tak punya jawaban kah? Sehingga anda sekali lagi mendongeng dan mengejek orang Minang? Saran saya,,kalo kesal jangan ungkapkan di media ini, ntar ketahuan kualitas anda hanya sampai mana, OK?!”
Di komentar no. 83 ini kembali anda menghina kami, orang Minang, dengan pernyataan anda: “Di mana otak kalian ? Minang tu sbsr lingkaran obat nyamuk…”
Saran saya, sebelum membalas komentar orang, baca dulu baik-baik atau kalau tidak bisa baca, minta tolong ke orang lain untuk membacanya dan mengartikannya, OK?! Yang ditulis oleh Minang18 adalah tentang “bahasa” dalam perihal membandingkan dengan Sibolga dan Meulaboh (di sini kamu ganti Meulaboh dengan Aceh. Saya yakin (deyen berprasangka baik) kamu dulu sekolah dan belajar ilmu geografi??Kalu kamu memang belajar ilmu geografi, kamu pasti bisa bedakan antara Aceh dan Meulaboh..Please find it for me..).
1. Tentang Sibolga.
Bahasa di sana dipengaruhi oleh bahasa Minang. Di
bawah ini saya kasih linknya agar wawasan anda
bertambah:
http://sriandalas.multiply.com/journal/item/74
Link di atas juga ditulisi beberapa kata yang
dibandingkan antara bahasa Minang (general) dengan
bahasa Sibolga (melayu pesisir).
Link selanjutnya adalah sebuah grup di facebook
yang bernama “KAMUS BAHASA SIBOLGA PESISIR”. Kamu
bisa lihat bahasa yang digunakan oleh facebookers
di sana.
http://www.facebook.com/group.php?gid=285273154699#!/group.php?gid=285273154699&v=wall
Masih banyak lagi website yang mengulas itu tapi
cukuplah rasanya deyen beri 2 link di atas supaya
cik Awang ndak poniang dibuek e..
2. Tentang Meulaboh.
Di Prov. Aceh dikenal adanya suku Aneuk Jamee. Suku
ini adalah pendatang dari ranah Minang yang
mendiami pesisir barat dan selatan Aceh (termasuk
di Meulaboh). Supaya kamu lebih paham, pergi ke
link di bawah ini:
http://budayanusantara2010.wordpress.com/daftar-suku-bangsa-di-indonesia/suku-aneuk-jamee/
Saya kasih satu link lagi yang merupakan forum anak Aceh. Di sana saya simpulkan bahasa anak jamee berbeda dengan bahasa Aceh umumnya:
http://www.acehforum.or.id/archive/index.php/t-6147-p-2.html
Di sana ada seorang penulis yang bernama Jurnalis jh mengatakan: “banyak dari tmen2 kita yang lahir dan besar di aceh yang kul di kampus kami..
kurang menghargai kami-kami yang ‘berdarah aceh’ tapi besar di luar aceh…
di unit mhs aceh di kampus kami malah pernah ada 3 orang yang seperti saya…
tapi mereka memilih keluar dari organisasi tersebut kerana semacam ada ‘pengucilan’…
ini nyata lo..dan saya juga mengalaminya…
ironisnya.. orang minang di kampus kami lebih menghargai orang-orang kelahiran minang yang bsar di luar sumbar…
bahkan kami yang rata-rata berbahasa jameu lebih dekat dengan ukm Minang tersbut drpd dengan UKM aceh…
itu nyata…”
Saya juga punya pengalaman ketika kuliah di ITB, Bandung. Ada seorang teman berasal dari Aceh yang mempunyai kaset penyanyi “Rafly” (saya ingat Rafly pernah diwawancara di Metro TV ketika tsunami melanda Aceh). Ada satu lagu Aceh di kaset Rafly dimana teman saya ga ngerti. Dia bilang ini lagu Aceh selatan. Setelah saya mendengar sekali saja, saya langsung ngerti karena lagu itu memakai bahasa Minang dialek Piaman (Piaman laweh).
Jadi sekian saja untuk Cik awang..Saran saya, sesuai dengan balasan saya di komentar anda di nomor 53, di point nomor 4: “Sekali lagi saya sarankan, buka cakrawala pengetahuan anda, jangan pandang negatif sesuatu yang baru untuk anda walaupun itu adalah kebenaran yang pahit, biar tidak menjadi katak dalam tempurung seperti sekarang ini!!”
Lai enter dek sanak tu?!
4 Juli 2011 at 12:20 pm
Awang@:
Deyen malu la baca tulisan kamu ini..Sesuai komentar saya menanggapi komentar kamu di nomor 53, lihat balasan komentar dari saya pada point no. 3: “Gimana Cik Awang, tak punya jawaban kah? Sehingga anda sekali lagi mendongeng dan mengejek orang Minang? Saran saya,,kalo kesal jangan ungkapkan di media ini, ntar ketahuan kualitas anda hanya sampai mana, OK?!”
Di komentar no. 83 ini kembali anda menghina kami, orang Minang, dengan pernyataan anda: “Di mana otak kalian ? Minang tu sbsr lingkaran obat nyamuk…”
Saran saya, sebelum membalas komentar orang, baca dulu baik-baik atau kalau tidak bisa baca, minta tolong ke orang lain untuk membacanya dan mengartikannya, OK?! Yang ditulis oleh Minang18 adalah tentang “bahasa” dalam perihal membandingkan dengan Sibolga dan Meulaboh (di sini kamu ganti Meulaboh dengan Aceh. Saya yakin (deyen berprasangka baik) kamu dulu sekolah dan belajar ilmu geografi??Kalu kamu memang belajar ilmu geografi, kamu pasti bisa bedakan antara Aceh dan Meulaboh..Please find it for me..).
1. Tentang Sibolga.
Bahasa di sana dipengaruhi oleh bahasa Minang. Di
bawah ini saya kasih linknya agar wawasan anda
bertambah:
http://sriandalas.multiply.com/journal/item/74
Link di atas juga ditulisi beberapa kata yang
dibandingkan antara bahasa Minang (general)dengan
bahasa Sibolga (melayu pesisir).
Link selanjutnya adalah sebuah grup di facebook
yang bernama “KAMUS BAHASA SIBOLGA PESISIR”. Kamu
bisa lihat bahasa yang digunakan oleh facebookers
di sana.
http://www.facebook.com/group.php?gid=285273154699#!/group.php?gid=285273154699&v=wall
Masih banyak lagi website yang mengulas itu tapi
cukuplah rasanya deyen beri 2 link di atas supaya
cik Awang ndak poniang dibuek e..
2. Tentang Meulaboh.
Di Prov. Aceh dikenal adanya suku Aneuk Jamee. Suku ini adalah pendatang dari ranah Minang yang
mendiami pesisir barat dan selatan Aceh (termasuk
di Meulaboh). Supaya kamu lebih paham, pergi ke
link di bawah ini:
http://budayanusantara2010.wordpress.com/daftar-suku-bangsa-di-indonesia/suku-aneuk-jamee/
Saya kasih satu link lagi yang merupakan forum anak Aceh. Di sana saya simpulkan bahasa anak jamee berbeda dengan bahasa Aceh umumnya:
http://www.acehforum.or.id/archive/index.php/t-6147-p-2.html
Di sana ada seorang penulis yang bernama Jurnalis jh mengatakan: “banyak dari tmen2 kita yang lahir dan besar di aceh yang kul di kampus kami..
kurang menghargai kami-kami yang ‘berdarah aceh’ tapi besar di luar aceh…
di unit mhs aceh di kampus kami malah pernah ada 3 orang yang seperti saya…
tapi mereka memilih keluar dari organisasi tersebut kerana semacam ada ‘pengucilan’…
ini nyata lo..dan saya juga mengalaminya…
ironisnya.. orang minang di kampus kami lebih menghargai orang-orang kelahiran minang yang bsar di luar sumbar…
bahkan kami yang rata-rata berbahasa jameu lebih dekat dengan ukm Minang tersbut drpd dengan UKM aceh…
itu nyata…”
Saya juga punya pengalaman ketika kuliah di ITB, Bandung. Ada seorang teman berasal dari Aceh yang mempunyai kaset penyanyi “Rafly” (saya ingat Rafly pernah diwawancara di Metro TV ketika tsunami melanda Aceh). Ada satu lagu Aceh di kaset Rafly dimana teman saya ga ngerti. Dia bilang ini lagu Aceh selatan. Setelah saya mendengar sekali saja, saya langsung ngerti karena lagu itu memakai bahasa Minang dialek Piaman (Piaman laweh).
Jadi sekian saja untuk Cik awang..Saran saya, sesuai dengan balasan saya di komentar anda di nomor 53, di point nomor 4: “Sekali lagi saya sarankan, buka cakrawala pengetahuan anda, jangan pandang negatif sesuatu yang baru untuk anda walaupun itu adalah kebenaran yang pahit, biar tidak menjadi katak dalam tempurung seperti sekarang ini!!”
Lai enter dek sanak tu?!!!
5 Januari 2012 at 9:00 pm
Saya sdh membaca link yg anda tulis,kesimpulannya bahasa sibolga tu sama dgn bahasa minang asli.
Bhs sibolga g sama dgn bhs kampar.
Bhs sibolga msh bhs minang bana.
Yg herannya,bnyk warga minang di Riau ni yg tak pandai berbahasa indonesia,mereka lbh menonjolkan daerah mrk.
Klau di kampar mrk bhs minang akan kena campak ke sungai kampar.di pekan baru blh mrk sukses tp klau di bangkinang jgn coba2,
Melayu lbh bertuah dari minang
6 Januari 2012 at 1:38 pm
Ah yang benar itu said??saya aja cakap bahasa minang di Bangkinang, biasa2 aja tuh..Saya lewat Bangkinang sering karena mertua saya di Peknabru tinggalnya..
4 Juli 2011 at 3:10 pm
Awang@:
Deyen malu la baca tulisan kamu ini..Sesuai komentar saya menanggapi komentar kamu di nomor 53, lihat balasan komentar dari saya pada point no. 3: “Gimana Cik Awang, tak punya jawaban kah? Sehingga anda sekali lagi mendongeng dan mengejek orang Minang? Saran saya,,kalo kesal jangan ungkapkan di media ini, ntar ketahuan kualitas anda hanya sampai mana, OK?!”
Di komentar no. 83 ini kembali anda menghina kami, orang Minang, dengan pernyataan anda: “Di mana otak kalian ? Minang tu sbsr lingkaran obat nyamuk…”
Saran saya, sebelum membalas komentar orang, baca dulu baik-baik atau kalau tidak bisa baca, minta tolong ke orang lain untuk membacanya dan mengartikannya, OK?! Yang ditulis oleh Minang18 adalah tentang “bahasa” dalam perihal membandingkan dengan Sibolga dan Meulaboh (di sini kamu ganti Meulaboh dengan Aceh. Saya yakin (deyen berprasangka baik) kamu dulu sekolah dan belajar ilmu geografi??Kalu kamu memang belajar ilmu geografi, kamu pasti bisa bedakan antara Aceh dan Meulaboh..Please find it for me..).
1. Tentang Sibolga.
Bahasa di sana dipengaruhi oleh bahasa Minang. Di
bawah ini saya kasih linknya agar wawasan anda
bertambah:
http://sriandalas.multiply.com/journal/item/74
Link di atas juga ditulisi beberapa kata yang
dibandingkan antara bahasa Minang (general) dengan
bahasa Sibolga (melayu pesisir).
Link selanjutnya adalah sebuah grup di facebook
yang bernama “KAMUS BAHASA SIBOLGA PESISIR”. Kamu
bisa lihat bahasa yang digunakan oleh facebookers
di sana.
http://www.facebook.com/group.php?gid=285273154699#!/group.php?gid=285273154699&v=wall
Masih banyak lagi website yang mengulas itu tapi
cukuplah rasanya deyen beri 2 link di atas supaya
cik Awang ndak poniang dibuek e..
2. Tentang Meulaboh.
Di Prov. Aceh dikenal adanya suku Aneuk Jamee. Suku
ini adalah pendatang dari ranah Minang yang
mendiami pesisir barat dan selatan Aceh (termasuk
di Meulaboh). Supaya kamu lebih paham, pergi ke
link di bawah ini:
http://budayanusantara2010.wordpress.com/daftar-suku-bangsa-di-indonesia/suku-aneuk-jamee/
Saya kasih satu link lagi yang merupakan forum anak Aceh. Di sana saya simpulkan bahasa anak jamee berbeda dengan bahasa Aceh umumnya:
http://www.acehforum.or.id/archive/index.php/t-6147-p-2.html
Di sana ada seorang penulis yang bernama Jurnalis jh mengatakan: “banyak dari tmen2 kita yang lahir dan besar di aceh yang kul di kampus kami..
kurang menghargai kami-kami yang ‘berdarah aceh’ tapi besar di luar aceh…
di unit mhs aceh di kampus kami malah pernah ada 3 orang yang seperti saya…
tapi mereka memilih keluar dari organisasi tersebut kerana semacam ada ‘pengucilan’…
ini nyata lo..dan saya juga mengalaminya…
ironisnya.. orang minang di kampus kami lebih menghargai orang-orang kelahiran minang yang bsar di luar sumbar…
bahkan kami yang rata-rata berbahasa jameu lebih dekat dengan ukm Minang tersbut drpd dengan UKM aceh…
itu nyata…”
Saya juga punya pengalaman ketika kuliah di ITB, Bandung. Ada seorang teman berasal dari Aceh yang mempunyai kaset penyanyi “Rafly” (saya ingat Rafly pernah diwawancara di Metro TV ketika tsunami melanda Aceh). Ada satu lagu Aceh di kaset Rafly dimana teman saya ga ngerti. Dia bilang ini lagu Aceh selatan. Setelah saya mendengar sekali saja, saya langsung ngerti karena lagu itu memakai bahasa Minang dialek Piaman (Piaman laweh).
Jadi sekian saja untuk Cik awang..Saran saya, sesuai dengan balasan saya di komentar anda di nomor 53, di point nomor 4: “Sekali lagi saya sarankan, buka cakrawala pengetahuan anda, jangan pandang negatif sesuatu yang baru untuk anda walaupun itu adalah kebenaran yang pahit, biar tidak menjadi katak dalam tempurung seperti sekarang ini!!”
Lai enter dek sanak tu??!!
6 Juli 2011 at 8:00 am
Awang, supaya wawasan anda lebih luas, pergilah ke sibolga dan meulaboh. Dengarkan bahasa yg dipergunakan oleh penduduk di sana, kemudian silahkan simpulkan sendiri, tidak perlu dg melalui debat yg tdk bermutu seperti yg anda lakukan.
Orang Minang tidak perlu mengklaim kampar sbg bagian dari minang, meskipun ada penelitian ttg itu. Untuk apa? Peradaban minang jauh lebih tinggi dibanding peradaban riau, apalagi kampar. Seluruh dunia sudah tahu itu.
Ketika saya melakukan penelitian di kampar dg membawa seorang mahasiswa dari mandahiling yg bisa berbahasa minang, DETIK PERTAMA dia menginjakkan kaki di kampar dia langsung bisa berbahasa ocu dan bisa berkomunikasi dg orang ocu dg menggunakan bahasa “Ocu”. Saya berpikir mahasiswa saya ini pastilah orang yg sangat jenius, karena baru pertama kali menginjakkan kaki di tempat langsung bisa bahasa masyarakat setempat.
6 Juli 2011 at 2:31 pm
Pak Wit@: Ambo lah mambaleh komentar si awang-awang ko tapi statusnyo masih menunggu moderasi..Padohal di komentar ambo satoan jo link tentang baso sibolga (pesisir) jo anak jamee di aceh..
6 Juli 2011 at 6:17 pm
Awang@:
Deyen malu la baca tulisan kamu ini..Sesuai komentar saya menanggapi komentar kamu di nomor 53, lihat balasan komentar dari saya pada point no. 3: “Gimana Cik Awang, tak punya jawaban kah? Sehingga anda sekali lagi mendongeng dan mengejek orang Minang? Saran saya,,kalo kesal jangan ungkapkan di media ini, ntar ketahuan kualitas anda hanya sampai mana, OK?!”
Di komentar no. 83 ini kembali anda menghina kami, orang Minang, dengan pernyataan anda: “Di mana otak kalian ? Minang tu sbsr lingkaran obat nyamuk…”
Saran saya, sebelum membalas komentar orang, baca dulu baik-baik atau kalau tidak bisa baca, minta tolong ke orang lain untuk membacanya dan mengartikannya, OK?! Yang ditulis oleh Minang18 adalah tentang “bahasa” dalam perihal membandingkan dengan Sibolga dan Meulaboh (di sini kamu ganti Meulaboh dengan Aceh. Saya yakin (deyen berprasangka baik) kamu dulu sekolah dan belajar ilmu geografi??Kalu kamu memang belajar ilmu geografi, kamu pasti bisa bedakan antara Aceh dan Meulaboh..Please find it for me..).
1. Tentang Sibolga.
Bahasa di sana dipengaruhi oleh bahasa Minang. Di
bawah ini saya kasih linknya agar wawasan anda
bertambah:
http://sriandalas.multiply.com/journal/item/74
Link di atas juga ditulisi beberapa kata yang
dibandingkan antara bahasa Minang (general) dengan
bahasa Sibolga (melayu pesisir).
Link selanjutnya adalah sebuah grup di facebook
yang bernama “KAMUS BAHASA SIBOLGA PESISIR”. Kamu
bisa lihat bahasa yang digunakan oleh facebookers
di sana.
http://www.facebook.com/group.php?gid=285273154699#!/group.php?gid=285273154699&v=wall
Masih banyak lagi website yang mengulas itu tapi
cukuplah rasanya deyen beri 2 link di atas supaya
cik Awang ndak poniang dibuek e..
3 Juli 2011 at 9:07 pm
ngapo oghang minang bencikan melayu,ngapo tiap tulisan yg menuliskan kampar/ocu,oghang minang slalu bemiang ? Tnp kampar prov. Riau tak akan prn terbentuk.
Orang kampar adalah sedagho kami,bersamo oghang kampar kami bahu membahu membangun Negeri lancang kuning ini menuju kegemilangan. tiap tulisan yg menuliskan kampar/ocu,oghang minang slalu bemiang ? Tnp kampar prov. Riau tak akan prn terbentuk.
Orang kampar adalah sedagho kami,bersamo oghang kampar kami bahu membahu membangun Negeri lancang kuning ini menuju kegemilangan.
4 Juli 2011 at 12:15 pm
Putera Melayu@: Lancang kuning lancang kuning berlayar malam hai berlayar malam, tali kemudi tali kemudi berpilin tiga..Jangan lupakan juga ya bro orang Minang, Batak, Banjar, Bugis, dll juga memiliki andil dan peran dalam pembangunan di Riau..! Kalau nahkoda kalau nahkoda kurang lah pandai hai kuranglah pandai,,alamatnya kapal alamatnya kapal akan “TENGGELAM”…
6 Juli 2011 at 1:01 pm
dalam dasar apa??
orng batak cuma pengantar barang diriau!!
kebanyakan orng kampr dan melayulah yg memimpin perekonomian diriau!!
kkkkk
yg menghidupkan perdagngan.. kalien!!
kan sebagian besar dri kami ga” punya ahli buat berdagang!! wkwkwkwk
6 Juli 2011 at 2:28 pm
Rudien@: Memimpin di negeri sendiri itulah hal wajar (melayu memimpin ekonomi di Riau), jadi ndak usah dibanggakan..Yang bangga itu sukses di rantau (di kampung orang).
6 Juli 2011 at 8:06 am
Sebetulnya, yg dimaksud dg orang Melayu di Riau adalah keturunan dari percampuran berbagai etnis seperti Bugis, Banjar, Jawa, Minangkabau, dll. Hasil dari perkawinan campuran tsb stelah beberapa generasi karena sudah tidak jelas identitasnya, kemudian menyatakan diri sbg orang Melayu. Hal seperti ini juga terjadi di Jambi. jangan lupa Raja Ali Haji di Bintan adalah orang Bugis, raja2 Riau Lingga juga adalah keturunan Bugis, raja Siak dari Minangkabau, dll.
4 Juli 2011 at 2:52 pm
sutan,,,sutannn,,,,,,, sayo tak tuliskan yg mmbabgun riau oghang melayu je.yg sayo tuliskan besamo oghang kampar kami nakhodai lancang kuning,,,, tnp oghang kampar apolah artinya riau ini.
Dan masalah adat di kampar dah ada LEMBAGA ADAT MELAYU KAMPAR yg urus.
Buat apo kito sibuk2 urus asal usul mrk,,mrk pon dah pintar mengenali jati dighi mrk.
istilah melayu riau lahir krn ada siket perbedaan antar kabupaten di riau.
Melayu riau di golongkan kpd 3
1 melayu Riau daratan
2 melayu Riau pesisir
3 melayu Riau kepulauan
Cumo yg mmbezokan garis keturunan je,selebehnya samo.
Itulah yg di namokn melayu riau.
4 Juli 2011 at 3:25 pm
Putera Melayu@: Coba baca komentar saya dengan baik dan teliti hingga anda paham! Komentar saya tidak ada sangkut pautnya dengan orang Kampar, suai sanak?
Saya tidak sibuk pun, justru ini hobi saya untuk berdebat asal itu masih logis..Tetapi apa yang terjadi? Kalau anda objektif, anda bisa lihat bahwa semua pernyataan2 peneliti hanya dibalas dengan cercaan, dongeng, ejekan, dll di tulisan ini. Satu hal yang bisa saya simpulkan dari sekian banyak komentar yang ada:
“Diagieh omeh dek ughang, peghak juo nan katuju!”
“Diberi emas sama orang, tapi perak juga yang disuka!”
4 Juli 2011 at 6:48 pm
yg logika aje, oghang dr hilir ke hulu.bukan dr gunung ke bawah.
Crt dr gunong tu yg legenda…
Ade2 je minang sorang ni,,,,
Mgkn mike2 yg asalnye dr riau,,, .
Ade2 je minang sorang ni,,,,
Mgkn mike2 yg asalnye dr riau,,,
4 Juli 2011 at 7:06 pm
tulah ntah mano yg dongeng kn du gak nye,,, merapi nampak sgodang tolu itik,,,, tu baghu legenda. Mlh mrk minang mengklaim seluruh nusantara berasal dr gunung merapi,, ughang bunian gak nye,,,
Bontilah sutan,, jen hanyo pogang versi anda,cubo anda ka pokan baghu jumpai budayawan riau yg tlah di akui oleh indo dan malaysia,,,tengku nasarudin efendi,,situ kau mngkn mklm,,
Itulah melayu riau,,,setiap kab/kodya punyo LAM masing2.
Sodap cakap yo,kau pkr ughang kampou ko bodoh2,,,, maaf cakap,,,di riau ko ughang minang dak tapakai do,,,
5 Juli 2011 at 9:19 am
Awang@:
Siapa bilang saya percaya dengan dongeng seperti itu??Justru kamu yang terus bilang seperti itu..Kamu kalo bisa baca,,coba baca komentar dari Witrianto dan Cuden..Di sana mereka tidak mempercayai tambo seperti itu, saya pun seperti itu..
Jadi keliatan sejauh mana kualitas membaca anda..sepertinya anda tidak bisa membaca hal-hal yang berat seperti cuden dan witrianto tulis..Kasian kali kamu…
5 Juli 2011 at 10:28 am
urang minang ndak tapakai? Hahaha,,
ota kau gadang..
etek den se jadi sekwil di Riau..
Om den jadi Wakapolda dulu..
Atuak den dulu Dirut Chevron (Baihaki Hakim), tau kau..?
itu baru nan dari den, dari kawan2 den banyak lai mah..
jan asa mangecek sajo, pakai data..
5 Juli 2011 at 10:38 am
Manambah kecek dari rajo tampatiah:
Wawali patang du rang bukiktinggi du..Nan punyo tampek penggemukan sapi terbesar di Asia tenggara tu punyo rang Piaman laweh ma..Jadi untuak cik Awang, jangan ASBUN deh..ntar ente berkarat di bengkalis sana…
6 Juli 2011 at 8:14 am
Sewaktu saya mengantarkan adik saya yang lulusan Akademi Gizi Padang ke Pekanbaru th 1996 untuk melapor karena SK PNS-nya keluar di Riau (tanpa ikut tes sebelumnya), Ada 27 orang yang lulus bersama dg dia, 26 di antaranya berasal dari Sumbar, 1 orang dari Sumatera Utara. Tidak satu pun yg berasal dari Riau. Hal seperti ini pasti tidak akan terjadi di Sumbar. Hal ini membuktikan kwalitas orang Riau itu seperti apa? Ketika saya pergi ke kantor gubernur, ternyata yg saya dengar hanya bahasa minang saja, bukan bahasa ipin upin.
6 Juli 2011 at 1:10 pm
astafirulloh….!!!!
baaso kampa du sanak… den acok bona kasitunyo….
6 Juli 2011 at 2:23 pm
Pak Wit@: Betul betul betul…
6 Juli 2011 at 6:09 pm
saya bukan orang yang awam di didang budaya, saya tahu beda antara bahasa Minang dg yg disebut sbg “bahasa ocu” atau “bahasa kampa” itu, bahasa yg saya dengar di kantor gubernur riau th 1996 itu adalah bahasa minangkabau umum (silahkan cari tahu maksudnya), bahasa ini mirip dg bahasa minang yg dipergunakan di kota2 di sumbar. Bahasa ocu jelas bukan seperti itu.
17 Juli 2011 at 4:43 pm
saya pun bukan orang awam!!
katanya anda seorang peneliti sastra.. kok anda keras kepala ya? bukannya jadi pr… malah sok tau…
4 Juli 2011 at 7:30 pm
kami di pangkalan ko ntah urang minang ntah apo,,, kami raso lobiah dokek ka pokan lai,, apo kami urang malayu juo yo soalnyo ko dulu wkt sumbagteng banamo kec.kampar atas masuak dlm kewedanan bangkinang.
Rasonyo kami lobiah dokek ka kampar lai,,
5 Juli 2011 at 9:48 am
Ombak pangkalan@: urang kampar je nio masuak ka Sumbar ha sanak..
cek link go sanak..:D
http://www.riauterkini.com/hukum.php?arr=6232
6 Juli 2011 at 1:20 pm
tu io banyak ughang minang situ…
masalah iko pun ndakkan batahan lamo do…
itulah liciknya org minang!!
udh tinggal di NAGARI ughang balagu lo le!!
6 Juli 2011 at 2:21 pm
Rudien@: Numpang galak ciek ndan,,bapasoan bana mah sinan du uwang Minang..Nan jole kito du samo je nyeh!
5 Juli 2011 at 10:23 am
Tingga miliah sanak,
nio jadi urang cadiak atau urang kayo..
kalau nio jadi urang cadiak masuaklah ka sumBar..
kalau nio jadi urang kayo, masuak juo lah ka sumbar, soalnyo wak bisa manjua minyak urang melayu riau, jadi urang belakang layar pemda riau,, bisa wak atur sadonyo..
apo sih nan ndak bisa diatur urang minang? hehehe..
6 Juli 2011 at 1:16 pm
hahaha………..
licik…
ikolah cirihas ughang minang!!
ndak ontu codiok uang kampa condo apo de’e…
6 Juli 2011 at 2:17 pm
Ruidens@:
Antaro licik jo cadiak beda tipi ma cu..Tergantung kato kerja jo objeknyo apo..Jadi jan divonis uwang minang tu licik sadoalah e..Kok licik uwang Minang mungkin Indonesia masi dijajah dek Balandao ma cu..
5 Januari 2012 at 9:28 pm
Sombongnyo leh,kayo daghi hongkong ?klau kayo dak akan ponuoh Riau ko dek kelian deh.sifat kelian penjilat,lei tontu dak ? Lomak ajo nyobuik jual Riau ko,ughang minang du di kampar du dak tapakai deh, asal cakap je ang ,,
5 Juli 2011 at 10:42 am
Menanggapi komentar Awang no 83:
Awang@:
Deyen malu la baca tulisan kamu ini..Sesuai komentar saya menanggapi komentar kamu di nomor 53, lihat balasan komentar dari saya pada point no. 3: “Gimana Cik Awang, tak punya jawaban kah? Sehingga anda sekali lagi mendongeng dan mengejek orang Minang? Saran saya,,kalo kesal jangan ungkapkan di media ini, ntar ketahuan kualitas anda hanya sampai mana, OK?!”
Di komentar no. 83 ini kembali anda menghina kami, orang Minang, dengan pernyataan anda: “Di mana otak kalian ? Minang tu sbsr lingkaran obat nyamuk…”
Saran saya, sebelum membalas komentar orang, baca dulu baik-baik atau kalau tidak bisa baca, minta tolong ke orang lain untuk membacanya dan mengartikannya, OK?! Yang ditulis oleh Minang18 adalah tentang “bahasa” dalam perihal membandingkan dengan Sibolga dan Meulaboh (di sini kamu ganti Meulaboh dengan Aceh. Saya yakin (deyen berprasangka baik) kamu dulu sekolah dan belajar ilmu geografi??Kalu kamu memang belajar ilmu geografi, kamu pasti bisa bedakan antara Aceh dan Meulaboh..Please find it for me..).
1. Tentang Sibolga.
Bahasa di sana dipengaruhi oleh bahasa Minang. Di
bawah ini saya kasih linknya agar wawasan anda
bertambah:
http://sriandalas.multiply.com/journal/item/74
Link di atas juga ditulisi beberapa kata yang
dibandingkan antara bahasa Minang (general) dengan
bahasa Sibolga (melayu pesisir).
Link selanjutnya adalah sebuah grup di facebook
yang bernama “KAMUS BAHASA SIBOLGA PESISIR”. Kamu
bisa lihat bahasa yang digunakan oleh facebookers
di sana.
http://www.facebook.com/group.php?gid=285273154699#!/group.php?gid=285273154699&v=wall
Masih banyak lagi website yang mengulas itu tapi
cukuplah rasanya deyen beri 2 link di atas supaya
cik Awang ndak poniang dibuek e..
2. Tentang Meulaboh.
Di Prov. Aceh dikenal adanya suku Aneuk Jamee. Suku
ini adalah pendatang dari ranah Minang yang
mendiami pesisir barat dan selatan Aceh (termasuk
di Meulaboh). Supaya kamu lebih paham, pergi ke
link di bawah ini:
http://budayanusantara2010.wordpress.com/daftar-suku-bangsa-di-indonesia/suku-aneuk-jamee/
Saya kasih satu link lagi yang merupakan forum anak Aceh. Di sana saya simpulkan bahasa anak jamee berbeda dengan bahasa Aceh umumnya:
http://www.acehforum.or.id/archive/index.php/t-6147-p-2.html
Di sana ada seorang penulis yang bernama Jurnalis jh mengatakan: “banyak dari tmen2 kita yang lahir dan besar di aceh yang kul di kampus kami..
kurang menghargai kami-kami yang ‘berdarah aceh’ tapi besar di luar aceh…
di unit mhs aceh di kampus kami malah pernah ada 3 orang yang seperti saya…
tapi mereka memilih keluar dari organisasi tersebut kerana semacam ada ‘pengucilan’…
ini nyata lo..dan saya juga mengalaminya…
ironisnya.. orang minang di kampus kami lebih menghargai orang-orang kelahiran minang yang bsar di luar sumbar…
bahkan kami yang rata-rata berbahasa jameu lebih dekat dengan ukm Minang tersbut drpd dengan UKM aceh…
itu nyata…”
Saya juga punya pengalaman ketika kuliah di ITB, Bandung. Ada seorang teman berasal dari Aceh yang mempunyai kaset penyanyi “Rafly” (saya ingat Rafly pernah diwawancara di Metro TV ketika tsunami melanda Aceh). Ada satu lagu Aceh di kaset Rafly dimana teman saya ga ngerti. Dia bilang ini lagu Aceh selatan. Setelah saya mendengar sekali saja, saya langsung ngerti karena lagu itu memakai bahasa Minang dialek Piaman (Piaman laweh).
Jadi sekian saja untuk Cik awang..Saran saya, sesuai dengan balasan saya di komentar anda di nomor 53, di point nomor 4: “Sekali lagi saya sarankan, buka cakrawala pengetahuan anda, jangan pandang negatif sesuatu yang baru untuk anda walaupun itu adalah kebenaran yang pahit, biar tidak menjadi katak dalam tempurung seperti sekarang ini!!”
Lai enter dek sanak tu??!!
5 Juli 2011 at 12:24 pm
sutan@kampar mau msk sumbar,, hahahahahaha,,,,, orang kampar aja benci dgn orang minang ,apa lg mau bergabung,,, dasar ,,,,
Slh st bkt kbncian org tua kami adalah mrk dah bilang ke kami,klau bs jgn cr suami atau istri orang minang,,, dan itu berlaku di kampar dn riau raya,mgkn di mt km orang minang tu cerdik,sk menjilat,punya menantu di lupakan,krn mrk orang dagang.bersukur kampar dn daerah lain di riau bs mmbntk provinsi.klau smpt tidak,slrh pejabat di riau pst pjbt transperan dr bukit tinggi krn orang minang ada sipat nepotisme.
Rajo@itu dulu,skrg dah tak tepakai,,, biar aja kanwil tp pemimpin orang pribumi,bupati,gubernur orang riau asli,krn pmmpn itu yg akan mngatur,
Kaya dari mana minang tu,,dr pd iya,,bgunung2 gitu di blg kaya,,,,, klau kaya taklah klian merantau,,,klau tak merantau pst ke sawah,,,,hahaha
Cerdik licin iya,,, cerdik dlm menjilat…
Sutan,,,saya bukan di bengkalis,,,, tp saya di padang merbau,kampar !
5 Juli 2011 at 12:58 pm
Awang@: Kau baca dulu yang aku taruh linknya baru kau cuap-cuap di sini OK..
Kalau soal nepotisme,bukan orang Minang aj,,seluruh sukupun punya karena itu watak masing2 pribadi, bukan kolektif..Maksimalkan penggunaan internet, baca berita, jangan cuap2 ga jelas aj..
5 Juli 2011 at 1:22 pm
sutan,
orang tua mereka dulu kalah bersaing dari orang minang dalam segala hal, jadi wajar lah mereka iri…
kita harus kasihan pada mereka, kita harus bimbing mereka yang masih belum bisa berjalan… kita akan sangat bangga karena kita berhasil mendidik mereka…
tapi mungkin AWANG salah satu yang belum kita didik untuk membaca dan memakai otak untuk ber-logika.. ini jadi PR buat kita, sutan..!!!
5 Juli 2011 at 3:26 pm
Awang@: oh, jadi definisi kaya bagimu itu kalau Sumber Daya Alam (SDA)nya kaya y??Galak waden mambaco e…Prinsip ambo sabagai urang Minang: Bia lah kami ndak kayo SDA di kampuang kami,,tapi kami kayo di rantau urang dek SDA di rantau itu.
Percuma se SDA di daerah angku kayo tapi ndak angku surang nan kayo do..hehehe
5 Juli 2011 at 3:33 pm
Rajo@: Rajo tampatiah, ambo yo lah tau penyebab dek baa urang2 mode si Awang ko ndak maju..Cubo baco komentarnyo disiko pasti sanak lah mangarati..hehehe
5 Juli 2011 at 1:52 pm
…to: awang maulana azzam
kau baca wikipedia…. atau kau belajar baca dulu….
BODOHNYA KAU ITU.
memang orang riau itu sangat benci minang, heran kenapa…. iri dan dengki kali ya…
dulu malah istri saya disarankan nikah sama orang minang sama tetangganya yang orang riau, apa urusannya cob tetangga… jelas sekali karena anaknya naksir istri saya… hehehehe…. dasar iri dan dengkiau
5 Juli 2011 at 1:54 pm
maksudnya jangan nikah sama orang minang..
5 Juli 2011 at 2:09 pm
ndeeehhh ,,, tu iyo indak obeh dek awak,,,,tp wak manilai urang kampar sangat banggo inyo jo riau tu,,, wak la lamo bagaul jo urang tu, mmg iyo inyo bonci ka minang ko, minang kikik keceknyo,,
Manuruik den urang kampar ko banyak yg codiak ma,tabukti kbnykn pjbt di riau tu urang kampar,dan bnyk nan jd pjbt di malaysia,
Kami ko serba slh,kecek urang kampar du pngkln ko asa nyo dari kampar,,, ntah mn nan bona,,,
kami dak urang minang do Kok lai referendum nio km masuak ka riau le,,, karano urg riau ko ramah
Kalau bongih urang kampar dokek kalian kami indak soto,,, km indak soto cu,km urang pangkalan,indak urang minang do,
5 Juli 2011 at 3:07 pm
Ombak pangkalan: sanak deyen, ambo pribadi ndak mambedoan kito ko doh, antaro rang minang (memakai definisi sempit seperti sekarang ini), orang pangkalan, atau orang kampar karena orang nya sama (klannya sama). Dan saya pribadi tidak menafikan, bahwa bisa saja zaman2 saisuak, nenek moyang kita itu berlayar melewati sungai kampar, kuantan, atau sungai batang hari..Dimana ujung perhentian mereka adalah daerah darek SUMBAR sekarang ini..Tetapi tidak tertutup kemungkinan bahwa ada sebagian yang menetap di Kampar/Kuantan/Batanghari sebelum sampai di darek..Kalau anda bertanya siapa yg lebih dulu ada: orang Kampar atau orang Minang yang di darek?Anda bisa lihat jawaban saya di tulisan saya ini..Jan karano kito babedo provinsi abih tu kito buek identitas baru..Beko ambo camehnyo, abih sibuk dek tu nah lupo jo pembangunan dan akhirnyo ndak maju-maju kito ko doh..Lai obeh dek sanak deyen go?
5 Juli 2011 at 3:10 pm
Kok sanak caliek penjelasan2 yg panjang nan ado di blog ko,, Sadoalah nyo ndak do maambiek carito dari tambo alias melalui penelitian..Kok sanak picayo jo kecek urang tuo, dongeng, atau hikayat, ambo yakin sanak bisa keliru. Karano itu dari muluik ka muluik bisa terjadi kesalahan memang dari awal plus kesalahan ketika info ko di transmisikan melalui muluik ka muluik..
5 Juli 2011 at 2:25 pm
baca ini kawan….
http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Pagaruyung
5 Juli 2011 at 2:47 pm
lagi…
http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Melayu
5 Juli 2011 at 3:14 pm
Minang18: mokasi atas linknyo sanak..Tapi alangkah labiah eloknyo sanak ajaan baa caro bukak link ko disiko karano ado babarapo urang nan alun baco isi link tu tapi lah cuap-cuap nyo..Ibaraik tong kosong nyaring bunyinyo..Sakali lai mokasi sanak..
5 Juli 2011 at 3:54 pm
ndak bantuak itu caro maajaan urang do sutan..
jan disuruah buka link dulu, itu terlalu advanced, mulai dari yang ketek: mambaco dulu.. Rasul se bantuak itu dulu..
5 Juli 2011 at 5:49 pm
kobun tinggi tu mmg bate kab.kampar jo sumbar.kampar mengklaim itu bate wilayah mereka.tp msrkt di situ indak nomuo,krn mrk urang sumbar.ciek lai di tulisan itu indak bona kec xiv koto kampar,,,setau den kec yg lai di kampar yaitu kec xIII koto kampar,, den tau karano den tingga di batu basurek,kec.13 koto kampar…. 13 desa nan ado di kec.13 koto kampar indak ado nan banamo durian tinggi do..hanyo sajo kampar mengklaim desa durian tinggi masuak kab.kampar…
5 Juli 2011 at 6:12 pm
ombak pangkalan@: Mo kasi sanak ateh koreksi nyo..iyo si,,ambo maraso ndak do namo kecamatan di kampar nan xiv cuma sampai xiii koto kampar nan ado muaro mahat nyo kok ndak salah..Jadi sanak go tingga di batu basurek, ndak di pangkalan tingganyo?Nak tanyo deyen ciek, ado diperbatasan sumbar-riau tu tampek makan nan terkenal jo ayam batokok lado mudo samo dendeng lado mudo tu di daerah ma sanak?Ambo paliang ndak sakali satahun liwaik sinan du..Padang-Pakanbaru PP..
6 Juli 2011 at 11:30 am
“liwaik” du apo arti cu?? lewatkan??
kkk.. kci kmpr lewat ajo nyo…
molah … ko” amuo ba’a manjadi robu… pastilah wa’ang yuong jadi ughang ocu… tutio snak jan kaba’a2 jie!!
kci lai topek ai ba’a ndak apodo… ko ai sanoian basabuik juo ba’a …
kkkkkk
6 Juli 2011 at 2:12 pm
Rudiens@: lai juo deyen singgah sabanta di kampar du, makan sate jo bali cubadak utan di pasa kuok..
Kini hari rabaa cu..lai topek ndak?hehehe..
5 Juli 2011 at 6:55 pm
jen bbantah juo kolian !
Dak ado guno do,, condoh israel dgn arab ajo.soal maso dolu blm pst sponuohnyo,,, soal hebatnyo suku,,dak ado yg soponuohnyo hebat,,, yg hebat tu mgkn peughangan ajo.
Klau nak bsengketo juo cubo minang kalua karih dn melayu/kampar keluo koghinyo,,, atau minang ngecek BAA dan ughang kampau cakap b,ngapo. Mano yg monang dan bnyk hrpnyo,wkwkkwkwkwkwkkw
B,cando nye ongah,,,,,, m pst sponuohnyo,,, soal hebatnyo suku,,dak ado yg soponuohnyo hebat,,, yg hebat tu mgkn peughangan ajo.
Klau nak bsengketo juo cubo minang kalua karih dn melayu/kampar keluo koghinyo,,, atau minang ngecek BAA dan ughang kampau cakap b,ngapo. Mano yg monang dan bnyk hrpnyo,wkwkkwkwkwkwkkw
B,cando nye ongah,,,,,,
5 Juli 2011 at 7:08 pm
ledah betol pikiran dn pandangan oghang minang kat Riau ni,tak ku sangke
5 Juli 2011 at 7:17 pm
Ada apa budak?
5 Juli 2011 at 7:20 pm
botul tu,,,, daghi dolu le, lomak je ughang cemeeh awak.
Inyo yg hebat nye.kayo di ghantau,, yg kayo2 juo tp pngemis mkn bnyk pulo le daghi itu .buat somak dn lodah riau jo.minang mmg pntr tp godang juo cemeeh nyo.
5 Juli 2011 at 7:27 pm
Awang@: angku condo maling teriak maling!!Cubo caliek komen2 angku terhadap minang/sumatera barat!!Mulai tentang pembangunan kelok sembilan sampai orang minang banyak bengaknyo..itu ndak cemeeh dek waang tu yuang??!
6 Juli 2011 at 11:34 am
awaang.. iyoloh ang go sanak!! ceme’eh ang ke ughang minang ma!
jole siap jembatan layang du!! ughang kampar jo banyak kokiun nye!!
kkkk..
ka uma godang wak mo!!
ckckck
5 Juli 2011 at 7:25 pm
dikau faham tak,ape makna BUDAK dlm bahase melayu ?
klau tak tau,pecume dikau gelar sultan .
5 Juli 2011 at 7:33 pm
Budak@: Paham..Kalau anda perhatikan baik-baik, di komentar saya tidak bertanya tentang apa itu “budak”? Yang saya tanya “ada apa budak?”
Maaf ya,,kalo matanya rabun tolong pakai kacamata ya,,gelar saya “SUTAN” bukan “SULTAN”..Kalau tak mengetahui adat-istiadat daerah tetangga, ga usah nimbrung di sini,,ntar ente ga nyambung..Paham budak?!
6 Juli 2011 at 8:10 am
Maaf yo brur, kelewatan dari bateh snek..:D
6 Juli 2011 at 1:42 pm
tak bolela………. dose la………kkkkk
mola kakampuong sarugo wak!!
5 Juli 2011 at 7:50 pm
Aku jawab ye,,,tak de ape2,hahahahahah.mf ye,,, aku salah siket.
Sutan,,,, aku mmg kurang faham tntng budaye minang,klau aku blh tanye siket sutan tu ape mksdnye,sultan keh ?
Aku ade nulis kat sn krn aku tengok bnyk sangat tulisan dari saudare yg menyisehkn melayu riau,, mf cakap aku tetegun bace semuenye.ingatan tebayang petapah bnyknye saudaghe mare kite dr minang yg cr mkn kat riau ini,spntsnye cercaan mcm ni tak blh tejadi.
Satu lg pasal ocu atau kampar, kami juge tidak menafikan mereka orang melayu,mereka juge saudare kami.
5 Juli 2011 at 8:06 pm
den iyo urang minang tp la lamo tingga di tapung,kab.kampar.den surang jajok caliak angeh gaya urang minang kn, cocoknyo minang kambiAng atau minang kanciANG namo nan cocok tuak ranah minang ko kn mah ,,,
Wkwkwkwkw,,, galak ciek lu.
5 Juli 2011 at 8:19 pm
Budak@: Apopun sambarang angku la,,ngaku2 urang minang di tapung tu buliah, ngaku2 urang indragiri buliah juo, atau ngaku jadi alien dari lua angkasa pun buliah juo, baduto elok2 je deyen picayo je nyo sanak..Lai sanang sanak tu? Sanang hati sanak disinan sanang lo hati deyen disiko..
Lah pueh sanak, kok lah pueh mahino nyo, jan lupo makan malam, abih tu gosok gigi abih tu jawek ayi, abih tu sumbayang, abih tu minum ubek caciang dih sabalun lalok..!Eh ciek lai,,jan lupo cuci kaki sampai barasiah yo, Kok ndak, buncik taghui paruik angku du dek caciang?!
6 Juli 2011 at 9:23 am
saudara awang…
apakah anda sudah membaca link nya….?
jika sudah, pasti anda tambah MUAK dan BENCI dengan yang namanya MINANGKABAU.
nih saya kasih lagi linknya
http://id.wikipedia.org/wiki/Dharmasraya
http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Indragiri
http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Inderapura
http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Pagaruyung
http://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Siak_Sri_Inderapura
http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Melayu
ini fakta sejarah
6 Juli 2011 at 9:57 am
apolah cakap sutan ko ? kalau bagi nasihat tu yg elok,bia sonang ughang kek awak !
6 Juli 2011 at 10:18 am
Awang@: Ndak paralu angku ikuik sato..Deyen lah mintak maaf ka inyo..
Baco se komentar den di komentar angku no. 99!
6 Juli 2011 at 10:21 am
Kok ndak 99 bararti di 98.
6 Juli 2011 at 10:17 am
hahahahahaha,,,, makenye jgn pndg oghang dgn sblh mate.ghupe mike tak seperti yg aku duge.
mike jelah yg minum, teghus mike campur siket dgn cuke,pst ghasenye sedap,,,
Sile cube ghase daghi pade menu aku ni
6 Juli 2011 at 10:29 am
Budak@: Hai budak, saya sportif!Saya mencemeeh kamu pribadi dan saya minta maaf.
Kamu apa??Kamu cemeeh semua orang minang melalui komentar kamu yang berbahasa minang itu, bukan untuk saya saja.
Rupa ente itu yang tidak seperti aku duga. Kadang ngaku budak indragiri, habis tu ngaku orang minang di Tapung, ntar skalian ngaku Jadi Nazaruddin, orang Riau yang lagi ngetrend sekarang!
6 Juli 2011 at 11:17 am
dari rumah adat sudah ada perbedaan!!!
rumah adat kampar adalah rumah nan lontiok!! atau rumah lancang!!
minang rumah gadang nan lontioknyo basobuik tanduok kobau..(lebih mirip ke tanduk kerbau)..liat aja perbedaannya.. rumah kampar atap lebih mirip sampan!!
sedangkan umah nan godang atapnya mirip tanduak kabau!!
orang kampar mudiok nyo… tembilahan dan bangkinang!!
disiko la dapek perbedaannyo…
sebenar kampar dan melayulah yag bersahabat dari dulu….
bukan minang dan melayu…
aku bangga jadi orang kampar yang persatuannya sangat kuat!!
dan kami bangga dari dulu slalu bersahabat dengan melayu!!
liat saja kami slalu akur padahal adat kami berbeda!!
itulah kami melayu riau!!
6 Juli 2011 at 11:58 am
sutan@hahahahaha,,,tak pe mike caci dighi ku,kan miko soghang dapat dose !
Rudin@nilah yg di namekn melayu riau,cu !wlau ade perbezaan siket tp kite ttp melayu riau,,
cu rudin tau kenape kite tak prn cekco ,kerane kita same2 oghang melayu
Cu rudin,,,kami ni oghang melayu riau pesisir.dan anda terkenal dgn sebotan melayu riau daghatan,,,
Salam daghi kuale lahang,inhil….
Tak melayu hilang di bumi ……
6 Juli 2011 at 1:26 pm
Jangan sok suci brur, komentar yang di atas, ente caci orang Minang (minangkambiang, minangkanciang)..Atau ente uda pikun y??Cepat amat lupanya..
6 Juli 2011 at 12:15 pm
apo yg mingkak cakap ni,pelalawan dulunyo kampar jugo,,sodap ncek sutan dan kwnnyo,mnghino kami oghang melayu,sadolah ngkak,
Sini ado desa pokan tuo kampo,,,,
Di sn jugo ado oghang melayu petalangan,,,
Minang ni dah sakit agak ee,,,
Bahaso ocu du lobih mighip dgn bahaso kami di pelalawan.
Kamu jugo di lalui sungai kampo,,
Shrsnyo klau anda soghang bijak,,belajolah daghi 2 versi yg bebezo,,jgn ambek ksmpln dgn kaco mato luo,,
Faham,,,,,,,,, dah jolas ocu tu sobutan pd yg lobih mudo,,,samo dgn sobutan uda di minang,,,ocu tu bknlh suku(yg tulis di atas suku ocu tlg koreksi)
Suku mrk adolh melayu !
6 Juli 2011 at 1:23 pm
Kawan, saya tak kan mulai cemeeh kalau kawan2 anda yang mengaku orang melayu riau terlebih dahulu menghina kami, orang Minang!!
Banyak versi sudah saya lihat mengenai masyarakat yang mendiami kawasan sumatera bagian tengah ini, dan mereka menyatakan bahwa komunitas di kawasan sumatera bagian tengah itu adalah masyarakat yg sama, entahlah minang namanya, ocu namanya, rokan namanya, atau kuantan namanya.
6 Juli 2011 at 1:23 pm
minangkabau masuk akal ga” woi??
minangkampar….??ayo……………………………….kkkkkk
6 Juli 2011 at 1:51 pm
“baca syair ini dengan tempo yg agak cepat!!”
sanag badan la tabaok..
sandang pangan latatande arok badan kan tabuai onde..mama……….k
oke sanak!!
mangaoroti stek tingga di nagoi ughang!!!!!
6 Juli 2011 at 8:50 pm
Rudien@: Manga yuang??!Main ancam angku yo?gentle la stek..komentar ilmiah yo dibaleh jo komentar ilmiah…Mantang2 lah ndak do nan bisa ka ditulih main ancam je..
6 Juli 2011 at 1:56 pm
no 1.
Kerajaan Melayu atau dalam bahasa Cina ditulis Ma-La-Yu (末羅瑜國) merupakan sebuah nama kerajaan yang berada di Pulau Sumatera. Dari bukti dan keterangan yang disimpulkan dari prasasti dan berita dari Cina, keberadaan kerajaan yang mengalami naik turun ini dapat di diketahui dimulai pada abad ke-7 yang berpusat di Minanga, pada abad ke-13 yang berpusat di Dharmasraya dan diawal abad ke 15 berpusat di Suruaso[1] atau Pagaruyung[2].
Kerajaan ini berada di pulau Swarnadwipa atau Swarnabumi (Thai:Sovannophum) yang oleh para pendatang disebut sebagai pulau emas yang memiliki tambang emas, dan pada awalnya mempunyai kemampuan dalam mengontrol perdagangan di Selat Melaka sebelum direbut oleh Kerajaan Sriwijaya (Thai:Sevichai) pada tahun 682[3].
Peta Kerajaan Melayu kunoPenggunaan kata Melayu, telah dikenal sekitar tahun 100-150 seperti yang tersebut dalam buku Geographike Sintaxis karya Ptolemy yang menyebutkan maleu-kolon[4]. Dan kemudian dalam kitab Hindu Purana pada zaman Gautama Buddha terdapat istilah Malaya dvipa yang bermaksud tanah yang dikelilingi air.
no.2
Kerajaan Pagaruyung adalah sebuah Kerajaan Melayu yang pernah berdiri, meliputi provinsi Sumatra Barat sekarang dan daerah-daerah di sekitarnya. Nama kerajaan ini dirujuk dari Tambo yang ada pada masyarakat Minangkabau, yaitu nama sebuah nagari yang bernama Pagaruyung.[1] Kemudian hari, nama kerajaan ini dapat juga dirujuk dari inskripsi cap mohor Sultan Tangkal Alam Bagagar dari negeri Pagaruyung,[1] yaitu pada tulisan beraksara Jawi dalam lingkaran bagian dalam yang berbunyi sebagai berikut: Sultan Tangkal Alam Bagagar ibnu Sultan Khalīfatullāh yang mempunyai tahta kerajaan dalam negeri Pagaruyung Dārul Qadār Johan Berdaulat Zillullāh fīl ‘Ālam.[2] Kerajaan ini akhirnya runtuh pada masa Perang Padri. Ditandatanganinya perjanjian antara kaum Adat dengan pihak Belanda telah menjadikan kerajaan Pagaruyung berada dalam pengawasan Belanda.[3]
Sebelumnya kerajaan ini tergabung dalam Malayapura,[4] sebuah kerajaan yang pada Prasasti Amoghapasa disebutkan dipimpin oleh Adityawarman, yang mengukuhkan dirinya sebagai penguasa Bhumi Malayu di Suwarnabhumi. Termasuk pula di dalam Malayapura adalah kerajaan Dharmasraya, serta kerajaan atau daerah taklukan Adityawarman lainnya.[5]
no.3
Kerajaan Inderagiri merupakan sebuah Kerajaan Melayu yang pernah berdiri, sekarang dengan wilayahnya berada pada Kabupaten Indragiri Hilir, dan Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau, Indonesia.
Sebelumnya kerajaan ini merupakan bawahan (vazal) Kerajaan Pagaruyung dan sekaligus sebagai kawasan pelabuhan. Kemudian kerajaan ini diperebutkan oleh Kesultanan Jambi, Kesultanan Siak, dan Kesultanan Aceh.
no.4
Kesultanan Siak Sri Inderapura merupakan sebuah Kerajaan Melayu yang pernah berdiri di daerah Provinsi Riau, Indonesia, tepatnya di Kabupaten Siak sekarang.
Pengaruh Kerajaan Pagaruyung, juga mewarnai sistem pemerintahan pada Kesultanan Siak, setelah Sultan Siak, terdapat Dewan Menteri yang mirip dengan kedudukan Basa Ampek Balai di Minangkabau.
Dewan Menteri ini memiliki kekuasaan untuk memilih dan mengangkat Sultan Siak, sama dengan Undang Empat di Negeri Sembilan. Dewan Menteri bersama dengan Sultan menetapkan undang-undang serta peraturan bagi masyarakatnya. Dewan menteri ini terdiri dari:
1.Datuk Tanah Datar
2.Datuk Limapuluh
3.Datuk Pesisir
4.Datuk Kampar
Pada kawasan tertentu dalam Negeri Siak, ditunjuk Kepala Suku yang bergelar Penghulu, yang dibantu oleh Sangko Penghulu, Malim Penghulu serta Lelo Penghulu. Sementara terdapat juga istilah Batin, dengan kedudukan yang sama dengan Penghulu, namun memiliki kelebihan hak atas hasil hutan yang tidak dimiliki oleh Penghulu. Batin ini juga dibantu oleh Tongkat, Monti dan Antan-antan. Istilah Orang Kaya juga digunakan untuk jabatan tertentu dalam Kesultanan Siak, sama halnya dengan pengertian Rangkayo atau Urang Kayo di Minangkabau terutama pada kawasan pesisir.
Dalam pelaksanaan masalah pengadilan umum di Kesultanan Siak diselesaikan melalui Balai Kerapatan Tinggi yang dipimpin oleh Sultan Siak, Dewan Menteri dan dibantu oleh Kadi Negeri Siak serta Controleur Siak sebagai anggota.
Salah satu kitab hukum atau undang-undang di Negeri Siak, dikenal dengan nama Bab Al-Qawa’id. Kitab ini mengurakan hukum yang dikenakan kepada masyarakat Melayu dan masyarakat lain yang terlibat perkara dengan masyarakat Melayu. Namun tidak mengikat orang Melayu yang bekerja dengan pihak pemerintah Hindia-Belanda, di mana jika terjadi permasalahan akan diselesaikan secara bilateral antara Sultan Siak dengan pemerintah Hindia-Belanda.[11]
Dalam administrasi pemerintahannya Kesultanan Siak telah membagi beberapa kawasan dalam bentuk distrik yang dipimpin oleh seseorang yang bergelar Datuk atau Tuanku atau Yang Dipertuan dan bertanggungjawab kepada Sultan Siak yang juga bergelar Yang Dipertuan Besar. Pengaruh Islam dan keturunan Arab mewarnai Kesultanan Siak, salah satunya keturunan Al-Jufri yang bergelar Bendahara Patapahan,[12] serta arsitektur istana Sultan Siak yang dibangun pada tahun 1889.
Raja Kecil putra Pagaruyung dalam Hikayat Johor disebut juga dengan sang pengelana pewaris Sultan Johor yang kalah dalam perebutan kekuasaan. Sedangkan berdasarkan korespodensi Sultan Indermasyah Yang Dipertuan Pagaruyung dengan Gubernur Jenderal Belanda di Melaka waktu itu menyebutkan bahwa Sultan Abdul Jalil merupakan saudaranya yang diutus untuk urusan dagang dengan pihak VOC.[5] Sultan Abdul Jalil dalam suratnya tersendiri yang ditujukan kepada pihak Belanda menyebut dirinya sebagai Raja Kecil dari Pagaruyung.[6]
Sebelumnya dari catatan Belanda, telah mencatat pada tahun 1674, ada datang utusan dari Johor untuk mencari bantuan bagi raja Minangkabau berperang melawan raja Jambi.[7] Kemudian berdasarkan surat dari raja Jambi, Sultan Ingalaga kepada VOC pada tahun 1694, menyebutkan bahwa Sultan Abdul Jalil dari Pagaruyung, hadir menjadi saksi perdamaian dari perselisihan mereka.[8]
Pada tahun 1717 Sultan Abdul Jalil berhasil menguasai Kesultanan Johor sekaligus mengukuhkan dirinya sebagai Sultan Johor, namun di tahun 1722 Sultan Abdul Jalil disingkirkan akibat pengkianatan beberapa bangsawan Johor dan kemudian ia pindah ke Siak serta mendirikan kerajaan baru yang dipimpinnya sendiri di tahun 1723.
Awalnya kerajaan ini didirikan di Buantan oleh Raja Kecil, dari Pagaruyung yang bergelar Sultan Abdul Jalil pada tahun 1723, setelah sebelumnya tersingkir atas tahta Kesultanan Johor.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Sultan Siak terakhir, Sultan Syarif Kasim II menyatakan kerajaannya bergabung dengan Republik Indonesia.
6 Juli 2011 at 2:00 pm
Dharmasraya merupakan nama ibukota dari sebuah Kerajaan Melayu di Sumatera[1], nama ini muncul seiring dengan melemahnya kerajaan Sriwijaya setelah serangan Rajendra Chola I raja Chola dari Koromandel pada tahun 1025.
Munculnya Wangsa MauliKemunduran kerajaan Sriwijaya akibat serangan Rajendra Chola I, raja dinasti Chola telah mengakhiri kekuasaan Wangsa Sailendra atas Pulau Sumatra dan Semenanjung Malaya. Beberapa waktu kemudian muncul sebuah dinasti baru yang mengambil alih peran Wangsa Sailendra, yaitu yang disebut dengan nama Wangsa Mauli.
Prasasti tertua yang pernah ditemukan atas nama raja Mauli adalah Prasasti Grahi tahun 1183 di selatan Thailand. Prasasti itu berisi perintah Maharaja Srimat Trailokyaraja Maulibhusana Warmadewa kepada bupati Grahi yang bernama Mahasenapati Galanai supaya membuat arca Buddha seberat 1 bhara 2 tula dengan nilai emas 10 tamlin. Yang mengerjakan tugas membuat arca tersebut bernama Mraten Sri Nano.
Prasasti kedua berselang lebih dari satu abad kemudian, yaitu Prasasti Padang Roco tahun 1286. Prasasti ini menyebut adanya seorang raja bernama Maharaja Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa. Ia mendapat kiriman Arca Amoghapasa dari atasannya, yaitu Kertanagara raja Singhasari di Pulau Jawa. Arca tersebut kemudian diletakkan di Dharmasraya.
Dharmasraya dalam Pararaton merupakan ibukota dari negeri bhūmi mālayu. Dengan demikian, Tribhuwanaraja dapat pula disebut sebagai raja Malayu. Tribhuwanaraja sendiri kemungkinan besar adalah keturunan dari Trailokyaraja. Oleh karena itu, Trailokyaraja pun bisa juga dianggap sebagai raja Malayu, meskipun prasasti Grahi tidak menyebutnya dengan jelas.
Yang menarik di sini adalah daerah kekuasaan Trailokyaraja pada tahun 1183 telah mencapai Grahi, yang terletak di selatan Thailand (Chaiya sekarang). Itu artinya, setelah Sriwijaya mengalami kekalahan, Malayu bangkit kembali sebagai penguasa Selat Malaka. Namun, kapan kiranya kebangkitan tersebut dimulai tidak dapat dipastikan, dari catatan Cina [2] disebutkan bahwa pada tahun 1082 masih ada utusan dari Chen-pi (Jambi) sebagai bawahan San-fo-ts’i, dan disaat bersamaan muncul pula utusan dari Pa-lin-fong (Palembang) yang masih menjadi bawahan keluarga Rajendra.
Istilah Srimat yang ditemukan di depan nama Trailokyaraja dan Tribhuwanaraja berasal dari bahasa Tamil yang bermakna ”tuan pendeta”. Dengan demikian, kebangkitan kembali Kerajaan Malayu dipelopori oleh kaum pendeta. Namun, tidak diketahui dengan jelas apakah pemimpin kebangkitan tersebut adalah Srimat Trailokyaraja, ataukah raja sebelum dirinya, karena sampai saat ini belum ditemukan prasasti Wangsa Mauli yang lebih tua daripada prasasti Grahi.
[sunting] Daerah Kekuasaan DharmasrayaDalam naskah berjudul Chu-fan-chi karya Chau Ju-kua tahun 1225[3] disebutkan bahwa negeri San-fo-tsi memiliki 15 daerah bawahan, yaitu Che-lan (Kamboja), Kia-lo-hi (Grahi, Ch’ai-ya atau Chaiya selatan Thailand sekarang), Tan-ma-ling (Tambralingga, selatan Thailand), Ling-ya-si-kia (Langkasuka, selatan Thailand), Ki-lan-tan (Kelantan), Ji-lo-t’ing (Cherating, pantai timur semenanjung malaya), Tong-ya-nong (Terengganu), Fo-lo-an (muara sungai Dungun, daerah Terengganu sekarang), Tsien-mai (Semawe, pantai timur semenanjung malaya), Pa-t’a (Sungai Paka, pantai timur semenanjung malaya), Pong-fong (Pahang), Lan-mu-li (Lamuri, daerah Aceh sekarang), Kien-pi (Jambi), Pa-lin-fong (Palembang), Sin-to (Sunda), dan dengan demikian, wilayah kekuasaan San-fo-tsi membentang dari Kamboja, Semenanjung Malaya, Sumatera sampai Sunda.
[sunting] San-fo-tsiIstilah San-fo-tsi pada zaman Dinasti Song sekitar tahun 990–an identik dengan Sriwijaya. Namun, ketika Sriwijaya mengalami kehancuran pada tahun 1025, istilah San-fo-tsi masih tetap dipakai dalam naskah-naskah kronik Cina untuk menyebut pulau Sumatra secara umum. Apabila San-fo-tsi masih dianggap identik dengan Sriwijaya, maka hal ini akan bertentangan dengan prasasti Tanjore tahun 1030, bahwa saat itu Sriwijaya telah kehilangan kekuasaannya atas Sumatera dan Semenanjung Malaya. Walaupun kronik Cina mencatat bahwa pada periode 1079 dan 1088, San-fo-tsi masih mengirimkan utusan.[4]
Dalam berita Cina yang berjudul Sung Hui Yao disebutkan bahwa Kerajaan San-fo-tsi tahun 1082 mengirim duta besar ke Cina yang saat itu di bawah pemerintahan Kaisar Yuan Fong. Duta besar tersebut menyampaikan surat dari raja Kien-pi (jambi) bawahan San-fo-tsi, dan surat dari putri raja yang diserahi urusan negara San-fo-tsi, serta menyerahkan pula 227 tahil perhiasan, rumbia, dan 13 potong pakaian. Kemudian dilanjutkan pengiriman utusan selanjutnya tahun 1088.
Sebaliknya, dari daftar daerah bawahan San-fo-tsi tersebut tidak ada menyebutkan Ma-la-yu ataupun nama lain yang mirip dengan Dharmasraya.
Dengan demikian, istilah San-fo-tsi pada tahun 1225 tidak lagi identik dengan Sriwijaya, melainkan identik dengan Dharmasraya. Jadi, daftar 15 negeri bawahan San-fo-tsi tersebut merupakan daftar jajahan Kerajaan Dharmasraya, karena saat itu masa kejayaan Sriwijaya sudah berakhir.
Jadi, istilah San-fo-tsi yang semula bermakna Sriwijaya tetap digunakan dalam berita Cina untuk menyebut Pulau Sumatera secara umum, meskipun kerajaan yang berkuasa saat itu adalah Dharmasraya. Hal yang serupa terjadi pada abad ke-14, yaitu zaman Majapahit dan Dinasti Ming. Catatan sejarah Dinasti Ming masih menggunakan istilah San-fo-tsi, seolah-olah saat itu Sriwijaya masih ada. Sementara itu, catatan sejarah Majapahit berjudul Nagarakretagama tahun 1365 sama sekali tidak pernah menyebut adanya negeri bernama Sriwijaya melainkan Palembang.
[sunting] Ekspedisi PamalayuDalam Kidung Panji Wijayakrama dan Pararaton menyebutkan pada tahun 1275, Kertanagara mengirimkan utusan dari Jawa ke Sumatera yang dikenal dengan nama Ekspedisi Pamalayu yang dipimpin oleh Mahisa Anabrang atau Kebo Anabrang, kemudian ditahun 1286 Kertanagara kembali mengirimkan utusan untuk mengantarkan Arca Amoghapasa yang kemudian dipahatkan pada Prasasti Padang Roco di Dharmasraya ibukota bhumi malayu sebagai hadiah dari kerajaan Singhasari dan tim ini kembali ke pulau Jawa pada tahun 1293 sekaligus membawa dua orang putri dari Kerajaan Melayu yakni bernama Dara Petak dan Dara Jingga. Kemudian Dara Petak dinikahkan oleh Raja Raden Wijaya yang telah menjadi raja Majapahit penganti Singhasari, dan pernikahan ini melahirkan Jayanagara, raja kedua Majapahit. Sedangkan Dara Jingga dinikahkan dengan sira alaki dewa ( orang yang bergelar dewa) dan kemudian melahirkan Tuhan Janaka atau Mantrolot Warmadewa yang identik dengan Adityawarman[5] dan kelak menjadi raja Pagaruyung.
[sunting] Penaklukan MajapahitKakawin Nagarakretagama yang ditulis tahun 1365 menyebut Negeri Melayu sebagai salah satu di antara sekian banyak negeri jajahan Kerajaan Majapahit.[6] Namun interpretasi isi yang menguraikan daerah-daerah “wilayah” kerajaan Majapahit yang harus menghaturkan upeti ini masih kontroversial, sehingga dipertentangkan sampai hari ini. Pada tahun 1339 Adityawarman dikirim sebagai uparaja atau raja bawahan Majapahit, sekaligus melakukan beberapa penaklukan yang dimulai dengan menguasai Palembang[2]. Kidung Pamacangah dan Babad Arya Tabanan menyebut nama Arya Damar sebagai Bupati Palembang yang berjasa membantu Gajah Mada menaklukkan Bali pada tahun 1343[7]. Menurut Prof. C.C. Berg, tokoh ini dianggapnya identik dengan Adityawarman[5].
[sunting] Dari Dharmasraya ke MalayapuraSetelah membantu Majapahit dalam melakukan beberapa penaklukan, pada tahun 1347 tahun masehi atau 1267 tahun saka, Adityawarman memproklamirkan dirinya sebagai Maharajadiraja dengan gelar Srimat Sri Udayadityawarman Pratapaparakrama Rajendra Mauli Warmadewa dan menamakan kerajaannya dengan nama Malayapura[8] dan kerajaan ini merupakan kelanjutan dari Kerajaan Melayu sebelumnya dan memindahkan ibukotanya dari Dharmasraya ke daerah pedalaman Minang (Pagaruyung atau Suruaso)[9]. Dengan melihat gelar yang disandang Adityawarman, terlihat dia menggabungan beberapa nama yang pernah dikenal sebelumnya, Mauli merujuk garis keturunannya kepada Bangsa Mauli penguasa Dharmasraya dan gelar Sri Udayadityavarman pernah disandang salah seorang raja Sriwijaya serta menambahkah Rajendra nama penakluk penguasa Sriwijaya, raja Chola dari Koromandel. Hal ini tentu sengaja dilakukan untuk mempersatukan seluruh keluarga penguasa di Swarnnabhumi.
Walaupun ibukota kerajaan Melayu telah dipindahkah ke daerah pedalaman, di Dharmasraya tetap dipimpin oleh seorang Maharaja Dharmasraya tetapi statusnya berubah menjadi raja bawahan, sebagaimana tersebut pada Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah di Kerinci yang diperkirakan pada zaman Adityawarman
6 Juli 2011 at 2:21 pm
@awang dkk…
masih belum paham sejarah juga….
mau bukti yang mana lagi….
atau mau cerita turun temurun yang tidak ada penelitiannya…..
disini saya hanya melampirkan fakta sejarah yang ditulis oleh para ahli berdasarkan penelitian dan sudah diterima kebenarannya.
tapi anda2 seenaknya menghina MINANGKABAU
kalau mau saling menghina… seburuk apapun persepsi anda tentang MINANGKABAU yang jelas buat saya orang MINANGKABAU asli (tanah datar)pastilah SANGAT JAUH LEBIH BAIK DARI melayu riau.
padahal bahasa di kampung saya di tanah datar mungkin 98% sama dengan bahasa ocu(?)
tapi apa kelakuan orang ocu(?)….?
berbahasa MINANG, adat MINANG, kesukuannya MINANG tapi ngaku bukan MINANG.
ini MENYESATKAN!!!!
mirip dengan yang
ngaku ISLAM tetapi
Nabinya mirza ghulam ahmad
Kitabnya bukan AL QURAN
Ini MENYESATKAN
liat saja bukti sejarah lagi, orang MINANG banyak berjasa pada negara ini.
liat saja kota pekanbaru, orang MINANG juga banyak berjasa pada kota ini
pendirinya saja orang MINANG.
cuma saya tidak mau saling menghina karena akan tidak ada habisnya.
karena sebenarnya MINANG dan MELAYU RIAU itu saudara kandung.
hal itu dapat kita lihat dari tulisan yang saya sampaikan diatas.
nenek moyang kita begitu mesra pada jaman dulu, tidak pernah mereka bertengkar atau saling menghina…
tetapi setelah dijajah Belanda dan diperintah ORLA dan ORBA begini jadinya…..
emangnya kalau mati ditanya dari suku apa, propinsi apa….
sifat buruk dari suatu suku itu memang ada….
Misalnya :
minang = pelit
batak = kasar
melayu = pemalas
6 Juli 2011 at 7:00 pm
haaaa,,,, mano pulak ghajo kocik tu putra pgr ryng,,,,dio tu cumo di asuh samo ghajo pgr ryg,,, ngarang2 jo ngkak ni,, cito di atas bnyk versi tu ncek,,,mingkak tontu sapo yg mmakai glr batin tu ?ambo tanyo pngthuan anda tntg budayo riau ni
6 Juli 2011 at 7:14 pm
ngoku soghang je nyo pellit,,,,,
Minang karambie,,,,,,,,,
Awak heran,napo cumo suku minang ajo mmakai namo binatang di akhir nm sukunyo,,,,mlh lobiah mnonjolkan kobounyo,,cnth,, atap umah,pakaian adat atas palo klau pempuan,,jgn sptnyo sprt kobou pulo,,suko mkn umpuik di tanah ughang,,,di dunio hny suku minang yg ado nm binatang nyo,,,,hahahahahahah
6 Juli 2011 at 7:51 pm
Ocu@: kasian kali kau cu,,skolah dulu dimano?di kandang situmbin yo?Ndak berbobot stek alah nyo do komen paja go..
6 Juli 2011 at 7:56 pm
minang@hal yg samo blaku di timur tengah, bangsa arab dan bangsa israil,wlau mrk satu datuk,yakni nabi ibrhim tp arab ttp arab,israil ttp israil.
Namun keduany msh mengakui mrk orang IBRANI.Bangsa arab adalah yg trbnyk kturunannya terbentang dari asia hngg afrika sdgkn israil hny sbuah bngsa kecil di tmr tengah,, mereka ingin mngmbalikan kejayaan nabi daud dan sulaiman yg wilayahnya dr tepi nil hingga sungai efrat di irak.bendera israil adalah 2 garis biru(nil dn efrat ) dn bintang daud.mereka mngklaim tanah arab adalah tanah mereka. Nah tak jau berbeda di indonesia, antara minang dgn melayu,,, wlau mgkn st keturunan,,, tp orang melayu lbh bnyk,trbukti dari tamiang hingga bengkulu,di sumatra,pontianak di kalimantan,malaysia,brunai,sngpura,mindanau,pattani,,sdgkn minang adalah sumbar yg sbsr lngkrn obat nyamuk ,tp msh bs mngklaim atas budaya melayu yg bsr trsbt.mgkn zaman kerajaan kt sama keturunan,,,istilah minang blm ada mgkn zaman tu.
Minang tak obahnya kyk israil,,,suko mngklaim yg bkn hak dia.
Dari atas bs di ambl renungan
6 Juli 2011 at 8:13 pm
Awang@: Renungan apo nan bisa den ambiak dari tulisan angku?Kau saja yang mengkotak an minang terhadap suku melayu lainnya! Itu karena kau itu IRI terhadap orang Minang! Jujur pengetahuan kau tentang melayu masih dangkal. Sesuai dengan quote melayu: “kalau kail panjang sejengkal,jgn laut hendak di duga”. Lai ngarati sanak??!
Baraja elok2 dulu baru cuap-cuap. Pak Tenas Efendi pun mangecekan: “hubungan antara Melayu Riau dengan Minangkabau adalah hubungan yang menyeluruh..”
Bukak link nan ka den agiah an ko, baco elok2..Kok ndak ngarati, tanyo ka redaksi apo arti e..OK?! Iko linknyo:
http://www.harianhaluan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=1106:budaya-minang-dan-melayu-selaras&catid=6:riau-a-kepri&Itemid=73
7 Juli 2011 at 3:23 pm
Awang: komentar anda di atas adalah komentar terbodoh dari semua komentar yg ada dalam blog ini. Saya curiga, jangan2 ada tidak tamat SD. Pengetahuan umum anda sangat rendah sekali. Akan tetapi, setelah saya tahu anda berasal dari Riau, saya menjadi maklum, memang begitulah kwalitas sebagian besar orang Riau, bodoh dan terbelakang dari segi SDM. Maaf kalau komentarvsaya agak berlebihan, anda lah yang membuat saya berkomentar seperti ini.
6 Juli 2011 at 8:30 pm
wkwkwkw… Situmbin tu apo tu ? Klau nulis pkai bahaso yg bs km ngotilh,, jgn pamer bahaso mu yg bughok tu, kami kughang faham,,,
Dak usah kasian sm awak,tp sianlah samo suku kau tu.klau maghah,maghah samo pandeka,sutan2,datuak2 minang tu,ngapo mrk buat istilah minang kerbau tu
Semen padang logonyo tandok kobou juo,,hahahahahahahahahaha
Bungkanglah kolian copek,bia ranah kolian tu di hntm gempadan tonggolam dek bumi,,,,
Bonci te kami nenggok kolian,,,
6 Juli 2011 at 8:44 pm
Ocu siak hulu@: cari surang a arti e,,kok ndak tau mintak je lah surek anyuik..
Apo nan aku kasihan kan dengan suku aku..AKU BANGGA JADI ORANG MINANG..Kalau mau tanya kenapa?Sepertinya aku tak perlu kasih jawaban..Kau bisa lihat dikehidupan sehari-harimu..Lai tau ndak jo astronot Malaysia? Lai tau ndak jo yang dipertuan agung pertama di Malaysia? Lai tau ndak jo satu2nyo ulama Indonesia yg jadi Imam di masjidil haram?Itu baru nan di Malaysia jo arab saudi, olun di Indonesia nyo lai tamasuak sampai kini go..Lai tahu ndak jo menteri2 yang kini ikuik di kabinet SBY??Kok ndak tau angku,,yo ibo den,,anak SD je tau..
6 Juli 2011 at 9:05 pm
wkwkwkw… Situmbin tu apo tu ? Klau nulis pkai bahaso yg bs km ngotilh,, jgn pamer bahaso mu yg bughok tu, kami kughang faham,,,
Dak usah kasian sm awak,tp sianlah samo suku kau tu.klau maghah,maghah samo pandeka,sutan2,datuak2 minang tu,ngapo mrk buat istilah minang kerbau tu
Semen padang logonyo tandok kobou juo,,hahahahahahahahahaha
Bungkanglah kolian copek,bia ranah kolian tu di hntm gempadan tonggolam dek bumi,,,,
Bonci te kami nenggok kolian,,,i bahaso yg bs km ngotilh,, jgn pamer bahaso mu yg bughok tu, kami kughang faham,,,
Dak usah kasian sm awak,tp sianlah samo suku kau tu.klau maghah,maghah samo pandeka,sutan2,datuak2 minang tu,ngapo mrk buat istilah minang kerbau tu
Semen padang logonyo tandok kobou juo,,hahahahahahahahahaha
Bungkanglah kolian copek,bia ranah kolian tu di hntm gempadan tonggolam dek bumi,,,,
Bonci te kami nenggok kolian,,,
7 Juli 2011 at 7:56 am
Orang Ocu kalau kalian tidak mau mengakui hasil penelitian yg mengatakan bahwa kalian adalah orang Minang, ya sudah, sewaktu penelitian pun saya juga sudah tahu bahwa kalian pasti akan menolaknya mentah2. Sebagian besar orang minang juga tidak peduli, kampar itu minang atau bukan. Sampai hari ini pun identitas kalian masih diperdebatkan (sungguh kasihan) berbedea dg orang2 di Sumbar, identitas mereka tidak perlu diperdebatkan, asli 100% orang Minang. Semua orang Minang sangat bangga menjadi orang Minang, sehingga nama bandara yg ada di kota padang pun disebut bandara Minangkabau. Di mana pun orang Minang berada mereka selalu berusaha menonjolkan identitas keminangkabauan mereka dan mereka sangat bangga dg hal itu. Anda bisa lihat banyak sekali iklan2 dan sinetron di TV yg menggambarkan orang Minang. Saya belum pernah lihat ada iklan atau sinetron yg di dalamnya menggambarkan bahwa pemerannya adalah orang Riau. Hal ini jelas menunjukkan bahwa kebudayaan Minangkabau jauh lebih tinggi dibanding kebudayaan riau. Seluruh dunia juga mengakuinya. Jadi anda tidak perlu berdebat dg kami dg menjelek2kan etnis kami. Akhirnya kebodohan dan keterbatasan wawasan dan intelektual anda akan terlihat. Seperti kata pepatah “menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri”.
Buka mata anda lebar2, etnis manakah yg menguasai perekonomian di pekanbaru, duri, dumai, dll di riau, selain etnis Tionghoa? jawabannya adalah orang minang. Anda pasti sudah tahu, pemilik ruko2 di sepanjang jalan di Duri Pekanbaru, Dumai, dll, banyak yg dimiliki oleh orang minang. Apakah ada orang riau yg punya ruko di sumbar, saya rasa tidak ada. Di negerinya sendiri mereka tidak berjaya, apalagi di negeri orang. INI FAKTA YANG TAK TERBANTAHKAN.
Sekali lagi lebih baik kita saling berbagi mengenai ilmu pengetahuan, ttg budaya, adat-istiadat, dll, daripada saling menjelekkan, karena anda tidak akan menang. Apa yg mau anda banggakan dg etnis anda? mungkin hanya SDA yang suatu saat akan habis. Anda mungkin tidak tahu atau pura-pura tidak tahu. Siapa yg sebenarnya lebih diuntungkan dg SDA di Riau secara tidak langsung? jawabannya adalah orang Minang. Anda bisa lihat sendiri banyak sekali orang Minang yg menjadi kaya raya di Riau, uang yg mereka dapatkan mereka kirim ke kampung halaman. sementara orang Riau sendiri bagaimana? saya lihat masih tetap seperti itu. Pendidikan di Riau masih jauh tertinggal dibanding pendidikan di Sumbar (ini fakta yg tak terbantahkan).
Data statistik di UI, ITB, UGM, dan IPB menunjukkan bahwa mahasiswa asal luar Jawa yang terbanyak di empat PTN tsb berasal dari Sumbar. Yg dari Riau jumlahnya sangat sedikit, itupun setelah ditelusuri ternyata sebagian besar juga adalah orang2 Minang yg orangtuanya tinggal di Riau.
Sewaktu pelaksanaan SNMPTN th 2011 yang lalu, di Padang pesertanya mencapai 34.000 orang, sementara di Pekanbaru pesertanya hanya 10.000 orang saja. Hal ini jelas menunjukkan bahwa orang minang antusiasme mereka terhadap pendidikan jauh lebih tinggi dibanding orang Riau.
Sekali lagi, apa yg anda banggakan, tidak usah berdebat yg tidak bermutu seperti yg selalma ini dilakukan.
7 Juli 2011 at 9:36 am
awang dkk : sadar nggak sih kalian kita saling menghina ini gara-gara belanda & inggris.
mereka yang membuat perbedaan sumbar & riau, Indonesia dan malaysia.
padahal sebelum mereka datang nenek moyang kita itu saling menghargai, hidup rukun dan damai. bukan kaya arab dan israel.
mestinya jaga persatuan orang ISLAM. jangan gara-gara beda bahasa, adat tetapi bersitegang…. yang ada kita dimanfaatkan oleh non muslim…..
tetapi…
kalau masih main hina menghina, ejek mengejek…. ok lah..
tidak akan habis kata untuk mengungkapkan kebodohan orang riau….
katanya kaya minyak….
penduduknya banyak bodoh dan miskin…
kalau kaya minyak tuh seperti Uni emirate arab,qatar, kuwait…..
padahal mereka cuma punya minyak bumi….
riau punya minyak bumi, sawit, hutan….
tetapi yang mengusai orang non riau…. wkkwkwkwkwkw……..
dan mereka juga gak punya andil buat negara ini… sejak jaman perang mungkin mereka pada sembunyi di hutan, TAKUUUUTTTT…
coba lihat orang MINANG….
ada HATTA, SJAHRIR, AGUS SALIM, M.YAMIN, wah banyak tokoh MINANGKABAU ….
tokoh riau…. yah siape… ndak ade….(dasar gileeeee…)
untuk mendirikan kerajaan saja perlu didik orang MINANG, wah memang kalau sudah BODOH dan BEBAL susah untuk mengakui kebaikan orang lain, pikirannya sempit,
orang melayu riau mane ade di pekanbaru…. yang ade pendatang
GILE kalian…. kalau pekan baru milik kalian
MINANGKABAU BENAR-BENAR HEBAT.SDA nya ndak ado… tetapi orangnya HEBAT-HEBAT
contohnye ni ane kasih : Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi adalah ulama besar Indonesia yang pernah menjadi imam, khatib dan guru besar di Masjidil Haram, sekaligus Mufti Mazhab Syafi’i pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.
Buat saudara-saudara MINANG ku…
tingkatkan Ukhuwah Islamiyah.
7 Juli 2011 at 10:35 am
Saudara Minang itu terdiri dari: Rokan, Sumatera barat sekarang ini, Kerinci, Kampar, dan Kuansing..Itu satu saudara!
7 Juli 2011 at 9:40 am
hahahahah tu krn kalian punyo tanduk,,,
Pakai tanduk nyucuk ughang kojo kalian daghi belakang makonyo bisa,,
sutan@anda macam budak TK, suko bonou pamer,,, yg kalian sbt yg sukses,pengemis,preman tu mcm mano ?jgn banggo bonou le dak lamo ranah kalian tu kan punah dek gompo,,,, hahahahahaha,,,
7 Juli 2011 at 10:33 am
Ocu siak@:
pengemis jo preman du tiok suku ado du yuang!karano di tiok suku ado, jadi tu lah tau samo tau je lah awak, kecuali angku tingga di pasawangan, yo ndak do preman di sinan do…Batanyo lo deyen Memangnyo di kampar ndak do pengemis jo preman di sinan? Sabalunnyo den mintak maaf indak bamukasuik ntuak mamburuak an suku angku, tapi labiah ka bukti je kalau kecek den ndak pepesan kosong..Cubo angku bukak link di siko:
http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=213951.
Sakali lai deyen ndak do niaik ntuak mamburuak an suku angku jo caro iko, karano tiok suku pasti ado panyakik masyarakat nyo!!
Kalau masalah keunggulan dari kehidupan bernegara, tu kito tau samo tau je lah sia nan paliang banyak berkontribusi..OK??!Riau memang berkontribusi juo, dari segi SDA..
7 Juli 2011 at 3:35 pm
Ucu Siak Hulu: jika berbicara agak ilmiah lah sedikit. Apakah anda pernah melihat ada orang Minang yg punya tanduk? Saya belum pernah melihat ada manusia yg punya tanduk. Secara jujur harus anda akui bahwa keberhasilan orang Minang didapatkan berkat kerja keras, dari pendidikan yg tinggi, berdagang, bisnis, dll. bukan hanya menunggu bola seperti yg banyak dilakukan orang Riau. Orang Minang adalah etnis yang lebih suka menjemput bola, bukan menunggu bola. Saya bisa membuktikan ucapan saya, tapi saya yakin anda pasti akan menolaknya mentah2. Saya sudah mengatakan bahwa jumlah orang Minang yg kuliah di berbagai PTN jumlahnya jauh lebih banyak dibanding orang Riau, ini adalah salah satu bukti uaha keras yg dilakukan oleh orang Minang. Kami sadar bahwa daerah kami bukan provinsi yg kaya dg SDA , walaupun dianugrahi oleh ALLah SWT dengan kesuburan tanah yang sangat tinggi, oleh karena itu, orang Minang banyak yg pergi merantau dan berusaha bersekolah setinggi mungkin untuk mendapatkan kehidupan yg lebih baik.
Apakah anda tahu bahwa penduduk Sumbar mencapai 4,6 juta jiwa, yg meninggal karena gempa 2009 hanya sekitar 1000 – 2000 orang, berapa persenkah itu? silahkan hitung. Pada hari terjadinya gempa tsb, jumlah kelahiran di seluruh Sumbar lebih dari 2000 orang. Jadi, orang Minang tidak akan punah hanya karena gempa. Mungkin anda bingung dg penjelasan saya, saya hanya berusaha sedikit membuka cakrawala anda supaya berpikir dahulu sebelum bicara, gunakan data2 yg otentik, jangan asal cuap2, karena itu hanya akan menunjukkan kualitas anda kepada orang lain.
7 Juli 2011 at 10:04 am
hahahahah tu krn kalian punyo tanduk,,,
Pakai tanduk nyucuk ughang kojo kalian daghi belakang makonyo bisa,,
sutan@anda macam budak TK, suko bonou pamer,,, yg kalian sbt yg sukses,pengemis,preman tu mcm mano ?jgn banggo bonou le dak lamo ranah kalian tu kan punah dek gompo,,,, hahahahahaha,,,
hahahahah tu krn kalian punyo tanduk,,,
Pakai tanduk nyucuk ughang kojo kalian daghi belakang makonyo bisa,,
sutan@anda macam budak TK, suko bonou pamer,,, yg kalian sbt yg sukses,pengemis,preman tu mcm mano ?jgn banggo bonou le dak lamo ranah kalian tu kan punah dek gompo,,,, hahahahahaha,,,
7 Juli 2011 at 10:36 am
hahaha…ocu…
kasian ane liat lu semua…..
mencari identitas….ibarat malin kundang anak durhaka, mentang-mentang sekarang berada di propinsi yang kaya SDA (tetapi sangat minim SDM)
gak mau pula ngakuin asalnya dari mana, bahasanya pake bahasa siapa, adatnya pake adat siapa…. ocu…..ocu…..ocu…. tanya kenapa????
buktikan peneltian anda cu……cu….. kalau ocu itu suku tersendiri, atau masuk suku melayu, atau masuk suku MINANG…
pembunuh aja kalau cuma ngaku-ngaku gak dipenjara kalau gak ada bukti….
BEGOO…
orang asli riau mencari saudara sependeritaan, biar gak sendirian ( miskin, bodoh, malas) makanya ngakuin ocu juga melayu riau….
cocokkan……….
7 Juli 2011 at 11:21 am
woii…yang ngaku ocu…………………………………………..!!!!!!!!!!!!!!!!!????
buktikan melalui tulisan ilmiah
kalau ada suku ocu…..
kalau ocu itu murni melayu….
BUKTIKAN……!!!!!!!!!!!!
silahkan search di google……….
tapi yang ilmiah ya…. yang bisa diterima kebenaranya…
jangan hikayat atau cerita orang tua kalian.
7 Juli 2011 at 12:23 pm
iyo godang bona mnghino urang riau sanak ko,,riau ko indak saburuak nan dunsanak sngko,pikie kami di riau ko.
Kami sabona indak nomua sobuik urang minang dek tu,,, minang ko ala di cap dek urang melayu tu,suko iri dgn tatangga,,,
Kami cari razoki siko nyo cu,,,,
7 Juli 2011 at 12:37 pm
Ombak@:
Cubo sanak caliek elok2 sia nan iri di siko ko? nan ngaku urang kampar atau urang Minang??Awalnyo dari pihak rang Minang di siko manulih elok-elok, tapi kudian dibaleh jo nan ngaku urang kampar jo SDA minang ndak do, pembangunan kelok 9 yg ndak salasai juo, dll..Jadi sia nan mulai patamo du dek sanak??
7 Juli 2011 at 12:35 pm
kalian duluan yang menghina kami orang MINANGKABAU….
saya sudah bilang diatas buat apa saling menghina…. saling mengejek…
semua sudah saya paparkan diatas…
tetapi kalian memang bebal…..
kalian yang duluan menghina….
kami orang MINANGKABAU tentu gak terima dong kalo dihina…… baca dari comment no 1 sampai akhir….
siapa yang menghina duluan……
7 Juli 2011 at 12:41 pm
ane juga bisa asal ngomong….
asal cuap cuap…
sembarang mangecek…
7 Juli 2011 at 1:08 pm
Minang18@: Baliau2 tu sumbarang mangecek tando tong kosong nyaring bunyinyo..Kini lah ado lo istilah “Kalian tu beda sangat daghi pade melayu kebanyakan,,,Yg jelas minang bukan oghang melayu..” Antah dima2 je dapek kaji baliau ko..hehehe
7 Juli 2011 at 3:03 pm
iyo bana tu sanak…
mungkin awak-awak ko juo nan salah….
badiskusi jo urang-urang bebal, indak ado utak…
padia’an see lah…
7 Juli 2011 at 4:33 pm
Minang18@: Kewajiban kito ntuak mambimbiang nyo sanak..
7 Juli 2011 at 12:52 pm
minang ni banyk betol tulalitnye,,,,
Sape yg sudi besaudaghe same kalian,,,?
Kami oghang melayu tak de besaudaghe same kalian.
Tp satu ugama,iye !
Kalian tu beda sangat daghi pade melayu kebanyakan,,,
Yg jelas minang bukan oghang melayu,
Minang,,,kedekut,plus ria sangat !
7 Juli 2011 at 1:05 pm
Putra melayu@: komentar anda mirip banget sama si Awang (mengkotak-kotakan minang karena ga punya pengetahuan tentang arti melayu sesungguhnya)..Saya suspect kamu ni sekawan sama si Awang, sama2 dari Bangkinang tapi sekarang tidak berdomisili/tinggal di bangkinang..Halah Ocu putra melayu, malu kah pakai bahasa Kampar? kah..kah…kah..
7 Juli 2011 at 2:22 pm
saudaghe !!!! ape yg saudaghe tulis tntg saye adalh fitnah,,, saye demi ALLAH tak de sangkut paut same awang dan saye juge bkn berasal daghi bangkinang. Saye ni oghang natuna.dulu prn saye bertugas 2 tahun kat kampar tu.
Saye hanye tertarik dgn tulisan2 anda dn kwn2 anda ttntg merendahkn marwah oghang melayu riau,saye heran,,,,,,,?
Satu soalan lg,selame 2 tahun saye di kampar,saye rase bnyk betol perbedaan kampar dgn minang,bahsenye agak2 mrp tp secara vokal,kental nuanse melayunye.daghi segi watak manusianye juge beda,,, manusia2 di kampar same watak dan akhlaknye dgn melayu raya,,
Oghang melayu ramah,
Jgn buruk sangke ncek !
7 Juli 2011 at 3:07 pm
apalagi ente primitif…..natuna mau dibanding-bandingkan….
jauh di tengah laut…
7 Juli 2011 at 3:48 pm
Putra Melayu: selama 2 tahun di Kampar, siapa yg pernah anda dengar berbicara? apakah anda mengerti ilmu linguistik? apa yg anda maksud dg secara vokal? Indikator apa yg anda gunakan untuk mengukur bahwa watak orang kampar beda dg watak orang minang tapi sama dg melayu raya. Wilayah mana saja yg anda maksudkan dg melayu raya? Saya ingin tahu hasil pengamatan anda selama 2 tahun di Kampar. Hasil observasi anda tsb sangat bermanfaat bagi saya. Saat ini saya sedang melakukan penelitian di Kampar, sudah memasuki tahun ke-2 dari 3 th yg direncanakan.
7 Desember 2011 at 3:20 am
to putra melayu,
bapak saye asli orang selat panjang. saye orang melayu. mike sangat dangkal pengetahuanye. bahase minang tu luas dan banyak ragam dialeknye. tak kah mike bace coment sblmnye.. bahase minang di pasaran menggunakan dialek ~A~. tp bahase minang secara garis besar dibagi due. bahase minang pesisir berdialek ~A~ spt bahase yg mike dengar di pasar pekanbaru. tapi kalau di minang yg agak ke bukit barisan itu bahase ber dialek ~O~. persis sm dengan bahase kampar/ocu kate mike tu. kembangkan wawasan mike dulu baru boleh ikut cakap. klu tidak mike cume akan menjadi penggalau dalam topik ne.
silahkan mike pergi ke KAB.50 kota di sumbar, kab. sijunjung, kab,masraya dan sebagian kab.tanah datar di sumbar. mreka smue berdialek ~O~. jd klu nak bantah perkaya ilmu dulu. tau tak…..????
5 Januari 2012 at 10:27 pm
Rudi<klau miko oghang selat panjang atau melayu pst anda tidak mengagung2kan. Minang anda.oghang melayu sangat banggo dgn budayo melayu.seluruh oghang melayu Riau tau bahwa kampar,kuansing tu tanah melayu .
Kemungkinan anda bermuka dua.
Kab.50 kota mmg bhsa mirip dgn kampar tp jgn slh bhs 50 kota atau payahkumbuh,sijunjung masih kental dialek minangnya.
Yg benar tu bhs payakumbuh tu bercampuran bahasa kampar dan minang,klau miko tak pecayo cubo check ajo.
Orang Riau,baik itu di bengkalis,dumai,kampar,indragiri,bagan,kuansing,Rohul sangat anti dgn yg namonyo suku minang,krn minang tu tiado mau berbaur dgn pnddk tempatan.mlh buat persatuan2 minang di situ.di tanah melayu Riau,minang tu terkenal dgn kikir dan perhitungan
7 Juli 2011 at 2:37 pm
putra melayu :
Siapa pula yang mau bersaudara dengan kau…. jisssnaaa layau….
17 Juli 2011 at 11:23 am
ko ciri has ughang minang!!
7 Juli 2011 at 2:59 pm
mkny klau menghujat kampar,seluruh tanah melayu akan marah and meradang
Dari itu jg etika dn budi bahasa selalu.
7 Juli 2011 at 3:08 pm
hei.. ente lihat dari comment no 1
siapa yang menghujat lebih dulu
7 Juli 2011 at 3:11 pm
Minang18@: Maling teriak maling, inyo tu sanak..hehehe
7 Juli 2011 at 3:52 pm
L syam: daerah mana saja yg anda maksud dg seluruh tanah melayu? Ketika saya melakukan penelitian di Tanjungpinang, orang Tanjungpinang ternyata mengatakan bahwa orang Kampar bukan Melayu, karena bahasanya beda (ini hanya pendapat orang awam di Tanjungpinang). Menurut orang Bintan, bahasanya orang Kampar tidak kami mengerti, jadi sudah pasti mereka tidak satu suku dg kami.
17 Juli 2011 at 11:26 am
itu kan cuman orng awam!!
apa peduli nya kami akan momongan anda
7 Juli 2011 at 3:41 pm
lomak sembaghang nuduoh sutan ko !jen pkai bhs minang juo le,muntah tie kami dongou de,,
Oh yo ngah L olah pandai pulo ghupo sutan ko bhs awak,tengok nyo pakai kato2 JE. Tp ado slh,bhsnyo tu msh bcampu sm bhs minang payah kumbuh.
Ughang minang tu ye cu,,dak akn ponah pandai cakap kampou de,,sobabnyo olah t,biaso nyobuik hrp tu kughang,,,
Bhs indo ajo mrk peleset2kan,,, h yo ngah L olah pandai pulo ghupo sutan ko bhs awak,tengok nyo pakai kato2 JE. Tp ado slh,bhsnyo tu msh bcampu sm bhs minang payah kumbuh.
Ughang minang tu ye cu,,dak akn ponah pandai cakap kampou de,,sobabnyo olah t,biaso nyobuik hrp tu kughang,,,
Bhs indo ajo mrk peleset2kan,,,
7 Juli 2011 at 4:37 pm
Lsyam@: Ente orang tersotoy yang pernah gw ketahui..Itu makanya, skali2 keluar lihat daerah orang lain ya!!Di piaman akhiran kata ada “je” jugak…Sotoy kuadrat tingkat tinggi ente!
17 Juli 2011 at 11:45 am
manga-manga??
mangaAAAA ang sobuik nyo sotoi…
l syam: kci ughang bukik tinggi ndakkan bisa cakap awak dow!! samo jo payakumbuh!! logatnyo bairama!! contoh ciek bahaso ughang payakumbuh!! (mengapa) paykum: mangaaAAapo, ngaaAA. dek aAA kampau: mangapo. ngapo. dek Apo. pknbaghu: manga, ngapo, dek apolo. tpi tidak berirama condo ughang minang!!
contohnyo den nan tingga di pokan….tasindiu so deghen e’ma…wkwkwkwk
jan ang sobuik baco hurup kughang!!
konailah bujang Acu nan tingga di pakanbaghu du le.!!!
7 Juli 2011 at 3:47 pm
lomak sembaghang nuduoh sutan ko !jen pkai bhs minang juo le,muntah tie kami dongou de,,
Oh yo ngah L olah pandai pulo ghupo sutan ko bhs awak,tengok nyo pakai kato2 JE. Tp ado slh,bhsnyo tu msh bcampu sm bhs minang payah kumbuh.
Ughang minang tu ye cu,,dak akn ponah pandai cakap kampou de,,sobabnyo olah t,biaso nyobuik hrp tu kughang,,,
Bhs indo ajo mrk peleset2kan,,,
7 Juli 2011 at 5:06 pm
wit,,,,, yg di mksd tanah melayu adalah tanah yg di diami oleh bangsa atau org melayu,, dan mengakui kemelayuan mereka hngga saat ini.tidak sprt minang yg skrg tdk mau mnybt melayu.
Wjrlh orang bintan dan tanjung pinang tdk fhm bhs kampar,krn mrk memakai bahasa melayu tinggi,,,bhs melayu tinggi adalah cikal bakal bhs indo.sdgkn kampar brbhs melayu dialek kampar.kami tau raja ali haji,,,dia orang bintan,,,kamu tau mksd ku ?
Kamu aja tak ngerti bahasa mentawai pdhl dlm sumbar dan satu keturunan mengakui kemelayuan mereka hngga saat ini.tidak sprt minang yg skrg tdk mau mnybt melayu.
Wjrlh orang bintan dan tanjung pinang tdk fhm bhs kampar,krn mrk memakai bahasa melayu tinggi,,,bhs melayu tinggi adalah cikal bakal bhs indo.sdgkn kampar brbhs melayu dialek kampar.kami tau raja ali haji,,,dia orang bintan,,,kamu tau mksd ku ?
Kamu aja tak ngerti bahasa mentawai pdhl dlm sumbar dan satu keturunan
8 Juli 2011 at 6:30 pm
L. syam: rupanya pengetahuan umum anda sangat rendah sekali. Orang Mentawai tidak satu keturunan dg orang Minang. Orang Mentawai tergolong proto melayu, minangkabau deutro melayu. Secara fisik sangat jelas berbeda. Mentawai juga patrilineal, minangkabau matrilineal. Mentawai Kristen, Minangkabau Muslim. Satu keturunan dari mana? Saya anjurkan supaya anda belajar dan membaca buku yg banyak dulu sebelum ikut berkomentar di sini. Raja Ali Haji adalah orang Bugis yang menjadi raja di Bintan. Dia bukan orang Melayu.
Sebelum ada Belanda di Indonesia, orang Minangkabau sebelumnya lebih dikenal sbg orang Melayu, dan mereka pun menyatakan diri sebagai orang Melayu. Ingat! Ekspedisi Pamalayu. Ketika Belanda menjajah Indonesia, yg disebut sbg etnis Melayu (bukan ras), adalah orang Riau Kepulauan, Riau Pesisir, dan orang Deli, yg lainnya disebut sesuai dg nama daerahnya, seperti Minangkabau (sebelumnya adalah nama daerah/kerajaan), Palembang, Bengkulu, Sambas, dll, bahkan orang Jambi pun di sebut sbg etnis Jambi, bukan Melayu. Inilah sebabnya mengapa orang riau merasa mereka lah melayu yg sebenarnya, karena orang belanda yg menyatakannya begitu sewaktu sensus penduduk 1930. Orang Riau Daratan, oleh Belanda dikelompokkan sbg etnis Minangkabau. Jika skrg mereka tidak mau menyatakan diri sbg orang Minangkabau, terserah mereka. Orang Minang di Sumbar tidak akan rugi dg hal seperti itu.
Saya sarankan kepada anda, pergilah berkunjung ke Mentawai, perhatikan baik2 fisik orang Mentawai, kemudian bandingkan dg fisik orang Minangkabau, apakah mungkin mereka satu ketturunan dg orang Minangkabau?
Terakhir saran saya, jangan asal cuap-cuap kalau tidak tahu apa-apa. Hal ini hanya akan menunjukkan kwalitas anda kepada orang lain.
8 Juli 2011 at 9:02 am
sdah di kasih hdp di riau,nggak mau bersukur,mlh menjelek2kan tempat di mn kalian menggantungkn hdp !
Apa nggak punya otak sodara ? ntungkn hdp !
Apa nggak punya otak sodara ?
8 Juli 2011 at 10:36 am
sutan,witrianto,minang18,,, awak nak nanyo,,, napo di kampar ado ikatan keluarga minang riau kampar(IKMR-K),ikatan keluarga gonjong limo kampar,ikatan 50 kota,IKPP,dan bnyk lg, napo klau di kampar tidak di nmkn ikatan keluarga sumatera barat kampar ? tolong kasih pencerahan sdkt samo km,katonyo kampar itu minang !
Sutan dn kk,,,,, mngkn anda dan sedikit org minang menilai kampar dr kejauhan,ya mngkn anda di perantauan tidak tnggl di riau atau pun sumbar.mmg klau kt tnggok dari jauh mgkn sm tp klau kt selami lbh dlm,akan kt temukan bnyk perbedaannya.kasus yg sama berlaku apabila org melayu yg berloghat hrp O apabila mrk bercakap sesama mereka di jakarta akan di sebut minang.krn orang jakarta tak bs mmbedakannya.Sutan,,, saya bnyk kwn orang minang di riau,,, dan mereka tdk sprt anda dkk,,,
Untuk apa di bntk paguyuban sprt itu di tanah yg mnrt anda msh rnh minang ?
8 Juli 2011 at 12:51 pm
L syams@:
1. Menjawab pertanyaan anda tentang keberadaan IKMR-K, Gonjong limo, IKPP, PKDP, dll. Menurut saya jawabannya mudah dan sebenarnya pertanyaan ini sudah dijawab sama anda dan teman2 anda. Adanya paguyuban2 tersebut karena tuan rumah tidak mau mengakui bahwa mereka itu sebenarnya sama dengan saudaranya yang berada di Sumatera Barat! It is fine, kami tak harus paksa anda2 untuk mengakui bahwa anda itu Minang karena kami tahu bahwa seluruh manusia itu diberi kelebihan oleh ALLAH S.W.T berupa akal-pikiran sehingga mereka bisa belajar, menganalisa, dan mengambil kesimpulan. Oleh karena itu, kami orang Minang dari SUMBAR membuat ikatan2 keluarga…(yang umumnya ikatan2 satu kampung, bukan satu suku).
2. Sekedar info: Saya merantau (keluar dari SUMBAR) baru 8 tahun umurnya sampai sekarang. Ketika di SUMBAR, saya sering bolak-balik Padang-Pekanbaru (paling tidak tiap hari raya) dan melewati Kab. Kampar tentunya. 8 tahun yang lalu, saya pikir bahwa orang2 Kampar itu sama dengan orang2 di Sumbar karena dari segi suku2, sistem kekerabatan, rumah adat, bahasa, dll sama. Tapi baru 3 tahun belakangan ini saya mengetahui bahwa orang2 Kampar, Kuantan, dan Rokan tidak mau mengakui bahwa mereka sama dengan saudaranya yg di SUMBAR. Ini membuat saya tertarik untuk mengetahui kenapa bisa demikian dan alasan apa yang melandasi itu..Sejauh ini saya lihat berdasarkan penelitian2, sebenarnya kita itu sama!
8 Juli 2011 at 2:18 pm
klau blh tanya,rumah adat mana yg mirip ?
Apa di minang ada umah lontik atau umah lancang atau umah pencalang ?
Coba anda cr di google rumah adat kampar,,,key,,,, ?
Coba anda cr di google rumah adat kampar,,,key,,,,
8 Juli 2011 at 3:09 pm
Lsyams@: Kata “mirip” memiliki arti “hampir sama”. Jadi kalau anda bertanya apakah rumah adat di Sumbar mirip dengan kampar punya? Saya jawab iya. Apapun lah namanya rumah tersebut yang penting ada kemiripan dan fungsi nya sama. Di Sumbar pun selain rumah gadang, rumah adatnya juga disebut: rumah bagonjong, rumah baanjuang. Dan di Sumbar pun rumah adatnya bervariasi. Saya udah sering lihat rumah adat di Kampar, dan sekarang ini yang saya lihat ada feature yang baru di rumah lontioknya: di ujung atap ada silang berukir seperti rumah melayu pesisir (ga tau saya namanya apa).
17 Juli 2011 at 11:56 am
diatas tu kirai namanya..
wang ontu kirai nye kan??
tompek alqur’an!!
17 Juli 2011 at 12:08 pm
anda bru melihat… berarti ketwn anda jarang kekampar!!
anda hnya melintasi daerh kmpar!!
wkkkk
tulah cu………..
kamano balimau suok cu sutan??
ikuik2 je lh cu… tpi jan sampai buek maksiat lo… konang nan diate!!
wkwkwkwk
ma’f lahir batin ye cu sutan………
8 Juli 2011 at 4:40 pm
silang kayu diatas bkn di buat baru,,klau anda tak percaya,silakan anda datang ke desa pulau belimbing,kuok.di st anda temui yg ssngghny,krn rmh di st dah berumur lama.
Ukiran pd dndg jls btl khas melayu riau.
Mgkn mmg ada pngrh minang di situ yaitu atap yg agak runcing,tp itu sedikit.
Nama rmh melayu pesisir tu adalah rumah selaso atau atap limas.
Sutann,,,, saya rasa tak pernah saya jumpai di minang rumah sprt di kampar yg ada rmg begonjong dan rmh gadang yg saya jumpai,,, rumah gadang lbh mirip rumah atap batak,,,klau tak percaya,check aja,,
8 Juli 2011 at 4:57 pm
bongak minang yg soghang ko ye cu,,, mano pulo ado umah lancang di ranah bogunuong2 du,,, umah lontiok ko umah ughang yg tamadunnyo di sungai dak di legheng2 gunuong do.umah minang tu ye cu,atap umahnyo lbh mrp tanduok kobou dan b,gonjong.
Tanyo blh wak sutan ?
1 Kota Padang tu apo bhs indo nyo du,kota pedang koh atau kota tongah lapang koh ?
2 Galak tu apo artinyo,gelak koh atau buas ?
3 Tauncang tu apo artinyo,klau uncang di kampar adolh kato2 jorok wak(penis)
4 Bara tu apo ? klau di kampar taik wak atau bara api !
jwb ye !
9 Juli 2011 at 1:17 am
Awang@: karena aku bongak, maka aku serahkan pertanyaan anda yang sangat-sangat sulit ini kepada Pak Witrianto yang menulis beberapa komentar di sini. Beliau adalah seorang staf pengajar di jurusan sejarah fakultas sastra..
Kalau aku pikirkan sendiri bisa-bisa 7 hari 7 malam aku tidak bisa tidur, mengalahkan rumus-rumus termodinamika, diffusivity, continuity, darcy, yang pernah ku pelajari ketika kuliah..
8 Juli 2011 at 6:33 pm
apo gilo budak sorang ni..olah mabuk uyangminang kau ni ,
Seluruh riau ni melayu,tau ! !
8 Juli 2011 at 6:44 pm
kami raso kami yg di pangkalan,muara peti juo urang melayu samo jo urang kampar tp karena masuak sumbar,payah lo lai,,di sobuik minang indak lo do
Pdhl adek kami lobiah dokek ka bangkinang lai,kami lobiah condong ka riau lai
17 Juli 2011 at 1:11 pm
wkwkwk…..
la dri dulu den tw!!
mngkonyo kami ndak mambao namo daerah situ!!
kami hanyo manyobuik kato Minang!! minang du jole asal daghi malayu du ma mbak!! tpi herannyo kami minangdu kini mamisah daghi malayu…
iyo mbak awakko ughang minang juo mbak!! tpi awakko mengakui melayu du asal awak!! ndak condo minang kek sutan ko do… ughang ko nan ndak mengakui dighinyo melayu dow…cubo ughang sadotu mengakui… mungkin kami ndak bonci ke” inyo…
mangkonyo… kami mamisah juo dari sumbar!! sempat sumbarko mengakui dighinyo melayu!! mungkin sumbarlah wilayah terbesar di sumatera ko dek kamparko pasti nomuo bagabuong kci minangko nomuo mengakui dighinyo melayu sojak dulu… kono itu kami ndak nio masuok sumbar… kono ughang minang ko ndak jole!!
8 Juli 2011 at 7:31 pm
kayu berukir yg berpalang tu namnyo klau bahasa kampar sulobayuong(selembayung) tu ngah.
9 Juli 2011 at 9:20 am
wit@raja ali adalah raja melayu bkn org bugis tp yg benar dia orang melayu ada drh bugisny.memang ,,,klau smpt keturunan minang bs modar ni riau.
Mentawai mmg bkn keturunan minang,km tau itu.
Sutan@anda tak bs mnjwbkn ?krn anda akan dpt prbedaannya.bnyk perbedaan bhs kt tp bnyk jg yg sm.
g ada bhs minang dialek kampar,,, yg resminya bahasa melayu di alek kampar,,, contoh,kodai,pokan,nogoghi,negeghi dn sprt ini di tuturkn orang melayu asahan,rawa(rawo)pasir,bagan,petalangan,pelalawan,sakai,kuantan,perawang,sbgian jambi ,n9,,, klau kalian kadai,pakan,nagari khan,,,sama sprt bhs banjar,,,jgn2 minang dgn bnjr st keturunan,,,hehehehe.
9 Juli 2011 at 9:28 am
msk sulit untuk mnjwbnya,,,pdhl itu bhs keseharian,yg jd ke banggaan anda,,
10 Juli 2011 at 6:55 am
L syams@: hehehe..rupanya kiasan saya ditanggapai serius sama anda..
Kenapa saya berkias seperti itu??Pertama si Awang telah menghina saya dengan perkataan bongak. Kedua, memang anda pikir itu merupakan suatu hal penting yang membedakan orang kampar dengan saudaranya di kampar..Memang anda pikir di sumatera barat sendiri bahasa minangnya homogen?Di setiap daerah di manapun (bukan antara sumbar dan kampar saja), walaupun komunitasnya sama tapi tiap daerah punya dialek dan kata2 yang berbeda..Itu yang perlu anda ketahui! Oleh karena itu, saya jawab di komentar si Awang agar Pak Wit yang menulisnya agar dikasih pencerahan dan pengetahuan beliau kepada si Awang..
9 Juli 2011 at 10:11 am
poning pulak palo aku tengok budak minang kat blog ni !
Apo kato ngkaulah,,,,,,, minang kat riau ni kelasnyo no 3 di riau n ssdh jawa,, jawa jo hbt tak sepoti ngkau,mrk lobih pandai besaudagho dgn pribumi di bndg uyang minang.
Sojak dl kito ni tak ponah akur,kono apo krn suku minang suko botul klaim tanah uyang.
Behombuslah daghi tanah melayu ni,,
10 Juli 2011 at 8:10 am
Uyang Bagan@: Orang luar ga usah ikut nimbrung..Ntar jadi sotoy..Cukup orang kampar aj yg ikut..Itupun kalau mereka punya alasan yg logis..
10 Juli 2011 at 9:11 am
hahahahaha tu iyo tu yee,,,payah bonou tio du ngah sutan,,,,,
Pst tontu dek ongah bezo nye du,tp kono sogan ajo !nyo ola jole bezonyo du,,iyo dak ?
Sutan,,,,, ola di baco tulisan ombak pangkalan du,pengakuan inyo snggh mmbuat kami tharu dan banggo ,,, hehehehe,,, suai du ombak.
Jujur sajo sutan, seniman daghi pangkalan,muara peti,manggilang,dan daerah sekitarnyo,,kn meluncurkn album dendang komedi ocu.b,samo tety aziz.lg2nya antara lain,balimau di pangkalan,kampo dll,,,balimau di pngkln,video klipnyo di ambil balimau taun potang di kampar,lengkap dgn pakaian melayunyo.
apo dak dendang komedi minang ? Km dak tontu jwbnnyo,,,
Ombak,, blh tanyo,,kono ombak ughang pangkalan,, apo sobabnyo du ?
10 Juli 2011 at 9:40 am
Uyang di bagan ni tak uyang luo ncek !
Uyang Riau jugo.
Minang merendahkan uyang melayu,jelas aku ikut.
Cam mano pun kampar tu sedagho uyang bagan jugo.
Apo kau ni cakap uyang sotoy,kualitas ahlak kau minim
Yo kah,,,, jd kau pny alasan yg logis ?
Nyatonyo kau tahayul,crt zmn dl2 yg blm pst…
Legenda,,,,,,,, Uyang di bagan ni tak uyang luo ncek !
Uyang Riau jugo.
Minang merendahkan uyang melayu,jelas aku ikut.
Cam mano pun kampar tu sedagho uyang bagan jugo.
Apo kau ni cakap uyang sotoy,kualitas ahlak kau minim
Yo kah,,,, jd kau pny alasan yg logis ?
Nyatonyo kau tahayul,crt zmn dl2 yg blm pst…
Legenda,,,,,,,,
10 Juli 2011 at 10:53 am
Uyang@: Komentar anda yang berulang dua kali ini identik dengan komentar dari ocu siak hulu dan putera melayu..Hehehhe..Pagadelean juo deyen lai…hehehe
10 Juli 2011 at 9:45 am
l syams_baco tulisan ambo yg di ateh.
Krn kami ndak maraso urang minang
10 Juli 2011 at 10:30 am
Hehehe..ambo ragu mereka2 ko bedo urangnyo (antaro lsyams, putra melayu, ombak pangkalan, uyang bagan). Ambo yakin namo2 panulih nan babedo-bedo ko dari ciek sumber (atau ciek urang). Batue atau ndak deyen, itu ALLAH je nan tau..jadi ambo ndak porolu ambiak pusiang, ombak pangkalan ngaku inyo sadunsanak jo urang di Kampar, itu batue. Tapi ombak pangkalan ndak maraso urang Minang,,ha itu yo ndak picayo deyen do..
Untuak nan ngaku2 urang melayu, sampai kini yo ndak do penjelasan logis dari angku2 do manga Kampar bedo jo Minang (definisi sampik nan ado kiniko)??Kalau ado info yang logis, ilmiah tolong dibagi kamari!Bia deyen obe lo..
Khusus ntuak rang Pangkalan (kok iyo lo angku rang pangkalan atau ngaku2 jadi rang pangkalan), iko ambo ado saketek tulisan di tabloid ummat surau edisi 03 / Februari 2002. Iko adolah wawancara antaro Chendrahati (penulis tabloid Surau) jo H. Nasruni Syafei, direktur utama PT. Karya Cita Sentosa, putra asli pangkalan koto baru, Limo puluah koto. Bacolah di bawah ko sanak, karano jo mambaco ilmu pengetahuan kito batambah!
“Merasa menjadi pendatang,
merasa terasing di tanah ulayat sendiri, dan bahkan tidak sedikit yang mendapatkan perlakuan diskriminatif dari masyarakat yang mengaku-ngaku sebagai putra asli daerah. Kian hari, suasana ini kian menjadi-jadi. Terlebih genderang otonomi daerah mulai ditabuh, yang juga melahirkan sentimen kedaerahan atau sukuisme. sikap warga Minangkabau di Pakanbaru adalah salah satu contoh kenyataan yang cukup membingungkan itu, sekaligus memilukan. Tiba-tiba mereka merasa menjadi pendatang, merasa terasing di daerah yang dibuka dan menjadi ulayat nenek moyang mereka sendiri. Inilah yang tergambar dari percakapan santai Chendrahati dari Tabloid SURAU, dengan H. Nasruni Syafei, Direktur Utama PT. Karya Cita Sentosa yang bergerak dibidang penyediaan sarana transportasi bagi CPI, putra asli Pangkalan Koto Baru Limapuluh Kota, yang masih gemar bermain domino sambil minum kopi di lapau.
Sebagai wilayah Alam Minangkabau, status Pakanbaru hampir sama dengan Kayu Tanam Pariaman, atau Manggopoh Lubuk Basung, yang dikenal dengan sebutan ujuang darek kapalo rantau. Pakanbaru sendiri sewaktu masih bernama Taratak Buluah adalah bagian dari ulayat urang Luak Limopuluah. Kemudian setelah Luak Limopuluah berkembang ia berdiri sendiri sebagai Luak dengan nama Luak Nan Sambilan, seperti diungkapkan dalam Tambo berikut ini: Adopun Taratak Buluah, ikua darek kapalo rantau, ujuang ranah limopuluah. Barajo ka mupakaik, ba alam ka Minangkabau. Barihnyo manganduang tigo, yaitu barajo ka Banda Siak, batuan ka Limopuluah, babapak ka Pagaruyuang. Kok naiak pasang dari ulak (siak), larinyo ka Limopuluah, mintak ubek ka tuannyo. Batandun kapa dari mudiak, atau dari Limopuluah, larinyo ka Banda Siak, minta tawa ka Rajonyo. Jikok balenggok pasang jo kapa, larinyo ka Pagaruyuang, mintak hiduik ka Bapaknyo, atau mintak kaadilan. Jadi sangat riskan aneh sekali bila warga Minangkabau di Pakanbaru merasa jadi pendatang. Tapi bisa jadi sikap dari ini muncul karena persoalan pengkotakan masyarakat yang mulai timbul seiring dengan keinginan lahirnya sebuah negara icak-icak yang bernama Riau Merdeka. Bahkan pemerintah daerah setempat bisa dinilai turut andil dalam mempertajam kondisi tersebut. Seperti diungkapkan H. Nasruni Syafei, dalam banyak peluang dan kesempatan kerja, terutama di jajaran kepemerintahan birokrat Riau saat ini, pada pintu-pintu yang terdapat di gedung kepemerintahan tersebut, banyak tertera stiker yang berbunyi “Putra Asli Daerah Untuk Melangkah Kedepan.”. Padahal, sambungnya lagi, lebih dari separuh penduduk Propnsi Riau adalah putra Minangkabau asli. Apakah fenomena ini tidak perlu kita cermati dengan seksama? ujarnya penuh santun. Dalam pemahaman Nasruni, pada awalnya Riau bagi masyarakat Minangkabau, memang merupakan daerah perantauan. sama dengan daerah Padang, Pariaman, Pesisir Selatan, Jambi, Palembang. Sewaktu saya mula ke Riau hal ini masih bisa dirasakan, sebab, sebagai satu daerah, Riau pada masa itu masih tergabung dalam Propinsi Sumatera Tengah, ujarnya. Masyarakat Minang, terutama yang berasal dari daerah terdekat seperti Payakumbuh dan Pangkalan, banyak mengarahkan pencarian ekonominya ke daerah Riau. Bahkan, untuk masyarakat daerah Pangkalan Koto Baru, Riau dijadikan sebagai salah satu tujuan untuk melemparkan hasil alamnya ke pasar yang lebih luas lagi, tuturnya mulai mengingat-ingat para perantau. Pada zaman dahulu, perdagangan ke Riau ini dilakukan dengan menggunakan transportasi sungai (Rakit di Pelayangan) dengan melewati Pasar Kuok yang merupakan tempat persinggahan para pedagang sebelum sampai ke Pekan Baru, ucapnya dengan lancar. Dengan ramainya pedagang yang singgah ke Pasar Kuok, sambung H. Nasruni Syafei, pasar tersebut diramaikan pula oleh warga sekeliling daerah itu, seperti Mahat, Batu Basurek, serta daerah Kampar dan sekitarnya. Lalu, para pedagang juga dibiasakan dengan pergiliran pasar ke Bangkinang dan Pangkalan, dengan mempergunakan kendaraan sungai melalui Aia Tirih. Di daerah-daerah tersebut, para pedagang ada yang sudah memulai berumah-tangga dengan penduduk setempat, dengan tujuan membangun keturunan dan perekonomian. Nah, akhirnya terjadilah asimilasi penduduk, ucapnya. Untuk menuju Kota Pekan Baru, sambung Nasruni, perjalanan harus melalui Taratak Buluah. Pejalanan ini yang dinamakan Perdagangan Lintas Batas, yang jaraknya kurang lebih 13 KM menuju Pekan Baru. Pada masa itu, lanjut pemilik P.O. Sinar Riau ini, transportasi darat masih mempergunakan pedati, yang rodanya terbuat dari karet dan kayu, mengangkut seluruh barang dagangan menuju Pasar Bawah, sebagai pasar sentral. Di situlah hasil Bumi Minang ditampung oleh pedagang-pedagang untuk selanjutnya di ekspor ke Singapura dan Malaysia.
Dengan adanya otonomi daerah saat ini, wajar saja pemda Kota Pekan Baru menghimbau agar masyarakat pendatang, dapat bersosialisasi dengan menyesuaikan budaya asal dengan budaya setempat, tambahnya. Untuk itu, H. Nasruni Syafei menyarankan, agar masyarakat Minang yang berada di daerah Riau, dapat pula menghormati himbauan terebut. Sebenarnya bagi orang Minang, tidaklah sulit untuk memenuhi himbauan tersebut. Karena sejak lama mereka selalu mengamalkan ajaran nenek moyang yang mengatakan, dima bumi dipijak, di situ langik dijunjuang. Lagi pula, untuk masalah adat dan budaya, Minang dan Melayu masih mempunyai kesamaan dalam hal, terutama Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, ujar Ketua Persatuan Keluarga Pangkalan ini. Dipenghujung percakapan, H. Nasruni Syafei mengemukakan, bahwa ada dua pilar utama yang harus kita jaga sebagai pendatang, yakni : Jangan melahirkan kecemburuan sosial dan secara bersama-sama membina adat dan budaya yang telah tertata baik ini. Mak Neh juga memahami bahwa dia bukanlah warga pendatang di Riau ini, bahkan dialah pemilik ulayat bersama masyarakat Melayu lainnya, tentu himbauannya untuk para dunsanak di kawasan propinsi Riau kian mantap. Misalnya dengan ajakan untuk membuka lagi ranji Melayu dan Alam Minangkabau. Otomatis tentu tak akan ada Melayu yang menganggap asing belahannya.”
Hal terpenting dalam wawancara H. Nasruni Syafei nan ambo dapek: Baliau sabagai ketua persatuan keluarga pangkalan wakatu tu mengakui kalau pangkalan tu adolah urang Minang! Jadi, sekarang saya mau tanya, anda rang Pangkalan jadi2 an y??
10 Juli 2011 at 4:51 pm
buruk sngk aja di otak mu sutan
Terserah ,,,,,,,, klau kau g prcy,tp CD nya dah beredar,,,,,,
Salah tu DA,,,, pekan baru bkn teratak buluh nmnyo dl tp payung sekaki,,,, apo cagho du samo bongak samo yg nyo sobuik di atas td nmpk ee,,
Hah,,,,, bakaba nyo,,, legenda tu ma da,,, blm tau bnr,,
Satu lg bhsnyo jelek,hrpnyo bnyk yg kurang, susah di pahami,,,cubo buat bhs kampar,,biar kami ngerti.
Tu bukti pngakuan masyarakat,,,tanyo ajo kek ughang tu,,,
sutan,,, di air tiris ada nm dusun pngkalan,,,mrk dr pngklan semua,,,,istilah du kato ughang,,,ughang pngkln pulang kmpg,,krn orang pngkln dulu dari air tiris,,,
buruk sngk aja di otak mu sutan
Terserah ,,,,,,,, klau kau g prcy,tp CD nya dah beredar,,,,,,
Salah tu DA,,,, pekan baru bkn teratak buluh nmnyo dl tp payung sekaki,,,, apo cagho du samo bongak samo yg nyo sobuik di atas td nmpk ee,,
Hah,,,,, bakaba nyo,,, legenda tu ma da,,, blm tau bnr,,
Satu lg bhsnyo jelek,hrpnyo bnyk yg kurang, susah di pahami,,,cubo buat bhs kampar,,biar kami ngerti.
Tu bukti pngakuan masyarakat,,,tanyo ajo kek ughang tu,,,
sutan,,, di air tiris ada nm dusun pngkalan,,,mrk dr pngklan semua,,,,istilah du kato ughang,,,ughang pngkln pulang kmpg,,krn orang pngkln dulu dari air tiris,,,
10 Juli 2011 at 5:51 pm
Lsyams@: Saya terima vonis bongak anda terhadap saya..No problem, cukup diri saya saja yang tau dengan kapability saya..
10 Juli 2011 at 4:53 pm
mf yo,,, tulisannyo 2x tu krn pakai hp,,, jrngn kdg kurang bagus
10 Juli 2011 at 5:55 pm
Lsyams@: Hahaha..saya nanya ke uyang bagan kok ente yg ngejawab..padahal di komentar saya ga da nyebut inisial anda: L syams..
Tanya kenapa??
10 Juli 2011 at 5:00 pm
tasora sutan manilai ,,,,
Sompik pikiran tuan ma,,
10 Juli 2011 at 6:00 pm
Ombak pangkalan@: Sorry bujang pangkalan,,iko nan mangecek ketua perkumpulan keluarga pangkalan di pekanbaru, bukan saya…Dimana letak hormat anda terhadap ketua anda??!
“Oto banamo o sinar riau baliak manambang cu deyen nan dari pakan,
O baranti tantang cu deyen danau bingkuang..”
10 Juli 2011 at 5:04 pm
sutan pamenan ?
Sutan baremot ?
10 Juli 2011 at 5:05 pm
sutan pamenan ?
Sutan baremot ?
A lai ?
10 Juli 2011 at 6:30 pm
Buat orang Ocu Kampar, semoga bermanfaat..
Tulisan lain dari Tabloid Ummat Surau Edisi 03/ Februari 2002:
“Luak Limopuluah, Hulu Rokan dan Kampar; Satu…!
Batas wilayah bukan merupakan batas adat dan suku, sebab pada dasarnya, adat dan suku tidak dapat dipisahkan hanya karena batas wilayah yang ditetapkan oleh ketentuan peratuaran sebuah negara. Seperti yang terjadi antara Kabupaten Limapuluh Kota, Rokan Hulu dan Kabupaten Kampar. Karena daerah tersebut merupakan satu kesatuan adat yang satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan. Hal itu dikemukakan Bupati Lima Puluh Kota dr. alis Marajo Dt. Sori Marajo dalam sambutannya pada acara Silaturrhmi Pasukuan Piliang Sarumpun di Balai Adat Nagari Pulau Gadang Kabupaten Kampar (Riau) Minggu (13/1/2002). Tatacara silaturrahmi ini tidak dapat dipisahkan dari kehidupan kita, karena dengan silaturrahmi akan terjadi jembatan hati sesama kita, dan hal tersebut telah dibuktikan dengan pertemuan hari ini. Semua pimpinan Ninik Mamak, Cerdik Pandai, Alim Ulama suku Piliang yang berasal dari Rokan Hulu, Pulau Gadang Kampar dan dari Pangkalan Kabupaten Lima Puluh Kota sudah berkumpul untuk menjalin kembali hubungan yang sudah lama terputus oleh sisitim pemerintahan selama ini. Hal ini juga pernah dilakukan Rajo-Rajo Luak Limopuluah di Aie Tabiek Kota Payakumbuh, lanjut Alis Marajo. Sementara itu, Prof. DR. H. Suwardi, MS Ketua LAM (Lembaga Adat Melayu) mengemukakan, bahwa tujuan kegiatan Silaturrahmi ini, untuk mengajak masyarakat, terutama generasi muda Kampar untuk memahami kembali adat Minangkabau (Melayu). Dengan mempelajari sejarah adat, akan diketahui kembali bahwa semua kita adalah badunsanak dan tidak bisa dipecah belah dan diadu domba oleh orang lain. Pada kesempatan yang sama, H. Kamardi Rais Dt. P. Simulie Ketua LKAAM (lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau), dalam sambutannya mengatakan, jika kita mengetahui sejarah tentang proses terbentuknya nagari-nagari di Riau, maka daerah yang dinamakan Andiko 44 di XIII Koto Kampar, dan V Koto Kampar seperti, Kuok, Bangkinang, Salo, Aie Tirih dan Rumbio merupakan balahan urang Luak Limopuluah. Sedangkan Taratak Buluah atau Pakanbaru dikenal sebagai ujung darek kapalo rantau dari Alam Minangkabau yang disebut juga Melayu Asal. Maka tidak selamanya satu budaya harus mengikuti administrasi pemerintahan atau dikungkung oleh batasan-batasan kekuasaan wilayah pemerintahan. Ini yang disebut Adat sapanjang jalan, cupak sapanjang batuang.
Dimuat pada Tabloid Ummat Surau Edisi 03/Pebruari 2002″
Hal yang paling penting disampaikan oleh Prof. DR. H. Suwardi, MS Ketua LAM (Lembaga Adat Melayu) Riau: “Tujuan kegiatan Silaturrahmi ini, untuk mengajak masyarakat, terutama generasi muda Kampar untuk memahami kembali adat Minangkabau (Melayu). Dengan mempelajari sejarah adat, akan diketahui kembali bahwa semua kita adalah badunsanak dan tidak bisa dipecah belah dan diadu domba oleh orang lain.”
Semoga iko jadi pembelajaran untuak kito sadonyo, karano kito adolah badunsanak!
10 Juli 2011 at 6:58 pm
krn anda tulias l syam,uyang bagan adalah dr sumber yg sama,,,
Cb anda check lg
10 Juli 2011 at 7:08 pm
Lsyams@: i c…
Saya mau tanya, apakah di kabupaten kampar (atau Prov. Riau umumnya) ditemukan peninggalan2 dari kebudayaan dongson (peralihan kebudayaan megalitikum dan hindu/budha) atau kebudayaan megalitikum?
10 Juli 2011 at 7:17 pm
sia lo yg maniru tulisan ambo,,, konciang ang hantu minang99,,
Mf,,,,,,,
Sutan….pndapek msrkt tu beda2,, tp nyato seniman pangkalan dn sakitanyo,mbuek lagu bhs ocu,,klau ang dak picayo,boli cdnyo.
Dek apo dak di agio jdl albumnyo dandang komedi minang ?
allahu a’lam,,,
10 Juli 2011 at 7:32 pm
klau soal tu di pulau godang tu km dah tau,,,,
Slrh masyarakat kampar percaya suku chaniago dn suku piliang berasal dari minang kabau,ttp krn dah bercampur dgn masyarakat tempatan,mrk tlah jd orang kampar.dan mereka tdk menafikan itu.wjr mrk menelusuri asal usulnya.bnr apa kata H.suardi,,mereka dlnya org minang tp krn terjadi kwn cmpuran dgn orang kampar asli jdlah mrk satu kesatuan dlm msyrkt kampar.
Prl anda ketahwi,chaniago,piliang tdk bnyk di kampar,,,
Klau anda blm tau yg sbnrnya jgn kupas dulu kulitnya,,,
Itulah sbtlnya kampar dari minang yg kalian klaim selama ini.
Satu bukti lg,,,klau orang sumbar mau cari suku di kampar,mereka ttp ambil suku chaniago atau piliang,,,wlau di daerah asal suku mereka bkn itu,
Key sutan,,,, faham,,,,klau tak faham mangarati sen la,,
10 Juli 2011 at 7:51 pm
Awang@: Maaf saya tidak mempercayai ciloteh anda..
10 Juli 2011 at 8:37 pm
saya tidak celoteh,demi ALLAH itulah sbnrnya !krn saya sendiri asli anak jati kampar
Mf tuan,anda hrs trm,,,,,
Anak keturunan mereka,rt2 cntk2,suka bekebun,berdagang tp ,mgkn drh ktrnn kali ye,,,,,,hahahaha
Knp melibatkn LAM dlm acara itu ? jwbnnya krn dah terjd cmpr silang,mereka tdk lg minang ttp dah jd orang kampar,dan mnjd org melayu riau
10 Juli 2011 at 9:32 pm
Satu lagi,, andiko 44 tigo kabung air(sungai kampar,tapung,rokan) adalah adat yg di pakai di kampar,pucuknya di muara takus,, datuk dua belas balai.
42 datuk tersbr di kampar dan rokan
2 datuk disumbar( pngkalan,muara peti dn sekitarnya)dua datuk ni dl dr kampar,,,makanya ado suku domo di st.
Datuk dua belas balai ,pucuk andiko 44 adalah orang domo,,,belia mengaku di muara takuslah gelar datuk raja diraja berasal,
10 Juli 2011 at 11:27 pm
Awang@: Satau ambo 4 datuak nan di SUMBAR kiniko: 1) Dt. Rajo Balai (2 balai atau 12 balai?) di Muaro Takus sebagai Pucuk Andiko 44, 2) Dt. Sati di Gunuang Malelo sebagai Timbalan Pucuk Andiko, 3) Dt. Bandaro di Tanjuang sebagai Timbalan Pucuk Andiko dan 4) Rajo Mahimpun di Muaro Takus sebagai manti pucuk andiko. Ka ampeknyo di kecamatan Kapur IX, Kab. Limo Puluah Koto.
11 Juli 2011 at 4:11 am
hahahahahaha,,,,,, mmg bodoh kau ni,,, desa muara takus,desa gunung malelo,desa tanjung bukan masuk kec.kapur sembilan,sumbar,,,hahahahaha,,,, ketiga desa itu berada di kec.13 koto kampar,kab.kampar-Riau yg skrg bernama kec.koto kampar hulu,kampar-Riau.
kec. Baru hasil pemekaran kec.13 koto kampar,,,wkwkwkwkwkwkw.
Yg kau bilang tu mmg empat datuk di kec.13 koto kampar, betul,
dr mn kau dpt data tu kapur 9,dr goole ? Tu iyo du ye,,,, dah nmpk anda menilai daghi luar !
mmg dak bonou juo ang ko ge de,nnt golak ughang RIAU dan SUMBAR kek ang,,,, hahahahahahaha anjung bukan masuk kec.kapur sembilan,sumbar,,,hahahahaha,,,, ketiga desa itu berada di kec.13 koto kampar,kab.kampar-Riau yg skrg bernama kec.koto kampar hulu,kampar-Riau.
kec. Baru hasil pemekaran kec.13 koto kampar,,,wkwkwkwkwkwkw.
Yg kau bilang tu mmg empat datuk di kec.13 koto kampar, betul,
dr mn kau dpt data tu kapur 9,dr goole ? Tu iyo du ye,,,, dah nmpk anda menilai daghi luar !
mmg dak bonou juo ang ko ge de,nnt golak ughang RIAU dan SUMBAR kek ang,,,, hahahahahahaha
11 Juli 2011 at 4:22 am
cari malu urang sumbar jo waang ko mah sutan ! Kampuang wak jo indak waang tantu kampuang urang nan di waang urus
Kampar tu tuan.indak kapua 9 do..
11 Juli 2011 at 4:38 am
bnyk nengok di google sutan du !
Jgn bnyk pecayo ke internet cu, dunio mayo du,,
11 Juli 2011 at 4:42 am
Sutan@mcm dak b,doso ang nyobuik kapu 9 yee !
Bongakbonou tie budak minang yg soghang ko ge,,,,
11 Juli 2011 at 8:23 am
Lsyams@: lapeh galak Lsyams nampak nyo ma..hahahaha….
11 Juli 2011 at 8:20 am
Hehehe..Mokasi ateh kritikannyo..No problem..Namonyo manusia ado khilafnyo..
12 Juli 2011 at 10:17 pm
sonyap ajo awak tengok !
Mane ongah L syams ko agak nye,Apo kesah ngah, sebuk ??
13 Juli 2011 at 3:02 am
he,he,he ,,,,,,,, sebuk kojo cu !
Alhmdllh, kabar elok2 ajo.
Oh yo, puaso nak dokek pulo le,,, mano acara balimau di aghi potang mogang sok ?
13 Juli 2011 at 3:10 am
he,he,he ,,,,,,,, sebuk kojo cu !
Alhmdllh, elok2 ajo.
Oh yo, puaso nak dokek pulo le,,, mano acara balimau di aghi potang mogang sok ?
13 Juli 2011 at 1:24 pm
Bia ndak sonyap sajo, mola deyen nak tanyo liek: di Kampar (Riau umumnyo), ado ndak peninggalan kebudayaan dongson/kebudayaan megalitikum akhir? Kok ado curito, bobagi la kaniak..
17 Juli 2011 at 12:26 pm
ridho…
tu ujuong2 mangota-ngota gok du cu!! mancora lah wak mo!!
cu mano tinggal kini?? kapan ai bulio main ka sitannye…. wkwkwk
15 Juli 2011 at 8:42 pm
mandi balimau bisuok kapngkalan cek nyo!!
lw ndak ka araw!!
wkwkwk
lagi pula di sana ad sanak sodaro den jo ponakan!!
jadi bisa bermalam dsana!!
hehehe
tpi ehp mereka bukan org minang tau!! dsana ad jugalo org ocu n ombak!! psti bru tw skrg klien?? y kan?mandi balimau bisuok kapngkalan cek nyo!!
lw ndak ka araw!!
wkwkwk
lagi pula di sana ad sanak sodaro den jo ponakan!!
jadi bisa bermalam dsana!!
hehehe
tpi ehp mereka bukan org minang tau!! dsana ad jugalo org ocu n ombak!! psti bru tw skrg klien?? y kan?
16 Juli 2011 at 12:51 am
l syam@ontalah ngah,,,dak ado nmpk gambaran baghu do,,
balimau du adolah Tradisi sebagian ughang melayu yg hdp pnggr sungai di Riau.
Mohlah,kito budayokan !
Sutan@kami dak tontu pasti,,tp candi muara takus tu peninggalan apo ?
Oh yo kaniak tu apo arti du ?
Rudien@mano tinggal cu ? yg hdp pnggr sungai di Riau.
Mohlah,kito budayokan !
Sutan@kami dak tontu pasti,,tp candi muara takus tu peninggalan apo ?
Oh yo kaniak tu apo arti du ?
Rudien@mano tinggal cu ?
17 Juli 2011 at 10:52 am
awang maulana azzam
danau bingkuang deghen tinggal ndan!!
ndan kamano rncana balimau??
17 Juli 2011 at 1:34 pm
oooooowww…
minangko ndak mengakui dighinyo melayu san do!! oooo’ooo
ntuong den lhir dikmpar… alhamdulillah… deghen la diangkek jadi ughang kampar dn lh diakui suku den piliang sojak lahir!! den memang ughang minang… tpi den kini lobio mengakui den ughang melayu kampar le…
iyotio…..
17 Juli 2011 at 2:12 pm
sojak bilo ang mengakui melayu le…. sojak dulu apo sojak kini??
kci sojak dulu alhamdulilla… kci sojak kini sebuah pengajarn ntuok ang…kci ado ksempatan cubo pikiukan dek wang!!
18 Juli 2011 at 8:13 am
Kaslian Putra@: Baco komen den di fb
http://www.facebook.com/topic.php?topic=53644&post=320210&uid=134661018991#!/topic.php?uid=134661018991&topic=53644&post=320185#post320185
17 Juli 2011 at 3:41 pm
keturunan Melayu diraja seperti yang diceritakan oleh Tun Sri Lanang
Suku Malayu adalah salah satu suku utama Minangkabau yang berasal dari kerajaan Malayu Tua. Kerajaan Malayu Tua sudah ada pada abad ke 7 (tahun 600-an). Kerajaan Malayu didirikan oleh Sri Jayanagara yang turun dari gunung Marapi ke Minanga Tamwan sekitar tahun 603. Sedangkan Kerajaan Malayu Muda sering pula disebut dengan nama Kerajaan Dharmasraya. Dharmasraya didirikan oleh Sri Tribuana Raja Mauliwarmadewa yang masih seketurunan dengan Sri Jayanagara.
Berita tentang Kerajaan Malayu antara lain diketahui dari kronik Cina berjudul T’ang-hui-yao karya Wang P’u. Disebutkan bahwa ada sebuah kerajaan bernama Mo-lo-yeu yang mengirim duta besar ke Cina pada tahun 644 atau 645. Pengiriman duta ini hanya berjalan sekali dan sesudah itu tidak terdengar lagi kabarnya.
Pendeta I Tsing dalam perjalanannya pada tahun 671–685 menuju India juga sempat singgah di pelabuhan Mo-lo-yeu. Saat ia berangkat, Mo-lo-yeu masih berupa negeri merdeka, sedangkan ketika kembali ke Cina, Mo-lo-yeu telah menjadi jajahan Shih-li-fo-shih (ejaan Cina untuk Sriwijaya).
Prof. Slamet Muljana berpendapat lain. Istilah Malayu berasal dari kata Malaya yang dalam bahasa Sansekerta bermakna “bukit”. Nama sebuah kerajaan biasanya merujuk pada nama ibu kotanya. Oleh karena itu, ia tidak setuju apabila istana Malayu terletak di Kota Jambi, karena daerah itu merupakan dataran rendah. Menurutnya, pelabuhan Malayu memang terletak di Kota Jambi, tetapi istananya terletak di pedalaman yang tanahnya agak tinggi.
Prasasti Tanyore menyebutkan bahwa ibu kota Kerajaan Malayu dilindungi oleh benteng-benteng, dan terletak di atas bukit. Slamet Muljana menyatakan bahwa istana Malayu terletak di Minanga Tamwan sebagaimana yang tertulis dalam prasasti Kedukan Bukit. Menurutnya, Minanga Tamwan adalah nama kuno dari Muara Tebo (atau Kabupaten Tebo di Provinsi Jambi).
Menurut tambo Minangkabau, Minanga Tamwan berada di bukit barisan tepatnya di hulu sungai Kampar, atau di sebelah timur Kabupaten Lima Puluh Kota sekarang. Minanga Tamwan atau Minanga Kabwa merupakan asal usul dari nama Minangkabau.
Suku Malayu, berasal dari penduduk asli Sumatera yang pernah hidup di kerajaan-kerajaan Malayu Tua seperti Kandis dan Koto Alang, di kemudian hari penduduk dari Dharmasraya dan bangsa proto Melayu yang tinggal di antara Sungai Musi dan Sungai Batanghari juga disukukan sebagai Malayu dalam adat Minang. Suku ini sangat memuliakan Bukit Siguntang Mahameru. Lihat kembali Tambo Alam Surambi Sungai Pagu yang penduduk awalnya bersuku Malayu
nah karena buln suci ramadhan akan tiba!!
marilah kita sling memaafkan untuk menymbut buln suci ramadhan…
terutama bagi sutan ridho..
18 Juli 2011 at 8:03 am
Rudiens@: Iyo la,,namonyo berdebat masak sampai ndak memaafkan lo sanak..Artikel nan di ateh go, salah satu versi..Ciek nan paralu kito ingek..Sejarah ko bisa berkembang/berubah sesuai dengan penemuan fakta2 baru, jadi ndak selalu absolut do..Di ateh fakta ko la kito berdebat..
18 Juli 2011 at 7:27 pm
iko den agio pojoleh , mangapo lo ughang kampar ndak nio mengakui kalo kampar tu ughang melayu minang . Siapo nan kecek minang dak mengakui melayu , indak kami bilang pun urang lain tau lw minang tu malayu , dan ingat yo budaya melayu minang tu akar dri budayo sumatera tengah .
Suku Malayu sebagai Suku
Asal Suku Minangkabau
Dikutip dari Buku Sejarah
Kebudayaan Minangkabau bahwa
suku-suku yang ada dalam
kelompok suku Minangkabau
merupakan pemekaran dari suku
Malayu. Berikut uraiannya: Suku Melayu terpecah menjadi 4
kelompok dan setiap kelompok
mengalami pemekaran menjadi
beberapa pecahan suku sebagai
berikut: 1. Melayu nan IV Paruik (Kaum Kerajaan) : 1. Suku Malayu 2. Suku Kampai 3. Suku Bendang (Suku Salayan) 4. Suku Lubuk Batang 2. Melayu nan V Kampung (Kaum
Datuk Nan Sakelap Dunia, Lareh
Nan Panjang) 1. Suku Kutianyie 2. Suku Pitopang 3. Suku Banuhampu (Suku Bariang) 4. Suku Jambak 5. Suku Salo 3. Melayu nan VI Ninik (Kaum Datuk Perpatih Nan Sebatang, Lareh Bodi Caniago) 1. Suku Bodi 2. Suku Singkuang (Suku
Sumpadang) 3. Suku Sungai Napa (Sinapa) 4. Suku Mandailiang 5. Suku Caniago 1. Suku Mandaliko 2. Suku Balaimansiang (Suku
Mansiang) 3. Suku Panyalai 4. Suku Sumagek 6. Suku Sipanjang (Supanjang) 4. Melayu Nan IX Induak (Kaum Datuk Ketumanggungan, Lareh Koto Piliang) 1. Suku Koto (Andomo Koto) 2. Suku Piliang 3. Suku Guci (suku Dalimo) 4. Suku Payobada (suku Dalimo) 5. Suku Tanjung 6. Suku Simabur 7. Suku Sikumbang 8. Suku Sipisang (Pisang) 9. Suku Pagacancang
18 Juli 2011 at 7:38 pm
ughang minang yg membentuk budayo d sumatera tengah tu , yo iyo lah , raja2 d sumatera tengah tu ajo berasal dari kerajaan pagaruyuong . Karna memang orang kampar adalah minang makanya di utus raja dari pagarayuong yaitu putra mahkota pagaruyung. Liat saja di siak , siak mendapat pengaruh budayo melayu minangkabau , yg mana sebagian mereka ada yg matrilinial dan baso siak campuran dari melayu kepulauan(pesisir) dgn melayu minang .
20 Juli 2011 at 10:39 am
Semakin lama saya lihat komentar2 yg ada di blog ini semakin tidak bermutu, terutama komentar dari saudara2 kita di Kampar. Saya sungguh heran, apakah anda mengira orang Minangkabau yang ada di Sumatera Barat berusaha mati-matian untuk mengatakan bahwa orang Kampar itu adalah orang Minang? Anda salah besar jika anda mengira begitu. Sebagian besar generasi muda di Minangkabau justru tidak tahu dan tidak mau tahu mengenai masalah ini. Bagi sebagian besar orang Minang, daerah Kampar hanya dipandang sebelah mata, dianggap sebagai daerah yg baru maju dan baru keluar dari zaman primitif. Jadi, tentu saja orang minang, terutama generasi muda, tidak mengira bahwa bahasa yg digunakan di kampar “mirip” dg bahasa Minangkabau. Saya katakan mirip bukan sama, karena lebih baik dibilang begitu. Justru banyak orang Minang yg heran ketika tahu bahwa di kampar pun masyarakatnya matrilineal, karena banyak orang Minang yg mengira bahwa merekalah satu2nya etnis di Indonesia yg matrilineal.
Jadi anda tidak perlu ngotot mati2an untuk menolak disebut sbg orang Minang, karena orang Minang sendiri juga tidak menganggap anda sbg orang Minang. Budaya Minangkabau jauh lebih tinggi daripada budaya kampar, seluruh dunia sudah tahu itu.
20 Juli 2011 at 6:33 pm
ambo sabagai generasi mudo pon sabananyo takajuik pertama melihat ughang ocu ( minang) ko katiko berbicara smo ambo # kawan ambo ado yg dari kampar atau kuantan . Ambo kiro inyo urang payokumbuah (minang) , katonyo ( ndak du deyen uwang kampau uwang ocu siten ) binguang ambo , tu ambo tanyo ka inyo urang minang dma sanak # jaweknyo : deyen ndak uwang minang do cu , deyen uwang ocu moh , d kampar . # ambo pun semakin heran , tu ambo tanyo ka inyo : apo suku sanak # jaweknyo : suku deyen chaniago cu .
Bayangkan mana mungkin etnis kita berbda jika saya orang payakumbuh minang bisa saling memahami dalam berbicara dgn teman saya orang kampar (lipat kain) . Itu saja sudah bisa kita tarik benang lurusnya bahwa kampar ataupun kuantan adalah minang . Orang kuantan saja mau mengakui jika mereka orang minang kenapa kampar tidak ?
Yaa , itu terserah kalian . Kami sebagai generasi muda minang tdk mau menau tentang kalian, kami pun jg tak memaksa .saya hanya menjelaskan hal2 yg perlu kalian ingat .
# ini sebenarnya kelalaian orang tua/ nenek moyang minang kampar yg tdk menjelaskan tentang adat,budaya,etnisnya pada anakcucunya
21 Juli 2011 at 7:45 am
Kalau dari pengamatan yang saya lakukan, orang Ocu berbeda dengan orang Minang katanya karena orang Minang itu Cadiak Buruok sedangkan orang Ocu tidak. Dan ada versi lain bahwa Orang Ocu asli bersuku Domo yang tidak bagian dari suku2 yang ada di Minangkabau.
Kalau mengenai cadiak buruok, itu tidak absolut untuk semua orang Minang saja, karena semua suku2 yang ada di Indonesia pun punya pribadi2 yang bersifat yang disangkakan. Atau apakah orang Ocu itu orang yang suci sehingga tidak ada yang cadiak buruok??Nobody is perfect, cu!
21 Juli 2011 at 4:18 pm
Assalamualaikum wr wb. Untuk saudara2 yang aktif meneliti fenomena serta pandangan masyarakat Melayu Riau terhadap etnis Minang, perlu juga dibaca buku Gusti Asnan : “Memikir ulang regionalisme: Sumatera Barat tahun 1950-an”. Dalam buku itu disebutkan bahwa inti dari perpecahan propinsi Sumatra Tengah (Sum-Teng) dikarenakan dominasi kepemimpinan orang-orang Minang di dalam pemerintahan. Sehingga masyarakat Melayu Riau merasa termarginalkan, dan mendorong mereka untuk membentuk propinsi sendiri. Begitupula halnya dengan rakyat Jambi yang memisahkan diri dari Sum-Teng, dikarenakan mereka merasa “di bawah ketiak” orang2 Minang. Namun jikalau kita melihat fenomena 1950-an, orang2 Minang tidak hanya mendominasi Sumatra Tengah saja, namun juga bagian lain wilayah Indonesia. Beberapa orang Minang yang menjadi gubernur di luar wilayah budaya Minangkabau : A.K Gani memimpin Sumatra Selatan, Daan Jahja gubernur militer Jakarta, Anwar Dt Madjo Basa nan Kuniang gubernur Sulawesi Tengah, Eny Karim gubernur Sumatra Utara, Djamin Dt Bagindo gubernur Jambi, Datuk Djamin gubernur Jawa Barat, dan “tak terhitung” banyaknya cerdik pandai Minang yang menjadi pemimpin2 daerah tingkat dua di seluruh Indonesia. Bahkan di tingkat nasional, kepemimpinan orang Minang pada masa itu sangatlah berpengaruh. Soekarno, Hatta dan Sjahrir, tiga orang pemimpin bangsa, dimana dua dari ketiganya adalah orang2 Minang.
Namun secara de facto, sebenarnya tidak ada pemarjinalan atas orang2 Riau dan Jambi dalam Prop. Sumatra Tengah. Yang tepat adalah miskinnya kita pada masa itu — mungkin karena baru merdeka — sehingga pembangunan hanya berpusat di Bukittinggi saja, yang kala itu menjadi ibu kota propinsi (bahkan sebelumnya sempat menjadi ibukota negara).
Kemudian mengenai fenomena Minangkabau yang bisa mendominasi daerah Riau, serta belahan-belahan lain negeri ini. Dalam buku Elizabeth Graves : “Asal-usul elite Minangkabau modern: respons terhadap kolonial Belanda abad XIX dan XX”, dikatakan bahwa dominasi Minangkabau di seluruh Indonesia (bahkan seluruh Nusantara), dikarenakan sistem pendidikan mereka yang maju. Pemerintah kolonial Belanda harus menempatkan orang-orang Minang, sebagai guru, ulama, hakim, dan elit-elit pemerintahan di seluruh Indonesia, karena mereka merupakan pihak yang paling siap untuk menempati pos-pos tersebut.
Mengenai keberadaan orang2 Minang di Riau (termasuk yang ada di Kampar), silahkan baca Christine Dobbin : “Economic Change in Minangkabau as a Factor in the Rise of the Paderi Movement, 1784-1830.” Dalam buku itu diceritakan mengenai arus perantauan pedagang-pedagang Minang yang membangun kota-kota dan bandar perdagangan di kedua belah pesisir Sumatra hingga ke seberang Selat Malaka. Pedagang2 ini membangun kampung2nya di sepanjang Sungai Rokan, Siak, Kampar, Indragiri/Kuantan, dan Batanghari; membentuk bandar-bandar dagang di Batubara, Pelalawan, Pekanbaru, Siak Sri Indrapura, dan Jambi (Pesisir Timur); Meulaboh, Barus, Sorkam, Natal, sampai Bengkulu (Pesisir Barat), hingga menyebrang selat, meneruka Pulau Pinang dan Negeri Sembilan di Malaysia. Sehingga apabila saudara berjalan di kampung2 sepanjang sungai2 itu, atau singgah di bandar2 dagang itu, maka akan banyak sekali ditemukan kemiripan2 bahasa, adat, serta budaya, yang menurut penelitian Dobbin berasal dari Luhak Nan Tigo, jantungnya budaya Minangkabau.
Kemudian yang paling menarik adalah perkataan Thomas Stamford Raffles, yang berpendapat bahwa Minangkabau merupakan saripati-nya budaya Melayu, atau inti dari kebudayan dan peradaban Melayu. Pernyataan Raffles ini bisa ditengok dalam bukunya “History of Java”. Dia menyatakan bahwa Minangkabau adalah sumber kekuatan dan asal bangsa Melayu, yang kemudian penduduknya tersebar luas di Kepulauan Timur. Kesimpulan dari pernyataan Raffles itu bahwa kebudayaan Melayu lahir dari Luhak Nan Tigo, turun ke Batanghari menjadi Malayu, takluk dan menjadi Sriwijaya, terpecah menjadi Dharmasraya dan Malaka, Dharmasraya berubah menjadi Pagaruyung yang bercabang-cabang di Sumatra, sedangkan Malaka berubah menjadi Johor dan bercabang-cabang di Semenanjung Melayu.
Afandri Adya
21 Juli 2011 at 4:57 pm
Assalamualaikum Da/Pak (?) Afandri,
1. Terima kasih atas sharing informasi yang berguna bagi kita semua.
2. Dari kutipan anda terhadap buku Pak Gusti Asnan: “Memikir ulang regionalisme Sumatera Barat tahun 1950 an”, menurut saya pribadi inilah alasan mengapa orang Ocu Kampar tidak mau mengakui bahwa mereka itu sama seperti saudaranya di SUMBAR. Karena terjadi “ketidak-adilan” dalam pemerintahan dimana banyak orang Minang dari SUMBAR yang duduk di kursi pemerintahan pada masa itu. Jadi bukan karena unsur etnik yang berbeda.
3. Tapi perlu juga kita ketahui alasan mengapa banyak orang Minang SUMBAR yang duduk di kursi pemerintahan Sumatera Tengah pada waktu itu. Dan menurut saya, Da/Pak Afandri pun telah menjelaskan alasannya: “Dalam buku Elizabeth Graves : “Asal-usul elite Minangkabau modern: respons terhadap kolonial Belanda abad XIX dan XX”, dikatakan bahwa dominasi Minangkabau di seluruh Indonesia (bahkan seluruh Nusantara), dikarenakan sistem pendidikan mereka yang maju. Pemerintah kolonial Belanda harus menempatkan orang-orang Minang, sebagai guru, ulama, hakim, dan elit-elit pemerintahan di seluruh Indonesia, karena mereka merupakan pihak yang paling siap untuk menempati pos-pos tersebut.”"
4. Di Paragraf terakhir bisa saya artikan: Etnik Minang ada jauh sebelum Pagaruyuong muncul..Mungkin ada hubungannya dengan penemuan menhir2 peninggalam zaman megalitikum akhir – dongson yang berada di limopuluah koto, tanah data, agam, dan rao..
Wassalam,
Ridho Caniago Sutan Palimo Bandaro
21 Juli 2011 at 8:47 pm
TERIMAKASIH PAK AFANDRI ATAS ILMU YANG ANDA BERIKAN ,ILMU YANG BAPAK BERKAN SANGAT BERMANFAATN UNTUK KAMI SEMUA, INI PELAJARAN UNTUK KITA SEMUA TERUTAMA URANG MINANG KAMPAR ATAU KUANTAN SUPAYA KALIAN TIDAK ASAL BERBICARA SAJA . MENURUT SAYA KOMENTAR BAPAK AFADRI MAUPUN BAPAK WITRIANTO INI SANGAT KUAT DAN BENAR
22 Juli 2011 at 8:13 am
Tambah ciek lai sanak, Pak Cuden agio ulasan yang rancak juo di blog ko..
21 Juli 2011 at 9:01 pm
ini saya kutip dari Wikipedia ->
MINANG DAERAH KUANTAN
Kabupaten Kuantan Singingi atau sekarang lebih dikenal dengan singkatan Kuansing, adalah salah satu kabupaten di Provinsi Riau, Indonesia. Kabupaten Kuansing disebut pula rantau Kuantan atau sebagai daerah perantauan orang-orang dari Minangkabau. Dalam kehidupan sehari-hari, adat istiadat serta bahasa Minangkabau digunakan oleh masyarakat Kuansing. Ibukota kabupaten ini adalah Taluk Kuantan. Kabupaten Kuantan Singingi berada dibagian selatan Propinsi Riau dan terletak pada jalur tengah lintas Sumatera. Kabupaten Kuantan Singingi merupakan pemekaran dari Kabupaten Indragiri Hulu yang dibentuk berdasarkan UU No. 53 tahun 1999, tentang Pembentukan Kabupaten Pelalawan, Rokan Hulu, Rokan Hilir, Siak, Natuna, Karimun, Kuantan Singingi dan Kota Batam. Kabupaten Kuantan Singingi terdiri dari 12 (dua belas) kecamatan dengan luas wilayah 7,656,03 km².
Terdapat 2 (dua) sungai besar yang melintasi wilayah Kabupaten Kuantan Singingi yaitu Sungai Kuantan atau yang sekarang bernama Sungai Indragiri dan Sungai Singingi. Peranan sungai tersebut sangat penting terutama sebagai sarana transportasi, sumber air bersih, budi daya perikanan dan dapat dijadikan sumberdaya buatan untuk mengahasilkan suplai listrik tenaga air. Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Kuantan mengaliri 9 (sembilan) kecamatan yaitu Kecamatan Hulu Kuantan, Kecamatan Kuantan Mudik, Kecamatan Gunung Toar, Kecamatan Kuantan Tengah, Kecamatan Benai, Kecamatan Pangean, Kecamatan Kuantan Hilir, Kecamatan Inuman dan Kecamatan Cerenti.
MINANG DAERAH KAMPAR
Kampar sangat identik dengan sebutan Kampar Limo Koto dan dahulunya merupakan bagian dari Kerajaan Pagaruyung. Limo Koto terdiri dari XXXIII Koto Kampar, Kuok, Bangkinang, Air Tiris dan Rumbio. Terdapat banyak persukuan yang masih dilestarikan hingga kini. Konsep adat dan tradisi persukuannya sama dengan konsep adat dan persukuan Minangkabau di Sumatera Barat. Tidak heran bila adat istiadat hingga bahasa sehari-hari warga Limo Koto, merupakan Bahasa Minangkabau logat Limo Puluah Koto atau yang di Kampar dikenal dengan Bahasa Ocu. Bahasa ini berlainan aksen dengan Bahasa Minangkabau yang dipakai oleh masyarakat Agam, Solok, Pariaman dan Padang. Di samping itu, Kampar Limo Koto juga memiliki semacam alat musik tradisional, yaitu Calempong dan Oguong.
INI SEMUA ADALAH BENAR , KEBOHONGAN APA YANG MAU KALIAN UCAPKAN LAGI . KITA KAN PUNYA OTAK , KITA BISA MEMBEDAKAN MANA YANG SAMA DAN MANA YANG BEDA . KALIAN BISA GUNAKAN ITU , KAMPAR/KUANTAN ADALAH MALAYU MINANGKABAU
22 Juli 2011 at 11:29 am
Terima kasih Bung Ridho Caniago dan Bung Rajo Malau. Mari kita telaah lagi mengenai Minangkabau dan perantauannya.
Ada dua buah buku yang cukup menarik untuk kita baca dan pelajari. Yakni disertasi Mochtar Naim, “Merantau : pola migrasi suku Minangkabau” serta bukunya Tsuyoshi Kato : “Adat Minangkabau & Merantau”. Dalam buku Kato, diterangkan bahwa Orang Minangkabau ini menetap di sebelah timur Sumatra Barat, dari Tambusai di utara turun ke Rambah, Kepenuhan, Rokan IV Koto, XIII Koto Kampar, V Koto Bangkinang, Kampar Kiri, Kuantan, Indragiri, Muara Kibul, Pangkalan Jambu, Tiang Pumpung, Sungai Tenang, Serampas, Batang Asai, dan Limun. Bahkan pada abad ke-15, Kennedy dan Josselin de Jong memperkirakan orang-orang Minang telah masuk dan membanjiri Semenanjung Melayu. Perpindahan ini semakin ramai pada abad ke-17, terutama setelah terbentuknya Kerajaan Siak Sri Indrapura oleh Raja Kecil, sang pengelana Minang.
Untuk Bahasa Minangkabau dialek Kampar, Chatlinas Said telah menulis hasil penelitiannya dalam buku berjudul “Struktur bahasa Minangkabau di Kabupaten Kampar” diterbitkan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1986.
Fenomena perubahan identitas menjadi seorang Melayu, ternyata tidak hanya terjadi pada masyarakat Minangkabau saja. Orang-orang Batak, terutama Mandailing, Angkola, dan Karo, juga (terpaksa) mengubah identitas mereka akibat proses Melayunisasi yang cukup kencang di Sumatra Timur. Untuk hal ini lihat buku “Kolonialisme dan Etnisitas: Batak dan Melayu di Sumatra Timur Laut” karya Daniel Perret. Di awal abad ke-20, kasus Melayunisasi di Sumatra Timur cukuplah hangat. Segregasi dan diskriminasi yang dilakukan oleh raja-raja Melayu terhadap orang-orang Non-Melayu, pada batas-batas tertentu sangatlah merugikan orang-orang Melayu itu sendiri. Dengan terciptanya segregasi yang cukup tajam di Sumatra Timur, orang-orang Tionghoa, Minangkabau, Batak, dan Aceh-pun terpaksa menonjolkan identitas diri dan budaya mereka. Dengan adanya ego masing2 etnis, maka kita melihat Sumatra Timur yang majemuk dan terkotak-kotak. Pasca-kemerdekaan, yang berakibat dengan runtuhnya kerajaan2 Melayu, kaum pendatang jadi berbalik angin, mereka semakin kuat dan mendorong orang2 Melayu ke pinggiran. Dalam Sensus Penduduk 2000, tercatat bahwa hanya 6,6% etnis Melayu di Kota Medan. Dari data ini terlihat bahwa orang Melayu telah menjadi minoritas di kampung halamannya sendiri.
Dan kini Riau sedang mengikuti jejak kesalahan Sumatra Timur. Melakukan program Melayunisasi secara massif, mendiskriminasi orang2 Minangkabau, Batak, dan Tionghoa. Membatasi ruang gerak mereka di pemerintahan dan membonsai hak-hak politik mereka. Dengan berlakuknya proyek Melayunisasi di tanah Riau, maka orang2 pendatang-pun tak akan tinggal diam. Mereka akan bergerak, membentuk etnosentrisme yang cukup berbahaya, dan pada gilirannya akan melindas orang2 Melayu itu sendiri. Proyek Melayunisasi tidaklah akan berhasil, selama itu terdapat unsur2 pembodohan di tengah2 masyarakat, diskriminasi, serta anggaran pendidikan yang minim. Kini setelah lebih dari 50 tahun terpecahnya Sumatra Tengah, tak ada yang bisa dibanggakan oleh masyarakat Melayu Riau. Tanah-tanah ulayat banyak yang terjual, tingkat kelahiran di bawah rata2 nasional, serta taraf pendidikan yang sangat rendah. Fakta ini tercermin dari pernyataan Gubernur Riau Rusli Zainal pada tahun 2007 lalu, yang mengungkapkan bahwa sekitar 50% masyarakat Riau tidak tamat SD. Semoga ini menjadi keprihatinan kita bersama sebagai anak-anak bangsa. Untuk pembahasan ini, bisa pula untuk dikunyah-kunyah : http://afandri81.wordpress.com/2011/07/13/dilema-melayu-2/
24 Juli 2011 at 8:08 am
Saya punya seorang mahasiswa asal kampar (Kuok) yg bernama Mira Fitri Andriyani Angkatan 07 di Program Studi Ilmu sejarah Universitas Andalas (boleh dicek ke Unand, kalau anda menganggap ini fiktif), silahkan juga cek fb-nya dg nama Mira Andriyani.
Sdr Mira ini dengan bangga mengatakan bahwa dia secara etnis adalah orang minang bukan orang Melayu Riau. Menurutnya kesadarannya tersebut muncul setelah dia belajar Sejarah minangkabau, etnografi Minangkabau, dan teori ilmu sosial di bangku kuliah sehingga dia yakin seyakin2nya bahwa dia adalah orang Minangkabau dan dia merasa sangat bangga dg hal itu. menurutnya di kampung halamannya di Kuok, generasi tua masih beranggapan bahwa mereka adalah orang Minangkabau, hanya generasi muda, akibat pendidikan yg mereka terima di bangku sekolah dari SD sampai SMA yg selalu menjelek2kan orang Minang, shg mereka pun menjadi benci kepada orang Minang, tanpa mereka sadari bahwa mereka pun sebenarnya adalah orang Minang.
Ini adalah pengakuan jujur dari seorang generasi muda yg berasal dari Kampar, semoga bisa menjadi renungan bagi kita semua.
24 Juli 2011 at 2:51 pm
apokan nan den katokan lai!!????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????
ndak zaman sa’etu kini kole pak!!
kini kojonlah!! apo nan harus pak kojon!!!
24 Juli 2011 at 7:53 pm
Apa maksud anda?
saya sungguh tidak mengerti kenapa ada orang yg sepicik anda.
Asal anda tahu, semula teman2 sekelasnya beranggapan bahwa Mira ini adalah orang asing yg berasal dari Riau, yg notabemne oleh orang Minang pendidikannya dianggap masih kurang maju, tapi setelah dia menyatakan bahwa dia adalah orang miang dg bukti penggunaan bahasa minang yg sangat fasih, teman2nya pun skrg menganggap Mira adalah bagian dari mereka, tidak lagi dianggap sbg orang yg berasal dari daerah budaya lain.
24 Juli 2011 at 9:17 am
alah banyak bual kau ni wit,,,,ingat dosa ,
klau pun ado,Tu orang kampar murtad dari budayanya karna dah temakan cirik berandang yg terkenal itu.
Gigihnya kau pertahankn ego mu,perlu kau tau dr masa dl hngg sumbagteng sampai skrg,orang kampar tak merasa minang.
24 Juli 2011 at 8:17 pm
Atagfirullah al ‘azim.
Saya sungguh tidak mengerti dari apakah hati anda terbuat, sehingga sama sekali tidak pernah mau menerima kenyataan.
dari awal sudah saya katakan bahwa bagi saya dan juga bagi orang Minangkabau yg lainnya tidak ada untungnya mengklaim kampar sbg bagian dari Minangkabau.
terserah anda mau percaya atau tidak bahwa saya adalah seorang dosen di Universitas Andalas atau bukan (anda bisa menceknya kalau masih kurang yakin), Anda boleh percaya atau tidak bahwa saya pernah melakukan penelitian di daerah Kampar (untuk membuktikannya, silahkan anda buka FB saya dg nama Witrianto Chaniago, dalam koleksi foto, saya mencantumkan foto2 sewaktu saya melakukan penelitian di daerah Kampar mengenai identitas baru masyarakat perbatasan Sumbar Riau. Tahun ini penelitian saya tsb sudah memasuki tahun kedua. Insya Allah siap Lebaran nanti saya kembali akan berkunjung ke Kampar untuk melakukan penelitian. Desa2 yg pernah saya kunjungi sebagai lokasi penelitian adalah Tanjuang Alai, Ranah Sungkai, Pongkai, Tanjung, Pulau Gadang, Muara takus, dan sebagai perbandingan saya juga melakukan penelitian di dua desa yg berada di wilayah Sumatera barat, yaitu tanjung pauh dan Tanjung Balik, (silahkan cek foto2nya di FB saya jika anda menganggap saya membual)
Jika anda masih menganggap saya hanya membual, mohon maaf, saya menganggap anda tak lebih dari seorang bodoh yang idiot, yang sok tahu, padahal tidak tahu apa2. Saya sarankan supaya anda lebih banyak belajar membaca buku2 yg bersifat ilmiah, agar anda dapat membedakan mana yg benar dan mana yg salah.
Terakhir saya hanya bisa berucap semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa anda yang telah berburuk sangka selama ini.
24 Juli 2011 at 9:32 am
klau nak tau budaya kampar,datanglah ke kampar.
Di bangkinang skrg sdg berlangsung PEKAN BUDAYA KAMPAR.
tidak ada satu pun unsur dan simbol minang yg menonjol di situ tetapi simbol melayu sangat kentara dan kental.
minang mmg suku hebat tp ingat ALLAH sangat murka kpd kaum yg ria krn bangga dgn kaumnya,sombong,suka pamer.
Musibah sumbar ambl hikmah dan telaah,,,
25 Juli 2011 at 2:24 pm
Awang@: Terima kasih telah mengakui kami memang hebat.
Ria, sombong, suka pamer??Ah, itu sangkaan buruk ente saja..Emangnya orang Ocu suci ya? ga da yang pamer, sombong, ria, dll??
Ingat, pamer, sombong, dan ria itu lebih ke personal bukan ke komunitas.
Masalah musibah, ALLAH S.W.T Maha Mengetahui, ga usah ente kait2kan dengan komunitas Minang!Itu sotoy namanya!
24 Juli 2011 at 3:11 pm
awang maulana azzam ocu!!
minangkabau ye!!
kmi ughang minang jo nyo!!
“minangkampar” tapi kami identik dengan sebutan kampar!! tw naghoi kampar!!!
24 Juli 2011 at 3:25 pm
saya perhatikan dari atas sampai bawah!!
minangkabau juga memiliki pecahan suku2…
sama halnya dengan minangkamvar… beda dengan halnya melayu!!
wah ini jadi tugas saya sebagai putera kampar tmpaknya ni meneliti kampung sendiri!!
ap yg terkndung dri kata melayu itu….
dan saya sendiri pun juga mengakui saya melayu…
mungkin ada eratnya dengan hubungan melayu dan minang…
hmmmm apa yah????
BERSAMBUNG……..
25 Juli 2011 at 1:59 pm
Rudiens: Sanak Rudens, kiniko ado duo versi dari definisi Malayu itu sendiri:
1. Melayu yang identik dengan definisi orang Nusantara yang beragama Islam (ini versi negara malaysia).
2. Atau Malayu yang merupakan definisi kerajaan zaman dulu yang berada di Sumatera.
Penjelasan lainnyo bersambung….
24 Juli 2011 at 7:45 pm
cu rudien@den juo asli ughang kampar tp km dak minang do.
Adat awak di kampau dak mngonal bundo kandung do.tp awak mngonal siOMPU.
SOAL MINANG tu identik dgn sumbar,,,
Adat kampau samo sprt ughang petalangan di pelalawan,rohul,kuansing dan sepaghoh dataran riau .
Pengertian minanga tidak samo dgn minang cu,,, jen ocu sobuik kami ughang minang juo,beko godang iduong ghang minang du.
dl dek bnyk di kampau du simbol2 minang itu kono awak bagian sumbagteng,jd kabu identitas awak du,kn awak ola tontu identitas awak ,molah samo2 kito dukuong visi riau tu.
Jen pulo le awak sobuik ughang minang le condoh ughang dak tontu sejarah kampau itu sandighi..
24 Juli 2011 at 8:07 pm
kami yg tinggal di perbatasan RIAU-SUMBAR khususnyo kec.13 koto kampar dak ponah nyobuik km ughang minang do.di siko taghaso bonau bedo ughang kampau dgn minang. Mmg ado klau soal adat dn budayo mmg mrp2 kono mgkn dek awak dokek dgn ranah ughang tu,ado bacampulah,,,
Awang@topek du sanak,,, pngrtian minanga adaloh dak samo dgn minang..
Minanga bkn suku sdgkn minang adolah etnis,,,hsl dari adu kerbau.
Sdgkn minanga adolah hulu sungai kampau,,,
Jd secagho bahaso artinyo babezo,,, !
24 Juli 2011 at 9:02 pm
Datuk bendahara, jika benar anda memang adalah seorang datuk, mohon agak ilmiahlah sedikit dalam memberikan komentar. jangan karena komentar yg anda berikan orang beranggapan anda adalah seorang idiot yg tidak tahu apa2. Mana ada sebuah etnis yg lahir berkat adanya adu kerbau. Maaf kalau ucapan saya terlihat terlalu kasar, tapi cobalah untuk berbicara yg logis dan masuk akal.
Apakah anda tidak marah kalau saya bilang bahwa orang kampar adalah keturunan hantu blau yg tidak jelas identitasnya, sehingga menjadi etnis yg sangat bodoh dan terbelakang? Saya yakin anda pasti akan marah, begitu juga saya dan orang Minang lainnya ketika mendengar anda selalu menjelek2kan etnis saya.
Tanpa perlu berdebat pun, semua orang di seluruh dunia yg belajar sejarah dan ilmu budaya sudah tahu bahwa budaya Minangkabau peradabannya jauh lebih tinggi dibandingkan peradaban kampar
25 Juli 2011 at 12:16 am
jgn semua orang anda anggap idiot dan bodo wit,,,,,,
Dlm kedukan bukit minanga kawvar tu berarti hulu sungai kampar. Yaitu muara takus.mereka pindah ke palembang namun keturunan mereka msh ada yg tinggal di sana.mereka inilah yg memerintah adat di kampar yakni DaTUK dua balai ,sebagai pucuk adat ANDIKO 44 TIGA KABUNG AIR,,sekaligus ahli waris candi muara takus.adalah keturunan suri diraja.
Sebaiknya saran saya,,,anda wit mempelajari sejarah andiko itu, dr pd anda mnggp orang bodoh,,,
Saya tak ada mksd mnghina orang minang,,,
Wit,,, minanga bkn berarti minang yg kau klaim selama ini.minang klau di artikan bhs indonesia artinya menang sdgkn kabau adalah kerbau,,,oke,,,,, jadi klau pun minanga tu minang,, yg jd pertanyaan dari mana kata2 kabau muncul,,,,?
Minanga kawvar=hulu kampar
Minang kabau=menang kerbau
Dua bahasa di atas udah berlainan arti bagai mn bs sinkron ?
Minanga kawvar adalah kata benda sdgkn minangkabau adalah kt sifat(bhs indonesia)
Di muara takus ada situs sejarah,di muara takus pucuk adat kampar berada,mereka juga ahli waris candi muara takus,,,apa lg yg nak di perbodohi,,
Ini ilmiah klau tak percaya silakan anda tanya ke Datuk dua balai di muara takus,,
Identitas kampar dah jelas skrg minang yg blm jelas dari mn kt2 minang kabau ?
25 Juli 2011 at 7:48 am
Anda tahu arti kata Hulu?
Jika tidak saya beritahu, artinya adalah tempat asal sungai.
Di manakah hulu Sungai Kampar?
jawabannya tentu saja bukan di Muara Takus (silahkan lihat peta), hulunya berada di Sumatera barat.
Hampir semua sungai yang ada di Riau berhulu di Sumatera Barat, karena topografi alam di Sumbar yg lebih tinggi daripada di Riau.
Sifat air adalah mengalir dari daerah yg lebih tinggi menuju daerah yg lebih rendah.
Tidak ada sungai yg berhulu di Muara takus, karena Muara Takus tidak terletak di atas dataran tinggi. Jika anda pernah pergi ke Muara takus anda akan segera tahu bahwa hulu sungai kampar bukan di Muara Takus.
25 Juli 2011 at 12:46 am
snggh picik pkrn mu mnggp kami bodoh dan terbelakang pdhl tak pnts anda sprt itu krn anda seorang berpendidikan tinggi.saya juga tak perna menghina etnis anda,,,,,.
Kami bangga jd orang riau,tak ada satu pun anak kemenakan kami hingga saat ini menafikan itu.krn apa krn km bs mengembangkn budaya kami bagian masyarakat melayu riau yg islami.nda seorang berpendidikan tinggi.saya juga tak perna menghina etnis anda,,,,,.
Kami bangga jd orang riau,tak ada satu pun anak kemenakan kami hingga saat ini menafikan itu.krn apa krn km bs mengembangkn budaya kami bagian masyarakat melayu riau yg islami.
25 Juli 2011 at 3:00 pm
dasar kalian setengah manusia setenngah binatang, kalian itu yang menghina lebih dulu dari awal… giliran dihina memutarbalikkan fakta… memang kalian itu bodoh dan bodoh.
25 Juli 2011 at 2:41 am
di daerah mahek dn sktrnyo bnyk juo di temukan menhir dulu daerah tu masuak kampar,,tp kn masuak ke kab.50 kota
Den picayo itu budayo minanga kawvar
25 Juli 2011 at 2:29 pm
Ombak: Angku picayo minanga kamvar berarti angku picayo juo jo minangkabau. Minangkabau kah, minanga kamvar kah, minanga tamwan kah, pinang khabu kah, itu merupakan panggilan2 yang bermaksud ka komunitas nan barado di sumatera tangah kini ko..
25 Juli 2011 at 4:10 am
mas wit@jd stlh dia fasih bhs minang dia anggap drnya minang,,,,hahahaha,,,, ,,,,
saya nak nanya klau mmg anda prn melakukan penelitian di desa2 yg anda tulis di atas, desa ranah sungkai berbatasan dengan desa apa ? nanya klau mmg anda prn melakukan penelitian di desa2 yg anda tulis di atas, desa ranah sungkai berbatasan dengan desa apa ?
25 Juli 2011 at 4:34 am
G ADA UNTUNG ? JD SAUDARA YG BNYK MERANTAU DI KAMPAR TU GMN, APA G DI UNTUNGKN DGN CARI MKN DI TMPT KM ?PKR KLAU NULIS SESUATU,,,,,
KAMI DI KAMPAR G ADA UNTUNG JUGA MENGAKU BAGIAN MINANG.KRN APA YG KM HRPKN DR SUMBAR.
RUGI TAU !!!!
KEBUDAYAAN KAMPAR LBH TUA UMURNYA DR KBDYAAN MINANGKABAU TU. I UNTUNGKN DGN CARI MKN DI TMPT KM ?PKR KLAU NULIS SESUATU,,,,,
KAMI DI KAMPAR G ADA UNTUNG JUGA MENGAKU BAGIAN MINANG.KRN APA YG KM HRPKN DR SUMBAR.
RUGI TAU !!!!
KEBUDAYAAN KAMPAR LBH TUA UMURNYA DR KBDYAAN MINANGKABAU TU.
25 Juli 2011 at 4:59 am
Nmpknyo oghang minang ni sangat bernafsu nak bersaudaghokn oghang kampar dan riau umumnyo,, mgkn keno kt ni punyo SDA agak e.
Biasolah, cnth,, klau kito kayo,bnyk oghang yg ngaku2 saudagho dio,ado hubunganlh,, cubo klau dah miskin,memandang pun tendak !
25 Juli 2011 at 7:18 am
Hari ini saya memutuskan untuk tidak lagi ikut berkomentar di sini. Saya menganggap banyak hal yg tidak baik di sini. Dunia saya bukanlah dunia seperti ini. Semula saya ikut berkomentar di sini adalah karena ajakan dan permintaan seorang teman yg mengetahui bahwa saya sering melakukan penelitian di daerah kampar. Akan tetapi, dari perkembangan yang saya lihat, bukan pencerahan yg kita dapatkan bersama, melainkan hanya permusuhan saja. Sekali lagi, dunia saya sesungguhnya bukanlah seperti itu. Jika teman2 saya ataupun mahasaiswa saya ada yg ikut membaca blog ini mungkin mereka akan tertawa dan akan melecehkan saya karena ikut2an dalam blog seperti ini.
Bukan maksud saya melecehkan saudara2, saya sangat menghargai saudara2 semua, dan terus terang saya merasakan banyak sekali manfaat yg saya dapatkan dari blog ini, terutama mengenai pandangan orang Kampar terhadap identitas mereka sendiri. Walaupun saya tahu bahwa tidak semua orang Kampar seperti itu, namun setidak2nya ini sedikit memberikan gambaran kepada saya mengenai sikap orang kampar.
Secara jujur saya akui bahwa semula saya berharap banyak akan mendapat masukan banyak dari saudara2 kita di kampar mengenai sejarah, sistem budaya, dan sistem sosial orang Kampar dari orang Kampar sendiri, Akan tetapi, sangat disayangkan ternyata yg saya dapatkan hanyalah dongeng2 belaka (sepertinya mereka belum bisa membedakan antara dongeng dengan fakta sejarah dan fakta sosial).
Meskipun demikian saya mengucapkan terima kasih kepada beberapa orang seperti Cuden, Afandri, dan Ridho Chaniago yg telah banyak memberikan masukan berharga kepada kita semua, walaupun sangat disayangkan usaha anda ternyata disikapi lain oleh saudara2 kita di kampar dg sinis berupa cacian, umpatan, dan umpatan kasar, sehingga saya pun akhirnya ikut terpancing dg kata2 mereka.
25 Juli 2011 at 7:29 am
Assalammualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Tanpa mengurangi rasa hormat saya, hari ini saya memutuskan untuk tidak lagi ikut berkomentar di sini. Saya menganggap banyak hal yg tidak baik di sini. Dunia saya bukanlah dunia seperti ini. Semula saya ikut berkomentar di sini adalah karena ajakan dan permintaan seorang teman yg mengetahui bahwa saya sering melakukan penelitian di daerah kampar. Akan tetapi, dari perkembangan yang saya lihat, bukan pencerahan yg kita dapatkan bersama, melainkan hanya permusuhan saja. Sekali lagi, dunia saya sesungguhnya bukanlah dunia seperti ini. Jika teman2 saya ataupun mahasaiswa saya ada yg ikut membaca blog ini mungkin mereka akan tertawa dan akan melecehkan saya karena ikut2an dalam blog seperti ini.
Bukan maksud saya melecehkan saudara2, saya sangat menghargai saudara2 semua, dan terus terang saya merasakan banyak sekali manfaat yg saya dapatkan dari blog ini, terutama mengenai pandangan orang Kampar terhadap identitas mereka sendiri. Walaupun saya tahu bahwa tidak semua orang Kampar seperti itu, namun setidak2nya ini sedikit memberikan gambaran kepada saya mengenai sikap orang kampar.
Secara jujur saya akui bahwa semula saya berharap banyak akan mendapat banyak masukan dari saudara2 kita di kampar mengenai sejarah, sistem budaya, dan sistem sosial orang Kampar dari orang Kampar sendiri, Akan tetapi, sangat disayangkan ternyata yg saya dapatkan sebagian besar hanyalah dongeng2 belaka (sepertinya mereka belum bisa membedakan antara dongeng dengan fakta sejarah dan fakta sosial).
Meskipun demikian saya mengucapkan terima kasih kepada beberapa orang seperti Cuden, Afandri, dan Ridho Chaniago yg telah banyak memberikan masukan berharga kepada kita semua, walaupun sangat disayangkan usaha anda ternyata disikapi lain oleh saudara2 kita di kampar dg sinis berupa cacian, hinaan, dan umpatan kasar, sehingga saya pun akhirnya ikut terpancing dg kata2 mereka.
Terakhir saya minta maaf kepada saudara2 di Kampar jika ada kata2 saya yg mungkin kurang berkenan bagi anda anda semua. dari lubuk hati saya yg terdalam saya mohon maaf. sebaliknya, saya sudah membuang jauh2 perasaan sakit hati, kecewa, dan sebagainya, dari hati saya, karena saya sadar, forum ini bukan forum resmi sebagaimana yg biasa saya ikuti, jadi tentu saja semua orang bebas bicara apa saja di sini.
Hormat Saya
Witrianto Chaniago
25 Juli 2011 at 9:23 am
bagus,,,,,
Klau kau berhenti km sangat bersukur,, krn kami tak bs kau bodoh2i..
kau hanya tukang klaim,,,
Pegi sana,jgn coment lg,klau kau coment lg berarti kau munafik,,,ingat janji mu.
Orang jawa mgkn percaya dgn penelitian mu tntg kampar tp tdk dgn kami yg pny kampar,,
Kami orang melayu Riau bukan minangkabau .
Pny mahasiswalah,suku hebatlah,berpendidikanlh,,, ingat azab wit !
hengkang dr blog ni,,,,, bangun budaya provinsi mu jgn budaya provinsi lain yg kau urus,,
Key,,,,, ,,,,
25 Juli 2011 at 2:37 pm
“krn kami tak bs kau bodoh2i..”,,hahahaha golak ati den mambaconyo..
“ingat azab wit”, dari tadi den baco kalimat ko tarui nan muncul di tulisan angku..Terima kasih pak atas peringatannya..
25 Juli 2011 at 3:08 pm
lu yang mesti bersukur tang*… dikasih ilmu pengetahuan yang sangat berguna buat etnis lu…. belajar baca dulu ke sumbar dah itu ajarkan ke etnislu semua yang ditulis pak witri, sutan dan sanak2 minang lainnya disini..
oke tang*…
*binatang
25 Juli 2011 at 9:40 am
muara takus berada sekitar hulu sungai kampar kanan,,,
Hulunya yg skrg msk sumbar dulunya adalah tanah kampar,,,
Kbdyaan manusia dl tumbuh bkn di gunung tp dataran renda dan tepi sungai.
Semua orang kampar akan marah apabilah marwah mereka di usik.
.
25 Juli 2011 at 11:40 am
Assalamualaikum,
Saya pribadi mohon maaf ke Pak Witrianto Caniago Datuak Bandaro.
Sepertinya di blog ini banyak siluman, satu orang banyak username di sini…
25 Juli 2011 at 12:53 pm
Mengenai Minangkabau dan perantauannya, tak ada yang salah dengan banyaknya langgam dan dialek bahasa, tak ada yang mengherankan dengan macam ragam model rumah-rumah adat, sebab falsafah budaya Minangkabau adalah “Adat selingkar nagari”. Jadi adanya perbedaan adat, budaya, hingga ke bentuk rumah di antara negeri-negeri ranah Minang, itu telah berlangsung sejak lama. Di Luhak nan Tigo sendiri, sebagai jantungnya budaya Minangkabau, dialek bahasanya-pun bermacam-macam. Bahkan di Luhak Limapuluh Koto saja, luhak yang memiliki wilayah paling luas, langgam bahasanya bisa berpuluh-puluh macam. Di selingkaran Gunung Sago misalnya, nagari-nagari yang hanya berbataskan sungai, memiliki ragam dan istilah bahasa masing-masing. Dan diantara kampung yang berbeda-beda itu, memiliki tata cara, adat, dan kebiasaan yang berlain-lainan pula. Apatah lagi dengan negeri Kampar. Walaupun Kampar termasuk ke dalam lingkungan Luhak Limapuluh Koto, namun jaraknya yang sangat jauh dari Gunung Sago, tentulah banyak perbedaan yang muncul. Sedangkan antara Payakumbuh dan Bukittinggi saja yang hanya “melompat bukit”, lebih jauh dialek bahasanya tenimbang masyarakat Kampar yang berjarak sekitar 120 km.
Soal rumah adat Kampar yang memiliki khasnya tersendiri, berlaku pula dengan rantau-rantau Minang lainnya. Seperti model rumah Anak Jameu (bermukim di pesisir barat daya Aceh), yang banyak menyerap unsur Aceh. Namun begitu, Anak Jameu masihlah mengakui dan diakui sebagai orang Minangkabau. Kita mengetahui bahwa adat dan budaya Minangkabau, salah satu adat yang terbuka dengan unsur-unsur luar. Dan itu tidaklah salah, bahkan dalam batas-batas tertentu sangatlah elok. Sehingga sering kita dengar ucapan datuk-datuk pemangku adat, bahwa selama “Adat Nan Teradat” serta “Adat Istiadat” yang dikembangkan, tak jadilah masalah untuk Minangkabau. Tetapi jika Adat Nan Sabana Adat dan Adat nan Diadatkan itu yang diubah-ubah, maka hilanglah Budaya Minangkabau. Jadi jikalau di antara orang2 Minang itu berlainan, karena disebabkan masing-masing nagari memiliki caranya masing2 (adat selingkar nagari). Dan masing2 nagari itu selalu berusaha (bahkan berlomba-lomba) untuk mengembangkan “Adat Nan Teradat” serta “Adat Istiadat” itu. Sehingga dalam suatu kajian yang dilakukan oleh Elizabeth Graves, beliau pernah berpendapat bahwa “Kerasnya kompetisi diantara nagari di Ranah Minang, tak terasa persaingan itu telah melampaui mutu/kualitas negeri-negeri manapun di Nusantara ini.” Jadi kompetisi antar nagari untuk menjadi yang terbaik, telah mengangkat ranah Minang secara keseluruhan.
Soal asal muasal kebudayaan Minangatamwan atau Pinangkhabu atau Minangkabau, belum ada kata mufakat diantara para peneliti. Namun satu benang merah yang bisa kita lihat adalah corak budaya Nusantara yang bermula dari puncak gunung, kemudian berkembang ke bawah, mencari sungai dan pantai. Ini terlihat dari Kebudayaan Batak, Minangkabau, Jawa, Sunda, Banjar, dan Makassar. Untuk Minangkabau sendiri, beberapa ahli banyak yang memperkirakan bermula di seputaran Gunung Merapi, Singgalang, dan Sago. Ini terlihat dari menhir serta prasasti tua yang ditemukan di sekitar pegunungan itu. Kemudian peradaban Minangkabau terus bergeser mencari sungai-sungai besar (Rokan, Siak, Kampar, Indragiri/Kuantan, Batanghari) dan pesisir (pantai barat Sumatra ke arah Samudera Hindia dan pantai timur Sumatra ke arah Selat Malaka). Seperti yang diperkirakan Raffles dalam bukunya “History of Java”, mungkin melalui sungai-sungai besar inilah kemudian masyarakat di sekitar Gunung Merapi, Sago, dan Singgalang itu, menyebarkan Adat Perpatih dan Ketemanggungan ke seluruh Nusantara, yang sekarang ini lebih dikenal dengan Adat Budaya Melayu.
Untuk Pak Witrianto yang sedang melakukan penelitian. Ada baiknya juga kita mengkaji silsilah/ranji masyarakat Kampar. Karena banyak diantara orang-orang Kampar yang memiliki belahan (sanak saudara) dari Suliki, Danguang-danguang, Muaro Peiti, Pangkalan Kotobaru, Payakumbuh, Tanjungpati, Harau, Halaban, Lintau Buo, dan nagari-nagari di sekitar Batusangkar. Dan perlu pula untuk diteliti arus migrasi orang-orang Limapuluh Koto dan Tanah Datar bagian timur, yang membanjiri Riau, Sumatera Timur, hingga ke Pulau Pinang dan Negeri Sembilan. Sebuah arus migrasi besar yang dilakukan pula oleh saudara-saudara mereka di Agam dan Tanah Datar bagian barat, yang melakukan perpindahan secara massif ke Pariaman, Padang, Natal, Tapanuli, Aceh Barat, Nias, Simeulue, Bengkulu, dan tanah Kerinci.
Wassalam.
25 Juli 2011 at 5:07 pm
mmg bnyk ragam dialek minang nmn semuanya intinya sama dan bunyi bhsnya sama wlau ada sdkt brbeda.
nmn langgam bhsnya jelas nyata minangnya,tak usahlah cerita,,,, Daerah yg anda mksd diatas dl masuk kampar,yakni kampar atas dan kampar 9.
Info dr mn kau dapat bnyk pertalian darah dgn daerah2 trsbt ?
anak jamee ? mgkn km prcy,tp cb anak jamee sndr pst mnolak,,,,krn km tak tau asal anak jamee,mgkn km prcy.bgt jg klau kau blg kampar minang ke anak jame,mgkn jg mrk prcy krn mrk tak tau sjrh kampar itu sndr.
Sutan,,,,,biasanya yg siluman tu kaum anda tak ? Biasanya kan gitu,,,,,
Saya rs sutan dgn wit ni orang yg sm,1 kepala 2 otak,,,,,hehehehehe
Mf,,,,,,
25 Juli 2011 at 5:15 pm
Datuk Bendahara:
Ndak percaya anak jamee turunan orang Minang?Kemana saja anda selama ini??baca link di sini
http://www.acehforum.or.id/archive/index.php/t-6147-p-2.html
Di sana ada seorang penulis yang bernama Jurnalis jh mengatakan:
“banyak dari tmen2 kita yang lahir dan besar di aceh yang kul di kampus kami..
kurang menghargai kami-kami yang ‘berdarah aceh’ tapi besar di luar aceh…
di unit mhs aceh di kampus kami malah pernah ada 3 orang yang seperti saya…
tapi mereka memilih keluar dari organisasi tersebut kerana semacam ada ‘pengucilan’…
ini nyata lo..dan saya juga mengalaminya…
ironisnya.. orang minang di kampus kami lebih menghargai orang-orang kelahiran minang yang bsar di luar sumbar…
bahkan kami yang rata-rata berbahasa jameu lebih dekat dengan ukm Minang tersbut drpd dengan UKM aceh…
itu nyata…”
Pengalaman pribadi saya ketika masih kuliah di ITB Bandung. Ada seorang teman saya berasal dari Aceh yang mempunyai kaset penyanyi “Rafly” (Rafly pernah diwawancara di Metro TV ketika tsunami melanda Aceh). Ada satu lagu Aceh di kaset Rafly dimana teman saya ga ngerti. Dia bilang ini lagu Aceh selatan. Setelah saya mendengar sekali saja, saya langsung ngerti karena lagu itu memakai bahasa Minang dialek Piaman (Piaman laweh).
Manfaatkan internet sebaik-baiknya!
Saya beda dengan Pak Wit:
Saya bekerja dan berdomisili di Balikpapan, Pak Wit dosen di PTN di SUMBAR..Suku kami yang sama: Caniago.
25 Juli 2011 at 6:03 pm
ow maaf sanak dikampar!!
io mang babezo pengertian minang sumbar jo minang kampar sanak!!
sumbar , minang = menang
kampar, minang = menengah dan diatas datuk menyebut hulu…
melayu = itu ruponyo adoloh agamo awak islam nan menjalani rukun2 inyo!!
disisi lain melayu = itu pegangan orng kampar… yang tidak memiliki pecahan!! melayu bisa saja mengikuti matrinial atau patrinial…
contoh sajo patopang laki2 pedusi melayu= melayu atau bisa juo keturunan patopang!! condo den katokan diate tadi…
tpi melayu laki2 jo melayu pedusi = melayu(domo)
jadi ranah kampar ko adolo ranah melayu…
karenak ndak ado membeda-bedakan antaro awak sanak!! itu nan den dapek makna daghi kato melayu!!
iko den tanyo kek kepalo adeik persukuan!! nan ado dikampuong den!! datuk tu sukunyo piliang!!
dari segi rumah adat minangkabau dan kampar!!
minang memiliki cirhas batik dan atas atapnya lontiok dan runcing!!
sedangkan kampar memiliki cirihas ukiran dan atapnya lontiok dan basilang!!
ha….
bersambung dulu ye….
25 Juli 2011 at 6:24 pm
Di baso kami rang Minang di Sumbar, Menang (Baso Indonesia) = manang, ndak minang gai du cu….
Di komentar cu rudien nan sabalun ko lah deyen komen lo co itu, ado duo definisi malayu…Jadi sanak nan di Riau, pemakain kato “Melayu” ko dari definisi/sudut pandang nan mano?
25 Juli 2011 at 7:21 pm
sutan@jd anda di kalimantan ? Btl jg apa yg saya duga slm ini.
Saya dah baca link yg anda tulis,,yg hrnnya ada pula penullis tengku datuak, klau angku datuak saya percy,, pnlsnya orang minang yg ngku2 org anak jamee, sifat orang minang kan gitu,sifat sprt itu tak asing lg di kampar,riau umumnya.
Jgn anda menilai semua bhs yg hmpr mrp dgn minang itu sub minang,jgn anda menilai dr kulitnya saja dan dr kejauhan,,
Penutur dialek melayu O lbh luas wilayahnya dr pd ranah minang,,mgkn anda lbh tau,,,
sutan@jd anda di kalimantan ? Btl jg apa yg saya duga slm ini.
Saya dah baca link yg anda tulis,,yg hrnnya ada pula penullis tengku datuak, klau angku datuak saya percy,, pnlsnya orang minang yg ngku2 org anak jamee, sifat orang minang kan gitu,sifat sprt itu tak asing lg di kampar,riau umumnya.
Jgn anda menilai semua bhs yg hmpr mrp dgn minang itu sub minang,jgn anda menilai dr kulitnya saja dan dr kejauhan,,
Penutur dialek melayu O lbh luas wilayahnya dr pd ranah minang,,mgkn anda lbh tau,,,
25 Juli 2011 at 8:22 pm
Datuk@: ente jangan vonis, nama tengku datuak itu salah atau benar karena ada kemungkinan dia mencampurkan gelar agama aceh dengan panggilan di kampuang halamannya..Dan satu lagi, saya paling tidak suka dengan vonis anda: “ah itu orang Minang yang ngaku anak jamee…”. Ini adalah pernyataan sok tau anda, benar2 sok tau..serius anda emang sok tau!!Aku sarankan sekali lagi,,kau tambah juga lah ilmu2 kau itu biar kau tau dunia luar!!Ada internet tapi ga dimaksimalkan.
Satu lagi, teman saya waktu di kampus yang asli orang Aceh, bukan anak jamee, bilang bahwa di kab. Aceh Barat daya, Aceh selatan memang ada komunitas anak jamee. Jamee sendiri dalam bahasa Aceh artinya adalah tamu, tamu yang mereka anggap ini berasal dari daerah pesisir sumatera barat (Pariaman dan sekitarnya)..
Ok datuk sok tau!!Kalau kau tak puas dgn jawaban ku, kau cari sendiri di internet!Malu lah dikit, gelar datuk tapi wawasan seperti anak SD, atau kau jangan2 memang tidak lulus SD???!
25 Juli 2011 at 7:49 pm
sutan@pengertian minang sama sama dgn minang, ku tanya sm teman yg dr sumbar juga mengakuinya. Mareka bilang kata2 minang tu bhs minang lama yg berarti menang.
Jd klau bkn pngrtian bkn menang,jd apa sbtlnya arti minangkabau ? Dr mn muncul kt2 kabau(kerbau) ?
rudien@topek bonau du cu ! ocu tnggl mano,kok bhs ocu tulis sprti bhs minang ? Cnth adaik,, bahaso kampar adat ajonyo cu.
Pngertian melayu di kampar adolah etnis dan suku bangsa sdgkn persukuan di kampar adalah puak,garis keturunan atau marga istilah orang batak.
25 Juli 2011 at 10:11 pm
kecamatan tambang di kualu none cu!! obe dek ocu nyekan??
kampuong den alam panjang!! adat tu adaik disiko cu!!
kalau baso minangnyo adeik,adek!!
25 Juli 2011 at 10:18 pm
Agio taghui cu Rudien..jadi adat tu versi minangnyo adeik/adek..Hehehe. Tau ndak, penulisan tu umunyo dipengaruhi oleh faktor cara ucapan (dialek)? Di Piaman urang manyabuik adat tu jadi “adaik”..
Please cu Rudien, that’s not major difference!
25 Juli 2011 at 10:22 pm
dia ate adeik ang buek yuong!!
he kapuntrin e’
25 Juli 2011 at 10:32 pm
io pulo ye’ang…. ntah juolah ndak oben??
lian: waang yan.. kecen sasapo san waang… manong kin?
ngapong di bloger ko?? posting waang yang… awas ang…
25 Juli 2011 at 10:38 pm
woi …. syapo ang yuong!!!!
cilako…!!
25 Juli 2011 at 10:43 pm
wkwkwk….
bloger ini mng gak bersih lagi…
saya aja bingung ni??
kok yg satuni kyk orng stres??
25 Juli 2011 at 10:49 pm
rudien: io tio mang ndak brosio bloger ko leha…
omuo komen facebook wak le cu!!
lian_pikolo@yahoo.com
ado CIEK
25 Juli 2011 at 8:39 pm
MELAYU, YES !
minang, no !
25 Juli 2011 at 8:52 pm
oke,,,,, klau tengku Datuk saya percaya ! Tp kata datuak tu yg nmpk btl pnyamarannya.bknkah kata2 datuak tu bhs minang,klau di daerah lain Datuk aja.
Alah,,,,, sutan,kami jgn kau utau …..
Klau anda tau bhs kampar apa tu utau ?
Jgn mnyanyah atau nyanyuk juo le !
Tp tak apa nmpknya,anda sdh bs sikit2 cakap ocu,,,heheheheheheh
25 Juli 2011 at 9:12 pm
Speakless saya sama anda…
Anda ngerti ga sih apa yang saya tulis di balasan komentar anda sebelumnya?! Sudah pakai bahasa Indonesia lho…Anak Jamee itu memang berasal dari daerah Pariaman sekitarnya ya otomatislah datuk jadi datuak bagi mereka…Dia tambah kata “Tengku” karena itu salah satu gelar di Aceh, jadi kombinasi Aceh-Minang..Pikiran anda memang sempit, datuk..Masya ALLAH..
25 Juli 2011 at 9:02 pm
perdebatan yg amat solid dan dahsyat antara Melayu RIAU versus MinangKABAU.
manoo yg monang,kito elu2kan sapo p,muncaknyo !
25 Juli 2011 at 9:03 pm
perdebatan yg amat solid dan dahsyat antara Melayu RIAU versus MinangKABAU.
manoo yg monang,kito elu2kan sapo p,muncaknyo ! yg monang,kito elu2kan sapo p,muncaknyo !
25 Juli 2011 at 9:47 pm
dr mn pula anak jame dr pariaman,, klau pndatang pariaman mgkn iya bnyk.
Klau orang jame asli pemakaian datuak hanya datuk aja,klau tak prcy datang aja ke sn,bd klau pndtng pariaman mgkn mmkai datuak, krn orang minang di mn2 dlm bhs dan budaya tdk mau berbhs daerah stmpt,, mrk hncr dlm berbhs indo.
Cnth,rekan2 ku di riau klau mrh keluar bhs minangnya.
Dgn orang jawa,batak pun berbhs minang…
25 Juli 2011 at 9:58 pm
Ya ALLAH ya Rabbi,,jujur aku ga tau aku balas komentar ini ke anak SD atau siapa ini ya?Udah ga tau,,sok tau dan keras kepala pula…Anak jamee itu memang panggilan orang Minang yang datang ke sana abad 18-19an. Dan sekarang mereka di sana membentuk suku, namanya anak jamee…Oi siapapun disitu yang ngaku datuk bendahara tolong tulis pakai nama lain kek jangan ada embel2 datuk nya…malu aku..
25 Juli 2011 at 10:00 pm
sutan pandeka@mmg sodagho koghe palo.
Pntr tp klwt pntr…
Crdk tp mngait,,
25 Juli 2011 at 10:07 pm
ini satu lagi..angku jo datuk tu setali tiga uang…
25 Juli 2011 at 10:32 pm
tolong ksh contoh bhs anak jamee,blh ?
datuk adalah gelar kebesaran orang tanahmelayu,,,di minang jg begitu.
Jd knp anda malu ?
Anda kan gelar sutan !
Prl anda catat gelar sutan tak ada negeri kampar.
Yg hrs malu tu org yg bergelar tengku datuak,knp bgt krn lucu aja,nmpk kbhngannya,,, orang minang pakai tengku2 segala,,, angku iya
Klau di riau kt2 TENGKU=keturunan raja melayu.
25 Juli 2011 at 10:40 pm
Hehehe..galak se deyen nan bisa nyeh yuang!
26 Juli 2011 at 12:30 am
Ntar dikasih contoh bahasa anak jamee ente bilang “ah ini mah kerjaan orang Minang”..
26 Juli 2011 at 12:28 am
golaklah omoh tanggal gi2 ang du,,
bapo du cu rudien !
Ang golak kono dak dapek mnjwb sodoh pertanyaan yg kami ajukan di atas,,,,
Jan bnyk bana galak da,beeko masuak lalek ka muluik tu,,, hahahahahaha
Senyum seeeee,,,,
26 Juli 2011 at 12:29 pm
hahahahahahaha… awang binatang….. maulana hina dina….
goblog kok statis….
26 Juli 2011 at 2:47 pm
minang18@: alah du sanak..jen tabaok emosi..Biaso sajo tu nyo..hehehe
26 Juli 2011 at 12:59 pm
den ktrunan minang tingge diwilayah ocu!!
tpi sanak den minta mo’o logat minang agak kuang den tek…ndak bisa bonau den bahaso minang dow…hehehe….
rupo dibloger, ocu ko banci bonau kaminang nampak dek den…
tpi cek disiko ajonyo…
bagak blakang ughang ocu ko maha….
kini den layakin jo adat den sughang yakni adat minangkabau…
sutan ridho: makasih yo…. sory den banyak batnyo… soalnyo deyen tingge di naghoi ughang ocu.. dai ketek sampai gadang… amak den asli ughang bukik apik(sungai naniang)!!
disiko den lah diangkek jadi ughang ocu…hahaha kini den pasang duo versi
26 Juli 2011 at 2:51 pm
Lian@: Malu batanyo sasek di jalan ko sanak..Kalau urang nio batambah ilmu pengetahuannyo tantu yo harus batanyo..hehehe
26 Juli 2011 at 1:27 pm
minang18@apa anda tak prn di ajarkan sopan santun,,
Klau seorang muslim mengatakan saudara seimannya binatang berarti dia lebih binatang lagi.
Satu persatu Tabiat orang minangkerbau terkuak sudah, slh st cepat emosi !
Lian@dak bagak di belalakang do tp cubo ang tengok daghi ate sampai bawah, saudagho ughang toghui moghondakan kami, macam kami dak punyo budayo..
Cubo ang mcm tu pst ang maghah dan bongi. klau mcm ang sodoh ghang minang ko dak kan wak babantah mcm ko do,pandai molotakkan sosuatu. minang18@apa anda tak prn di ajarkan sopan santun,,
Klau seorang muslim mengatakan saudara seimannya binatang berarti dia lebih binatang lagi.
Satu persatu Tabiat orang minangkerbau terkuak sudah, slh st cepat emosi !
Lian@dak bagak di belalakang do tp cubo ang tengok daghi ate sampai bawah, saudagho ughang toghui moghondakan kami, macam kami dak punyo budayo..
Cubo ang mcm tu pst ang maghah dan bongi. klau mcm ang sodoh ghang minang ko dak kan wak babantah mcm ko do,pandai molotakkan sosuatu.
26 Juli 2011 at 2:37 pm
Awang@: Saya bukan menyalahkan anda, tapi kalo bisa instropeksi dari kedua belah pihak lah..siapa yg mulai menyindir dan sebagainya, OK brur??! Nta lai masuok puaso, jadi berbaikan sajalah,,yang nama debat boleh saja asal jangan terlalu menghina..Saran ini juga berlaku kepada minang18..Ok dunsanak sadolah e..Cipika Cipiki lu lah!
27 Juli 2011 at 12:36 pm
kalo lu muslim, pasti mengakui siapa yang menghina orang minang lebih dulu….
baca mulai dari awal…
jangan memutarbalikkan fakta kau awang binatang….
26 Juli 2011 at 2:35 pm
Saya sbg seorang keturunan Tionghoa Muslim yg kebetulan tinggal di Padang, sudah lama mengikuti perdebatan ini (hanya membacanya saja). Dari uraian2 yg ada, sebagai orang yg berdiri di pihak netral, saya mengambil kesimpulan:
1. Orang2 Minang yg ikut dalam perdebatan ini rata2 adalah orang2 yg berpendidikan shg keterangan2 mereka didukung oleh bukti2 ilmiah.
2. Sebagian besar orang Kampar yg ikut dalam perdebatan ini bukan orang yg berpendidikan, jika seandaipun tamat SMA, tapi cara berpikir mereka tidak lebih daripada cara berpikir anak SD.
3. Hal ini dapat saya maklumi, karena pendidikan orang Minang memang jauh lebih tinggi daripada orang Kampar, ibarat langit dg bumi, shg tentu saja tidak akan pernah bertemu.
4. Saya menyarankan kepada orang2 Minang yg berkomentar di blog ini supaya tidak perlu melayani orang2 kampar yg berkomentar di sini, mereka bukanlah tandingan anda. Jawaban2 mereka hanya akan membuat anda terkaget2 dan terheran2 serta merasa terkejut, walaupun bagi mereka mungkin jawaban mereka wajar2 saja, sesuai dg pendidikan mereka yg memang lebih rendah.Apa pun yg anda katakan meskipun didukung oleh bukti2 ilmiah, mereka tampaknya akan percaya dan tidak peduli. Kelihatannya mereka bahkan juga tidak tahu, mana yg ilmiah dan mana yg hanya berupa dongeng, prasangka, streotip, atau dugaan belaka.
5. Terakhir untuk orang Kampar, seperti Awang Maulana Azzam, Rudiens nak ughang patopang, L. Syam. dan Uyang Bagan, cobalah menghargai pendapat orang lain. setelah membaca komentar2 anda, saya pun sependapat bahwa anda adalah seorang yg berwawasan rendah tapi sok tahu dan merasa diri lebih pintar daripada orang lain. Sikap yg anda tunjukkan ini hanya akan membuat orang lain menganggap anda sbg seorang idiot yg sangat bodoh.
26 Juli 2011 at 5:47 pm
nama2 gua yg ada di bloger ini!!
ocu tambang
lian nak ughang piliang nan ganteng
mentawaikampar
tu kojo deyen du cu sutan!!
mksud den nak mancai apo kosuik minangkabau!!
kini den lah mendapekkannyo.. sory ye cu sutan cagho picik den pakai tek..wkwkwkwk untuk manggoli-golikan bacoan ajo…
lah du ye… kini fb di bukale pelanta urang minang!!
banyak ilmu disitu aso dek denleh!!
hahaha…
mohon maaf lhir batin cu sutan.. pak wid.. cuden.. n everybody wkwkwkwk
assalammualaikum
26 Juli 2011 at 5:48 pm
nama samaran!! “we” hanya operator yang mengenali gua Berkata:
Juli 26, 2011 at 5:47 pm
nama2 gua yg ada di bloger ini!!
ocu tambang
lian nak ughang piliang nan ganteng
mentawaikampar
tu kojo deyen du cu sutan!!
mksud den nak mancai apo kosuik minangkabau!!
kini den lah mendapekkannyo.. sory ye cu sutan cagho picik den pakai tek..wkwkwkwk untuk manggoli-golikan bacoan ajo…
lah du ye… kini fb di bukale pelanta urang minang!!
banyak ilmu disitu aso dek denleh!!
hahaha…
mohon maaf lhir batin cu sutan.. pak wid.. cuden.. n everybody wkwkwkwk
assalammualaikum
Balas
27 Juli 2011 at 12:24 am
saudara ku Robby,,,,,kami sangat menghargai etnis anda di Riau.tolong di jg.
Tulisan anda tidak memperlihatkan kenetralan anda,kesimpulan anda sangat tidak logis,,,,
Tolong,,,, jgn cerca kami,,,krn apa yg anda simpulkan tntg kami blm tnt bnr.
27 Juli 2011 at 4:21 am
Saudara Awang, jika anda ingin saya tidak berkesimpulan seperti itu, mohon maaf, perbaikilah cara berpikir anda, caranya dg banyak membaca, baik dari buku maupun dari internet. Setiap komentar anda perkuat dg keterangan dan bukti ilmiah, jangan dicampur2kan antara dongeng dg kenyataan, karena itu adalah dua hal yg saling berbeda.
27 Juli 2011 at 6:39 am
cu awang,,,,,,,,,,,
comment sprt rooby di atas kayak identik dgn satu orang !
Sapo ye cu ?
27 Juli 2011 at 10:55 am
tidak robb,,,,, darah yg mengalir dlm tubuh tak bs di dustai.istilah minang kabau tdk populer di kampar.tp klau melayu populer.apabila bicara melayu ada rasa bangga di ht.
Klau soal dongeng ? Yg berdongengkn dari daerah tmpt tinggal mu dgn tambo2nyo dan cerita dulu dan dgn penelitian2 yg blm ada benarnya.
Skrg saya tanya sm anda,, apa itu pengertian minangkabau dan dr mn kt2 kabau(kerbau) muncul ?
Klau anda tak tau jwbnnya,sila anda tanya sm org minang tu,,,
L syams@ yo juo ye cu,,,tulisan2nyo itu2 ajo.tontang budayo nyo yg tinggi,tontang moghondakan kito.jgn2 ughang soghang namonyo bnyk,,, mgkn mas wit gak cu atau tok sutan gak ye ?
27 Juli 2011 at 11:16 am
Tacokuk deyen dek ado nan mamanggio namo deyen..Ado apo tu sanak?
Sorry lu,,Deyen cuma pakai ciek namo je nyeh..
27 Juli 2011 at 12:04 pm
cu Awang……
Poi acara pembukaan PEKAN BUDAYA KAMPAR 20 JULI 2011 di Bangkinang,potang cu ?
Ghamai tie acara du cu !
Ado kafilah undangan daghi kabupaten tetangga di Riau sprt kab.pelalawan,kab.kuantan singingi,kab.indragiri hulu,kab.bengkalis di samping kafilah daghi 12 kec sekabupaten kampar.
Sodap nengoknyo,,,,,,,,,sarat dan kontal nuanso MELAYU-NYA
Apo le nengok bujang kampar dan Dara kampar, hemmmmmm,,,,,,, lawonyo,,,
27 Juli 2011 at 12:35 pm
l syams@dak sompat poi potang de ngah, omak sakik jd nogun je di umah.
Awak ola nengok di RTY, mmg mantap tie !
Semoga dgn acara ko ye ngah,bisa membangkitkan minat generasi muda kampar akan kbsrn budayonyo.
Kampar mmg kayo dgn adat dan budayo ye ngah ?
Ini juga untuk mndukung visi RIAU 2020,sebagai pusat budaya melayu di asia tenggara.
Semoga ALLAH meridhoi sgl niat kito,
Amin . . . .
27 Juli 2011 at 12:41 pm
aku kasih tau kalian semua…
si awang maulanan azzam ini sebenarnya anak dusun yang baru punya warnet hasil jual kebun didusunnya yang primitif itu.
jadi cuma isenglah dia itu..
27 Juli 2011 at 1:02 pm
memang yang disampaikan saudara robby itu SALAH BESAR
karena sebenarnya si awang maulana ini LEBIH BODOH dan LEBIH TIDAK BERETIKA seperti yang saudara robby kira…
27 Juli 2011 at 1:48 pm
sutan@tacokuk apo makna du sutan ? Dlm bhs ocu dak ado de
Mamanggio, tu dak bhs ocu de mmanggil baghu pas.
Satu le,kato nyeh dak pakai H do.
Tp dak apo de,namo juo ughang belajou ye !
Malay@dr pd jual hrg dr di rantau orang,sbgai penjilat,lbh baik jual kbn tak berdosa lg..
Ni tidak jual2 nama atas nm malay,eee ternyata orang minang yg buat nama smrn malay.
Minang18@utak kau lodah,,,,,bnyk juo le ughang minang macam kau ko le.
Kami tontu kau bnyk namo samaran di blog ko.
Menjwb pertanyaan di atas ajo kalian tak bs ?
Heran nengok budak minang soghang ko !
27 Juli 2011 at 2:12 pm
Awang@: Pertanyaan nan mano cu?
28 Juli 2011 at 10:05 am
ah dasar emang BODOH lu wang…
gua tanya sekali lagi ya wang….. JAWAB YANG BENAR wang…..
siapa yang pertama kali menghina di blog ini….??????
27 Juli 2011 at 1:56 pm
brhentilah klian minang nulis di blog ini .klian kek bangsa israel keras kpala
27 Juli 2011 at 2:10 pm
Waden urang Minang manga ang larang den manulih disiko?! Apo lo hak ang??Jan ang samo-samoan lo kami jo Israel..Yo la maleset utak ang mah?!
28 Juli 2011 at 4:13 pm
budi!! apo hak ang yuong? jole… blog inyo goma!!
io tio utak ambai2 angko…………
27 Juli 2011 at 5:55 pm
di atas ada yg blng ocu mngikuti gris kturnan si ompu!! itu adlh orng domo n melayu… dsini mulai buat saya bingung!! ompu itukan tuan rumah(ayah) sudh mlnceng dri informasi2 yg say cri.. berarti mnurut saya domo n melayu ini bukanlah orng ocu!!
27 Juli 2011 at 9:09 pm
rudien,,,,, silakan anda lbh bnyk lg bertanya dan belajar tntg adat kita di kampar.
Sbtn ocu pd hakikatnya hanya pnggln kesayangan anak bungsu di kampar.dan skrg penggunaan kata ocu udah menjadi khas kampar.krn setiap lelaki di kampar blh di pnggl ocu.
sbtlnya tak ada istilah orang ocu atau pun suku ocu,,krn ocu adalah nm panggilan sm sprt uo,ulong,ongah,udo dll.
Scr etnis kita adalah orang melayu atau suku melayu.
ar tntg adat kita di kampar.
Sbtn ocu pd hakikatnya hanya pnggln kesayangan anak bungsu di kampar.dan skrg penggunaan kata ocu udah menjadi khas kampar.krn setiap lelaki di kampar blh di pnggl ocu.
sbtlnya tak ada istilah orang ocu atau pun suku ocu,,krn ocu adalah nm panggilan sm sprt uo,ulong,ongah,udo dll.
Scr etnis kita adalah orang melayu atau suku melayu.
28 Juli 2011 at 8:03 am
Datuk Bendara Muda@:
Ada yang menarik dari pernyataan anda dan membuat orang jadi bingung, “Scr etnis kita adalah orang melayu atau suku melayu”.
1. Anda bilang “Scr etnis kita adalah orang melayu”, ini masih bisa dibenarkan kalau kita ambil definisi melayu merupakan orang nusantara yang beragama Islam. Di Malaysia, definisi melayu ini yang dipakai, jadi orang Kampar, Minang, Jawa, Bugis, Boyan semuanya dipanggil orang Melayu.
2. Tapi pernyataan anda selanjutnya “atau suku melayu”. Nah, di sini anda sebutkan “suku”. Menurut saya, etnis dan suku definisi hampir sama tapi di suatu keadaan bisa memuat arti yang berbeda. Di Semenanjung malaysia, secara garis besar ada 3 etnis: Melayu, Cina, dan India. Masing2 etnis punya pecahan, dan pecahan ini mungkin yang lebih dekat dengan definisi suku, seperti: Melayu (yang di Malaysia) ada suku jawa, bugis, boyan, dll.
Kalau anda bilang orang Ocu itu “suku Melayu”, pasti mereka bertanya kembali, di Kampar ada macam2 suku: domo, pitopang, piliang, caniago, dll. Apakah suku2 ini adalah pecahan dari suku Malayu/Melayu? Ini diperlukan penelitian.
Kalau kami, di alam Minangkabau, punya dua versi mengenai Malayu/Melayu (habis ini saya tulis Malayu saja). Versi pertama adalah Malayu merupakan induk dari suku2 yang ada di alam Minangkabau (Caniago, Piliang, Bodi, Koto, Andomo, dll) sesuai yang ditulis oleh komentator “Rajo Malayu Minangkabau”, bisa dilihat di komentar2 sebelumnya. Versi kedua adalah Melayu posisinya sama dengan suku2 lain yang ada di alam Minangkabau.
28 Juli 2011 at 10:17 am
sutan,,,, seluruh nusantara scr bangsa adalah etnis melayu sdgkn suku melayu adalah puak yg memakai adat,budaya dan bahasa melayu dgn dialek melayu yg berbeda tiap daerah.dan mengakui kemelayuan hngga hr ini.
defenisi melayu di malaysia berbeda dgn indonesia,klau di indo defenisi melayu adala suku,sprt halnya yg saya tulis di atas.
Nah,,,, sdgkn di kampar,melayu itu etnis atau pun suku.
internasional, kampar adalah etnis melayu
negara RI, kampar adalahi melayu riau.
riau, kampar adalah melayu kampar.
nah di kampar sendiri suku asli adalah domo,, atau melayu Domo.
Arti suku dlm bhs melayu adalah separuh atau sebagian. Jd suku2 di kampar sama sprt marga di tapanuli.
Klau kami di tanah melayu,melayu itu adalah suku.bagai mn bs orang jawa,minang,batak kami blg suku melayu sdgkn adat dan budayanya beda dgn melayu.
28 Juli 2011 at 11:02 am
Datuk: Ok, jadi begitu penjelasannya, terima kasih.
Ada pertanyaan yang lain buat anda, dalam hal ini saya merujuk definisi Melayu dari tanah melayu seperti yang anda bilang, Jadi menurut anda darimana kah kata “Melayu” itu datang?Dimanakah asal muasal orang yang disebut “Melayu”?
28 Juli 2011 at 10:29 am
jadi kalau suku minang gmn dgn suku chaniago,guci jambak dll ?
Apakah suku jambak menolak di bilang suku minang ?
Tlg jwb sutan ?
28 Juli 2011 at 11:13 am
Awang: kami dipanggil sebagai “orang Minang” bukan “suku Minang”. Karena di dalam Minang itu sendiri terdapat bermacam-macam suku: Koto, Piliang, Bodi, Caniago, Jambak, Kutianyie, Picancang, Andomo, Malayu, dll.
Minang diibaratkan sebagai satu wadah terdapatnya bermacam-macam suku di sana dimana suku2 tersebut memakai konsep budaya, adat yang sama antara satu dengan yang lainnya. Konsep ini disebut sebagai budaya/adat Minang.
28 Juli 2011 at 11:37 am
saya sendiri suku patopang…. mengakui tidak ada perbedaan adat istiadat dengan piliang minangkabau… hal ini mnarik bagi saya untuk ditelitii!! dan saya mengakui adat kami piliang dan patopang pada khususnya berbeda dengan Domo n melayu… tpi tak satupun diantaranya suku patopang dan piliang yang mengakui orang Minang!! semua bilang kami melayu.. atau kami adalah orang ocu kampar…!!
n menurut saya mungkin saja rumah adat dikampar adalah pencampuran antara adat domo/melayu dan minang!!
lihatsaja bentuknya sanak!! dan gunakan logika untuk menilainya!!
dan andai sanak tahu dikampar tidaklah sedikit orang domo n melayu!!
dan bagi saudara saya awam maulana azam:!!
bagaimana dengan bapak.
Witrianto Chaniago,cu ridho caniago jo nyo!! sukunyp caniago!!
tpi apo sobab caniago dikampar tak mengakui orang minang???
tanya kenapa?? deghen pun binguong e’ apo nan kan dijawab??
dibawah ini komentar L SYAM Domo saya copy paste!!……
“Poi acara pembukaan PEKAN BUDAYA KAMPAR 20 JULI 2011 di Bangkinang,potang cu ?
Ghamai tie acara du cu !
Ado kafilah undangan daghi kabupaten tetangga di Riau sprt kab.pelalawan,kab.kuantan singingi,kab.indragiri hulu,kab.bengkalis di samping kafilah daghi 12 kec sekabupaten kampar.
Sodap nengoknyo,,,,,,,,,sarat dan kontal nuanso MELAYU-NYA
Apo le nengok bujang kampar dan Dara kampar, hemmmmmm,,,,,,, lawonyo,,,”
itukan budaya ughang domo n melayu sanak!!
cu awang maulana azam: apo suku ocu!! lai ocu akui itu adat ughang awak dunye??????????
deyen pribadi ndak mengakui nyo dow!!
apo pendapek cu awang maulana azam.. lai satuju ocu nye.. ga’a ocu ughang domo a’nye yo??
28 Juli 2011 at 12:29 pm
Sanak Rudien, saya ambil kutipan dari komentar anda:
“saya sendiri suku patopang…. mengakui tidak ada perbedaan adat istiadat dengan piliang minangkabau… hal ini mnarik bagi saya untuk ditelitii!! dan saya mengakui adat kami piliang dan patopang pada khususnya berbeda dengan Domo n melayu… tpi tak satupun diantaranya suku patopang dan piliang yang mengakui orang Minang!! semua bilang kami melayu.. atau kami adalah orang ocu kampar…!!”
Kalo menurut saya, sesuai dengan komentar balasan saya ke Awang bahwa “Minang diibaratkan sebagai satu wadah terdapatnya bermacam-macam suku di sana dimana suku2 tersebut memakai konsep budaya, adat yang sama antara satu dengan yang lainnya. Konsep ini disebut sebagai budaya/adat Minang.”, maka piliang/pitopang di Sumatera Barat sama denga piliang/pitopang di Kampar. Yang hanya berbeda adalah satu di Kampar dan satu lagi di SUMBAR..Perbedaan provinsi tidak selalu identik dengan perbedaan budaya. Ini perlu digaris bawahi sehingga generasi muda yang lahir ketika provinsi RIAU dan SUMBAR telah terbentuk tidak lupa dengan sejarah budayanya.
Itu san manuruik deyen, no offense.
28 Juli 2011 at 1:07 pm
io cu deghen sapandapek jo ocu!!
kaci ndak ocu buek blogerko den mungkin ndak juo mengenal budayo den sughang dow…
marih wak samo2 mempererat uhkwah islamiya!!
mo’o ye cu mungkin ado kato2 den nan salah, kasau ga”a nyo…tasingguong ocu e’ dek kato2 den buek du. den minta mo’o ye cu!!
28 Juli 2011 at 1:11 pm
Samo2 cu Rudien, Mohon maaf lahir dan bathin,,nta le urang nak ka puaso…
28 Juli 2011 at 4:29 pm
hahaha…condoko kan…nyaleo wak jadi e’
mola……….wkwkwkwkwk
28 Juli 2011 at 11:46 am
ombak pangkalan!!
ughang domo ang ga’nye yo..
kci ndak wa’ang tio ughang paliong bongak aso dek den!!
28 Juli 2011 at 4:35 pm
ha lolok bagowong kuciong tuo wak lu ye nang!!
la ngantuon ha!! wkwkwk
kci la sonjo ai jogon den mo’nang!!
28 Juli 2011 at 6:32 pm
hahahahahaha,,,,, suku minang,jawa,bugis,banjar,melayu terdaftar dlm negara RI sutan,penyebutan minang adalah suku di negara ini.
Sbtlnya dulu kampar ada dr pd minangkabau.
Cu rudien@iyo cu domo suku, DAN !
PEKAN BUDAYO KAMPAR tu tompek menampilkan budayo yg ado di 12 kec, sekampar,
Tu ajangnyo,,dak poi situ potang cu ?
Apo pulo dak di akui le cu !
Potopang yg di kampar du kn dak ughang minang le cu,krn ola bapo2 generasi nyo di kampou.ola bnyk campu silangnyo ketughunannyo.
Dak bonou budayo di kampau du punyo ughang domo je,,,budayo kampou punyo awak cu.
Mmg bezo potopang kampar dan pitopang minang krn mrk mmakai budayo yg bbezo.
28 Juli 2011 at 11:16 pm
paralu di ingek !
SECARA BUDAYA DAN ADAT KAMPAR ITU MELAYU MINANG ,
TETAPI SECARA ADMINISTRASI KAMPAR ITU MELAYU RIAU .
Intinya secara adat , kampar adalah urang minang yang masuk ke dalam administrasi atau wilayah riau .
MINANG JUGA MELAYU ! karna kerajaan kami MELAYU ( PAGARUYUNG) .
Yg dimaksud melayu riau sesungguhnya atau sebenarnya adalah KEPULAUAN RIAU (melayu kepulauan)
Kampar,kuantan ,rohul,kerinci , termasuk secara adatbudaya minang dalam wilayah minang (Melayu minang/)
29 Juli 2011 at 12:06 am
rudien#apo bongak lo ?
Suku den patopang Da
29 Juli 2011 at 12:24 am
hahahaha,,,,,,,mana ada istilah melayu minang dlm republik ini.
Yg ada istilah MINANGKABAU.
Minang adalah suku dr pd bangsa indo.
Minang tu bukan melayu jd tak cocok di bwh nm melayu minang,krn adat minang tdk sm dgn adat melayu.
Gmn mgkn org kampar mengakui minang secara budaya kami lbh dekat dgn melayu pesisir.
masyarakat kampar dari zaman dulu sampai sekarang tidak mengakui minang krn budaya kampar berawal dari minanga dan bukan minangKABAU,,FAHAM,,,,,
SATU LAGI JGN BAWA2 MELAYU DALAM KATA MELAYU MINANG,
KARNA MINANG TU BKN SUKU MELAYU
29 Juli 2011 at 8:11 am
Oi, kau balas dulu komentar aku baru kau cuap!
Apa definisi melayu bagi mansyarakat Riau?Darimana datangnya orang Melayu versi Riau??
Halah, Datuk Bendahara, Datuk Bendahara Muda samo je pusuong nyo..Ntu la iyow,,inyo du ciek uwang nyeh!
29 Juli 2011 at 12:29 am
suku awak melayu tuk bosou,ado yg sasuku dgn awak siko ?
29 Juli 2011 at 12:55 am
yg herannyo wak tuok,,,daghi mano datangnyo kato2 kabau(kerbau) tu tuok. Apo ssdh adu kobou ? Itu yg hrs di tanyokn,,,,,,
Minang ko iyo dak suku melayu do tuok,awak dukuong pndpk datuk du,,,
Dak malu gak de mmbawo2 melayu olah jole adat babezo
Ughang Kampar du ye tuok dak mau di sobuik minang de kono kampau du mmg dak minangkabau do,,
Watak ughang minang dgn melayu jauh babedo tuok
29 Juli 2011 at 8:13 am
Apo wataknyo nan bedo?
29 Juli 2011 at 8:15 am
Ciek babezo, ciek babedo..nan ma baso Kampar nyo ko? pandai mangkritik urang ang, tapi ang je ndak konsisten do..
29 Juli 2011 at 2:26 am
yg herannyo wak tuok,,,daghi mano datangnyo kato2 kabau(kerbau) tu tuok. Apo ssdh adu kobou ? Itu yg hrs di tanyokn,,,,,,
Minang ko iyo dak suku melayu do tuok,awak dukuong pndpk datuk du,,,
Dak malu gak de mmbawo2 melayu olah jole adat babezo
Ughang Kampar du ye tuok dak mau di sobuik minang de kono kampau du mmg dak minangkabau do,,
Watak ughang minang dgn ughang kampar jauh babedo tuok.
rajo minangkabau#anda tau apo arti RIAU ?
RIAU berasal dari RIO, bahasa portugis yg berart sungaii.kata2 RIO berobah menjd Riau krn oleh lidah masyarakat melayu yg mendiami wilayah yg skrg menjd prov riau, (cara penyebutan Rio)
kata2 rio mereka namai swkt mrk mau menjjh negeri ini.krn di tanah melayu riau ini banyak sungai,rata2 nm daerah di riau di namai dg nm sungai tersebut.
29 Juli 2011 at 3:37 am
cam ne pulak minang tu melayu.
sementara tidak mengamalkan adat melayu.
Minang tetap minang
Melayu tetap melayu.
Usah tulis melayu minang karena dua kate tu amat menggelikan hati.
Nape tamiang,deli,langkat,kampar/riau raya,jambi,palembang,babelbengkulu,pontianak di katekan suku melayu ?
knp minang tak tesebot ?
Jwbnnye jelas,,, krn minang bukan pemakai adat dan budaye melayu
29 Juli 2011 at 8:17 am
Buyuang Melayu, tanyo duo: apo definisi Melayu versi rang Melayu Riau?Ciek lai, darima asa muasa urang Melayu Riau?
29 Juli 2011 at 4:15 am
minangkabau,,,
Kami di kampar punya lembaga adat namanya LAMK RIAU (LEMBAGA ADAT MELAYU KAMPAR RIAU.
29 Juli 2011 at 4:28 am
minang indak malayu gai do,la jaleh indak samo.
urang minang tu etos karajonyo tinggi,urang malayu pamaleh.
sia yg ngaku2 malayu,klau urang minang asli indak nio di sabuik malayu,
pandai2 se paja ko mah
29 Juli 2011 at 8:19 am
Ente keqnya mo adu domba ya??Keliatan dari Lsyams.com
29 Juli 2011 at 4:32 am
eeeeeeeeeeeee cirik barandang eee, apo kato ang ko.
cemeeh ughang je kojo ang !
29 Juli 2011 at 8:01 am
manga berang ang lancik ?
kan bana minang ko nagari rancak da indak samo jo nagari malayu nan bnyk sungai dan lawiuk.
Nan manyabuik urang minang tu urang malayu tu urang gilo namonyo,den indak mandukuang ketek ala e pandapek tu.sabana e indak lai urang awak nan manyabuik inyo urang malayu.
pandapek paja2 nan di ateh nan manulih minang tu malayu banyak ota se nyo…
Malayu pamaleh,wkwkwkwkwkw
Ciek lai kampar tu indak minang gai do.
Kampar juo pamaleh..
29 Juli 2011 at 8:22 am
Kalo ga da komen yg berbobot mending diam aja..Satu lagi, ntah siapalah anda, kalau gentle, bikin nama asli anda,,yg jujur dong,,jangan adu domba..
29 Juli 2011 at 8:05 am
sungguh sangat dangkal ilmu anda ! Makanya anda pelajari sejarah , anda tau kerajaan damasraya , pagaruyung ,dan kerajaan minang lainnya itu adalah kerajaan melayu , kalian pikir melayu itu hanya di riau saja, salah besar anda . Kebudayaan melayu minangkabau kami lebih tinggi dari pada melayu kalian . Dan kami pun tak ingin menyama2kan melayu kami dgn melayu kalian . Karna kebudayaan minangkabau lebih lebih tinggi dan lebih tua dari melayu kalian . Dan perlu anda ketahui bahwa kata ‘minangkabau’ bukan menang kerbau , ingat itu! Kata minangkabau berasal dari bahasa sangserkerta minangatamvan atau minangakabwa artinya pertemuan 2 buah sungai kembar (kampar kiri dan kanan yg berhulu di sungai dekat 50 kota sumbar).
anda mengatakan budaya kampar berbeza dgn sumbar ,beda dari mananya ! Memang buta mata hati anda , kampar itu sama dgn sumbar(minang) , secara budaya , adat , persukuan ,bahasa sangat jelas sama dgn minangkabau .
29 Juli 2011 at 8:31 am
Rajo Malayu Minangkabau: Sanak, ambo jujur ndak tau nan kito lawan bakomen ko untuak babarapo urang tertentu ntah lai lulus SD ntah ndak..hehehe..
Ciek lai,,hati-hati sanak..Inyo pakai caro adu domba..Caliek se nan namonyo si Awang, Lsyams, Rang Minang, budi, jo beberapa nan lainnyo dari ciek domain: Lsyams..Sajauh mato mamandang umumnyo mereka ko anti jo Minang, tapi si rang Minang, nan dari Lsyams ko, maagieh komen pro minang dan manghino kampar..
Kito yo ndak tantu nan bana do kan,,karano iko media tulis,,ndak sobok jo roman paja2 tu do..hehehe
29 Juli 2011 at 10:23 pm
Ridho Caniago Sutan Palimo Bandaro :kayakknyo iiiyo tu mahh sanakk , pokoknyo penelitian alah manjalehan bahwasanyo kampar itu adalah ber etnis minangkabau!!
30 Juli 2011 at 3:45 pm
Iyo rajo, penelitian mangecekan co itu juo. Kalau urang nan kito lawan mangecek ko tau apo tu definisi penelitian, baa penelitian nan dilakukan mungkin mereka picayo..Tapi mungkin sanak2 nan dari Kampar ko alun tabaun tunjuak nyo ka sinan lai..
29 Juli 2011 at 8:22 am
elok2 cakap kwn,,,,,
Jen nyobuik ughang pamale !
Apo yg wang bangga dgn minang du ?
Bisuok wang dan minang du bungkang juonyo,hargai ughang ngapo ?
Kolian ughang ghaso dek dan dak punyo malu dan bongak,budayo minang olun tontu ujuong pangkalnyo,budayo ughang pulo yg kolian urus.bocominlah kek peghuok.
Yg satu tukang klaim budayo ughang
Yg soghang le tukang mnghino.
Tontu dek wang kobau ? Ghayo aji dan potong kobau kolian du.
Timo jelah dek wang azab tuhan suok.
elok bonau molah,kami di kampau ndoh nak dokek2 dgn minang do.
Dan hoban ang ge le !
29 Juli 2011 at 8:25 am
Ah,,sesama domain Lsyams.com lagi berbuat sandiwara..Agio taruih,,lampang se kapalo si rang Minang tu,,aden dukung waang..Ok..!
29 Juli 2011 at 8:45 am
babezo dan babedo duo2 bhs kampar,terserah anda mau pakai yg mano.
Sm sprt yg di tuturkn di pelalawan,
Klau org melayu pesisir,bengkalis,kuala kampar,rengat,tembilahan,rohil yakni bebezo,
key,,,, cik sutan, faham
29 Juli 2011 at 8:47 am
jgn berburuk sangka,karna orang berburuk sangka adalah kwn syaitan
29 Juli 2011 at 9:03 am
Satu lagi orang yang mengadu domba itu kawan syaitan juga..ya ga brur??
29 Juli 2011 at 9:33 am
udah lumayan sadar lu wang…..
29 Juli 2011 at 10:00 am
tak jugalah,,,,
Yg ngadu domba tu juga kawan minang,,
29 Juli 2011 at 10:07 am
Ya ya ya..who knows?Orang bisa saja tipu2 dengan mengatas namakan Minang..
29 Juli 2011 at 10:41 pm
silahkan anda kunjungi halaman ini jika anda (ocu) tidak percaya bahwa orang jamee masih merupakan orang minang , tidak macam anda yang tidak mengenal asal usul !!
klik –>> http://www.atjehcyber.tk/2011/07/menyusuri-jejak-suku-aneuk-jamee.html
30 Juli 2011 at 2:23 am
duh muntah wak nenggok oghang minang 1 ko pakai golou ghajo melayu sgalo
Dak sadou gak de minang tu bkn suku melayu.
Kolian ko mmg tmsk sub bangsa melayu di asia tp tdk tmsk suku melayu,krn minang bukan memakai adat dn budaya suku melayu itu sndr.kolian pnyo suku dan adat sendighi.
Sadoulah klau di malaysia bs kolian mcm tu,krn mmg minang di malaysia tu adatnyo dah bocampu dgn adat melayu.wjr di malaysia versi melayu mcm tu.orang jawa,bugis mrk di bilang melayu krn di samping mrk mmkai adat sendighi mrk jugo menerapkan adat melayu.klau di indo, pemakai budaya melayu itu hnya di,,,, ku tulis satu2 biar kau faham
TAMIANG,DELI(sumatra timur umumnya),RIAU,KEPRI,JAMBI,PALEMBANG,BABEL,BENGKULU,PONTIANAK(KALBAR)
Mrk di nmkn orang melayu,krn mrk memakai adat dan budaya melayu,budaya mrk sama sprt orang melayu malaysia asli(bkn imigran dr indo)
Minang,minang,,,,,,
Suku2 di sumatra
Aceh dgn sub sukunya keculi TAMIANG
minangkabau(SUMBER)
MENTAWAI((SUMBAR)
Melayu(daerah yg di tulis diatas)
BATAK(TAPANULI,SUMUT)
NIAS(sumut)
Lampung.
Punyo malu nye khan ?
30 Juli 2011 at 3:49 pm
Waang bantuaknyo ndak punyo malu jo utak wang, a nan ang tau baru satinggi batang toge lah sotoy lo ang..Ndak abis pikie den caliek angku jo konco2 angku nan lainnyo..Sadar woy!!
30 Juli 2011 at 2:43 am
krn kami mengenal asal usul makanya kami sanggah pendapat anda yg slh itu.
Bnyk orang kabau yg ku jumpai, mrk menolak di katakan etnis melayu.
Dikau soghang je yg yg hrp ke melayu,,,jgn2 dah jatuh cinta agakny ke melayu ye !
Jgn lupo ranah,sawah,tampek mandi da ,,,,,
30 Juli 2011 at 3:25 am
KAMPAR –> ASAM PEDAS
MINANGKABAU –>RENDANG
KAMPAR —> HIKAYAT SI LANCANG.
MINANGKABAU—> MALIN KUNDANG.
KAMPAR –> NGAPO SITU !
MINANGKABAU –> MANGA SINAN.
RENDANG, NO !
ASAM PEDAS, YES !
MELAYU , ELOK BUDI !
MINANGKABAU, ELOK AKAL !
TANAH MELAYU RIAU, OKE . . .
RANAH MINANGKABAU, SEDIKIT OKE . . .
ORANG MINANGKABAU SUKA PELIHARA ANJING.
ORANG MELAYU RIAU TIDAK MAU DAN TIDAK SUKA PELIHARA ANJING.
ANJING BINATANG YG DI HARAMKAN OLEH ISLAM HAL KEADAAN ABSOLUTH.
KALAU TAK PERCAYA ORANG MINANG SUKA PELIHARA ANJING COBA CHECK AJA KE RANAH MINANG DAN KE ORANG MINANG YG ADA DI TANAH MELAYU RIAU INI. DAN DAERAH LAIN.
INI FAKTA !
30 Juli 2011 at 3:53 pm
Ya ya ya Fakta..hehehehe..cool dude!
30 Juli 2011 at 9:58 am
yo bana bodoh waang ko nampaknyo , samo watak waang jo urang malaysia . Tak sadarkah anda , atau anda ini tdk tamat SD , disini sudah saya jelaskan , melayu dikau tu melayu baru , jan meraso sombong pula . Anda taukan , adat besandi syarak , syarak besandi kitabbullah itu berasal dari kami orang minang . Malulah anda menghina minang , krna raja2 anda bertuan kepada pagaruyung(kerajaan melayu) . Agaknya anda ini tdk tamat SD , karna ilmu anda macam orang tak pernah sekolah , pelajari sejarah atau buka internet , bahwa minang itu adalah melayu . Dan kampar itu termasuk ke dalam melayu minang , jika tdk percaya cari di internet(wikipedia) . Hmm satu lagi orang minang yg mengatakan bahwa dia bukan melayu minang adalah orang yg buta sejarah , sama halnya dgn orang minang kampar yg tdk mengakui bahwa mereka adalah melayu minang .
31 Juli 2011 at 3:22 pm
setuju sanak…
tetapi… mari kita tinggalkan blog ini, kita diskusi di blog lain saja untuk kejayaan Negeri MINANG dan kita ajarkan ke anak cucu dan seluruh sanak saudara kita tentang kejayaan MINANGKABAU.
Fakta sejarah sudah banyak buktinya, kini tinggal kita yang akan mengukir sejarah untuk anak cucu kita nanti. kita lanjutkan perjuangan pendahulu kita, kita contoh sifat mereka yang ISLAMI.
Bangsa MINANG adalah bangsa BESAR, yang sumbangsihnya buat negeri ini sangat banyak
percuma kita berdiskusi dengan mereka yang benci MINANG, karena kebencian mereka memang sudah membatu, jika mereka membenci pastilah karena IRI…
fakta ini memang sudah sangat umum bagi orang riau pribumi.
kita sebagai orang MINANG rasanya tak perlu mempermasalahkan hal tersebut, percuma…..
apalagi dengan tingkat intelektual yang berbeda, kedewasaan yang berbeda, ilmu yang berbeda, pola pikir yang berbeda, pengalaman yang berbeda dan wawasan yang berbeda pula.
karena apapun hasil penelitiannya, mereka tidak akan percaya…
bagaimanapun ahli sejarah membuktikannya, mereka tidak akan percaya…
siapapun yang mengatakannya, walau datuk mereka sendiri, mereka tidak akan percaya…sejuta bukti pun tidak akan merubahnya, mereka tidak akan percaya….
kecuali mereka yang beriman dan berpendidikan….
mari menjelang RAMADHAN ini kita maafkan mereka atas ketidaktahuan mereka, atas kebodohan mereka, atas kekerasan sifat mereka, atas ilmu mereka yang dangkal, atas sikap mereka yang tidak menghargai ilmu pengetahuan,atas logika mereka yang sedikit, atas pengalaman mereka yang kurang, atas wawasan meraka yang sempiiit, atas sifat mereka yang suka menghina namun menuduh orang lain yang menghina.
maaf kalau tersinggung, ini kesimpulan dari postingan nomor 1 sampai no 265.
yang penting buat kita orang MINANG dan perantau MINANGkhususnya adalah membangun SDM RANAH MINANG yang ISLAMI
dari kampuang halaman RANAH MINANG kita ciptakan sejuta IMAM BONJOL, Sejuta BUNG HATTA,Sejuta BUYA HAMKA, sejuta SUTAN SYAHRIR, sejuta AGUS SALIM, sejuta M.YAMIN, sejuta M.NATSIR… (maaf masih banyak yang kurang..)
kepada seluruh yang berpartisipasi dalam blog ini saya mengucapakan MARHABBAN YA RAMADHAN, MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN
30 Juli 2011 at 10:31 am
sambungan -> bahwa mereka(kampar) adalah orang minang(melayu minang)
30 Juli 2011 at 10:37 am
hahahaha,,, pemakaian kata melayu itu berasal dari palembang(sriwijaya)
Bukan ranah kabau,,,
Kau prcy dgn internet,internet tu bnyk bohongnya di samping bnyk jg betulnya.buktinya kampar,klau minangkerbau,mngp dr ms silam(masa sumbagteng) smpai hr ini tdk mrs minang(riau) ? Jwbnnya dikau rajo minangkabau psti tau !
Oke,,, mnrt dikau kt melayu berasal dr ranah kabau tp mngp istilah melayu tdk populer di sn ?
Orang minang,jawa,bugis,batak di malaysia mrk di klompokn kdl melayu krn mrk jg mmakai budaya melayu,berpakaian melayu,bhs melayu,sprt yg di pakai di daerah yg tlh saya tulis di atas.
Usah bnyk cakap gi,dr pd bnyk liat internet lbh baik dikau lngsng ke TKP,bnrkah apa yg dikau bc di internet slm ini.
Minang itu kerbau ?klau tak percy lihat dan tnggok symbol2 kerbau yg mrk abadikan,cntoh,, pakaian adat di atas kepala perempuan dan arsitek rumah adat mrk,,,
30 Juli 2011 at 3:57 pm
Jadi pemakaian kata melayu dari sriwijaya??Wang, Dulu ada kerj. Malayu dan ada kerj. Sriwijaya, mereka beda. Tapi suatu saat mereka dikuasai oleh Sriwijaya….Tahukah dimanakah Kerj. Malayu itu berada? di hulu sungai batang hari.
30 Juli 2011 at 10:46 am
kampar adalah tanah melayu riau,bkn minang yg sngat km benci.
Ingat ! Km orang melayu kampar sngt benci dgn kalian itu di sbbkn krn sifat2 kalian iti,
Orang melayu di riau identik dgn kehdpn di sungai dan laut,sdgkn minang identik dgn ranah dan gunung.
Minang tidak di katogorikn dgn suku melayu.
25 Agustus 2011 at 10:45 pm
Benar-benar tolol kau Awang…! kata malay itu sendiri artinya gunung.. artinya orang yang berasal dari gunung.
Ketololan yang beginilah membuat melayu itu makin jelek saja. Di Malaysia melayu mengklaim budaya sunda (angklung). Kelakukan melayu ini sama saja, di Riau mereka memaksa turunan Minangkabau melawan kepada budaya mereka sendiri.
Tahukah kau bahwa orang Minang itu salah satu etnis yang berjasa membangun bangsa/bahasa Melayu? Orang Minang adalah pendukung utama budaya melayu, mereka terima disebut melayu dan mereka juga punya identitas sendiri yang khas.
Belajarlah rajin Awang, jangan kebencian kamu membuat kamu berlaku tidak adil. OK.?
Saya heran sama orang ocu, mereka benci sama orang minang, padahal adat dan budaya mereka sama, karena beda propinsi tiba-tiba menolak mengaku orang minang. Namun yang benci atau menolak disebut orang minang pasti segelintir saja, karena ada konflik kepentingan atau tekanan melayu riau yang kuat dan dominan.
Sekarang saja Riau kepri tidak mau lagi bergabung ke Riau.. Kenapa? Jawab sendirilah.
Saya sarankan, buat saudara saya yang masih matriliniel namun tidak mau mengaku, lebih baik ANDA BIKIN PROPINSI SENDIRI dari pada anda masuk ke RIAU,anda tidak dipandang mereka sebagai bagian dari mereka. Namun, kami etnis Minangkabau, memandang orang ocu adalah bagian dari saudara kami. Percayalah…
30 Juli 2011 at 11:09 am
PELIHARA ANJING APAKAH ABS SBK ?
MINANGKABAU HARAP KE MELAYU,KARNA TANAH MELAYU MEMANG KAYA SDA.
KALAU MANUSIA KAYA TENTU BANYAK ORANG YG MAU BERSAUDARA DGN KITA.
PEMBANGUNAN RIAU MAJU PESAT
SUMBAR JAUH TERTINGGAL.
MINANG DI MANA2 TIDAK MAU BERBAHASA INDONESIA
MELAYU BISA,,,,
MINANG TERKENAL DENGAN TAIK YG DI RENDANG
MELAYU TERKENAL DENGAN GULAI LOMAKNYA
MINANG TERKENAL DGN PELIT,PERHITUNGAN,MENGAIT,CERDIK KANCIL,IRI,SOMBONG,KLAIM,ANTEK
MELAYU BERBUDI BAHASA,RAMAH,MENERIMAH PENDATANG,MEMULIAHKAN TAMU,SANTUN
MINANG RUMAH ADAT RUMAH GADANG
MELAYU RIAU RUMAH ADAT RUMAH LANCANG/LENTIK,RUMAH ATAP LIMAS,SELASO JATUH KEMBAR.
30 Juli 2011 at 4:06 pm
Emg pikiran anda sempit..Apa definisi kaya bagi kamu? Ooo pamer daerahmu banyak minyak?banyak pembalakan liar? tapi ada tidak kamu merasakan langsung duit hasil minyak untuk keperluan pribadi mu??
Kami walaupun ga punya itu tapi kami bisa mendapatkan duit dari SDA kamu..Tau ga insinyur2 di Chevron Riau itu dari Jawa, Minang, Sunda? Gaji awal mereka rata-rata 12 juta rupiah ke atas (yg core business). Walaupun kampung mereka ga punya Minyak tapi mereka makmur karena minyak daerah kamu..Dan mereka tidak perlu harus bersaudara dengan kamu agar bisa bekerja di Riau sana!
30 Juli 2011 at 11:25 am
YO BANA ? BENAR
Minang BANA
MELAYU RIAU DARATAN=BONOU
MELAYU RIAU PESISIR,BENGKALIS=BENOU
30 Juli 2011 at 1:24 pm
miNANGkamBING ada nggAK ?
Hi,hi,hi,hi,,,,,
Maaf mas2,bercanda kuq !
30 Juli 2011 at 4:04 pm
Anak Riau adalah orang terbodoh dan paling idiot yg ikut2an berkomentar di sini, lebih baik anda betulkan dulu popok anda, jangan sampai cirik taserak2 dimana2. Blog ini khusus untuk orang dewasa, anak kecil apalagi bayi dilarang ikut.
30 Juli 2011 at 4:10 pm
Saya yakin nenek moyang orang Ocu dulu pasti punya dosa yg sangat besar, sehingga mereka dikutuk punya anak cucu yg bodoh dan idiot dan menjadi etnis yg paling bodoh di Nusantara, meskipun hidup di negeri yg kaya raya, tapi yg menikmatinya orang lain, mereka sendiri tetap hidup dalam kemelaratan. Peribahasa yg cocok buat mereka adalah ” itik mati kehausan dalam kolam, ayam mati kelaparan dalam lumbung”.
Anehnya meski hidup dalam kebodohan dan menjadi etnis yg paling terbelakang di Nusantara, tetapi mereka tidak menyadarinya. Entah sampai kapan kutukan ini baru akan dicabut. Mungkin harus menunggu beberapa generasi lagi setelah SDA mereka habis sampai lahir generasi yg tahu etika dan sopan santun sehingga mereka dicabut.
30 Juli 2011 at 4:14 pm
Manuruik ambo mungkin ado pihak2 tertentu di Riau tu nan ingin kondisi masyarakat di sinan tetap bodoh supayo oknum2 tu dengan gampang mengambil keputusan yang mengutungkan pribadi mereka..
30 Juli 2011 at 8:36 pm
KENAPA MINANG SUKA PELIHARA ANJING ?
APAKAH ITU BUDAYA MINANG ?
31 Juli 2011 at 1:22 pm
jika anda(orang kampar) menghina orang minang , sama saja anda menghina etnis anda sendiri . Karna kampar adalah beretnis minang. Tak ada gunanya anda membantah karna para penelitian telah membutikan itu , bahwa kampar adalah etnis minang .mana mungkin suku sama dgn minang(chaniago, piliang, pitopang)dan matrilinial pulak tetapi tak merasa sbg minang ! Benar2 buta sejarah dikau ini !
31 Juli 2011 at 3:29 pm
MAAF DOUBLE POSTING
untuak dunsanak sadonyo……
mari kita tinggalkan blog ini, kita diskusi di blog lain saja untuk kejayaan Negeri MINANG dan kita ajarkan ke anak cucu dan seluruh sanak saudara kita tentang kejayaan MINANGKABAU.
Fakta sejarah sudah banyak buktinya, kini tinggal kita yang akan mengukir sejarah untuk anak cucu kita nanti. kita lanjutkan perjuangan pendahulu kita, kita contoh sifat mereka yang ISLAMI.
Bangsa MINANG adalah bangsa BESAR, yang sumbangsihnya buat negeri ini sangat banyak
percuma kita berdiskusi dengan mereka yang benci MINANG, karena kebencian mereka memang sudah membatu, jika mereka membenci pastilah karena IRI…
fakta ini memang sudah sangat umum bagi orang riau pribumi.
kita sebagai orang MINANG rasanya tak perlu mempermasalahkan hal tersebut, percuma…..
apalagi dengan tingkat intelektual yang berbeda, kedewasaan yang berbeda, ilmu yang berbeda, pola pikir yang berbeda, pengalaman yang berbeda dan wawasan yang berbeda pula.
karena apapun hasil penelitiannya, mereka tidak akan percaya…
bagaimanapun ahli sejarah membuktikannya, mereka tidak akan percaya…
siapapun yang mengatakannya, walau datuk mereka sendiri, mereka tidak akan percaya…sejuta bukti pun tidak akan merubahnya, mereka tidak akan percaya….
kecuali mereka yang beriman dan berpendidikan….
mari menjelang RAMADHAN ini kita maafkan mereka atas ketidaktahuan mereka, atas kebodohan mereka, atas kekerasan sifat mereka, atas ilmu mereka yang dangkal, atas sikap mereka yang tidak menghargai ilmu pengetahuan,atas logika mereka yang sedikit, atas pengalaman mereka yang kurang, atas wawasan meraka yang sempiiit, atas sifat mereka yang suka menghina namun menuduh orang lain yang menghina.
maaf kalau tersinggung, ini kesimpulan dari postingan nomor 1 sampai no 265.
yang penting buat kita orang MINANG dan perantau MINANGkhususnya adalah membangun SDM RANAH MINANG yang ISLAMI
dari kampuang halaman RANAH MINANG kita ciptakan sejuta IMAM BONJOL, Sejuta BUNG HATTA,Sejuta BUYA HAMKA, sejuta SUTAN SYAHRIR, sejuta AGUS SALIM, sejuta M.YAMIN, sejuta M.NATSIR… (maaf masih banyak yang kurang..)
kepada seluruh yang berpartisipasi dalam blog ini saya mengucapakan MARHABBAN YA RAMADHAN, MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN
1 Agustus 2011 at 6:16 am
Suai bana du sanak,
“yang penting buat kita orang MINANG dan perantau MINANGkhususnya adalah membangun SDM RANAH MINANG yang ISLAMI
dari kampuang halaman RANAH MINANG kita ciptakan sejuta IMAM BONJOL, Sejuta BUNG HATTA,Sejuta BUYA HAMKA, sejuta SUTAN SYAHRIR, sejuta AGUS SALIM, sejuta M.YAMIN, sejuta M.NATSIR… (maaf masih banyak yang kurang..) ”
Mo la rang minang mudo komitmen ntuok mambangun jiwa menjadi seorang: ulama, enterpreneur, technokrat, birokrat, dll yang dilandasi ajaran Islam dan adat Minang..
31 Juli 2011 at 5:30 pm
HAHAHAHAHAHA,,,,,,,, MANA PULA KAMPAR TU MINANG !
SUKU CHANIAGO,PILIANG TU DULU PENDATANG DARI MINANG.
KAMPAR PUNYA PENDUDUK ASLI..
BANGUNLAH MINANG TU DARI HASIL DAERAH LAIN
MINANG MEMANG TERTINGGAL DALAMPEMBANGUNAN DARI PROV2 TETANGGA.
JALAN YG SEMPIT,BNYK JURANG.
BANGUN AKHLAK YG BAIK DGN AGAMA SUPAYA MUSIBAH TAK BERULANG LAGI.
SATU LAGI
SEJUTA KERBAU ,,,,
31 Juli 2011 at 5:55 pm
KAMPAR TELAH BERTAPAK SEJAK LAMPAU
KEBUDAYAAN KAMPAR TELAH ADA SEBELUM PAGAR RUYUNG DAN ISTILAH MINANGKERBAU ADA.
DI BUKTIKAN DENGAN SEJARAH CANDI MUARA TAKUS.
KEBUDAYAAN KAMPAR LEBIH TUA UMURNYA DARI MINANGKERBAU.
MINANG BUKAN BANGSA TETAPI SUKU,BANGSA KITA INDONESIA.
MINANG YANG SANGAT KERBAU
1 Agustus 2011 at 9:57 am
Ga papa sob, hina aj terus..
Yah,,anda berasumsi kampar lebih tua karena ada candi muara takus??! Bung, kami di limo puluah koto, agam, tanah datar, rao punya menhir yang dibuat zaman megalitikum (dongson) lebih tua dari candi muara takus anda yg dibuat zaman hindu/buddha..So, jan asa mangecek je yuang! Tau ga apa itu megalitikum??Kalo ga tau search di internet!
31 Juli 2011 at 6:00 pm
KAMPAR ETNIS MELAYU
KAMPAR SUKU MELAYU
31 Juli 2011 at 8:07 pm
Anak Riau, sudah saya bilang, blog ini hanya khusus untuk orang yg sudah dewasa saja, anak kecil, apalagi bayi jangan ikut2an. Anda lebih baik ikut berkomentar dalam grup khusus untuk orang2 idiot.
31 Juli 2011 at 8:15 pm
Siapa yg peduli kalian orang Melayu atau bukan, yg jelas dan semua orang di Indonesia sudah mengetahuinya tanpa perlu dilakukan penelitian adalah bahwa kalian dan pribumi Riau lainnya adalah orang2 bodoh dan idiot sehingga mudah ditipu dan dikuasai oleh orang lain di negerinya sendiri. Nenek moyang kalian dahulu pasti punya dosa yg sangat besar, sehingga kalian sampai sekarang masih menjadi etnis yg terbodoh di Nusantara.
Saya sarankan supaya kalian semua pribumi Riau, melakukan ruwatan massal, melakukan tobat nasuha beramai2 supaya kutukan yang membuat kalian semua menjadi bodoh segera dicabut.
Mumpung sekarang bulan Ramadhan, segeralah umumkan di masjid2 dan mushalla2 yg ada di Kampar supaya semua asyarakat melakukan tobat nasuha untuk memohon kutukan yg sudah mereka terima selama ini menjadi etnis yg bodoh, idiot dan terbelakang segera dicabut.
31 Juli 2011 at 9:12 pm
SEHARUSNYA ORANG MINANG TU YG HRS TOBAT TDKKAH MATA HATI KALIAN TERBUKA DGN MUSIBAH DEMI MUSIBAH YG MELANDA RANAH KEBANGGAAN KALIAN TU,TIDAKKAH KALIAN SADAR ITU AZAB DARI ALLAH ?
INGAT BANGSA STAMUD ,,,,,,,
SEMUA ORANG PERDULI KAMI ORANG MELAYU CUMA KAU SEORANG YG TAK MAU PEDULI.
KARENA AGAMA KUATLAH MAKA KAMPAR DI JULUKI NEGERI SERAMBI MEKKAH RIAU.
KALIAN MMG KATANYA AGAMA KUAT TP PELIHARA ANJING,JUDI,PEMURTADAN,ADU AYAM DAH JD BUDAYA DI RANAH KALIAN.
TOBATLAH,,,,, SBLM ALLAH MELAKNAT KALIAN DGN KESOMBONGAN KALIAN.
YG HEBAT TU HANYA ALLAH
1 Agustus 2011 at 9:30 am
Kuat agama ya di Kampar,,tapi dari komentar anak2 kampar yg ada di blog ini umumnya Mengejek, menghina, menyumpah, dll…Itu yg dinamakan kuat agamanya di Kampar?Ok lah kalo beg begitu..
31 Juli 2011 at 9:45 pm
KAMPAR ATAU RIAUTIDAKLAH BODOH SPRT YG ADA DI OTAK ANDA.
TERBUKTINEGERI MELAYU RIAU LEBIH MAJU DARI MINANG.
KALIAN HANYA MENGHARAPKAN DANA DARI PUSAT DAN ITU PUN DANA DARI BUMI RIAU,SEHARUS KALIAN BERSUKUR KARNA DAPAT SEDEKAH DANA DARI RIAU SATU LAGU BEGITU BNYKNYA ORANG MINANG YG MENYEMAK DAN MENGGANTUNG DAPURNYA DI RIAU.
TANAH RIAU MMG KAYA DAN ITU JUGA REZKI BAGI KALIAN..
KLAU TAK MAU JUGA BERSUKUR MATI AJALAH !
1 Agustus 2011 at 9:35 am
Trima kasih kami ucapkan kepada ALLAH SWT karena dengan rizkimu yg kebetulan ada di Prov. Riau, kami bisa mencukupi kebutuhan hidup kami…Dengan rizki mu itulah kami bisa mendidik generasi muda minang di Riau untuk menjadi yg terdepan dari segi intelektual dan tentunya benafaskan Islam..
1 Agustus 2011 at 5:00 am
alah,,,,,,, witrianto jadi2an bnyk kat sini dgn kt2 PENELITIANNYA ,
Dikau pkr ku tak tau !
Dasar minang berkepala dua bertanduk dua.
1 Agustus 2011 at 5:59 am
Selamat Menunaikan ibadah puasa..mohon maaf kalau ada salah kata..Dan telah kumaafkan segala kesalahan anda yang salah kata..
1 Agustus 2011 at 3:15 pm
hohoho…. kalian semua harus kukasih mie sedap!! wkwkwkwk
3 Agustus 2011 at 10:22 am
hei, jangan asal tuduh….. saya bukan witrianto jadi2an. Saya adalah putra minang asal 50 kota, saya benci dg kalian semua orang kampar, kalian semua adalah orang2 munafik. Asal kalian tahu kampung saya di Tanjung pauh, tapi saat ini saya tinggal di tanjung pati. Saya tahu betul siapa kalian semua, jadi dg saya kalian tidak usah gadang ota.
6 Januari 2012 at 1:04 pm
Ooo ombak..Lai sehat2 sajo ombak di sinan?
3 Agustus 2011 at 10:26 am
orang riau memang tidak sebodoh yg saya kira, tapi ternyata jauh lebih bodoh dari yg dikira orang selama ini
3 Agustus 2011 at 11:22 am
minangjaya: loe ga” punya iman!! juga ga” punya ahlak!!
3 Agustus 2011 at 2:06 pm
Ayo Minang jaya, anak Riau, anak mande, dan semuanya..Mumpung puasa ni..Ayo pakai kata2 yang baik..
3 Agustus 2011 at 8:15 pm
topek du cu!!
cu Ridho malam ko ndak taraweh den dow!!
.. soalnyo gilirn deyen jago warnet cu!!hehehe
mola….!!!!
3 Agustus 2011 at 8:18 pm
terserah anda lah , mumpung skrg bulan ramdhan saya minta maf . Dan saya bersumpah bahwa saya bukan witrianto , anda jangan asal fitnah orang , pokoknya penelitian telah mengatakan bahwa kampar(kuantan , rohul , bangkinang) itu beretnis minang , bukan melayu riau . Sebentar lagi kalian jg akan tahu, krna hasil dari penelitian orang2 berilmu akan di sebarkan melalui pelajaran sejarah . Bahwa wilayah minang itu luas .
4 Agustus 2011 at 2:17 am
rajo: sia namo ang??
posting alamat email anglah!! bia den add ang!!
ko email den ha!! lian_pikolo@yahoo.com
ha posting email ang tekmuo!!
11 Agustus 2011 at 1:20 pm
Assaamulaikum WR.Wb
Saya pendatang baru di forum ini. Saya baru saja membaca dari awal diskusi/perdebatan ini sampai kiriman akhir. Dan setelah saya baca-baca akhirnya saya ingin juga menyampaikan tulisan dengan tujuan menyumbangkan sedikit pencerahan untuk semua.
Saya menilai diskusi dan perdebatan disini tidak akan habis-habisnya walau sampai hari kiamat sekalipun, karena tidak satupun dari peserta diskusi disini yang mau mengambil titik temu ,mengambil persamaan-pesamaan dan tidak ada juga yang mau mengalah atau mundur satu langkah saja agar supaya dapat maju bersama-sama kearah yang lebih baik. Padahal banyak titik temu atau persamaan yang dapat kita jadikan pegangan agar kita dapat melangkah maju bersama-sama. Diantara persamaannya adalah ; tentu kita semuanya mengakui bahwa kita adalah anak cucu Adam, kemudian kita juga mengakui bahwa kita adalah umatnya Muhammad (karena orang minang, orang Melayu dan orang Ucu sama-sama beragama islam), kemudian kita sama-sama berbangsa dan berbahasa satu yaitu bangsa dan bahasa Indonesia, kemudian keluarga kita sama-sama hidup di pulau yang sama yaitu pulau Sumatra. Hanya sedikit saja perbedaan, yaitu terletak pada tempat dan lingkungan hidup yang berbeda. Perbedaan itu hanyalah sebuah ciri-ciri , symbol atau sebuah tanda-tanda yang membedakan satu golongan dengan golongan lainnya, satu kaum dengan kaum lainnya dan satu kebiasaan dengan kebiasaan lainnya, suatu adat istiadat dengan adat istiadat yang lainnya.
Adanya perbedaan ciri-ciri , suku-suku serta perbedaan bangsa-bangsa seharusnya dijadikan untuk saling berbagi kelebihan , berbagi mamfaat dan saling bantu membantu.
Marilah kita renungkan lagi firman Allah di dalam AL qur’an surat AL hujaraat ayat 13;
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki (Adam) dan seorang perempuan (Istrinya) dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal “.
Ayat ini ditujukan kepada seluruh manusia bukan untuk orang arab saja, bukan untuk orang Israel saja tetapi juga untuk orang minang , orang melayu dan orang Ocu. Semuanya sama dihadapan Allah , semuanya akan kembali kepada Allah. Allah tidak akan menilai siapa yang terhebat ilmunya, siapa yang lebih kaya, siapa yang lebih cerdas, siapa yang berpendidikan tinggi, siapa yang berkududukan tinggi di pemerintahan atau dalam kaumnya atau siapa yang lebih tinggi silsilahnya. Tetapi Allah akan menilai siapa yang paling bertaqwa yaitu orang yang banyak beramal saleh dan berbuat kebaikan.
Makanya ayat tersebut diatas diakhiri dengan kalimat ; “inna akramakum I’ndallahi anttaqaakum (sesungguhnya yang paling mulai di sisi Allah adalah orang yang bertaqwa diantara kamu/kalian).
Dan ayat ini diperkuat lagi oleh surat An Nisaa’ ayat 1 “ … wattaquullaha allazii tasaa aluuna bihi walarhama.. (dan bertaqwalah kepada Allah yaitu orang-orang satu dengan yang lainnya terjalin hubungan kekerabatan/kesukuan/kebangsaan)”.
Orang Minang, orang Melayu dan orang Ocu dan siapa saja yang mengaku muslim maka semuanya bersaudara. Persaudaran antara sesame muslim tidak batasi oleh tempat, adat istiadat atau keturunan nenek moyangnya, tetapi dipertautkan oleh Allah berdasarkan keimanan dan ketaqwaanya . Seperti yang tercantum dalam bunyi ayat berikut;
“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat (SURAT 49. AL HUJURAAT ayat 10)”.
11 Agustus 2011 at 1:22 pm
sambungan…
Tentu kita mengetahui semua, bahwa bangsa yang ditinggikan/ dilebihkan oleh Allah diatas sekalian umat di seluruh bumi ini adalah kaum bani Israel (anak keturunan Israel). Banyak sekali Ayat di dalam AL Qur’an yang mengatakan bahwa bani Israel adalah kaum yang mendapat kelebihan dari Allah . Seperti pada surat Al Baqraah ayat 47
“Hai Bani Israel, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat”
Juga surat al baqarah ayat 122
“Hai Bani Israel, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Ku-anugerahkan kepadamu dan Aku telah melebihkan kamu atas segala umat “.
Pertanyaannya adalah kenapa Allah selalu mewanti-wanti kaum bani Israel agar selalu mengingat Karunia Allah? Tentu saja supaya mereka jangan sombong, supaya mereka sadar bahwa kelebihan itu adalah atas rahmat Allah supaya mereka bersyukur dan berbagi kelebihan (kecerdasannya/kepintarannya) kepada umat-umat lainnya. Tetapi sayang sekali, kebanyakan kaum bani israel ini bukannya bersyukur dan berbuat kebaikan, tetapi sebaliknya mereka menjadi sombong dan banyak berbuat kerusakan, dan berbuat ketidak-adilan/kezaliman di muka bumi ini. Padahal mereka dulunya sangat menderita dibawah kezaliman bangsa Mesir atau Fir’un. Sehingga akibatnya saat ini mereka mendapat kutukan bukan saja dari seluruh manusia , tetapi juga oleh Allah SWT.
Bahkan mereka beranggapan bahwa sorga itu hanya untuk bani israil seperti yang dijelaskan oleh surat Al-Baqaraah ayat 94 yang berbunyi ;
“Katakanlah(Muhammad): “Jika kamu (menganggap bahwa) kampung akhirat (surga) itu khusus untukmu (bani israil/yahudi) di sisi Allah, bukan untuk orang lain, maka inginilah kematian (mu), jika kamu memang benar”.
Bahkan orang yahudi/bani israil menganggap bahwa hanya merekalah anak keturunan Nabi Ibrahim yang syah dan diakui oleh Allah, sedangkan umat bangsa arab yang berasal dari keturunan Ismeil bukanlah kaum yang diakui oleh Allah karena suku Arab dianggap berasal dari anak seorang budak (Siti Hajar). Mereka selalu menghina bangsa arab karena berasal dari garis keturunan Ismail yang mereka anggap bodoh seperti berkelakuan keledai liar itu. Bukan hanya bani israil saja yang membangga-banggakan keturunan beserta ajaran mereka, tetapi ikut pula kaum nasrani yang menggapa bahwa mereka juga keturunan syah dari Ibrahim. Perdebatan yang membangga-banggakan keturunan dan kesukuan itu sudah terjadi dan berlangsung berabad-abad lamanya dan berlanjut terus sampai sekarang dan tidak akan berhenti hingga kiamat nanti. Apakah kita sebagai umat islam pengikut Nabi Muhammad SAW akan melanjutan tabiat itu? Maka Allah di dalam Al Qur’an mencela dan memperingati kebiasaan tersebut;
“Dan mereka berkata: “Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk”. Katakanlah (Muhammad) : “Tidak, bahkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik”.( QS Al Baqaraah 135)”
Ayat ini memberikan arahan kepada kita , bahwa tidak baik membangga-banggakan suku dan ajaran/agama, tetapi yang harus ditiru adalah sikap , amalan serta suri teladan yang di ajarkan oleh kepala suku umat beragama (yahudi, islam dan nasrani) yaitu Nabi Besar Ibrahim.
Bahkan orang yahudi dan Nasrani mengklaim bahwa kitab taurat dan Bible (perjanjian Lama) telah menyebutkan Bani Israil dan nasrani saja yang dapat disebut keturunan nabi Ibrahim. Seperti yang tercantum pada kitab kejadian 17 ayat 19 yang berbunyi
“ 19Tetapi Allah berfirman: “Tidak, melainkan isterimu Saralah yang akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau akan menamai dia Ishak, dan Aku akan mengadakan perjanjian-Ku dengan dia menjadi perjanjian yang kekal untuk keturunannya.
Artinya adalah bahwa Allah hanya mengakui anak keturunan Siti Sarah saja sebagai anak Ibrahim sementara Ismaeil yang lahir dari istrinya yang lain (yaitu Siti Hajar) bukanlah keturunan Ibrahim. Apakah keterangan ayat diatas adalah Firman Allah? Tentu saja tidak. Karena Allah SWT itu maha adil , tidak akan membeda-bedakan anak keturunan manusia ,semuanya sama , yang membedakannya hanya tingkat ketaqwaannya kepada Allah dan seluruh amalan salehnya.. Jelas ini merupakan kesombongan yang melewati batas yaitu mengada-ada dan membuat keterangan yang bukan dari Allah, sehingga Allah menegur para ahli kitab kaum Yahudi/nasrani itu ;
““ Hai Ahli Kitab, mengapa kamu bantah-membantah tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir (3:65)?”
Memang manusia itu mempunyai tabiat yang suka membantah dan suku berdebat. Suatu hal yang lumrah kalau manusia berdebat dalam hal yang sudah sama-sama diketahuinya dalam rangka mencari yang lebih baik, tetapi merupakan suatu yang tidak logis kalau kita masih berdebat tentang hal yang tidak kita ketahui sama sekali seperti penjelasan ayat berikut;
“ Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah-membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui?; Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.( QS Ali Imran 3:65-66)”.
Maka dari itu serahkan saja yang tidak kita ketahui itu kepada Allah ,supaya kita tidak mengada-ada dan beropini yang bukan-bukan. Allah mengetahui segalanya.
Kemudian Al Qur’an menekankan bahwa Ibrahim itu bakanlah milik satu kaum/suku saja, bukan pula milik kaum/suku bangsa Yahudi atau Nasrani , tetapi yang terpenting adalah tidak ada unsur syirik di dalam pribadi kepala suku umat beragama “Nabi Ibrahim” dan dia termasuk orang yang paling patuh pada Tuhannya seperti yang tercantum pada ayat berikut ;
“ Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik” (3:67) “.
Orang yahudi tidak mau mengakui ajaran Islam yang mereka anggap bukan agama atau ajaran nenek moyang mereka, tetapi mereka menganggap bahwa Islam adalah ajaran yang disampaikan oleh seorang yang berasal dari keturunan Arab yang selama berabad-abad telah mereka rendahkan dan mereka hina seperti yang mereka tulis di dalam kitab agamanya. Tetapi Allah berkehendak lain.
Padahal seluruh nabi-nabi dan Rasul, baik dari bangsa Yahudi maupun dari keturuan Arab , adalah utusan Allah SWT dan mempunyai agama/ajaran yang sama pula yaitu Islam. Jadi Islam tidak membeda-bedakan satu kaum /keturunan dari bangsa manapun . seperti yang tercantum pada ayat berikut;
“ Katakanlah/sampaikanlah (Muhammad): “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, ‘Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri (QS Ali Imran ayat 84) .”
Allah menyampaikan wahyunya kepada utusanNYa Muhammad SAW agar umatnya tidak melakukan hal yang tidak terpuji itu, kerena semua manusia sama derajatnya disisi Allah. Ayat diatas memberikan sebuah tuntunan atau petunjuk bahwa generasi penerus tidak diperbolehkan membeda-bedakan, merendahkan, menyombongkan diri, menghina dan membangga-banggakan suatu keturunan terhadap keturunan lainnya.
(….bersambung)
11 Agustus 2011 at 1:24 pm
sanbungan..
Beberapa ayat-ayat Al Qur’an yang berhubungan dengan Adab dalam berdebat antara lain adalah;
“Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa,(QSn Nisaa’ 4:107).
Ayat ini memberikan arahan bahwa tidak perlu melakukan perdebatan untuk tujuan memberikan pembelaan terhadap orang atau kaum yang berbuat kianat terhadap dirinya, yaitu orang-orang suka berbuat dosa, dusta, tidak jujur, tidak mau menerima kebenaran walaupun hati kecilnya mengakuinya. Artinya seorang pembela/pengacara juga dilarang membela orang-orang yang khianat kepada dirinya (tidak jujur dan munafik), karena berdampak mereka akan bersama sama menegakkan kebohongan dan dosa dikemudian hari.
“ Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang lalim di antara mereka, dan katakanlah: “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri”. (QS Al Ankabuut 29:46)”
Ahli kitab yang dimaksud disini adalah pemuka kaum Yahudi atau Nasrani yang mempunyai keteguhan hati untuk mempertahankan kitabnya, sehingga di dalam perdebatan mereka tidak mau sedikitpun menerima pendapat orang lain, maka Allah menganjurkan agar berdebat dengan cara yang baik-baik/sopan santun dengan mereka. Kecuali terhadap mereka yang sudah tertutup hatinya, maka tinggalkanlah mereka dengan mengatakan “Kami berserah diri pada Allah”
“ Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk (QS 16:125)”
Ayat ini memerintahkan kepada umat muslim agar menyuruh manusia untuk melaksanakan perintah Allah serta menghindari hal-hal yang dilarang oleh Allah dengan cara penyampaian yang baik. Sekiranya mereka membantah/menolaknya maka lakukanlah/berilah alasan dengan jawaban yang baik/sopan. Dan sekiranya mereka tetap menolak maka sesungguhnya Allah mengetahui apa isi hati dan pikiran orang yang menolak kebenaran itu. Jadi lebih baik meninggalkan mereka di dalam kesesatannya dari pada berbuat hal yang sama dengan mereka.
“Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahanam(QS AnNisaa’ 4:140),
Ayat ini juga memperkuat dan mempertegas maksud dari ayat QS 16;125 diatas. Pada ayat ini , Allah melarang berdiskusi atau berdebat dengan orang yang di dalam hatinya hanya ada sifat membantah lalu berolok-olok atau mencela-cela saja tanpa berilmu pengerahuan , terutama dalam hal menyampaikan ayat-ayat Al Qur’an dan kebenaran.
“ Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang lalim itu sesudah teringat (akan larangan itu). (QS Al An ‘am 6:68)”
Ayat ini merupakan kelanjutan dari surat an Nisaa’ 140 di atas, supaya kita menghindarkan diri dari orang-orang yang berolok-olok, kemudian apabila kita terpancing emosi lalu mengikuti kemauan mereka maka hendaklah ada diantara kita untuk menyadarkannya, agar tidak terbawa arus dan lupa diri yang berakibat terjerumus kepada kelakuan/tabiat setan.
“Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang lalim.(QS Al Hujaraat 49:11)”.
Ayat ini ditujukan kepada orang-orang yang beriman, supaya tidak melakukan perbuatan tercela seperti mencemooh, mentertawakan atau meperolok-olokan suatu suku/kaum dan mengeluarkan kata-kata kotor. Karena boleh jadi kaum/suku yang kita anggap rendah itu ternyata jauh lebih baik dan lebih hebat dari yang kita duga sebelumnya.
Al qur’an juga melarang orang beriman memaki-maki orang yang tidak berpengetahuan atau orang yang belum mengerti. Sehingga nantinya orang yang dimaki itu akan membalasnya dengan cara yang sama. Bahkan Allah melarang orang beriman menghina atau memaki sesembahan orang musryk, kerena kalau kita memaki/menghina sesembahan mereka, maka merekapun akan melakukan penghinaan/makian dengan cara yang sama bahkan melebihi batas/keterlaluan. Karena setiap suku/kaum akan selalu menganggap bahwa merekalah yang terbaik di bumi ini. Hal ini dijelaskan di dalam surat AL An’aam ayat 108 yang berbunyi ;
“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan (QS AL AN’AAM ayat 108)”.
Demikianlah.. semoga pencerahan rohani di pertengahan bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, membawa bermamfaat bagi kita semua, dan marilah kita sudahi pertikaian yang tidak akan membawa kebaikan apapun di bulan suci ini yang tentu akan merusak nilai-nilai ibadah kita, kemudian marilah kita saling memaafkan sehingga kedepan kita dapat menemukan titik temu yang terbaik yang dirhedoi oleh Allah SWT dan RasulNYA junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW. AMIEN !
Salah dan janggalnya mohon saya dimaafkan.
Wassalam
rahmanhadiq
14 Agustus 2011 at 1:57 pm
wah diskusi yang cukup menarik dari awal
tanggapan dari pak rahman hadiq sangat bagus, memang seharusnya sesama ISLAM dilarang saling memusuhi. kita bersaudara.
ingat di riau sudah banyak KAFIR UTARA yang mencari rizki di negeri riau ini, jangan lengah buat orang riau, saudaranya seiman orang minang, jawa, malah dimusuhi eh uang kafir malah diterima dengan baik.
jangan sampai si kafir ini mengadu domba orang MUSLIM di Riau
18 Agustus 2011 at 7:56 am
rahmanhadiq : makasi pencerahan nyo stek stad!!
neutral: io sanak!! di riau!! tapi dimanonyo?? daerah kampar ndak ado greja!! kci io sobontau than du enye…. wkwkwkwk
sebenarnya tidak ad diperbedakan antara orang minang dan ocu…!!
saya rasa di blog ini ada orng yg ingin mengadu dombakan!! sumbar dan riau!!
25 Agustus 2011 at 12:06 am
TOLONG DI CEK UNTUK PENCERAHAN
http://urangsunda.50webs.com/Noclick.html
25 Agustus 2011 at 12:10 am
SATU LAGI
http://www.salahkamar.com/
25 Agustus 2011 at 12:13 am
DARI PADA BERKELAHI LEBIH BAIK KLIK LINK INI
http://www.1227.com/
25 Agustus 2011 at 12:18 am
TOBATLAH KALIAN SEMUA
25 Agustus 2011 at 12:20 am
ADA YANG KERAS KEPALA
ADA YANG KERAS KEPALA
ADA YANG KERAS KEPALA
ADA YANG KERAS KEPALA
ADA YANG KERAS KEPALA
ADA YANG KERAS KEPALA
ADA YANG KERAS KEPALA
ADA YANG KERAS KEPALA
25 Agustus 2011 at 12:29 am
ADA YG BERBAIK HATI SHARE PENGETAHUAN SEJARAHNYA ADA PULA YG MENOLAK MATIAN-MATIAN SEJARAH ITU ….APA RIAU BUKAN BAGIAN INDONESIA SEHINGGA SUKU LAIN TIDAK BOLEH ADA DISANA. MUSUH KITA YAHUDI BUKAN SESAMA BANGSA SENDIRI
25 Agustus 2011 at 1:24 am
YANG MEMULAI KATA – KATA MENGHUJAT SUKU LAIN ADALAH ORANG BODOH
25 Agustus 2011 at 1:26 am
YANG MEMULAI KATA – KATA MENGHUJAT SUKU LAIN ADALAH ORANG BODOH
25 Agustus 2011 at 1:33 am
AKU ORG BEBAS , AKU BEBAS TINGGAL DIMANAPUN DI INDONESIA
KALAU AKU BERBUAT SALAH, TEGUR AKU , JANGAN HUJAT SUKU-KU
KARENA MEREKA TAK BERSALAH DAN TAK BOLEH MENANGGUNG AKIBAT PERBUATANKU
25 Agustus 2011 at 1:48 am
SORI SAYA YANG PALING BANYAK POSTING YA …..
SAYA SUKA BELAJAR ILMU SEJARAH,SEJARAH APA AJA YANG PENTING SEJARAH TENTUNYA YANG BERDASARKAN KEILMUAN. BANYAK POSTING MENARIK DARI PAKAR SEJARAH DI BLOG INI. TAPI BANYAK TANGGAPAN NYELENEH YANG TAK MENGHORMATI ILMU SEJARAH YANG TELAH DISHARE OLEH PAKARNYA DI SINI. DAN AKHIRNYA SAYA IKUTAN LATAH JUGA POSTING APA AJA
25 Agustus 2011 at 1:59 am
SEKARANG TAHUKAN ANDA ORANG PALING GOBLOK SEDUNIA ????
13 September 2011 at 12:14 pm
Minggu, 26 Desember 2010
Menteri Pariwisata Melaka Kunjungi Bekas
Kerajaan Kampar
Bangkinang- Menteri Pengerusi Jawatan Kuasa
Pelancongan, Kesenian dan Warisan Negara Bagian Melaka,
Malasyia, Datuk Abd Rahaman bin Abd Karim bersama
rombongan tim kajian sejarah negara bagian Melaka,
kemarin mengunjungi bekas-bekas Kerajaan Kampar di
Kanagarian Kampar, Desa Koto Perambahan, Kecamatan
Kampar Timur. Kunjungan ini merupakan salah satu program
penulusuran Kerajaan Melaka di nusantara.
”Karena kita ingin mencari jejak jejak kejayaan Kerajaan
Melaka dulunya yang berkembang hingga di beberapa
daerah di nusantara ini termasuk di Kampar,”ujar Datuk
Abd Rahaman bin Abd Karim kepada Riau Pos usai
melakukan acara silaturami di Kantor Camat Kampar Timur,
Kamis (7/6).
Dijelaskan Abd Rahaman, pemerintah negara bagian Melaka
saat ini sangat serius dalam menelusuri jejak Kerajaan
Melaka masa lampau dan ini menjadi salah satu program
pariwisata dan budaya. Untuk itu mereka datang ke
Kampar lengkap dengan tim kajian sejarah yang terdiri dari
ahli arkeologi, ahli barang barang purbakala, kepala musium
Melaka dan dari dinas pariwisata dan sejarah Melaka.
Tujuan rombongan ini menurut Abd Rahaman untuk
memastikan apakah benar Kerajaan Kampar dulunya
pernah diperintah oleh raja dari Negeri Melaka. Karena Raja
Kampar Sultan Mahmud Syah dikabarkan pernah
memerintah di Kerajaan Kampar terbukti dengan adanya
stempel kerajaan, tombak, makam raja, masjid raja dan
istana raja. ”Maka tujuan utama kita adaah meneliti dan
mengkaji apakah itu benar benar peninggalan dari Raja
Mahmud Syah yang berasal dari Melaka,”ujarnya.
Kalau memang nantinya terbukti dari Melaka, maka
pihaknya akan melakukan penelitaan dan mencari keturunan
dari raja tersebut. Melaka juga siap untuk membangun dan
memugar kembali semua peninggalan-peninggalan dari Raja
Melaka tersebut di Kampar dengan menanggung segala
biayanya. ”Karena kita tidak ingin jejak kejayaan Kerajaan
Melaka tersebut menjadi hilang,”ujarnya.
Untuk itu pihak Melaka juga akan mengadakan kesepakatan
dengan Pemkab Kampar dan Indonesia dalam upaya
pelestarian sejarah itu. ”Namun sekarang kita buktikan dulu
dengan pengkajian para ahli apakah ini memang peninggalan
Raja Mahmud Syah dari Melaka atau bukan,”ujarnya.
Sumber: Riau Pos
4 Oktober 2011 at 8:46 pm
ha……ha…..ha…….ha………ha……..
20 Oktober 2011 at 1:07 am
Assalamualaikum,
Bapo malangang je palanta siko?hehehe…
6 Januari 2012 at 2:04 am
di negri sembilan malaysia, itu ada sebutan/panggilan “ocu”
silakan download lagu asli negri sembilan dengan judul “apo kono e jang”
saya tidak ingin berbantahan disini,
maf ya sutan.
thank’ atas kesabaran anda dengan coment2 saudara2 ambo,…
ada pepatah saatrawan melayu asal siak ” kerasnya orang kampar, makannya orang kuantan dan pilin kayuhnya orang minang” (abad 14).
memang mental orang kampar, sedikit keras. ( liat sejaraah sriwijaya- dapuntahyang adalah raja pertama kerajaan itu, dan bliau (dapunta) berasal dari minanga tamwa (muara kampar-dekat candi muara takus) atau sekarang dikenal dengan muara takus. mereka ( pasukan tentara sriwijaya) berangkat dari muara takus sekarang.
muara takus abad ke 6 meliputi : kampar, payakumbuh dan padang sidempuan (sumut) makanya ketika orang kampar dan minang bila berbahasa indonesia terkadang terdengar seperti orang batak.
# sumber : – buku “riau dulu dan sekarang” (uu hamidi)
– internet,
– warga kampar yang merantau di malaysia.
– pengalaman pribadi ( hmm, boleh kan???..
6 Januari 2012 at 1:00 pm
Mokasi jo reply nyo cu,
Apokah Sriwijaya go di Kampar posisinyo, cu? Ado tulisan nan manyokong du, cu?
Mokasi sakali le..
24 Oktober 2011 at 2:11 pm
saya buka orang ocu, bukan orang minang, bukan orang melayu..tapi saya adalah saya..bukam orang lain…sederhanakan…?…sebetulnya perbedaan itu adalah rahmat, setiap orang berhak untuk mengakui dirinya itu siapa dan dari daerah mana…namun disisi lain.pada hakikatnya kita adalah sama…kita adalah satu, bukan hanya sekedar satu bahasa dan satu bangsa, tetapi lebih konkritnya kita berasal dari yang satu dan kembali kepada yang satu…lalu apa yang harus di banggakan, …nggak usah terlalu jauh untuk mengkaji asal muasal daerah, suku, adat istiadat / bahasa sekalipun,, lihat diri kita masing-masing…kita berasal dari mana, benar kata salah seorang saudaraku yg berkomentar diatas tadi..pernahkah kita memesan kepada Allah bahwa kita terlahir di tengah2 org melayu, minang, ocu dsb..atau pernahkah kita memesan kalau kita terlahir memiliki tubuh yang ideal ?….penjelasannya sederhana….tubuh yang kita miliki sekarang hanya sebuah titipan dari yang Maha Kuasa, tidak lebih dari bangkai yang jikalau tidak dilengkapi dengan Ruh dan Nyawa..alangkah awamnya kita memperdebatkan masalah sepele…saudaraku…sebtulnya..klo dicermati forum ini hanya sekedar memberikan sedikit gambaran tentang orang ocu..bukan sebagai alat pemecah persatuan dan kesatuan…
maaf jika tersinggung…
7 Desember 2011 at 2:46 am
Orang Kuantan dan kampar adalah Orang Minang
Mengapa harus malu mengatakan bahwa orang Kuantan adalah orang Minang yang daerahnya dimasukkan Pemerintah ke dalam wilayah Provinsi Riau. Sesungguhnya anda minder dengan kenyataan dan sejarah. Anda sebenarnya pasti tahu kalau kita orang Kuantan adalah bagian dari rumpun Minangkabau. Hanya karena letak daerah kita yang anda tidak tahu mengapa tidak berada dalam Prov. Sumatera Barat yang dikenal sebagai daerah asal orang Minang. Melainkan berada dalam Provinsi Riau yang mayoritas bersuku Melayu sehingga selalu diidentikkan sebagai tanah Melayu. Itu tidak salah karena persepsi itu sudah terbentuk dari dulu lebih dari 50 thn pasca pendirian Prov. Riau 1958. Pemerintah Pusat saat itu menggunakan dasar tuntutan para tokoh Melayu Riau yang menginginkan daerah ex Keresidenan Riouw zaman Belanda lepas dari wilayah Provinsi Sumatera Tengah yang berpusat di Bukittinggi. Tahukah kita bahwa daerah Kuantan Hulu (Kuansing sekarang) adalah daerah asli Minangkabau yang dimasukkan oleh Belanda ke dalam wilayah Keresidenan Riouw akhir abad ke 19 dengan alasan geopolitis & militer strategis Kolonial Pemerintah Hindia Belanda. Daerah sepanjang aliran Sungai Kuantan yang mengalir dari hulu di bagian Barat (Kuansing) ke hilirnya di pesisir Timur Sumatera menuju ke Selat Malaka harus dikuasai oleh satu pemerintahan Keresidenan agar tidak overlapping dengan Keresidenan lain (Sumatera’s westkust/Keresidenan Sumatera Barat & Keresidenan Djambi). Belanda juga melihat bahwa ada batas alam berupa rangkaian bukit barisan yang membagi 2 Pulau Sumatera secara tidak proporsional yaitu belahan Pesisir Barat dan Pesisir Timur.(Daratan Bag. Timur jauh lebih luas daripada daratan bagian Barat Bukit Barisan). Batas tersebut dijadikan sebagai perbatasan alami di wilayah Tengah Pulau Sumatera untuk membagi daerah Keresidenan Sumatera’s Westkust di bagian Barat dengan Keresidenan Riouw & Keresidenan Djambi di pesisir Timur. Daerah Kuansing dan Kampar hulu sebenarnya secara geografis jauh lebih dekat ke Pesisir Barat daripada ke Pesisir Timur Sumatera. Belanda tidak menggubris kesamaan etnis, kultural, dan dialek lokal lingustic kedua daerah yang terletak di perbatasan alam tersebut. (Kuantan dengan serumpunnya di bagian Barat yakni Sijunjung, Sawahlunto & Darmasraya) dan (Kampar Hulu V Koto-Taratak Buluh dengan Lima Puluh Kota di bagian Baratnya). Bahkan oleh Belanda daerah Minangkabau yang disegressi dari induk rumpunnya di Sebelah Barat ini diintegrasikan dengan daerah Pesisir Timur yang murni beretnis Melayu Riau. Dimasukkan ke dalam suatu Kewedanan (afdeling) yang diberinama Kampar dan sebagian masuk Indragiri. Mulai saat itu terpisahlah orang Kuantan dan orang Kampar (Ocu) dari rumpun induknya Minangkabau di bagian Barat secara de jure dan de facto. Pada zaman awal kemerdekaan 1945 hingga tahun 1958 Kampar dan Kuantan sempat mengalami reunifikasi dengan saudara serumpun Minangnya dalam satu Provinsi besar yakni Prov. Sumatera sampai tahun 1948. Berkutnya dalam Prov. Sumatera Tengah pasca pemekaran Prov. Sumatera menjadi 3 Provinsi : Prov. Sumatera Utara, Prov. Sumatera Tengah dan Prov. Sumatera Selatan. Kebersamaan itu berlangsung tidak lama karena kemudian Provinsi Sumatera Tengah ini akhirnya dimekarkan pula menjadi 3 Provinsi pasca kekalahan PRRI yang berpusat di Bukittinggi. Wilayah Kuantan dan Kampar Hulu sekali lagi dipisahkan kembali dengan rumpun induknya atas dasar klaim sejarah para Tokoh Melayu Riau yang menggunakan dasar wilayah ex Keresidenan Riouw. Tentu saja Ranah Minangkabau sebagai pihak pecundang perang tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolak kebijakan Pemerintah yang dituangkan dalam UU No. 61 thn 1958 yang membagi wilayah Provinsi Sumatera Tengah menjadi 3 Provinsi baru. Mereka tidak punya dasar hukum untuk mengklaim sebagai bagian yang diinginkan masuk ke dalam wilayah Provinsi Sumatera Barat (selain mungkin hanya berupa de facto rumpun etnis dan kultural Minang). Begitu juga dengan masyarakat Kuantan dan Kampar (Juga Kerinci dimasukkan ke Prov. Jambi) saat itu yang mayoritas masih hidup di bawah standard kesejahteraan. Mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa karena memang tidak disosialisasikan kepada masyarakat awam oleh Pemerintahan yang dipegang oleh Militer pasca PRRI. Yang pasti menurut cerita tetua Kampung kita dulu bahwa mereka tetap mengakui sebagai orang Minang sejak dahulu kala. Dan bilamana saat itu diberi kesempatan untuk memilih mau ikut bergabung ke Riau atau ke Sumbar, tentu saja seluruh etnis asli (non pendatang tentunya) Kuantan dan Kampar (Non Melayu Riau) akan memilih sesuai naluri mereka ke Sumbar. Tapi itu tidak pernah terjadi dan sudah berlalu lebih dari 50 thn yang lalu. Sudah hampir 3 generasi yang berlalu dan tidak perlu dipermasalahkan lagi. Yang jadi masalah adalah generasi baru seperti kita-kita ini yang merasakan termarginalisasi oleh kenyataan berada di luar situasi ideal. Mau mengaku jadi orang Melayu tidak mau karena terlalu banyak perbedaan budaya, bahasa dan adat istiadat dengan kita. Mengaku sebagai orang Minang ada rasa sungkan karena secara de facto dan de jure tanah Kuantan dan Kampar tidak (lagi) berada dalam wilayah Prov. Sumatera Barat. Image umum juga mengatakan bahwa orang Minang berasal dari Prov. Sumatera barat dan orang Riau adalah orang Melayu. Seharusnya kita tidak perlu malu mengakui bahwa kita tetap adalah bagian dari Rumpun Minangkabau. Apalagi sampai mengarang rangkaian sejarah sendiri yang dikutip sana-sisni dari Tambo Minang dan peninggalan arkeologis tanpa dasar (selain karena rasa malu dan minder) untuk diakui sebagai suku tersendiri yang unik? Suatu upaya yang sangat naif dan tidak intelek karena bersifat pembodohan public dan berselera rendah dengan merendahkan etnis dan budaya sendiri. Prov. Riau dan orang Melayu Riau mayoritas tahu bahwa kita memang berbeda dengan mereka, tapi kita punya tanah dan kampung sendiri dan bukan pendatang dari luar di Provinsi ini. Merekalah yang menginginkan wilayah kita dimasukkan ke dalam wilayah Provinsi Riau ini dulunya. Menjadi orang Minang bukanlah suatu yang hina, bahkan merupakan suatu kebanggaan karena mereka sangat terkenal dalam sejarah dan keberadaan mereka mudah dikenali di seluruh wilayah tanah air dan manca negara. Kebudayaan mereka dikagumi sebagai salah satu keunikan budaya Indonesia dan Malaysia (Negeri Sembilan). Pengakuan masyarakat Riau akan adanya minoritas Minang di daerah Perbatasan Barat Provinsi Riau sudah ada, walaupun agak direkayasa seolah menjadi etnis Melayu yang berdialek mirip Minangkabau. Tidak ada indikasi upaya Melayunisasi yang mematikan potensi bahasa, dan budaya asli kita. Justru malah budaya kita dijadikan sebagai bagian dari khasanah budaya Riau. Biarlah itu dilakukan itu sebagai ajang promosi budaya kita lewat mereka karena mereka mayoritas dan dominan. Hanya saja akan semakin sukar untuk meluruskan image kepada pihak luar bahwa tidak seluruh daerah Riau bersuku Melayu, ada juga minoritas asli yang bersuku Minangkabau. Tapi sudahlah tidak usah diperpanjang karena bersama mereka dalam Prov. Riau ini kita juga sudah merasakan kemajuan dan peningkatan kesejahteraan. Artinya keberadaan kita dalam pangkuan mereka tidak disiasiakan sebagai daerah taklukan yang hanya diexploitasi seperti zaman Kerajaan dan Kolonial dahulu. Itulah mengapa Kuantan dan Kampar seolah sepakat sama sekali tidak mendukung wacana tidak populer “Riau merdeka” yang pernah didengungkan oleh segelintir tokoh Melayu Riau yang tanpa malu mengatasnamakan Masyarakat Riau. Kalau mereka mau merdeka, silakan aja berurusan dengan NKRI dan kita tidak ikut-ikutan. Mungkin satu-satunya ide dari Pusat bila Riau merdeka adalah wilayah Kuantan dan Kampar akan diunifikasikan ke Prov. Sumatera Barat. Tapi yang fantastis saat itu adalah kenyataan bahwa Riau Kepulauan yang beretnis dan berbudaya sama dengan Melayu Riau Daratan malah memilih melepaskan diri karena tidak sependapat dengan ide bodoh itu. Tidak ada alasan untuk malu bagi kita untuk mengaku sebagai orang Minang. Bahkan teman-teman Kerinci saya di Jakarta tanpa tedeng aling-aling tetap mengatakan bahwa orang Kerinci adalah orang Minang yang wilayahnya termasuk ke dalam Provinsi Jambi.
Nov’08 Anak rantau Taluk.
7 Desember 2011 at 2:48 am
Kalau menurut saya, orang kuantan dan kampar sama dengan orang minang :
1. Memakai bahasa sama.
2. Sistem adat sama.
3. Rumah adat sama.
4. Suku-suku pun sama.
Dari persamaan yang di atas itu kenapa masih mengatakan orang kuantan/kampar/minang itu tidak beda satu sama lainnya? Apakah karena berbeda propinsi terus akhirnya ingin memiliki identitas sendiri?Ayolah saudaraku, negeri sembilan yang di Malaysia pun tidak segan-segan menyatakan bahwa nenek moyang mereka adalah orang minangkabau..
Salam damai,
7 Desember 2011 at 2:55 am
Pada dasarnya hanya ada 2 budaya di Riau ini yg Pertama BUDAYA RIAU PESISIR, budaya ini didukung oleh BUDAYA SELAT MALAKA yg meliputi Wilayah Hilir Sungai yaitu Muara Sungai Rokan (Bagan Si-api2, Dumai, Bengkalis), Muara Sungai Siak (Senapelan/Pinggiran Sungai Siak di Pekanbaru dan Kabupaten Siak), Muara Sungai Kampar (Pelalawan), Muara Inderagiri (Rengat, Tembilahan)…..Yg Kedua BUDAYA RIAU DARATAN /RIAU PEDALAMAN yg mengacu pd BUDAYA GUNUNG MERAPI/MINANGKABAU, budaya ini didukung oleh wilyah2 budaya Kuantan Singingi, Kampar Kiri dan Kampar Kanan, Rokan Hulu dan sebagain Rokan Hilir…..Aar lebih jelas batas2nya mari kita dukung cita2 terbentuknya PROPINSI RIAU PESISIR menyusul PROPINSI RIAU KEPULAUAN…jadi yg Tinggal PROPINSI RIAU DARATAN yg Jelas2 masih Wilayah Budaya Kerajaan Melayu Pagaruyung Minangkabau…gituu aja kok repot….telah terjadinya kesdimpang siuran selama ini terutama pada generasi mudanya adalah akibat intervensi elit2 Melayu Pesisir, trims
16 Desember 2011 at 2:58 pm
Kesultanan Siak Sri Inderapura merupakan sebuah Kerajaan Melayu yang pernah berdiri di Kabupaten Siak, Provinsi Riau, Indonesia.
Siak Sri Inderapura merupakan kerajaan Islam, yang didirikan di Buantan oleh Raja Kecil dari Pagaruyung bergelar Sultan Abdul Jalil pada tahun 1723, setelah sebelumnya tersingkir atas tahta Kesultanan Johor. Kemudian dalam perkembangan selanjutnya Kesultanan Siak muncul menjadi sebuah kekuatan yang diperhitungkan di pesisir timur Sumatera ditengah tekanan imperialisme Eropa, dengan jangkauan terjauh pengaruh kerajaan ini sampai ke Sambas di Kalimantan Barat. Pasang surut kerajaan ini tidak lepas dari persaingan dalam memperebutkan penguasaan jalur perdagangan di Selat Malaka.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Sultan Siak terakhir, Sultan Syarif Kasim II menyatakan kerajaannya bergabung dengan Republik Indonesia.
Kata Siak Sri Inderapura, secara harfiah dapat bermakna pusat kota raja yang taat beragama, dalam bahasa Sanskerta, sri berarti “bercahaya” dan indera atau indra dapat bermakna raja. Sedangkan pura dapat bermaksud dengan “kota” atau “kerajaan”. Siak dalam anggapan masyarakat Melayu sangat bertali erat dengan agama Islam, Orang Siak ialah orang-orang yang ahli agama Islam, kalau seseorang hidupnya tekun beragama dapat dikatakan sebagai Orang Siak.
Nama Siak, dapat merujuk kepada sebuah klan di kawasan antara Pakistan dan India, Sihag atau Asiagh yang bermaksud pedang. Masyarakat ini dikaitkan dengan bangsa Asii,[2] masyarakat nomaden yang disebut oleh masyarakat Romawi, dan diidentifikasikan sebagai Sakai oleh Strabo seorang penulis geografi dari Yunani.[3] Berkaitan dengan ini pada sehiliran Sungai Siak sampai hari ini masih dijumpai masyarakat terasing yang dinamakan sebagai Orang Sakai.
Membandingkan dengan catatan Tomé Pires yang ditulis antara tahun 1513-1515, Siak merupakan kawasan yang berada antara Arcat dan Indragiri yang disebutnya sebagai kawasan pelabuhan raja Minangkabau,[4] kemudian menjadi vazal Malaka sebelum ditaklukan oleh Portugal. Munculnya VOC sebagai penguasa di Malaka, Siak diklaim oleh Johor sebagai bagian wilayah kedaulatannya sampai munculnya Raja Kecil.
Dalam Syair Perang Siak, Raja Kecil putra Pagaruyung, didaulat menjadi penguasa Siak atas mufakat masyarakat di Bengkalis, sekaligus melepaskan Siak dari pengaruh Johor. Sementara Raja Kecil dalam Hikayat Siak disebut juga dengan sang pengelana pewaris Sultan Johor yang kalah dalam perebutan kekuasaan. Berdasarkan korespodensi Sultan Indermasyah Yang Dipertuan Pagaruyung dengan Gubernur Jenderal Belanda di Melaka waktu itu, menyebutkan bahwa Sultan Abdul Jalil merupakan saudaranya yang diutus untuk urusan dagang dengan pihak VOC.[5] Kemudian Sultan Abdul Jalil dalam suratnya tersendiri, yang ditujukan kepada pihak Belanda menyebut dirinya sebagai Raja Kecil dari Pagaruyung, akan menuntut balas atas kematian Sultan Johor.[6]
Sebelumnya dari catatan Belanda, telah mencatat pada tahun 1674, ada datang utusan dari Johor untuk mencari bantuan bagi raja Minangkabau berperang melawan raja Jambi.[7] Dalam salah satu versi Sulalatus Salatin juga menceritakan tentang bagaimana hebatnya serangan Jambi ke Johor (1673), yang mengakibatkan hancurnya pusat pemerintahan Johor, yang sebelumnya juga telah dihancurkan oleh Portugal dan Aceh.
Kemudian berdasarkan surat dari raja Jambi, Sultan Ingalaga kepada VOC pada tahun 1694, menyebutkan bahwa Sultan Abdul Jalil dari Pagaruyung, hadir menjadi saksi perdamaian dari perselisihan mereka.[8]
Pada tahun 1717 Sultan Abdul Jalil berhasil menguasai Kesultanan Johor sekaligus mengukuhkan dirinya sebagai Sultan Johor dengan gelar Yang Dipertuan Besar Johor, namun di tahun 1722 terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Raja Sulaiman anak Bendahara Johor, yang juga menuntut hak atas tahta Johor, dibantu oleh pasukan bayaran dari Bugis. Akhir dari peperangan ini, Raja Sulaiman mengukuhkan diri menjadi penguasa Johor di pedalaman Johor, sementara Sultan Abdul Jalil, pindah ke Bintan dan kemudian tahun 1723 membangun pusat pemerintahan baru di sehiliran Sungai Siak dengan nama Siak Sri Inderapura.[9] Sementara pusat pemerintahan Johor yang sebelumnya berada sekitar muara Sungai Johor ditinggalkan begitu saja, dan menjadi status quo dari masing-masing penguasa yang bertikai tersebut. Sedangkan klaim Raja Kecil sebagai pewaris sah tahta Johor diakui oleh komunitas Orang Laut, kelompok masyarakat yang bermukim pada kawasan kepulauan membentang dari timur Sumatera sampai ke Lautan Cina Selatan dan loyalitas ini terus bertahan sampai kepada beberapa keturunan Raja Kecil berikutnya.[10]
Pengaruh Kerajaan Pagaruyung, juga mewarnai sistem pemerintahan pada Kesultanan Siak, setelah Sultan Siak, terdapat Dewan Menteri yang mirip dengan kedudukan Basa Ampek Balai di Minangkabau.
Dewan Menteri ini memiliki kekuasaan untuk memilih dan mengangkat Sultan Siak, sama dengan Undang Empat di Negeri Sembilan. Dewan Menteri bersama dengan Sultan menetapkan undang-undang serta peraturan bagi masyarakatnya. Dewan menteri ini terdiri dari:
Datuk Tanah Datar
Datuk Limapuluh
Datuk Pesisir
Datuk Kampar
Pada kawasan tertentu dalam Negeri Siak, ditunjuk Kepala Suku yang bergelar Penghulu, yang dibantu oleh Sangko Penghulu, Malim Penghulu serta Lelo Penghulu. Sementara terdapat juga istilah Batin, dengan kedudukan yang sama dengan Penghulu, namun memiliki kelebihan hak atas hasil hutan yang tidak dimiliki oleh Penghulu. Batin ini juga dibantu oleh Tongkat, Monti dan Antan-antan. Istilah Orang Kaya juga digunakan untuk jabatan tertentu dalam Kesultanan Siak, sama halnya dengan pengertian Rangkayo atau Urang Kayo di Minangkabau terutama pada kawasan pesisir.
Dalam pelaksanaan masalah pengadilan umum di Kesultanan Siak diselesaikan melalui Balai Kerapatan Tinggi yang dipimpin oleh Sultan Siak, Dewan Menteri dan dibantu oleh Kadi Negeri Siak serta Controleur Siak sebagai anggota.
Salah satu kitab hukum atau undang-undang di Negeri Siak, dikenal dengan nama Bab Al-Qawa’id. Kitab ini mengurakan hukum yang dikenakan kepada masyarakat Melayu dan masyarakat lain yang terlibat perkara dengan masyarakat Melayu. Namun tidak mengikat orang Melayu yang bekerja dengan pihak pemerintah Hindia-Belanda, di mana jika terjadi permasalahan akan diselesaikan secara bilateral antara Sultan Siak dengan pemerintah Hindia-Belanda.[17]
Dalam administrasi pemerintahannya Kesultanan Siak telah membagi beberapa kawasan dalam bentuk distrik yang dipimpin oleh seseorang yang bergelar Datuk atau Tuanku atau Yang Dipertuan dan bertanggungjawab kepada Sultan Siak yang juga bergelar Yang Dipertuan Besar. Pengaruh Islam dan keturunan Arab mewarnai Kesultanan Siak, salah satunya keturunan Al-Jufri yang bergelar Bendahara Patapahan,[18] serta arsitektur istana Sultan Siak yang dibangun pada tahun 1889.
16 Desember 2011 at 3:55 pm
Kesultanan Siak Sri Inderapura merupakan sebuah Kerajaan Melayu yang pernah berdiri di Kabupaten Siak, Provinsi Riau, Indonesia.
Siak Sri Inderapura merupakan kerajaan Islam, yang didirikan di Buantan oleh Raja Kecil dari Pagaruyung bergelar Sultan Abdul Jalil pada tahun 1723, setelah sebelumnya tersingkir atas tahta Kesultanan Johor. Kemudian dalam perkembangan selanjutnya Kesultanan Siak muncul menjadi sebuah kekuatan yang diperhitungkan di pesisir timur Sumatera ditengah tekanan imperialisme Eropa, dengan jangkauan terjauh pengaruh kerajaan ini sampai ke Sambas di Kalimantan Barat. Pasang surut kerajaan ini tidak lepas dari persaingan dalam memperebutkan penguasaan jalur perdagangan di Selat Malaka.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Sultan Siak terakhir, Sultan Syarif Kasim II menyatakan kerajaannya bergabung dengan Republik Indonesia.
Membandingkan dengan catatan Tomé Pires yang ditulis antara tahun 1513-1515, Siak merupakan kawasan yang berada antara Arcat dan Indragiri yang disebutnya sebagai kawasan pelabuhan raja Minangkabau,[4] kemudian menjadi vazal Malaka sebelum ditaklukan oleh Portugal. Munculnya VOC sebagai penguasa di Malaka, Siak diklaim oleh Johor sebagai bagian wilayah kedaulatannya sampai munculnya Raja Kecil.
Dalam Syair Perang Siak, Raja Kecil putra Pagaruyung, didaulat menjadi penguasa Siak atas mufakat masyarakat di Bengkalis, sekaligus melepaskan Siak dari pengaruh Johor. Sementara Raja Kecil dalam Hikayat Siak disebut juga dengan sang pengelana pewaris Sultan Johor yang kalah dalam perebutan kekuasaan. Berdasarkan korespodensi Sultan Indermasyah Yang Dipertuan Pagaruyung dengan Gubernur Jenderal Belanda di Melaka waktu itu, menyebutkan bahwa Sultan Abdul Jalil merupakan saudaranya yang diutus untuk urusan dagang dengan pihak VOC.[5] Kemudian Sultan Abdul Jalil dalam suratnya tersendiri, yang ditujukan kepada pihak Belanda menyebut dirinya sebagai Raja Kecil dari Pagaruyung, akan menuntut balas atas kematian Sultan Johor.[6]
Sebelumnya dari catatan Belanda, telah mencatat pada tahun 1674, ada datang utusan dari Johor untuk mencari bantuan bagi raja Minangkabau berperang melawan raja Jambi.[7] Dalam salah satu versi Sulalatus Salatin juga menceritakan tentang bagaimana hebatnya serangan Jambi ke Johor (1673), yang mengakibatkan hancurnya pusat pemerintahan Johor, yang sebelumnya juga telah dihancurkan oleh Portugal dan Aceh.
Kemudian berdasarkan surat dari raja Jambi, Sultan Ingalaga kepada VOC pada tahun 1694, menyebutkan bahwa Sultan Abdul Jalil dari Pagaruyung, hadir menjadi saksi perdamaian dari perselisihan mereka.[8]
Pada tahun 1717 Sultan Abdul Jalil berhasil menguasai Kesultanan Johor sekaligus mengukuhkan dirinya sebagai Sultan Johor dengan gelar Yang Dipertuan Besar Johor, namun di tahun 1722 terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Raja Sulaiman anak Bendahara Johor, yang juga menuntut hak atas tahta Johor, dibantu oleh pasukan bayaran dari Bugis. Akhir dari peperangan ini, Raja Sulaiman mengukuhkan diri menjadi penguasa Johor di pedalaman Johor, sementara Sultan Abdul Jalil, pindah ke Bintan dan kemudian tahun 1723 membangun pusat pemerintahan baru di sehiliran Sungai Siak dengan nama Siak Sri Inderapura.[9] Sementara pusat pemerintahan Johor yang sebelumnya berada sekitar muara Sungai Johor ditinggalkan begitu saja, dan menjadi status quo dari masing-masing penguasa yang bertikai tersebut. Sedangkan klaim Raja Kecil sebagai pewaris sah tahta Johor diakui oleh komunitas Orang Laut, kelompok masyarakat yang bermukim pada kawasan kepulauan membentang dari timur Sumatera sampai ke Lautan Cina Selatan dan loyalitas ini terus bertahan sampai kepada beberapa keturunan Raja Kecil berikutnya.[10]
22 Desember 2011 at 7:39 am
Catatan tentang Kampar, Indragiri, Siak dll ada di National Maritime Museum di Amsterdam (Museum VOC). Semua jelas, korespondensi VOC dengan daerah-daerah yang jelas mereka sebut sebagai wilayah Pagaruyung ini juga disimpan dan dipamerkan. Raja Siak (ada fotonya) mereka sebut Raja Kecil Pagaruyung Siak, begitu juga dengan Kampar. Karena mereka berada di sana dan melihat dengan mata sendiri apa yang terjadi di sana. Semua urusan dengan tempat-tempat ini harus atas nama dan atas izin Raja Pagaruyung. Bahkan ada cap Mohor Pagaruyung di korespondensi dari kerajaan-kerajaan kecil Pagaruyung ini kepada Belanda. Biar saja Minangkabau dihapus dalam sejarah mereka. Tapi mereka nggak bisa hapus semua, karena Londo punya bukti-buktinya. Lagipula secara kasat mata orang yang bukan Minang pun akan mengira mereka Minang. Biar aja mereka capek jelaskan sendiri kepada orang lain kenapa tinggal di Tanah Melayu tapi adat dan bahasanya nggak seperti orang Melayu. Nggak ada kata Ocu dalam catatan Belanda, yang ada Minangkabau/Pagaruyung. Tapi menurut saya orang yang nggak mau ngaku Minang nggak usah dan nggak layak dianggap Minang.
22 Desember 2011 at 2:33 pm
Hehehe,,suai pak Wawan..
22 Desember 2011 at 10:34 pm
saya org asliny minang..lahir dan besar d duri riau..menrut saya kampar dan kuantan adlah termasuk etnis minang..yg dmsksud etnis adalah suatu himpunan masyrkt yg terikat dg suatu budaya tertentu..budaya kampr dan kuantan kan sama dg minang d sumbar..persoalan dmn asal usul minang ada kmgkinan dri kampar ada kmngkinan dri sumbar..hal itu msh bsa dperdebatkan.tp yg pasti kampr dan kuantan adlh minang..mulanya saya berpikr semua daerah d riau.berbudaya melayu riau.asumsi ini tercpya karena buku2 pejrn d sekolah.baru saya thu asumsi tu keliru ktka saya kuliah..d kosan sya sekmar deng ank kuantan.namanya yoni(jurusan pertanian unand 05)..ank kos sni jg byk yg berasal dri bangkinang(salh satuny si rudi ank peternkan unand 04)pertma kali berbcra dg dia saya pikir dia berasl dri payakumbuah…selmnya saya bergaul dg mereka dan byk bertny dg mereka jels sekali merka memlki budya minang.dan merka sendiri mengakuinya..
dan yg menriknya.enth hal ini jg terjd d kampr.si yoni yg dri kuantan sering memperlihtkan rekman festival budya d daerhny.dri rekamn tersebut kok terlht da simbol2 melayu riau..apakah itu semacam upaya manyanangan hati pejbt pemprov..?
ketika ada acara rapt persiapan turnamen sepakboal antar mhssa riau d padang(ketika itu saya hadir).setiap daerah mengutus wakilny.dlm rapt trsbt tak jarang saya dengr kesulitan berkomunikasi antara ank2 melayu pesisir dg ank2 dri kampr dan kuantan.
25 Desember 2011 at 1:37 am
kalian thu mengecek batanggo naiok bajonjang tuhgunlah ndak asal mengecek de……………
4 Januari 2012 at 1:49 am
Gila semua minang2kerbau yg di atas tu,pandai klaim ajo.
Kampar di katokan minang,sadarlah apa kalian tak malu ?
Di kampar kalian di bilang pendatang.
Muntah aku liat komen2 beberapa ekor minangkerbau yg di atas tu.pandainyo cumo mengklaim adat org aja.
Sini ke kampar,biar kalian tau adat kampar tu.
4 Januari 2012 at 11:47 am
@Budak Melayu: Kite ni orang melayu mestilah cakap yang sopan, jangan lah engkau rendahkan orang lain..Tak bole la..
4 Januari 2012 at 1:57 am
Gila semua minang2kerbau yg di atas tu,pandai klaim ajo.
Kampar di katokan minang,sadarlah apa kalian tak malu ?
Di kampar kalian di bilang pendatang.
Muntah aku liat komen2 beberapa ekor minangkerbau yg di atas tu.pandainyo cumo mengklaim adat org aja.
Sini ke kampar,biar kalian tau adat kampar tu dan perbedaannya.
Dan juga penulisan2 yg benar
Teluk (toluk)kuantan bkn taluk kuantan
Negeri(nogoghi) bkn nagari.
Jgn pakai bahasa kalian krn bahasa kalian tu minang bana.
Tak melayu Hilang di Bumi
4 Januari 2012 at 9:08 am
eee,,,,,minang kalera…………..licin boluik dek kolian,,tp licin lo kami le,,,,,,jan banyak carito lai….ndak kami omuo jadi uang kalian tu do,,sebab uang kalian tu terkenal di dunia ko kalera,,,wkwkw,kw,wkw,wkw,wkw,kww,kw
4 Januari 2012 at 11:27 am
@ala pane:
Apo nan licin du cu?
4 Januari 2012 at 12:11 pm
sungguh nasib ughang kampa ko tasosek di budayo jo adatnyo!!
nyo ughang melayu tio.. tapi adat jo budayo ughang minang di bokjuo!!
io tiooo..hahaha
jan kolien batidaklo woi wang kampou.. tutio jan longsam lo dek mailiu kek sungai kampau du!! kan ilang identitas kolien eh’..
hahaha
5 Januari 2012 at 3:01 am
Kaslian@anda ini orang kampar jadi2an,hahahahaha.
Klau iyo ughang kampou berarti orang kampar yg dah termakan cirik barandang ni !tak biasa lg makan asam pedas,wkwkwkwk
6 Januari 2012 at 12:48 pm
Kalau ada yang bicara sejara objektif dibilang “jadi2an”..Emang payah kamu budak!
Pahami dalam2 apa makna yg tersirat di tulisan Kaslian itu, budak.
5 Januari 2012 at 3:18 am
Ketenaran pagaruyung tidak populer di kampar atau Riau,jd percuma anda membangga2kannya.
6 Januari 2012 at 2:32 am
untuk : semuanya,,
tak ada gunanya membanggakan nenek moyang masing2 suku, (baca al-quran, saya lupa surat dan ayatnya)
“yang paling mulia disisi tuhan ialah yang paling baik amal sholehnya.”
dan kita tidak akan ditanya di akhirat tentang suku.
lebih baik kita fikirkan nasib kita di akhirat,
ayo, kita tinggalkan dunia ( fokus pada akhirat – pemahaman tassauf, jgn di tafsirkan tanpa ilmu tauhid ) berzuhud itu lebih baik bagi orang yang berfikir.
” kemenangan hari ini, bukanlah berarti kemenangan esok hari…
kegagalan hari ini bukanlah berarti kegagalan esok hari….
hidup adalah perjuangan tanpa henti henti…..
aahaaaa……
tak ada yang jatuh kebumi, dengan sia-sia, tanpa usaha dan do’a.”
# dewa song lyrick.
nb : hari ini (dunia)
esok hari (akhirat)
perjuangan tanpa henti2 ( melawan hawa nafsu dan syetan tanpa henti )
surga tidak akan kita dapatkan tanpa perjuangan.
jangan debat saya masalah coment ini tentang agama, saya memakai bahasa awam. kalau mau lebih faham, silakan pelajari ilmu tauhid pada guru2 tassauf. dan saya bukan sok faham. key?…….
6 Januari 2012 at 12:36 pm
Untuok tengku m. faisal jo urang2 nan lain di palanta go, Ado barito menarik ko ha, cubo tengok ha, wkwkwkwk..
http://www.riauclik.com/read-488-2011-12-22-lak-kampar-ogah-melebur-ke-lam-riau.html
http://www.halloriau.com/read-budaya-18606-2011-12-21-lam-riau-seolah-ingin-memecahbelah.html
http://www.riauonline.com/berita/global/dunia/masnur-tolak-generalisasi-kata-adat-dalam-ranperda-lam-riau.html
Jadi mano nyo Lembaga Adat Melayu Kampar du??
8 Januari 2012 at 9:34 am
Klau ssh bk linknya, ni saya copy.
http://www.haluanriaupress.com/index.php
LAMR Kampar Gelar Musda I
Friday, 11 November 2011 00:00 administrator
There are no translations available.
Bangkinang-Lembaga Adat Melayu Riau Kabupaten Kampar akan menggelar Musyawarah Daerah I. Organisasi ini terdiri dari kumpulan delapan Lembaga Adat Melayu Riau Kabupaten Kampar.
Sebelumnya, delapan LAMR Kabupaten Kampar ini telah terbentuk melalui Surat Keputusan (SK) LAM Riau dan telah dilantik oleh LAMR tahun 2010 lalu.
Demikian diungkapkan Ketua Lembaga Adat Melayu Riau Kawasan Sungai apung, Suhaili Husin Datuk Mudo kepada Haluan Riau, Kamis (10/11).
“Setelah LAMR Kampar terbentuk 2010, maka sekarang akan digelar Musda ke-1 LAM Riau Kabupaten Kampar yang selama ini belum terbentuk,” ujar Suhaili Husin Dt Mudo.
Dijelaskan Suhaili, delapan LAM Riau kawasan yang dimaksud terdiri dari, kawasan Sungai Tapung diketuai Suhaili Husin Datuk Mudo, kawasan Talago Undang, Ketua H Donal Altin Datuk Majo Kayo, kawasan Bangkinang, Ketua H Bahrum Datuk Mangkudun Sati.
Kemudian, kawasan Air Tiris, Ketua Zainal Ajik Datuk Panglimo, kawasan Kampar Utara, Ketua Firdaus Alcumaidy, kawasan Tambang Terantang, Ketua H Mudahar Datuk Godang, kawasan Rantau Kampar Kiri, Ketua Tarlaili dan kawasan Siak Hulu Buluh Nipis, Ketua Syaifudin Efendi Datuk Pado.
Dijelaskan Suhaili, sebagai ketua pelaksana telah ditunjuk Syahruddin dan Sekretaris, Ade Minur. “Mereka merupakan bersama tokoh adat lainnya, telah menghadap ke LAM Riau untuk bermufakat menentukan hari dan sekaligus minta kesediaan Ketua LAM Riau untuk membuka secara resmi Musda tersebut,” ujarnya.
Acara tersebut rencananya akan digelar di Hotel Labersa, Siak Hulu dan akan mengundang forum koordinasi pimpinan daerah Kabupaten Kampar dan dinas/instansi terkait. “Sekarang tinggal soal hari ‘H’ pelaksanaan kalau tempat di Labersa Hotel,” jelasnya. (oni)
13 Januari 2012 at 1:10 pm
Tengku
Oooo ini baru Musda Pertama ya (Musda I)???Jadi melayu di kampar baru terbentuk rupanya hahahaha…
11 Januari 2012 at 5:58 am
Ni satu lg.
Musda I LAMR Kampar Setelah Pelantikan Bupati
Thursday, 17 November 2011 00:00 administrator
There are no translations available.
Bangkinang – Pelaksanaan Musyawarah Daerah I Lembaga
Adat Melayu Riau Kabupaten Kampar akan digelar setelah
pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Kampar terpilih Jefry Noer-
Ibrahim Ali. Hal ini berdasarkan saran dari LAM Riau. Demikian
diungkapkan Ketua Panitia Musda LAMR Kabupaten Kampar I,
Syahrudin Phitobas kepada Haluan Riau, Rabu (16/15). “Kita
telah koordinasi dengan LAM Riau dan mereka menyarankan
pelaksanaan Musda setelah pelantikan bupati terpilih,”
ujarnya.
Saran LAM Riau itu tertuang dalam surat LAM Riau tanggal 4
November 2011 yang menyetujui pelaksanaan Musda. “Kami
selaku panitia pelaksana akan mengindahkan petunjuk
tersebut dan kami akan berkoordinasi dengan Bupati terpilih
Jefry Noer sebagai Datuk Setia Amanah Kabupaten Kampar,”
kata Syahrudin.
Koordinasi dengan Bupati terpilih ini akan dilakukan dalam
waktu dekat. Ini dilakukan mengingat pelaksanaan Musda LAM
Riau akan dilaksanakan pada Desember 2011.
Sedangkan persiapan pelaksanaan, panitia mengaku sudah 90
persen. Peserta yang ikut juga sudah sesuai dengan anggaran
dasar/anggaran rumah tangga (AD/ART) LAMR. “Panitia
pelaksana akan terbuka dalam pelaksanaan Musda LAMR
Kampar ini, silakan saja bagi yang berminat untuk menjadi
ketua, yang penting ikuti aturan yang sesuai dengan AD/ART
LAMR, tidak ada justifikasi dari siapapun, pelaksaan pemilihan
ketua dijamin luber dan jurdil, sehingga Ketua terpilih betul-
betul sesuai dengan keinginan peserta,” jelasnya.
6 Januari 2012 at 2:17 pm
Jejen_bahasa mirip tapi dialek berbeda da.
Adat mirip tp tak sama wak.
Rmh adat dan ukiran kampar jelas beda dgn minangkerbau.kampar bkn ikut2an ukiran tp itulah ukiran kampar yg sesungguhnya.klau tak prcy,check aja di kampar krn rmh2 adat tu msh kokoh berdiri.
Rmh adat minang adolah rumah gadang/bagonjong yg atapnya menyerupai tanduk kerbau.sdgkan rumah kampar di namakn rumah lontiok/lancang/penjalang yg menyerupai perahu dgn di atas perabungnya ada kayu bersilang yg dlm bhs kamparnya di namakn sulobuyung atau dlm bhs indonesia selembayung
8 Januari 2012 at 9:18 am
Ke hah ……
LAMR Kampar Gelar Musda I
11 Nov 2011 … Bangkinang-Lembaga Adat Melayu
Riau Kabupaten Kampar akan menggelar
Musyawarah Daerah I. …
http://www.haluanriaupress.com/index.php
Kepengurusan LAK yurnalis Datuk besar tu ilegal.ketua lak terpilih suhaili husin Datuk mudo terpilih menjadi ketua LAK,menggantikan yurnalis Datuk Besar.pelantikan pengurus yg baru di tubuh LAK wkt itu langsung di bawah LAM Riau.delapan LAMR Kabupaten Kampar ini telah terbentuk melalui Surat Keputusan (SK) LAM Riau dan telah dilantik oleh LAMR tahun 2010 lalu.
14 Januari 2012 at 10:39 pm
rupanya baru terbentuk yah… aku baru tau..
9 Januari 2012 at 10:10 am
Hayyyy datuak kerbau,kamu tu sprt kerbau yg suka mkn rumput di tanah orang.siapa bilang candi tu di luhak 50 yg berjurang2 tu ? Kau baca serta belajarlah ! Candi tu terletak di wilayah adat kampar.Riau
Kami bkn minang,karna minang bukan melayu.
Tulah orang minang pedalaman,cakap tak ada yg betul ,coba pakai bhs indonesia yg baik,jgn gunakan bhs minang yg buruk tu.
Pusiiiiing, bahasa minang kalian tu bnyk yg tak nymbung di kampar.
12 Januari 2012 at 1:26 pm
yang perlu diingat ada kampar kiri dan ada kampar kanan.dari ilmu pengembangan wilayah masyarakat itu menyebar dari laut menuju sungai sampai ke hulu.jd sebenarnya minang itu berasal dari kampar begitu juga budayanya.tapi budaya itu lebih berkembang di sumbar.krn pengaruh jajahan belanda.bukti sejarah budaya kampar tertua adalah candi muara takus.busyet…………..
16 Februari 2012 at 11:56 pm
sekarang ini ada dikotomi kalau adat matrilineal itu adat minang apadahal adat itu sudah ada di alam melayu di campa dan langka suka(selatan thai) suku2 inilah yang masuk menyusuri sungai2 besar di riau karena semenanjung dan sumatra yang terdekat, suku2 ini masuk kepedalaman dan sampai menuju salah satunya ke kamvar..mnanga kamvar..disinilah asal mulanya terbentuk kata minang itu..jadi asal mula orang minang berasal dari kampar, ini dibuktikan banyaknya menhir yang ditemukan diujung sungai2 besar yang menuju ke barat sumatra…kalaulah dari barat peradaban ini sudah pasti nias itu sama bahasanya dengan orang minang..ini tidak..bahasa minang itu dialek termuda jika kita menyusuri dialek2 setiap sungai..silakan anda susuri dari muara kampar hingga ke ujung sungai kampar..jadi kalau ada orang minang ke kampar pada hakikatnya mereka pulang lagi ke tempat asalnya dan jika ke semenajung maka itulah tempat duduk..sesuai disebut tambo tanah basa itu kenapa orang riau pesisir tidak menganut adat matrilineal ..ini karena pesisir sumatra sangat komplek asimilasi keluarga..terlebih lagi ketemu dengan budaya arab dan cina yang patrilineal dan india hanya indialah yg patrilineal….jadi dasarnya tetap orang minang itu asalnya dari kampar..mnanga kampar…pertengahan kampar…budAYA langkasuka yang disebut sekarang patani dan kelantan itu sudah musnah sama sekali adat matrilinealnya..karena mereka beragama islam taat….segaal hukum berklandaskan al quran…ingat mnanga kampar…mnonga kampar…..
25 Agustus 2011 at 12:42 am
KALIMAT ITU SANGAT MENYINGGUNG ETNIS MINANG DAN APAKAH ETNIS LAINNYA DIPERLAKUKAN SEPERTI ITU DI KAMPAR RIAU SANA ???? UNTUNG SAYA TIDAK DISANA
4 Januari 2012 at 1:32 am
Saya anak kampar,setelah membaca coment di blog ini,saya merasa daerah saya di lecehkan.sepertinya kami tak punya budaya,perlu di ingat budaya kami adalah melayu yg agamis.istilah minang dlm adat kampar tidak di kenal.
Yg kami kenal,Lembaga Adat Melayu Kampar.
8 Januari 2012 at 10:09 am
rombongan Jejak Sejarah Johor, Malaysia, di Pekanbaru, Kamis (22/12/2011)
PEKANBARU – Sebanyak 48 orang dari pejabat daerah, Majlis Kebudayaan Daerah (MKD) dan Persatuan Sejarah Malaysia (PSM) Kawasan Kota Tinggi beserta para penghulu, ketua kampung, dan ketua masyarakat dari Kota Tinggi, Johor Malaysia, melakukan kunjungan ke Lembaga Adat Melayu Riau (LAM) Riau, Kamis (22/12) malam.
Kunjungan yang diberi nama Jejak Sejarah ke Siak, Kampar dan Pekanbaru, pada 22-26 Desember 2011 ini bertujuan untuk mengeratkan silaturahim dan meninjau hubungan sejarah antara daerah bersejarah Kota Tinggi di Johor, Siak, Kampar, dan Pekanbaru, di Provinsi Riau.
Kehadiran rombongan yang dipimpin Pegawai Daerah Kota Tinggi, Johor H Ismail bin Karim ini, diterima di Balai Adat Melayu Riau oleh Ketua Umum LAM Riau HM Azaly Djohan SH, Drs OK Nizami Jamil, HM Dun Usul, Sekretaris Umum H Husnan Sekh, dan pengurus LAM Riau lainnya.
Pegawai Daerah Kota Tinggi H Ismail bin Karim mengatakan, kunjungan ke Riau ini sebenarnya telah direncanakan sejak tahun lalu, namun baru bisa dilaksanakan sekarang.
Menurutnya, antara Indonesia dan Malaysia sudah sejak lama memiliki hubungan kesejarahan yang erat. Namun kedua negara ini dijajah oleh negara yang berbeda.
‘’Tanah Melayu oleh British (Malaysia), sementara Indonesia oleh Belanda. Inggris menjajah secara diplomasi sementara Indonesia oleh Belanda dengan kekerasan,’’ ujarnya.
Ismail mengatakan dalam kunjungan Jejak Sejarah ke Siak, Kampar, dan Pekanbaru ini, pihaknya ingin mengetahui lebih dekat mengenai kesultanan yang pernah ada di Riau ini.
Ketua Umum LAM Riau HM Azaly Djohan SH menyambut baik kunjungan rombongan dari Kota Tinggi, Johor ini. ‘’Kunjungan ini akan dapat mempererat tali silaturahim yang telah terbina baik selama ini,’’ kata Azaly